Ada tipe orang yang sudah menyerah sebelum berusaha. Ada juga yang tidak mau menyerah sampai akhir. Lalu, ada yang sudah tinggal sedikit lagi ia mencapai tujuannya, ia malah menyerah. Kebanyakan orang berada tipe yang terakhir. Beratnya rintangan yang dihadapi membuatnya berhenti berusaha padahal hanya tinggal sedikit saja ia akan mendapat apa yang diusahakannya selama ini.

Sakura tetaplah seorang wanita biasa. Ia sudah berusaha untuk tegar, nyatanya ia tetap tak sanggup menahan beban berat yang menambat dalam kehidupannya. Apalah arti seorang wanita yang tak bisa mengandung? Belum lagi keluarga suaminya adalah keluarga terpandang, sudah pasti kemandulannya ini akan digunjingkan banyak orang. Argh, terlalu banyak hal yang membuat kepercayaan dirinya sebagai perempuan benar-benar hilang.

"Sasuke-san." Suara wanita itu begitu lirih, tapi wajahnya nyaris tanpa ekspresi.

"Hn?"

"Ceraikan saja aku."

Keheningan menguasi mereka. Belum ada yang mengeluarkan suara untuk memecah suasana sunyi yang tercipta.

"Baiklah, aku mengerti."

"Aku minta maaf karena tak bisa menjadi istri yang baik untukmu." Sakura semakin menekan dagu pada kedua lututnya. Ia memberikan tatapan kosong pada ujung kakinya yang dilapisi selimut. Sasuke, suaminya, pasti tak akan keberatan untuk menceraikan wanita yang tak bisa memberikan keturunan padanya.

"Aku mengerti kalau kau terpukul, tapi aku tak akan menceraikanmu." Pernyataan terakhir lelaki itu membuat Sakura mengangkat kepalanya terkejut. Matanya kembali berkaca-kaca.

"Sasuke-san."

"Aku yang seharusnya meminta maaf karena akulah yang menyetujui operasi pengangkatan indung telurmu." Pria itu memegang tangan Sakura, tidak kencang, tapi Sakura bisa meresapi ketulusan dari semua tindakan suaminya.

"Ta-tapi aku—" ia tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena isakan kencang kembali menggema. Wanita itu tak sanggup melafalkan kalimat-kalimat yang telah terangkai dalam kepalanya. Kesedihan yang mendalam membuat air matanya tak dapat dibendung. Terutama karena sosok Sasuke yang berhadapan langsung dengannya. Sasuke sendiri tak bersuara. Ia hanya diam, menunggu Sakura selesai menangis, menunggu wanita itu mengucapkan semua keresahan yang terpendam dalam hatinya.

.

.

.

.

.

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by Morena L

Main chara: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uzumaki Karin, Senju Tobirama

Warning: AU, OOC, typo, DLDR, rated M untuk konflik dan bahasan yang berat

.

.

.

.

.

.

.

"A-aku tak bisa lagi mengandung ... a-aku t-tak bisa memberikanmu se-seorang a-anak," ujarnya lirih. Pernapasannya sedikit terganggu karena tangisan kesedihannya. "Ke-keluargamu pa-pasti tak a-akan menyukainya. A-ayahmu ... be-beliau terlihat kecewa. K-kau a-akan me-meninggalkanku ka-karena i-ini."

Sasuke bangkit berdiri. Perlahan, ia menarik tubuh Sakura untuk bersandar pada tubuhnya. Wanita itu menangis semakin kencang. "Aku sudah mengira kalau semua hal tersebut akan menjadi sumber ketakutanmu." Ia mengangkat salah satu tangannya, mengusap lembut helai merah muda milik Sakura. Sekali lagi ia membiarkan sang istri menumpahkan semua keluh kesahnya. "Mereka sudah berbicara denganku sebelumnya. Mereka semua menceritakan kondisimu. Dengarkan aku ...," ujar Sasuke sembari menunduk, menyejajarkan kepalanya dengan Sakura, "... apa aku menikahimu untuk mendapatkan seorang anak?"

Sakura menggeleng pelan.

"Aku menikahimu untuk Kenichi, kan?" tanya Sasuke sambil menyentuh pipi Sakura dengan kedua tangannya. Pertanyaannya ini dibalas dengan anggukan lemah dari sang istri.

"Ta-tapi, penerus untuk keluargam—"

"Aku sudah masuk militer dan melakukan tugas yang seharusnya menjadi kewajiban Itachi-nii. Jadi, mengenai penerus biarkan saja itu menjadi urusannya sekarang." Pria itu mendesah pelan. "Sudah berapa lama kau menolak untuk makan?"

Sakura tak menjawab. Wanita itu memalingkan wajahnya. Sasuke sedikit lega karena air mata sang istri sudah mulai mereda.

"Aku pernah merasakan hidup seolah berada di dalam neraka. Aku hanya ingin bahagia, Sakura." Kembali ia mengarahkan Sakura agar bertatapan dengannya selama beberapa lama. Pria itu bahkan menghilangkan jarak di antara mereka dengan menempelkan dahinya ke dahi sang istri. "Dan selama bersamamu ... aku tidak pernah tidak merasa bahagia ... karena itu, jangan pernah berpikir kalau aku akan menceraikanmu."

"Sasuke-san." Meledaklah tangis penuh haru itu. Demi Kami-sama! Sakura sama sekali tak menyangka kalau Sasuke akan berkata seperti itu. Beban di hatinya seperti menguap tanpa sisa. Terlebih saat pria itu memeluknya. Hangat. Oh, Kami-sama, ia sangat mencintai pria ini!

"Kutanya sekali lagi, apa kau ingin berpisah dariku?"

Refleks ia menggeleng kencang dalam pelukan sang suami. "Aku mencintaimu, Sasuke-san! Aku mencintaimu dan tak ingin berpisah darimu!"

"Terima kasih." Pria itu mengecup puncak kepala yang identik dengan warna bunga Sakura tersebut. "Jangan lupa kalau kita sudah punya Kenichi."

Kenichi ... benar juga. Bagaimana dia bisa lupa dengan anak itu? Terlalu larut dalam kesedihan membuatnya mengabaikan Kenichi. Parahnya lagi, ia sempat membentak anak itu. Kenichinya, anak yang sudah ia sayangi seperti anak sendiri.

"Kau mau bertemu dengannya? Ia ada di luar."

"Di luar? Ini kan sudah malam."

"Dia tak mau pergi sejak kau masuk rumah sakit. Kata mereka, dia terus berada di luar untuk menunggumu."

Mata Sakura terlihat membelalak. "Dia bersama siapa di luar?"

"Sendiri. Aku menyuruh mereka semua untuk pulang tadi karena ingin berbicara secara pribadi denganmu. Kau mau bertemu dengannya?"

"Ya."

Sasuke melepaskan pelukannya. Ia berjalan ke luar untuk memanggil Kenichi. Sementara Sakura duduk di ranjang rumah sakit dengan cemas. Sudah berhari-hari ia mengabaikan Kenichi, jangan sampai anak itu menjadi takut untuk menemuinya. Perasaan bersalah kembali menyeruak, ia harus minta maaf pada anak itu.

Benar saja, wajah takut-takut Kenichi muncul dari balik pintu. Hal ini mengingatkan Sakura pada malam di mana Kenichi meminta tidur bersama mereka. Ekspresinya yang sedikit ketakutan, jemarinya yang dimainkan karena gugup, dan langkahnya yang begitu pelan. Wanita itu mengulurkan kedua tangannya ke depan, memanggil Kenichi untuk semakin mendekat padanya.

"Sini, Sayang."

Kenichi segera berlari mendekati Sakura, tubuh mungilnya bergerak cepat untuk naik ke atas kursi sebelum menaiki ranjang rumah sakit.

"Kaa-san!" Baik Sasuke mau pun Sakura sama-sama terkejut dengan panggilan itu. Kenichi memeluknya semakin erat "Jangan bilang tidak punya anak. Aku kan juga anakmu."

Air mata Sakura yang sudah reda kembali menetes tanpa bisa dicegah.

"A-ku ju-ga a-a-nakmu, kan?" isakan Kenichi membuat Sakura memeluknya semakin kencang. Tangisan keduanya bagaikan dua buah harmoni yang selaras.

"Iya! Kau anakku! Diciumnya dahi dan kedua pelipis Kenichi berkali-kali. "Kau anakku!"

"A-aku anak kalian."

"Kau anak kami! Kau memang anak kami!"

Sasuke menjadi tergerak untuk mendekati istri dan anaknya yang masih larut dalam keharuan. Melihat Sakura dan Kenichi dalam posisi saling berpelukan sama seperti melihat pemandangan yang paling indah di dunia.

Menceraikan Sakura? Pertanyaan bodoh. Wanita itu sudah menerima trauma masa lalunya, menemaninya tanpa takut, membuat Kenichi kembali ceria. Tidak mungkin ia sanggup melepaskan Sakura. Berjalan mendekat, ia lalu merentangkan tangannya dan dalam satu gerakan, kedua orang itu sudah berada dalam pelukannya. Ini keluarganya dan ia akan mempertahankan mereka sampai kapan pun.

.

.

.

oOo

.

.

.

Tobirama membatu selama beberapa saat.

"Dia bilang apa tadi?" ucap Tobirama kebingungan.

"Kaa-san, Ba-san tidak mendorongku jatuh," ujar Rizuki setelah puas menangis. "Dia malah menolongku."

Tobirama dan Kurenai saling melirik. Sekarang Karin sudah pergi, kesalahpahaman ini tidak bisa diselesaikan. Tak membuang waktu lebih lama lagi, Tobirama berlari hendak menyusul wanita itu.

"Ke mana dia pergi?" tanyanya pada penjaga gerbang.

"Sa-saya tidak tahu, Tuan. Tadi Nona Uzumaki hanya meminta saya membukakan gerbang."

"Bedebah!" Seketika itu juga si penjaga sudah terbanting ke tanah. Tobirama menggeram murka. "Kau kupecat sekarang juga!"

Pria itu bergerak ke luar. Ia memandangi jalanan yang terlihat begitu lengang. Ini sudah malam, ke mana Karin akan pergi? Hari sudah gelap dan cukup berbahaya. Pria itu lalu memberikan tatapan tajam pada rumah besar yang tepat berada di sebelah rumahnya. Ia melangkah dengan kemantapan hati seolah akan membunuh siapa saja yang menghalanginya.

oOo

Lelaki bermarga Senju itu berdiri saat sang nyonya rumah mendatanginya di ruang tamu. Wanita yang secara tidak langsung membuat Karin jatuh ke dalam pelukannya. Hyuuga Hinata, istri dari Hyuuga Neji.

"Selamat malam, Senju-san. Ada apa bertamu malam-malam begini."

"Apa Karin berada di sini?" Ia bertanya dingin.

"Uzumaki-san tidak berada di sini," jawab Hinata mantap.

"Jangan berbohong!" Pria itu setengah menggeram.

"Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Maaf, tapi suami saya sedang tidak berada di tempat, saya tidak mau ada keributan di sini," usir Hinata secara halus. Jujur saja, ia sedikit gentar karena dapat melihat amarah yang memancar dari sekujur tubuh Senju Tobirama. Apalagi Neji sedang tak ada di rumah, bisa saja lelaki itu membuat kekacauan di kediamannya sekarang.

"Aku akan menggeledah rumah ini."

"Anda tidak bisa melakukannya, menggeledah rumah orang lain tanpa izin adalah sebuah kejahatan. Saya akan melaporkan Anda!"

Tobirama menatap wanita itu tajam. "Aku bisa melakukan apa pun yang kumau."

"Ini rumah saya, suami saya sedang pergi, dan saya sedang dalam kondisi hamil. Anda datang dan hendak membuat kekacauan, Anda menakuti saya."

Tobirama tersenyum sinis. Tentu saja, perempuan itu memang harus takut.

"Lagi pula, saya tak mungkin menerima mantan kekasih suami saya bersembunyi di rumah ini. Saya tak peduli pada masalah kalian. Saya tak semurah hati itu."

Tobirama menatap sekeliling. Cukup logis juga. Karin adalah mantan kekasih Neji, dulu kedua orang itu saling mencintai sebelum takdir membuat Neji harus menikahi sepupunya tersebut. Ia juga tak pernah melihat Karin berinteraksi dengan wanita ini. Karin juga bukan tipikal orang yang suka membuat repot orang yang tak dikenalnya. Belum lagi, harga diri Karin yang begitu tinggi sudah tentu membuatnya enggan meminta tolong pada wanita yang membuatnya terpaksa berpisah dengan Neji.

Hinata mengembuskan napas lega saat pria Senju itu meninggalkan kediamannya. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang sedikit gemetar. Sambil mengusap perutnya yang sudah mulai membesar, ia berbalik. Wanita itu berhenti saat membuka pintu salah satu kamar tamu di rumahnya. "Dia sudah pergi," ujarnya pada sosok lain yang masih jongkok di dekat dinding karena ketakutan.

"Terima kasih ... terima kasih, Hinata," ujar Karin parau.

oOo

Karin tak bisa tidur nyenyak sepanjang malam. Ia tak ingin pria itu menemukannya. Tidak boleh, pria itu jangan sampai menemukan keberadaannya. Ia masih bisa aman sampai beberapa hari ke depan. Tapi, tak mungkin kan selamanya ia berada di sini? Ia hanya akan membuat Hinata dan Neji kerepotan. Apalagi, kalau Tobirama benar-benar membawa surat perintah penggeledahan dari kepolisian, maka pasangan Hyuuga ini pasti akan ikut terseret. Tobirama tak pernah main-main kalau sudah menyangkut urusan balas dendam. Pulang ke panti juga tak mungkin. Panti pasti akan menjadi tempat pertama yang didatangi pria itu.

Ke mana ia harus pergi?

Adakah tempat yang bisa menjauhkannya sejauh mungkin dari Tobirama?

Sakura.

Nama itu terpikirkan tiba-tiba. Benar juga, suami Sakura bisa dibilang adalah salah satu orang yang memiliki kedudukan cukup tinggi di militer. Mungkin saja mereka mau membantunya. Sakura harus membantunya, kalau tidak ia tak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi.

.

.

.

oOo

.

.

.

"Tidak pegal?"

Sakura menggeleng pelan. Ia menatap Kenichi yang masih terlelap pada lengannya yang tidak dipasang infus dengan penuh kehangatan. Semalam adalah waktu paling bahagia dalam hidupnya. Ia merasa seperti terlahir kembali. Sama sekali tak pernah terpikirkan kalau Sasuke akan menerima kondisinya apa adanya. Pria itu bahkan sama sekali tak menuntut apa-apa. Yang paling mengejutkan adalah panggilan Kenichi padanya. Anak itu memanggilnya ibu. Ibu. Sebuah panggilan yang ternyata baru ia ketahui sangat ia harapkan. "Aku tidak apa-apa, Sasuke-san."

Suaminya itu menguap sesaat. Sakura kembali merasa tersentuh. Semalaman Sasuke tak tidur karena terus menjaga mereka padahal bisa dibilang kalau suaminya itu pasti merasa sangat lelah karena baru pulang menunaikan tugas.

"Mulai saat ini kau harus makan yang banyak. Aku tak mau lagi mendengar laporan kalau kau menolak untuk makan," titah pria itu. Ia mengatakan itu bukan tanpa alasan, tubuh Sakura memang terlihat lebih kurus dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya.

"Orangtuamu?"

"Kita temui mereka setelah kau sudah benar-benar sehat. Mereka akan mengerti, percayalah."

"Hm," gumam Sakura sambil mengangguk. "Sasuke-san, sebaiknya kau beristirahat."

"Kau yang harus banyak beristirahat. Aku mau menemui Kabuto-sensei dulu."

Orangtua Sasuke memang menjadi salah satu faktor yang membuat Sakura menjadi rendah diri. Wajah kecewa Fugaku terus melekat dalam ingatannya. Pria paruh baya itu pasti menginginkan seorang cucu dari Sasuke. Namun, kali ini kembali Sakura mencoba untuk tetap percaya pada suaminya.

oOo

Sasuke sedikit terkejut saat mendapati seseorang yang cukup familiar di matanya. Kaguya Kimimaro. Ia kembali memasang ekspresi datarnya untuk menghadapi pria itu.

"Kudengar dia sakit."

"Dia sedang istirahat," ucap pria itu juga dengan nada yang sangat datar, "dengan anak kami," tambahnya dengan sengaja.

Sasuke diam-diam menilai pria yang datang untuk menengok istrinya itu. Ia bahkan sampai menyisihkan waktunya beberapa menit untuk berbincang sebentar bersama Kimimaro di depan ruangan tempat istrinya dirawat. Sejak pertama bertemu, ia sudah curiga ada sesuatu yang disembunyikan Kimimaro dan istrinya. Sakura menjadi aneh saat nama keluarga Kaguya disebut dan menjadi semakin aneh sejak mereka pulang dari pesta keluarga Kaguya.

"Aku tak mau berbasa-basi, ada tujuan apa kau menemui istriku?"

"Hanya ingin bertemu teman lama, Uchiha-san," jawab pria itu santai. "Istri Anda adalah mantan kekasih saya."

Entah kenapa, dada Sasuke terasa sedikit panas mendengarnya. Ia tetap bersikap tenang, tak ingin memperlihatkan kalau kata-kata Kimimaro memengaruhinya.

"Apa dia sudah membaik? Kudengar dia sampai harus dioperasi."

"Sepertinya kaupeduli sekali pada istriku."

"Hahaha ... kami cukup dekat dulu. Terlebih dia pernah berjanji akan menikah dengan saya sebelum Anda datang dan merebutnya."

Sasuke mengepalkan tangannya.

"Oh, begitu. Berarti Anda tidak cukup baik untuknya, Kaguya-san," ujarnya tenang, namun sangat menusuk.

Kimimaro sendiri tampaknya mulai terpancing. "Kalau benda milik saya diambil selama saya tak ada di tempat, itu artinya orang yang mengambilnya adalah seorang pencuri."

Sasuke tak mau terlalu banyak menghabiskan waktu dengan orang ini. Ia akan menunjukkan kalau Sakura adalah miliknya. "Indung telurnya diangkat. Dia tak akan bisa memiliki anak seumur hidup."

"Apa!?" seru Kimimaro tak percaya.

"Kau boleh memastikannya pada Kabuto-sensei." Sasuke tersenyum penuh kemenangan. "Kalau kau bisa menerima kondisinya yang seperti itu, saat ini juga akan mengurus perceraian kami."

Sasuke menatap pintu ruang rawat Sakura. Ia tersenyum tipis saat membayangkan sosok Sakura yang tidur sambil memeluk Kenichi di dalam. Ini keluarganya. Ia percaya kalau Kami-sama memang telah menakdirkan kedua orang itu untuk mengisi hari-harinya. Terlalu sibuk dengan pikiran sendiri, ia sampai melupakan pria yang tadi masih berada di dekatnya. Sasuke berbalik, akan tetapi ia tak menemukan siapa pun di sana. Pria itu sudah pergi. Lagi-lagi Sasuke tersenyum tipis. Kebanyakan laki-laki tak mungkin berani mengambil risiko sepertinya. Mereka terlalu sulit untuk menanggung takdir berat seperti itu. Namun, untuk sekarang ini ia sudah puas memiliki Sakura dan Kenichi. Hanya mereka.

.

.

.

oOo

.

.

.

Cukup lama menghabiskan waktu di rumah sakit membuat Sakura begitu merindukan istana mungilnya. Tubuhnya sudah kembali kuat sehingga Kabuto-sensei mengizinkannya untuk pulang ke rumah. Selama di perjalanan ia tak henti-hentinya membayangkan sudah seperti apa rumahnya itu. Sesekali ia teralihkan pada Kenichi yang tak juga mau melepaskannya. Anak itu duduk sambil memeluk salah satu lengan Sakura, benar-benar tak ingin berpisah dari wanita yang sudah dianggapnya ibu sendiri.

"Aku harus kembali ke kantor," kata Sasuke saat mereka sudah sampai di depan rumah. Suaminya memang seorang pria yang taat pada tugas. Ia tak bisa mengabaikan kewajibannya begitu saja. Pria itu balas tersenyum pada Kenichi dan Sakura yang melambaikan tangan padanya.

Sesampainya di dalam, Sakura menemukan Karin yang menunggu di ruang tamu. Sahabatnya itu terlihat sangat kacau. "Karin?"

Sakura lalu memanggil Ayame untuk membawa Kenichi masuk ke dalam. Terlihat jelas kalau Karin pasti sedang tertimpa masalah berat sekarang. Matanya bengkak karena banyak menangis, sekitar matanya juga terlihat lebih gelap akibat kurang tidur. Sama sekali tak seperti Karin yang biasanya selalu bersemangat.

"Ada apa?" Sakura memegang tangan Karin, mencoba memberinya kekuatan.

"A-aku kabur dari Tobirama."

Mulut Sakura setengah membuka karena terkejut. Sejak awal ia memang sudah khawatir dengan hubungan yang dijalin sahabatnya ini. "Kenapa bisa? Apa yang terjadi?"

"A-aku hamil." Mata Sakura makin melebar. "Dia juga akan membuangku. Dia sudah punya anak dari perempuan lain, Sakura." Belum selesai keterkejutannya, sekarang ia semakin dikejutkan dengan berita yang lain. Sebenarnya, hubungan macam apa yang sedang dibangun Karin bersama pria itu? "Dia akan membuangku ... karena itu, aku memilih kabur darinya sebelum semua itu terjadi."

"Karin …."

"Aku hamil, Sakura! HAMIL! Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan!" pekiknya frustrasi.

"Tenang, Karin ... tenang," ujar Sakura sambil mengusap punggung Karin.

Wanita berambut merah itu mengusap air mata yang mulai mengalir di pipinya. "Apa sebaiknya kugugurkan anak ini saja?"

"Karin."

"Ya, begitu lebih baik. Aku tak sanggup mengurus anak ini sendirian."

"KARIN!"

"Kita hidup sendirian di panti, Sakura. Kita tahu bagaimana sakitnya hidup tanpa orangtua."

Mereka berdua sama-sama menghabiskan belasan tahun di panti asuhan. Hidup sendiri tanpa ada orangtua dilewati dengan penuh perjuangan. Tak jarang mereka dipandang rendah oleh orang lain. Bukti nyata adalah restu yang tak didapat saat ia menjalin hubungan dengan Hyuuga Neji. Sakura sendiri juga mengalami hal yang sama dengan Karin. Ia tak kunjung mendapatkan restu dari orangtua Kimimaro hanya karena ia adalah anak yang dibesarkan di panti asuhan.

Sakura memiliki nasib yang lebih baik karena ia punya asal usul yang jelas. Dia adalah anak tentara yang meninggal dalam Perang Dunia. Sedangkan Karin hanyalah anak seorang geisha. Tak jelas siapa ayah dan ibunya. Tekadnya beberapa waktu yang lalu untuk tetap melahirkan anak ini runtuh sudah. Ia tak mau anaknya memiliki nasib yang sama dengannya. Lebih baik anak ini tak usah terlahir kalau hanya menjadi bahan cemoohan orang.

"Karin, anak itu tak bisa menjadi pelampiasanmu. Jangan berpikiran pendek untuk menggugurkannya!"

"Aku tak bisa! Aku tak bisa mengandung anak ini! Lebih baik dia mati saja!"

"KARIN!"

"Anak ini yang membuatku begini! Sebaiknya dia kugugurkan saja—"

Bunyi kencang akibat pertemuan dua buah organ tubuh menggema.

Satu tamparan keras.

Aliran air mata yang belum berhenti.

Mata yang terkejut luar biasa.

Mata yang diliputi kemarahan.

Karin yang terkejut kini semakin kaget karena sahabatnya itu ikut menangis. Sakura sampai menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena menagis tersedu-sedu. Karin tak mengerti, Sakura yang menamparnya, tapi kenapa wanita itu yang menangis lebih kencang darinya?

"Enak saja kau bilang mau menggugurkan anak itu. Kalau memang kau tak mau merawatnya, berikan saja dia padaku!" pekik Sakura kesal.

"Sakura …."

"Kau tidak tahu kan kenapa aku sampai dirawat di rumah sakit? Indung telurku diangkat. Aku tak akan bisa memiliki seorang anak ... dan kau malah bilang mau menggugurkan kandunganmu? Kau biadab, Karin!"

Ini pertama kalinya ia mendengar Sakura mengelurkan kata-kata seperti itu. Tak pernah sekali pun Karin mendengar Sakura berkata kasar pada orang lain. Astaga, ternyata Sakura ... Karin tak tahu harus berkata apa sekarang. Mengungkapkan pengguguran kandungan di depan Sakura tentu saja akan sangat menyakiti wanita itu.

"Sakura, aku—"

"Anak itu tak punya salah, Karin. Jangan timpakan kesalahanmu pada anak itu."

"Aku hanya tak tahu harus melakukan apa. Aku ... aku bingung Sakura ... aku …." Karin tak tahu harus mengungkapkan apa lagi. Ia benar-benar bingung dan kehilangan arah.

"Jangan pernah bilang kalau kau akan menggugurkannya." Sakura meraih bahu Karin dan memberikan satu pelukan hangat padanya. Nasib mereka memang berbanding terbalik, tapi mereka juga merasakan sakit yang sama. Saat seperti ini, pelukan dari seorang sahabat sangat dibutuhkan. Tamparan Sakura juga menyadarkannya dari semua hal gila yang selama ini membebaninya. Mereka berdua terus berpelukan, saling menguatkan satu sama lain.

.

.

.

oOo

.

.

.

Rasanya Sasuke ingin cepat-cepat pensiun agar ia bisa lebih sering menghabiskan waktu dengan keluarganya. Konflik berkepanjangan dengan Korea Selatan membuatnya semakin sibuk dari hari ke hari. Ia tahu tugasnya tak boleh diabaikan begitu saja. Namun, Sasuke tetaplah manusia biasa.

"Hari pulangnya larut sekali," ujar Sakura sambari membantu memasangkan yukata tidur suaminya. Ia selalu suka pada saat di mana ia bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan sang suami.

"Hn, bagaimana kondisimu?"

"Aku sudah cukup kuat," ujarnya sambil mendekap tubuh suaminya. "Ng, Sasuke-san. Ada yang mau kubicarakan."

"Hn?'

"Ada Karin di sini."

Sakura lalu menceritakan perihal Karin yang datang tadi siang. Ia juga menceritakan mengenai kondisi kehamilan sang sahabat. Bagaimanapun, wanita berambut merah itu sedang dalam kondisi sulit. Sebagai seorang sahabat, Sakura tak sampai hati untuk menolak membantunya.

"Dia boleh tinggal di sini selama yang dia mau." Di luar dugaan, Sasuke sama sekali tak keberatan dengan kehadiran Karin di rumah mereka. Sasuke berjalan menuju ranjang, lalu memanggil istrinya setelah ia sendiri berada dalam posisi setengah berbaring. "Kemarilah."

Sakura barsandar pada tubuh suaminya, membiarkan lengan kokoh lelaki itu merangkul tubuhnya yang rapuh. Ia memejamkan matanya, masih tak percaya kalau Sasuke masih ingin tetap bersamanya setelah tahu kalau ia tak bisa mengandung. "Sasuke-san."

"Hn?"

"Kau benar-benar tidak akan meninggalkanku, kan?"

Pria itu malah terkekeh pelan. "Kau masih memikirkannya?"

"Tentu saja. Aku tetap merasa kalau aku ini bukan wanita ya—"

"Tidak masalah aku tak bisa memiliki seorang anak asalkan kau tetap di sisiku." Walaupun pernah mendengar ucapan itu, tetap saja Sakura kembali terperangah karenanya. Lelaki berambut mencuat itu menarik Sakura agar bisa lebih dekat dengannya. "Sudah kubilang, aku hanya ingin bahagia, Sakura."

Wanita muda itu kembali terharu mendengar pernyataan suaminya. Mungkin Kami-sama memang sengaja mengirim Sasuke untuknya agar ia bisa tetap kuat melewati cobaan yang melandanya. Sakura tak tahu seperti apa jadinya kalau bukan Sasuke yang menjadi suaminya. "Terima kasih, Sasuke-san."

"Kaguya Kimimaro itu siapamu dulu?"

Sakura menjadi terperangah. Tak percaya kalau pertanyaan seperti itu akan keluar dari mulut suaminya.

"Mantan kekasihku." Tak ada gunanya menyembunyikan hal ini lagi. "Dia pernah mengkhianatiku dan aku memaafkannya. Sebelum dia pergi, kami berjanji untuk memulai lagi dari awal. Tapi, aku sekarang sadar kalau hubungan kami hanya sepihak. Apalah artinya cinta kalau hanya diperjuangkan oleh satu orang?

"Lalu, aku bertemu dengan pria paling luar biasa di dunia dan menyadarkanku akan banyak hal."

"Pantas dia menyebutku pencuri."

Sakura mengernyitkan keningnya. Apa suaminya sudah pernah bertemu dengan Kimimaro? Ah, sudahlah, yang penting ia sudah jujur pada suaminya. Toh, nyatanya sekarang yang ada di matanya hanya Sasuke seorang. Ia sadar kalau hubungannya dengan Kimimaro bukanlah cinta sejati. Cinta tak seperti itu.

"Tadinya aku bingung ingin mengucapkan di mana. Aku ingin mengajakmu ke berbagai tempat yang indah, tapi aku sendiri bingung mau memilih tempat yang seperti apa." Sakura mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak tahu ke mana arah pembicaraan sang suami. "Akhirnya, aku memutuskan untuk mengatakannya di sini saja." Pria itu menatap lembut mata Sakura. "Di kamar ini tempat pertama kali aku bisa menerima keberadaan orang lain dalam duniaku. Di sini adalah tempat pertama kali aku menciummu. Di sini juga tempat aku bersatu denganmu sepenuhnya, memilikimu." Sakura tak dapat memprediksi sudah semerah apa wajahnya sekarang. "Makanya kupikir kalau inilah tempat yang paling tepat untuk kita."

"Sa-Sasuke-san."

"Aku mencintaimu, Sakura."

Perasaannya terbalas. Perasaannya terbalas. Ia seperti melambung ke angkasa raya bersama para peri. Ini ... terlalu indah. Semua hal menyakitkan yang ia alami kemarin-kemarin telah berganti dengan hal paling membahagiakan.

"Sekali lagi ... bisa ucapkan sekali lagi?" pintanya yang masih tak percaya. Matanya kembali berkaca-kaca akibat ungkapan cinta sang suami.

"Aku mencintaimu."

Tak bermimpi. Ia tak mungkin sedang bermimpi. "Lagi ... katakan lagi." Air matanya mulai mengalir, tapi ini bukan lagi air mata pilu, ini adalah air mata bahagianya.

"Akan kukatakan sebanyak yang kauinginkan."

"Oh, Kami-sama, aku mencintaimu," isak Sakura sebelum menerima kecupan lembut dari sang suami.

Sepanjang malam ia terus meminta Sasuke untuk mengucapkan ungkapan sakral tersebut. Ia tak akan pernah bosan mendengarnya. Sebanyak apa pun pria itu mengucapkannya, sebanyak itu pula Sakura akan menerimanya, bahkan berkali-kali lipat.

.

.

.

oOo

.

.

.

Mengingat hari ini adalah hari Minggu, maka Sasuke tak ingin harinya diganggu. Belakangan ia menjadi sangat sibuk, belum lagi masalah Sakura yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Jadi, hari ini ia tak mau diganggu oleh siapa pun. Seperti biasanya, saat bangun pagi ia tak pernah mendapati sang istri. Sakura selalu bangun pagi-pagi dan menyiapkan semua kebutuhannya. Tadi malam, mereka saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Ada rasa lega yang terbersit di benaknya. Setelahnya, mereka tidur sambil berpelukan. Sesuatu yang sebenarnya sudah lama ia dambakan. Sakura adalah miliknya, wanita itu mencintainya, tak ada yang lebih membahagiakan lagi bagi Sasuke.

"Tou-san." Sosok mungil Kenichi sudah muncul dari seberang tempat tidur. "Kaa-san menyuruhku membangunkanmu untuk sarapan."

Panggilan baru dari Kenichi rasanya begitu nyaman di telinganya. Ya, Kenichi adalah anaknya. "Sebentar lagi," jawabnya malas. Sesuai dugaan Sasuke, anak itu malah ikut bergabung bersamanya di bawah selimut.

"Aku boleh ikut tidur dengan Tou-san?"

"Hn."

Sepasang ayah dan anak itu kembali memejamkan matanya dengan nyaman. Sasuke memang masih mengantuk karena lelah dan terlambat tidur. Istrinya juga sebaiknya istirahat saja bersamanya di sini, wanita itu terlalu memaksakan diri.

Kenichi tentu saja sebagai pihak yang paling bahagia. Ini seperti menghadirkan kembali Nara Shikamaru dalam diri Sasuke. Dulu ia sering bermalas-malasan di pagi hari bersama mendiang ayahnya, lalu ibunya akan datang untuk meneriaki mereka.

"Kenapa kalian kembali tidur?" teriak Sakura dari amabang pintu.

Tuh, kan, baru saja dibilang.

Anak itu memperlebar senyumnya dari bawah selimut.

oOo

Karin mendengar suara yang cukup ribut. Ia menangkap suara Sakura yang sedang membangunkan suaminya, wanita muda itu juga mengomel karena Kenichi yang malah ikut-ikutan tidur bersama sang suami. Dalam hati, ia sedikit merasa iri. Sakura sepertinya sangat bahagia dengan keluarganya.

"Sudah bangun, Karin?" sapa Sakura yang muncul bersama kedua pria kesayangannya.

"Ya."

"Anggap saja ini rumah sendiri," ucap Sasuke yang membuat Karin terkejut. Tadinya ia berpikir kalau suami Sakura menolak membantunya, paling buruk tak menerima kehadirannya di sini.

"Ayo kita sarapan," ajak Sakura lagi.

Sepanjang sarapan pagi bersama, Karin berkali-kali memperhatikan interaksi keluarga kecil Sakura. Mereka terlihat begitu hangat. Tak jarang ia melihat suami Sakura menatap sahabatnya itu secara diam-diam. Karin menjadi malu sendiri karena dulu ia sempat khawatir akan nasib perkawinan Sakura. Sahabatnya itu menikah tanpa cinta. Tahu betul akan watak Sakura, maka Karin ragu pernikahannya akan berjalan lancar. Nyatanya, tak ada yang perlu dikhawatirkan dari kehidupan rumah tangga Sakura. Suaminya bahkan tak sedikit pun terlihat keberatan dengan kondisi Sakura saat ini. Wanita berambut merah muda itu sungguh beruntung mendapatkan Uchiha Sasuke sebagai pasangan hidupnya.

Suasana sarapan pagi mereka sedikit berubah saat Ayame datang dengan ekspresi tidak tenang. Wanita itu sedikit panik.

"Ada apa?" tanya Sasuke.

"Ada Senju Tobirama di depan," jawab Ayame sementara Sakura dan Karin saling melirik penuh arti.

Kenapa Senju Tobirama bisa berada di sini? Apa dia tahu kalau Karin mendatangi Sakura? Pikiran Karin kembali kalut.

"Ck." Sasuke terlihat cukup kesal. "Aku akan mengurusnya."

Sakura menahan tubuh Kenichi yang ingin mengikuti suaminya. Sakura cuma sekali bertemu dengan Tobirama pada hari pernikahannya dulu. Dalam pertemuan itu, ia bisa merasakan aura yang tak biasa. Ia dapat merasakan kalau Senju Tobirama adalah pria yang berbahaya..

oOo

"Aku tahu dia di sini," ucap Tobirama langsung.

"Ya," Sasuke juga menjawabnya tanpa ada basa-basi.

"Aku ingin bertemu dengannya."

Karin mengintip sebentar pertemuan Sasuke dengan pria yang sudah membuat hidupnya jungkir balik. Tobirama tidak seperti biasanya. Pria itu sama sekali tidak bercukur. Hal ini terlihat jelas dari bakal janggut yang tumbuh di sepanjang rahangnya. Mata pria Senju itu juga terlihat cukup lelah.

"Anda boleh bertemu dengannya." Jantung Karin seperti ingin berhenti. Tolonglah, jangan sekarang. "Kalau dia sendiri yang mau menemui Anda, Senju-san." Rasanya Karin seperti ingin berlari dan memeluk suami Sakura sekarang juga.

"Saya tidak mau menunggu lagi. Sudah berhari-hari saya mencarinya."

"Saya tidak peduli," jawab Sasuke santai. "Yang saya tahu adalah dia belum mau bertemu dengan Anda." Sakura sudah menceritakan semua padanya semalam, ia cukup berempati dengan nasib Karin.

"Uchiha—"

"Saya bukan orang yang bisa diancam, Senju-san." Sasuke menarik senyum tipis. "Seperti yang saya bilang. Anda bisa bertemu dengannya, tapi nanti saat dia sudah lebih tenang dan mau menemui Anda."

"Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, Uchiha!" seru Tobirama dengan nada ancaman yang tidak disembunyikan.

"Saya tahu betul siapa Anda. Kalau Anda berpikir bisa mengancam saya, Anda salah besar. Andalah yang seharusnya merasa terancam," balas Sasuke dengan ketenangan yang luar biasa.

"Kau akan menyesal, Uchiha."

"Anda yang akan menyesal, Senju-san. Menyeret Anda ke pengadilan militer bukan hal sulit buat saya."

Baik Tobirama maupun Karin dan Sakura sama-sama kaget mendengar hal tersebut. Apa mungkin Sasuke tahu sesuatu yang tidak mereka ketahui?

"Anda penah menjual rancangan senjata pada pihak Amerika dan sekutunya pada saat perang. Bukan sekali atau dua kali. Itu adalah suatu kejahatan dan pengkhianatan pada negara, Senju-san. Anda tidak akan lolos jika saya membawa kasus ini ke pengadilan militer."

"Kau!"

Walaupun sekarang Amerika dan Jepang sudah berdamai dan menjalin kerja sama, namun hal yang dilakukan Tobirama di masa lalu belum tentu bisa dimaafkan. Sasuke tahu betul akan hal itu dan memanfaatkannya dengan baik. Pria Senju itu tak punya pilihan, pertama kalinya ia bertemu dengan lawan yang sama kuat dengannya.

oOo

Karin tak tahu lagi bagaimana ia harus menucapkan terima kasih pada Sasuke. Ia memang tak salah meminta bantuan pada Sakura. Selama ini ia berpikir kalau tak ada orang yang bisa membuat pria yang sangat dicintainya itu merasa gentar.

"Kekasihmu itu bukan kontraktor biasa. Dia memegang rahasia banyak orang dan memanfaatkannya. Dia tidak peduli mau berbisnis dengan siapa asalkan membawa keuntungan untuknya," kata Sasuke menjelaskan, sekarang ia ditemani Sakura dan Karin di ruang tamunya. Ia sengaja membiarkan Kenichi bermain bersama Ayame agar tidak mendengar pembicaraan ini. Sakura berkali-kali harus mengerjapkan matanya karena tak percaya.

Jangankan Sakura, Karin saja tak percaya dengan sepak terjang ayah dari bayi yang masih berada dalam kandungannya. Pantas saja pria itu terlihat begitu percaya diri dan superior.

"Sejak kapan Sasuke-san tahu mengenai Senju Tobirama?" tanya Sakura penasaran.

"Salah satu tentara musuh yang kuinvestigasi mengatakan bahwa ia mendapat rancangan sejata dari orang Jepang juga. Ia mengejek dan menertawai kami, mengatakan kalau senjata yang dipakai membunuh kami adalah hasil karya bangsa sendiri. Rekanku yang lain menganggap itu angin lalu dan mengabaikannya, tapi aku dan Shikamaru menyelidikinya. Dari situlah aku tahu kalau Senju Tobirama memang pernah menjual desain senjata pada pihak militer Amerika sesaat sebelum penyerangan besar-besaran ke Pearl Harbour."

Sakura sudah tak bisa melepaskan ekspresi terkejutnya. "Lalu, kenapa Sasuke-san tidak melaporkannya?"

"Karena bukti-bukti itu lengkap saat Hiroshima dan Nagasaki dibom. Aku menjadi lebih sibuk untuk menahan gempuran serangan yang datang. Hasilnya sudah bisa kalian tebak sendiri. Kita kalah. Karena Amerika saat ini bisa dibilang adalah teman kita, makanya bukti itu kusimpan saja dulu."

Satu lagi kekaguman timbul dari dalam diri Sakura. Suaminya benar-benar luar biasa. Prajurit yang tidak mengenal takut. Seseorang yang terus mencari tahu akan kebenaran. Wanita itu meraih tangan Karin, mengucapkan kalau sahabatnya itu akan selalu aman bersama mereka.

.

.

.

oOo

.

.

.

Seminggu lebih ia habiskan bersama Sakura dan keluarganya, selama itu pula ia akhirnya bisa melihat apa yang dinamakan keluarga yang sesungguhnya. Rasa rindunya pada Tobirama terus membesar seiring berjalannya waktu. Ia juga ingin membangun rumah tangga bersama pria itu. Semua sisi idealisnya di masa lalu sudah terkikis habis.

Sakura yang memahami isi hatinya bahkan memintanya untuk menemui Tobirama, membicarakan baik-baik mengenai masalah yang sedang mereka hadapi. Setidaknya kalau memang ingin berakhir, akhirilah dengan baik-baik juga. Itulah yang Sakura ucapkan padanya.

Setelah menjadi lebih tenang dan bisa berpikir jernih, ia mulai mempertimbangkan ucapan Sakura. Ia merasa kalau Tobirama peduli padanya. Kalau tidak, tak mungkin pria itu berusaha keras mencarinya. Semua hal yang terjadi padanya sudah bisa ia terima sebagai teguran Yang Maha Kuasa. Ia yang memandang sinis pada ikatan pernikahan malah diberi teguran seperti ini.

"Aku ingin menemuinya," ujar Karin pada suatu sore.

"Kapan? Mau kutemani?"

Karin menggeleng. "Mungkin besok siang, aku ingin menemuinya secara pribadi."

Karin sudah bertekad untuk menyelesaikan semuanya kalau memang mereka harus berakhir. Mengenai anaknya yang tumbuh tanpa ayah, biarlah itu menjadi urusannya di masa depan. Ia yang memulai dosa ini, maka ia harus siap menanggungnya. Hukum karma selalu berlaku.

oOo

Penjaga pintu gerbang memandangnya penuh keterkejutan. "Uzumaki-san!" sapanya tak percaya. Salah satu rekannya pernah dipecat karena membiarkan perempuan ini pergi.

"Apa Senju-san ada?"

"Beliau di dalam. Beliau sama sekali tidak keluar selama seminggu ini, pembantu yang lain juga sudah dipecat. Kami tak tahu seperti apa keadaannya di dalam sana."

Karin yang mendengar itu menjadi cemas. Tobirama, baik-baik saja, kan? Wanita itu segera masuk sesaat setelah pintu gerbang dibukakan untuknya. Ia semakin heran saat pintu depan sama sekali tidak dikunci. Untuk orang seperti Tobirama, kejadian kecil seperti ini tak mungkin terjadi. Harap-harap cemas, ia menaiki tangga. Rumah ini terlihat sangat gelap. Orang yang masuk pasti akan mengira ini rumah hantu.

Tobirama tak ditemukan di mana pun. Aneh karena penjaga di luar mengatakan kalau lelaki itu tak pernah beranjak dari dalam rumah. Kamar mereka pun terlihat sangat gelap, seperti tak ada penghuninya sama sekali. Barulah saat ia menyalakan lampu, sosok Tobirama tertangkap di retina matanya.

Pria itu duduk di sofa kamar mereka seperti tak bernyawa. Ia terlihat lebih berantakan dari seminggu yang lalu. Benar-benar bukan seorang Senju Tobirama yang biasanya!

"Tobi!" Ia menghampiri lelaki itu. "Tobi," panggilnya seraya mengguncang tubuh lelaki itu, rasa ibanya mengalahkan rasa takutnya sekarang. "Tobi," panggilnya sekali lagi.

"Kau datang?" lelaki itu mencengkeram kedua tangannya, tidak terlalu kuat, mungkin karena pria itu yang sudah kehilangan sebagian tenaganya.

"Ada apa denganmu?" tanya Karin iba. Ia sedikit memekik saat Tobirama membawanya ke dalam sebuah pelukan.

"Jangan berani pergi dariku lagi."

"Lepaskan!" Karin berusaha memberontak. "Lepas," pekiknya karena pria itu tak kunjung melepaskan pelukannya. Ia ingin lari sekarang juga. Ia tak siap bertemu dengan Tobirama. Ia takut akan kenyataan yang mungkin saja akan menghancurkan angannya. Ia tak siap kalau harus sakit hati sekali lagi. Ah, harusnya ia tak datang. Sisi emosionalnya kembali menguasai, terjadi perdebatan dalam hatinya. Satu sisi ia rindu, akan tetapi sisi lainnya berteriak untuk pergi.

"Aku tak akan melepaskanmu."

Tobirama memang sangat egois. Karin bingung, hati pria ini sebenarnya terbuat dari apa. Ia tak mau dipermainkan.

"Kau sudah punya Rizuki dan Kurenai."

Dia sudah punya anak, kenapa masih belum mau melepas Karin? Pria ini memang egois tak termaafkan.

"Mereka bukan milikku!"

Gerakan memberontak Karin terhenti. Wanita beriris merah itu membatu dalam pelukan si pria. Barusan, pria itu mengatakan apa? Ia tak mau banyak berharap karena banyak harapannya yang menjadi sia-sia.

"Rizuki bukan anakku," jawab pria itu pelan. Ia mengecup pelipis Karin. "Aku merindukanmu."

"La-lalu?" Perut Karin seperti digelitik berjuta kupu-kupu. Tubuhnya akan meledak karena pengakuan rindu Tobirama. Ingin rasanya ia berteriak kalau ia juga merindukan pria pujaan hatinya dan semakin tenggelam pada pelukan pria itu.

"Kurenai memang pernah mengandung anakku, tapi dia mengalami keguguran. Semakin lama hubungan kami semakin buruk, makanya kami memutuskan untuk berpisah. Dia sudah menikah dengan Sarutobi Asuma, Rizuki itu anak mereka."

Salah sangka! Karin sudah salah sangka selama ini!

"Dia bukan anakmu?" ia bertanya lagi untuk memastikan. Saat Tobirama menggeleng, detik itu juga Karin membalas pelukannya sambil menangis kencang. "Kenapa kau suka sekali membuatku salah paham!?" Karin meraung sendu, cukup sudah ia menahan perasaannya selama ini. Ia menyamankan posisi duduknya di pangkuan pria itu, mengusap wajah tampan yang terlihat sangat lusuh. "Aku benar-benar tak bisa menebak jalan pikiranmu. Aku membencimu!"

Dan Tobirama tahu kalau pernyataan terakhir Karin adalah sebuah kebohongan besar. Ada hal lain yang lebih layak untuk dibicarakan sekarang. "Karin, kau hamil?"

Wanita itu terdiam sebentar, mendesah berat sebelum akhirnya menjawab, "Ya, anakmu."

"Aku tahu."

"Aku hanya ingin bertanya, apa kau menginginkan anak ini?" tanya Karin cemas. Kenyataan Rizuki bukan anak Tobirama belum membuatnya benar-benar lega. Belum tentu pria ini juga menginginkan sang jabang bayi.

Kening Karin dikecup dengan lembut. "Tentu saja, karena aku memang berniat membangun keluarga bersamamu."

Jadi, memang benar, ya, kalau Tobirama ingin berhenti dan memilihnya sebagai pelabuhan terakhir? Semua bukan hanya angan Karin semata. Semuanya adalah kenyataan. Pria itu memang memilihnya. Dia dan bukan yang lain.

"Kau benar-benar membuatku kacau, Tobi! Aku membencimu!" pekiknya sambil menangis karena bahagia.

"Kau jatuh cinta padaku, akui saja itu."

Sial! Ia tak dapat membalas karena semua yang diucapkan Tobirama benar adanya. Ini tak adil, harusnya sekarang ia yang membuat pria itu makan hati. Harusnya sekarang pria itu memohon-mohon maaf padanya. Harusnya sekarang dia meminta kesempatan kedua dari Karin. Kenapa malah Karin yang dengan begitu mudah terjatuh pada jeratan pria ini lagi? Padahal tadi Tobirama terlihat seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Ini tak adil! Kenapa pria itu selalu menang darinya?

"Terus kenapa menitipkan Rizuki padaku sementara kau dan Kurenai ke China? Aku kan kesal setengah mati."

"Suaminya dikabarkan masuk rumah sakit di sana, kebetulan aku juga mau berbisnis dengan Asuma. Rizuki dititipkan padamu karena Kurenai tak memiliki keluarga di sini, ia tak percaya pada orang lain untuk menjaga anak itu. Kami tak jadi pergi karena ternyata Asuma memilih pengobatan di Jepang."

Karin sangat berharap kalau di lantai tercipta lubang hitam yang sangat besar sehingga ia tersedot dan tak pernah muncul lagi. Ia termakan kecemburuan yang diciptakannya sendiri. Bodoh! Bodoh! Sakura tak boleh tahu, kalau tidak ia akan sangat malu. Ugh, mana dia pernah bersembunyi di rumah Neji pula, sungguh memalukan.

Karin sendiri hampir tak bisa mempercayai semua yang terjadi hari ini. Dalam bayangannya, ia berharap Tobirama akan memohon maafnya. Ini salah! Keadaan harusnya tak begini. Seharusnya suasana di antara mereka menjadi sangat sedih, ada Karin yang marah-marah dan Tobirama yang kebingungan.

"Kau tak bisa lari dariku lagi."

"Katakan dulu kau mencintaiku," rajuk Karin kesal.

Ya, Uzumaki Karin memang sudah terjebak selamanya. Ia sudah tak bisa lagi melepaskan diri dari jerat mematikan seorang Senju Tobirama.

.

.

.

oOo

.

.

.

Sakura dan Karin.

Kedua wanita ini sama-sama jatuh cinta. Mereka juga sempat tersakiti karena cinta. Mereka pernah memilki angan yang indah bersama orang yang dicintai. Tenyata, cinta sejati mereka adalah orang yang sama sekali tak disangka sebelumnya.

Sasuke sangat berbeda dari Kimimaro. Jika mantan kekasihnya itu tak bisa mempertahankannya, maka Sasuke adalah orang pertama yang terus berada di sisinya saat hal buruk terjadi. Pria itu tak pernah membiarkannya jatuh terpuruk. Sasuke adalah orang yang membuatnya bangkit dari kesedihan mendalam. Ia menemukan apa arti cinta sejati saat setelah bertemu dengan Sasuke. Berada dalam pelukan lelaki itu adalah sesuatu yang paling disukainya. Sosok Sasuke yang tenang membuatnya tak ragu dalam melangkah. Semakin hari, cintanya juga tumbuh dengan semakin besar.

Sakura telah menemukan kebahagiaan sejatinya. Bersama Uchiha Sasuke, ia menemukan apa arti kerelaan. Penerimaan Sasuke yang luar biasa pada kondisinya membuat wanita bermata indah itu begitu bersyukur pada Sang Pencipta. Ia yang tak bisa memiliki anak mendapat anugerah luar biasa dalam diri Sasuke dan Kenichi. Wanita mana pun akan sangat iri padanya. Sasuke dan Kenichi adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.

Setelah Sakura, maka sekarang adalah giliran Karin untuk menemukan cinta sejati. Seperti halnya Sakura yang pernah membangun asa bersama Kimimaro, ia juga pernah memiliki impian masa depan bersama Hyuuga Neji. Sayang, impian itu harus kandas di tengah jalan karena permainan takdir.

Siapa yang pernah menyangka kalau ia akan melabuhkan hati pada Senju Tobirama? Ah, bukan, pertanyaan utamanya adalah: siapa yang pernah menyangka kalau lelaki itu akan menjatuhkan pilihannya pada Karin?

Tobirama adalah pria yang tak bisa ditebak. Pria dengan sejuta pesona yang bisa menaklukan siapa saja. Hubungan mereka diawali dengan sebuah kesalahan yang semakin lama semakin rumit. Ketakutan terbesar Karin adalah saat menemukan fakta bahwa dirinya sedang hamil. Anak sang pria bermarga Senju tentu saja.

Saat itulah ia takut ditinggalkan. Yang paling utama, ia menjadi semakin takut karena tak menyangka cintanya telah berkembang dengan begitu pesatnya. Ia tak pernah membayangkan kalau ia bisa mencintai Tobirama melebihi rasa cintanya pada Neji.

Akhirnya setelah banyak kejadian tak terduaga, semua kesalahpahaman di antara mereka selesai. Sekali lagi, Tobirama dengan keangkuhannya yang begitu tinggi bisa menaklukan Karin, memutarbalikan keadaan sehingga ia yang kembali memegang kendali. Wanita dengan iris merah itu tak mungkin menolaknya. Ia tahu kalau Karin kan memberikan kesempatan kedua padanya. Kali ia tak akan menyiakannya lagi. Ia akan membahagiakan Karin. Memberikan segala hal yang diinginkan wanita itu, termasuk pernikahan. Karena pada awalnya, Tobirama memang sudah berniat untuk berhenti dari petualangan cintanya bersama banyak wanita saat ia menemukan Karin. Wanita yang satu ini dapat memancing sisi seorang kepala keluarga dari dalam dirinya. Pria Senju ini yakin kalau mereka bisa membangun keluarga yang bahagia asalkan selalu bersama.

Ia melamar Karin dan wanita itu tak mungkin menolaknya. Ini bukan akhir kisah mereka, ini adalah awal dari kebahagiaan mereka yang baru.

.

.

.

oOo

.

.

.

Pernikahan selalu menjadi hari yang paling ditunggu. Perasaan berdebar, tak percaya, gugup, bahagia, semuanya melebur menjadi satu. Hari yang paling dinantikan para wanita akhirnya datang juga menghampiri Karin. Hari pernikahannya dengan Senju Tobirama. Mereka menikah setelah Karin melahirkan anak pertamanya. Seorang bayi perempuan cantik yang diberi nama Senju Hikari. Bayi mungil yang memiliki rambut perak dan mata merah seperti ayahnya. Sama sekali tak ada jejak Karin dalam sosok mungil yang sangat manis itu.

Karin tak mau menikah selama masa kehamilannya karena ingin penampilannya terlihat sempurna. Mana ada pengantin wanita yang gemuk dengan perut buncit? Begitulah jawabannya setiap kali Ino dan Sakura menanyakan kapan ia akan menikah.

Pernikahan ini juga mendatangkan keberuntungan bagi Yamanaka Ino. Sebagai satu-satunya yang masih membujang dalam lingkaran persahabatan mereka, sudah pasti ia juga menginginkan adanya pendamping. Sepertinya hal itu bisa segera terwujud karena salah satu rekan Tobirama yang bernama Akasuna Sasori sama sekali tak mengalihkan tatapannya dari Ino selama berlangsungnya prosesi pernikahan.

Tobirama memang pria yang dominan, tapi demi pernikahan ini ia bersedia mengalah. Pengaruh barat yang masuk membuat Karin tak ingin menikah di kuil. Ia ingin menikah di gereja dengan mengenakan gaun putih dan wedding veil yang sangat panjang. Pernikahannya harus menjadi sangat istimewa. Karin sudah melihat betapa prestisiusnya pernikahan Sakura dulu sehingga ia ingin membuat pernikahannya juga sama spesial dengan pernikahan sahabatnya.

Seperti halnya Sakura, Karin juga menikah di musim gugur yang indah. Pernikahan mereka dilakukan di sebuah kapel indah di pinggiran Tokyo. Yang menjadi pengiring Karin menuju altar adalah Sasuke. Untung saja suami Sakura itu tak keberatan. Karin sangat gugup waktu meminta Sasuke untuk mendampinginya, melakukan tugas yang seharusnya menjadi tugas para ayah. Karin memilih Sasuke karena ia tak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa, ia tak mau didampingi orang yang tak dikenalnya saat menuju altar. Wanita itu juga bahagia karena Neji dan Hinata menghadiri pernikahannya. Ia berharap semoga masing-masing dari mereka bisa menemukan kebahagiannya sendiri.

Sambil menggendong bayi Karin, Uchiha Sakura melihat ke luar. Daun-daun mulai beguguran karena tertiup angin. Ujung bibir wanita berambut merah muda itu tertarik ke atas. Daun yang beguguran tak bisa menyalahkan angin. Ia juga tak bisa menyalahkan takdir saat jatuh cinta. Ke mana arah angin, ke sana jugalah daun akan jatuh. Tak ada yang tahu ke mana arah takdir, kepada siapa dirinya jatuh cinta, dan seperti apa cinta yang akan dijalani. Sakura menarik sebuah kesimpulan dalam hatinya, seseorang yang sedang jatuh cinta bagaikan daun-daun yang beguguran, tak tahu kapan dan tak tahu ke mana arahnya, mereka hanya jatuh.

.

.

.

.

FIN

A/N:

TAMAT! TAMAT! TAMAAAAAAAAAAAAAAAAAT!

Oh God, senang sekali rasanya menyelesaikan fict yang satu ini. Haduh, butuh perjuangan berat untuk bisa menulis sepanjang ini lagi #pukpukinMATA #pukpukinBAHU

Daaaaaaaaan, sepertinya banyak yang salah paham ya sama sasuke di chapter kemarin wkwk

Terima kasih sudah mengikurti fict ini dari awal. Rasanya berat juga berpisah dengan fict kesayangan saya ini. Huhu, jadi kepikiran buat epilog singkatnya :3

Terima kasih juga buat yang udah ngasih banyak masukan, ntar kalau ada waktu saya edit chapter2 sebelumnya.

Adakah yang mau berkomentar soal pair Tobirama-Karin di fict ini? jujur aja ternyata baru saya yang membuat fict tentang mereka, di kategori bahasa lain (English dll) juga ga ada #sedihnya

Karena ini sudah chapter terakhir, biarkan saya mengetahui pendapat kalian mengenai chapter ini dan keseluruhan fict ini.

Sekali lagi, Terima kasih :*