Ketakutan terbesar manusia adalah ditolak, diabaikan, tak dianggap. Semua itu akan menghasilkan rasa rendah diri dan kecemasan yang teramat sangat. Karena itu, tak jarang seseorang bisa menerima kekurangan diri sendiri.

Kekurangan terbesar Sakura adalah ia tak bisa memiliki anak. Tak akan ada satu pun keturunan Uchiha yang lahir dari rahimnya. Beruntung karena sang suami sama sekali tak mempermasalahkan ketidaksempurnaannya tersebut.

Lain halnya dengan keluarga sang suami, belum tentu reaksi mereka sama seperti Sasuke. Sebulan setelah keluar dari rumah sakit dan dirasa kondisi tubuhnya sudah cukup kuat, mereka berdua pergi menemui kedua orangtua Sasuke.

Dalam ruang keluarga tradisional yang dilapisi tatami, Sasuke serta istrinya menghadapi kedua orangtuanya. Sepasang suami istri ini duduk berhadapan dengan Mikoto dan Fugaku. Uchiha Mikoto sepertinya sudah bisa memahami kondisi menantunya. Ia terus memandang maklum pada Sakura sementara putra bungsunya terus memberi penjelasan. Namun, respon berbeda ditunjukkan oleh Uchiha Fugaku. Pria paruh baya itu hanya diam, tak menampilkan ekspresi apa-apa. Air mukanya tak tertebak, entah ia marah, kecewa, sedih, atau menerima, sama sekali tak dapat diterka.

Fugaku kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut sesaat setelah Sasuke menyelesaikan kalimat terakhirnya. Hati Sakura bagai teriris sembilu menyaksikan ayah mertuanya pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia menatap sendu pada suaminya. Sakit. Bisa saja ayah mertuanya memang menolak keadaan Sakura sekarang. Dan hal ini sangat menyakiti hatinya.

Segera Sasuke menggenggam tangan Sakura yang duduk di sebelahnya, mencoba menenangkan sang istri yang semakin merasa terpuruk. Sebelum ini, Sasuke sudah beberapa kali mencoba memberikan pengertian pada kedua orangtuanya. Tapi, ini adalah kali pertama Sakura ikut dengannya untuk memberikan penjelasan. Berbeda dengan Sasuke yang sudah sudah mengenal watak sang ayah, Sakura yang tak pernah mendapat reaksi seperti itu dari Fugaku jelas merasa sangat terpukul.

"Kaa-san akan mencoba bicara dengannya," ujar Mikoto muram. Putra dan menantu yang duduk dihadapannya itu terlihat cukup kecewa dengan reaksi Fugaku. Apa boleh buat, tak ada yang pernah menyangka kalau Sakura akan mengalami nasib buruk seperti itu.

Makan malam juga dilalui dalam keheningan yang meresahkan. Itachi dan Konan sudah memberi peringatan pada anak-anak mereka untuk tak menanyakan apa pun pada saat makan malam. Mereka sudah bisa menebak hal ini akan terjadi. Ketiga anak Itachi bersama Kenichi langsung masuk ke kamar mereka setelah makan. Malam ini tak ada satu pun dari mereka yang duduk berbincang-bincang dahulu sebelum tidur. Fugaku juga segera masuk ke dalam kamar dengan diikuti istrinya. Begitu pula dengan Itachi dan Konan. Sasuke pun mengajak Sakura untuk masuk walaupun wanita itu sepertinya cukup enggan meninggalkan ruang makan.

"Aku tak akan membiarkanmu begadang di sini. Setidaknya, beristirahatlah di dalam bersamaku."

Mengangguk patuh, Sakura lalu bangkit mengikuti sang suami.

.

.

.

.

.

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by Morena L

Main chara: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uzumaki Karin, Senju Tobirama

Warning: AU, OOC, typo, DLDR, rated M untuk konflik dan bahasan yang berat

.

.

.

.

.

.

.

Pagi-pagi benar Sakura sudah membuka matanya, meninggalkan alam mimpi yang hanya dia singgahi sebentar. Hampir sepanjang malam dia terus terjaga, merenungi semua hal yang dialaminya. Baru terlelap sebentar, dia sudah kembali bangun akibat pikiran yang sedang kacau. Air matanya baru tumpah setelah Sasuke tertidur. Sakura tak ingin menangis di depan suaminya. Sasuke sudah terlalu baik padanya. Dia tak mau terus-terusan membebani Sasuke dengan masalah ini. Harus diakui kalau reaksi ayah mertuanya kemarin membuat hatinya terus mencelos. Kekecewaan Fugaku adalah salah satu yang paling dia takuti.

Sakura merapatkan mantel tebal yang membungkus tubuhnya. Dia ingin berjalan-jalan sebentar di pekarangan kediaman Uchiha. Langkahnya terhenti saat melihat sosok yang sejak tadi malam menjadi sumber utama kemuraman hatinya. Uchiha Fugaku, pria paruh baya itu terlihat sedang sibuk membersihkan rumput-rumput liar di deretan pot bonsainya.

Tanpa suara, Sakura mendekati pria itu, berdiri di sampingnya, dan ikut membersihkan rumput-rumput liar pada salah satu pot. Tampaknya bonsai-bonsai tersebut belum sempat diurus sehingga terdapat cukup banyak rumput liar yang mengganggu. Ayah mertuanya melirik sebentar ke arah Sakura sebelum melanjutkan pekerjaannya. Dalam diam, mereka berdua terus melanjutkan kegiatannya masing-masing. Detakan jantung Sakura bagai gendang yang terus bertalu-talu. Suasana hening ini seperti mencekik lehernya, membuatnya sulit bernapas. Namun, ia memberanikan diri untuk terus berada dalam posisi ini.

Tanpa mereka sadari, Sasuke dan Mikoto sedang melihat mereka dari dalam rumah. Walau wajahnya tetap datar, tapi dalam hati Sasuke merasa sangat lega. Mikoto pun merasakan hal yang sama. Semua itu karena satu hal, sesuatu yang sangat mereka yakini sebagai penerimaan dari Fugaku. Hidup bertahun-tahun dengannya membuat mereka sangat tahu kebiasaan dari sang jenderal.

"Tou-san tak pernah membiarkan siapa pun menyentuh bonsai-bonsai kesayangannya. Sebanyak apa pun rumput liar yang ada di sana, Tou-san selalu membersihkannya seorang diri."

Mikoto mengangguk-angguk mendengar ucapan putranya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan kalau begini. "Ayo pergi, Sasuke, mereka pasti butuh privasi," ajaknya lembut.

oOo

"Aku sudah menyelesaikan di sebelah sini, boleh membersihkan di sebelah sana?" tanya Sakura sambil menunjuk bonsai-bonsai yang berada di sebelah ayah mertuanya.

"Hn."

Mengartikan jawaban tersebut sebagai tanda persetujuan, Sakura segera bergegas untuk pindah dari posisinya sekarang. Suasana kaku di antara mereka semakin menghangat. Beberapa kali Fugaku menujukkan cara mencabut rumput yang benar padanya. Rumput liar ada banyak jenisnya sehingga diperlukan perlakuan berbeda untuk mencabut semua sampai ke akar-akarnya.

"Tou-san, apa masih ada pot yang perlu dicabuti?"

"Ini pot yang terakhir, duduklah di teras."

Patuh pada perintah mertuanya, Sakura segera pergi menuju teras belakang yang tak jauh dari deretan bonsai milik Fugaku. Setelah selesai, Fugaku pun menyusul menantunya. Mereka duduk bersebelahan. Belum ada yang membuka percakapan.

"Apa kata dokter saat kalian meninggalkan rumah sakit?"

Sakura terperanjat sebentar sebelum menjawab, "Aku disarankan untuk banyak istirahat agar pemulihannya berjalan lancar."

"Hn, bagaimana kondisimu sekarang?"

"Sudah jauh lebih baik."

Hening.

Kembali tak ada berbicara. Sakura kesulitan untuk memulai lagi percakan antara dirinya dan ayah mertuanya. Topik yang akan ia bicarakan ini cukup sensitif, dia takut ayah mertuanya akan langsung pergi seperti percakapan kemarin sore.

"Aku ... aku sebenarnya sangat ingin melihat seperti apa cucu yang akan kaulahirkan."

Sakura mengepalkan tangannya resah. Pria di sebelahnya ini sudah lebih dulu memulai topik yang sejak tadi sangat ingin dia bicarakan.

"Aku menyayangimu seperti putriku sendiri. Sejak pertama melihatmu, aku tahu kalau kau adalah gadis yang baik."

Tanpa bisa Sakura cegah, bulir-bulir air mata mulai menuruni pipinya.

"Harus kuakui, aku cukup kecewa."

Isakan tangis wanita itu mulai terdengar jelas. Kekecewaan yang terlontar langsung dari mulut Fugaku membuatnya semakin jatuh pada jurang rendah diri. Rasa pesimis itu kembali muncul ke permukaan. Luka di hatinya seperti kembali menganga.

"Tapi, aku bisa melihat kalau Sasuke tetap merasa bahagia bersamamu. Sejak masuk militer, ia kehilangan senyumnya. Aku sudah merenggut masa kecilnya. Jadi, saat melihat ia bisa tersenyum tulus di sampingmu, aku juga ikut senang. Seorang ayah hanya ingin melihat anaknya bahagia." Fugaku merangkul bahu menantunya. Tangannya yang bebas menghapus linangan air mata yang mengalir dengan begitu deras. "Aku tak akan menuntut apa pun selama Sasuke senang. Kau memang tak sempurna. Tapi, kau melengkapi Sasuke dengan ketidaksempurnaanmu. Apa lagi yang bisa aku harapkan?

"Jangan menangis ... berjanjilah kalau kau akan selalu ada di samping Sasuke ... dan membuatnya bahagia."

"A-aku berjanji, Tou-san ... a-aku janji ...," jawab Sakura terbata.

"Putriku ...," ujar Fugaku sambil mengeratkan rangkulannya pada bahu Sakura, membiarkan wanita itu mengeluarkan tangis kebahagiannya. Beban berat seperti telah terangkat dari bahu masing-masing. Rantai yang membelenggu juga telah terlepas seutuhnya, membuat embusan napas yang kini terdengar adalah embusan ringan.

Jika kekecewaan dari pihak lain adalah salah satu penyebab keterpurukan, maka penerimaan adalah obat paling mujarab untuk sebuah kebangkitan. Sakura bisa lega sekarang. Di tengah musibah yang menimpanya, ternyata masih banyak orang yang menyayanginya. Mereka yang menerima apa adanya. Sakura harus membayar mahal untuk mendapat cinta dan penerimaan tulus secara total seperti ini. Karena itu, dia bertekad untuk sekuat mungkin membalas kebaikan yang sudah dia dapatkan. Sakura akan berusaha menjadi istri, ibu, dan menantu yang baik. Sinar matahari pagi yang hangat seolah menjadi gambaran kehangatan yang kini sedang mereka rasakan.

.

.

.

.

.

Kau memang tak sempurna. Tapi, kau melengkapi Sasuke dengan ketidaksempurnaanmu.

.

.

.

.

.

Fin

A/N:

Haloooow, ketemu lagi dengan saya. Ada yang kangen? #hoi #gadayangkangensamaente

Sorry nih, lama ga ngetik makanya bingung mau lanjutin yang mana dulu. Udah gitu sempat hiatus lama karena tempat tinggal sekarang sinyal internetnya kam**fret sekali #dilempar sorry kalau tulisan saya jadi agak-agak gimana gitu, maklum udah lama ga nulis fict sih. Kalau ada typo atau misstypo kasih tau aja, jangan sungkan.

Terus karena sinyal internet sekarang susah, mohon maaf, saya ga bisa balas review satu2 kaya dulu lagi. Nanti saya satukan saja semuanya di AN.

Epilog DDG bakal saya bikin 3 part

Part 1 tentang SasuSaku

Part 2 tentang TobiramaKarin

Part 3 tentang SS dan TK setelah puluhan tahun berlalu

Untuk part 1 lebih saya tekanin ke Fugaku-Sakura sih, soale si ayah mertua belom jelas reaksinya kaya apa. Udah rencanain ini dari lama dan kebetulan ditanyain sama salah satu reviewer aka Laura Pyordova. Jeng, ini si papah Fugaku dan mamah Mikoto udah jelas kan? hohoho #dichidori

Terus, saya 2 punya pengumuman, silakan liat di profile ffn saya ya. Thx

Saya tunggu tanggapannya ya

byeeee