Seperti kebiasannya setiap hari, Sakura selalu bersenandung kecil dalam perjalanannya menuju kediaman Nara. Hari ini ia akan kembali mengajar Kenichi, putra pasangan Nara yang sangat cerdas tapi juga sangat malas dan cepat bosan. Tidak terasa sudah hampir sebulan ini ia penjadi guru privat Kenichi. Karena hari Sabtu dan Minggu ia libur dari tugasnya mengajar, maka di awal minggu ini ia kembali pada rutinitasnya untuk mengajari anak itu.

Gadis dengan mahkota merah muda ini menemukan sesuatu yang cukup janggal saat berdiri di depan pintu gerbang rumah Kenichi. Banyak orang yang mengenakan pakaian serba hitam. Para wanita juga mengenakan kimono yang sering dipakai untuk melayat. Sayup-sayup suara tangisan dari dalam rumah menyapa indera pendengarannya.

.

.

.

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by Morena L

Main chara: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uzumaki Karin, Senju Tobirama

Warning: AU, OOC, typo, DLDR, rated M untuk konflik dan bahasan yang berat

.

.

.

Belum sempat kebingungannya terjawab, kini ia sudah ditarik oleh Uchiha Sasuke. Lelaki itu menarik Sakura dengan mencengkeram lengan gadis itu cukup kuat sehingga Sakura meringis. Langkah mereka yang tidak berimbang membuat Sakura berlari kecil agar dapat mengimbangi kecepatan dan lebar langkah Sasuke. Dari tadi Sakura ingin bertanya, sebenarnya apa yang sedang terjadi sekarang? Kenapa ada banyak orang di luar sana? Kenapa Sasuke menariknya dengan tergesa seperti ini?

"Aw!" Sakura memekik kecil karena tak sengaja menabrak tubuh Sasuke yang berhenti tiba-tiba.

Masih belum mengatakan apa-apa, pria itu membuka pintu geser yang ada di hadapan mereka dan kembali menarik lengan Sakura. Mata Sakura membulat saat melihat Kenichi sedang duduk sambil memeluk lututnya di atas futon. Mata anak lelaki itu bengkak dan wajahnya sangat terpukul. Kenichi masih sesenggukan sambil meremas-remas baju tidurnya.

"Shikamaru dan Temari mengalami kecelakaan pada hari Sabtu malam. Mobil mereka tertabrak dan tergelincir masuk ke dalam sungai. Keduanya tidak selamat," kata Sasuke yang seolah memberi penjelasan atas apa yang sedang terjadi.

Secara refleks Sakura menutup mulutnya tak percaya. Shikmaru dan Temari ... meninggal dalam kecelakaan?

"Aku melihatmu dari jendela tadi dan langsung membawamu kemari. Kenichi tidak mau makan sejak mendengar berita itu. Dia juga tidak mau melakukan apa pun. Dia hanya menangis dan menangis," kata Sasuke sambil menatap putra sahabatnya itu.

"Kuharap kau—"

Sasuke tidak melanjutkan kalimatnya lagi karena gadis yang diseretnya tadi sudah melangkah maju. Sakura mendekati Kenichi, memeluk anak itu dengan penuh sayang. Tanpa disadari ia juga sudah ikut mengalirkan air mata. Bocah berusia lima tahun itu memeluk tubuh Sakura dan menangis tersedu-sedu.

"Hiks ... hiks ... Nee-san ... Tou-san dan Kaa-san tidak mati, kan? Aku kan mau mendapat adik, Kaa-san sebentar lagi akan melahirkan adikku ... mereka tidak mati, kan? Hiks ... hiks...," tanya Kenichi yang sesenggukan, sebentar-sebentar ia menarik kain kimono yang Sakura kenakan.

"Kenichi."

"Tou-san sudah janji ini ... hiks ... dia mau bermain shogi lagi denganku ... hiks ... Kaa-san juga sudah berjanji mau mamasak nasi merah malam ini ... hiks ... terus aku boleh menemani Tou-san untuk memilih nama adikku hiks ... kalau punya adik laki-laki hiks ... nanti aku yang mengajarinya main shogi... kalau adikku perempuan nanti aku yang menjaganya ... hiks ... mereka tidak mati ... mereka tidak mati ...," rajuk Kenichi lagi.

Sakura terus berusaha menenangkan bocah yang sedang menangis sambil memanggil ayah dan ibunya itu. Sesekali ia mengusap rambut Kenichi dan membisikkan kata-kata yang menenangkan. Tapi, anak itu tetap tidak mau menerima kalau kedua orang tuanya telah tiada. Bukan hanya itu, karena Temari meninggal saat sedang hamil maka Kenichi pun kehilangan adik yang sudah sangat ia nantikan selama ini.

"Kenichi, Tou-san dan Kaa-san pasti sedih kalau Kenichi seperti ini. Kenichi anak baik, kan?" bujuk Sakura yang terus berusaha untuk menenangkan Kenichi.

"Apa kau bisa membujuknya makan?"

Sakura menoleh ke arah pintu, tampak sosok Sasuke yang kini membawa nampan. Sepertinya saat Sakura menenangkan Kenichi tadi, pria itu pergi ke dapur untuk mengambil makanan. Sasuke mengambil tempat di dekat keduanya dan meletakan nampan yang dipegangnya tadi. Ia mengulurkan tangannya dan mengusap singkat rambut hitam putra tunggal Shikamaru itu.

"Dia menolak makan. Kerabat Temari dan Shikamaru sudah mencoba membujuknya tapi dia tetap menolak. Ada yang sampai membentaknya tapi tetap tak ada hasil. Kuharap kau bisa membujuknya," ucap Sasuke yang menatap langsung mata Sakura.

Sakura mengangguk singkat. Ia kemudian mengusap pelan pipi Kenichi dan memberikan senyum terbaiknya. Dengan menggunakan ibu jarinya, ia menghapus jejak air mata dari pipi bocah itu. "Kenichi, makan dulu, ya," bujuknya.

Tapi, anak itu menggeleng kuat dan memeluk Sakura semakin erat.

"Nanti Kenichi bisa sakit, bukankah Kenichi ingin menjadi anak yang kuat di depan Kaa-san?" tanya Sakura yang terus berusaha untuk membujuk.

"Tapi ... Kaa-san tidak ada hiks ... di sini ... Kaa-san ...," cicitnya parau.

"Kaa-san akan selalu ada di sini," kata Sakura yang menunjuk dada bocah itu. "Kaa-san akan selalu berada di hati Kenichi karena Kaa-san sangat mencintai Kenichi. begitu juga dengan Tou-san. Kaa-san pasti sedih kalau Kenichi tidak mau makan," bujuk Sakura lagi.

Kenichi kembali sesenggukan sambil mengingat kembali kenangan bersama Temari, ibunya. Walaupun galak, tapi ibunya amat sangat menyayanginya. Ibunya suka memberikan ekspresi sedih kalau ia tidak mau makan. Jika sudah begitu maka Kenichi pasti akan menghabiskan semua makanan buatan ibunya tanpa sisa. Setelah itu ibunya akan tersenyum dan mengatakan kalau Kenichi adalah anak kesayangannya.

Sasuke dan Sakura bernapas lega saat Kenichi menganggukan kepalanya. Dengan sigap Sakura mengambil sumpit dan menyuapi anak itu. Makannya memang tidak banyak, tetapi yang penting dia sudah mau makan dan perutnya terisi.

Sakura tidak sadar jika Sasuke terus menatapnya saat ia menyuapi Kenichi. Bukan tatapan dari seorang pria pada wanita, tapi lebih ke tatapan menilai dan mempertimbangkan sesuatu. Ia terus memperhatikan bagaimana Sakura memperlakukan Kenichi sejak tadi, bagaimana penerimaan Kenichi pada gadis itu, bagaimana cara Sakura membujuknya, bagaimana cara Sakura menenangkannya, dan bagaimana Kenichi kembali tertidur di pelukan Sakura setelah makan. Semuanya memberikan satu gambaran di dalam kepalanya. Dalam hati, ia sudah membuat satu keputusan penting.

"Kau di sini saja menemaninya. Dia mungkin tertidur karena kelelahan menangis. Aku takut kalau dia bangun nanti, dia bisa kembali seperti tadi jika tidak ada yang menemani. Keluarga Shikamaru dan Temari sudah menyerah karena tidak bisa mengatasi anak ini," ujar Sasuke.

"Anda tenang saja Uchiha-san. Saya akan tetap di sini untuk menjaga Kenichi," jawab Sakura. Ia memperbaiki posisi tidur Kenichi di atas futon dan menyelimuti anak itu.

"Masih ada yang harus kuurus, kalau ada apa-apa, kau bisa memanggil siapa saja di luar. Aku permisi." Dan tanpa menunggu jawaban dari Sakura, lelaki itu sudah pergi. Langkahnya agak terburu-buru, sepertinya ia memang memiliki keperluan yang cukup mendesak.

.

.

.

oOo

.

.

.

Karin menatap langit dari jendela kaca di kamarnya dengan pandangan kosong. Ia sama sekali tidak menikmati panorama langit biru yang dihiasi dengan awan putih yang tipis. Ia juga tidak bisa menikmati suara burung yang bernyanyi merdu.

Sudah sebulan berlalu tapi ia belum dapat melupakan pertemuannya dengan Neji. Masih terngiang dalam telinganya bagaimana hinaan orang padanya. Tapi, yang paling utama, ia masih dengan jelas mengingat wajah terluka Neji. Pria itu seperti kehilangan pijakannya. Pria itu seperti lebih terpukul dan menderita dari Karin.

"Neji ... kenapa sepertinya kau yang lebih tersiksa? Kau yang meninggalkan aku, kau yang menghianati hubungan kita, kau yang mencampakan aku ...," ucap Karin dengan pandangannya yang semakin kosong.

Ia tidak tahu nasibnya akan seperti apa jika saat itu tidak ada Senju Tobirama. Pria itu menyelamatkannya di saat-saat genting. Sejak Tobirama menggandenganya di pesta itu, tak ada seorang pun yang menghujatnya lagi. Perempuan-perempuan yang menghinanya menjadi iri setengah mati. Sepertinya mereka akan bersedia melakukan apa saja asal bisa menggantikan posisi Karin. Karin tersenyum simpul ketika kembali mengingat bagaimana Tobirama mengembalikan harga dirinya. Dia memang pria yang punya pengaruh luas.

Setelah hari itu, Karin memang rutin menemani Tobirama ke berbagai pesta. Kadang malah ia diminta pria itu untuk menemaninya ke pertemuan bisnis. Walaupun penasaran kenapa selalu ia yang diminta, namun Karin sama sekali tidak bertanya. Ia hanya mengikuti apa yang diminta pria itu. Senju Tobirama memiliki aura mengintimidasi yang kuat yang dapat membuat siapa saja mengikuti keinginannya. Berbeda sekali dengan Neji.

"Apa-apaan kau, Karin!" seru Karin sambil meremas bajunya di bagian dada. Ia tak percaya, padahal baru saja ia meratapi nasibnya sambil memikirkan Neji, tapi dengan begitu mudah pikirannya teralihkan pada Senju Tobirama.

"Karin-nee," panggil salah satu anak panti dari depan pintu kamarnya.

"Ya?" sahut Karin.

"Ada yang menunggumu di bawah, namanya Senju Tobirama," jawab anak itu lagi.

Karin melonjak. Kenapa Tobirama bisa berada di sini? Selama ini memang ia selalu dijemput, tapi bukan oleh pria itu. Lagipula ada urusan apa dia datang kemari?

Setelah merapikan penampilannya, Karin turun ke bawah. Seperti yang dikatakan anak tadi, Tobirama sedang duduk di ruang tamu panti. Pria itu seperti biasanya, tampil elegan. Ruang tamu panti tampak sangat tidak cocok dengan penampilannya yang memancarkan aura berkuasa.

"Kupikir kau akan lama," kata Tobirama yang memandang Karin datar.

"Maksud Anda?" tanya Karin tak mengerti.

Pria itu mengangkat bahunya dengan wajah yang tidak bersahabat seperti biasa. "Wanita pada umumnya kan seperti itu."

"Ck." Karin mendelik kesal. "Ada apa Anda kemari?"

"Aku sedang mencoba mobil baru yang kubeli dari salah satu perusahaan otomotif. Masih belum masuk di pasaran, tapi aku selalu suka menjadi yang pertama dalam memiliki sesuatu. Mereka melakukan inovasi yang cukup bagus. Mengambil ide dari mobil pabrikan Amerika dan mengembangkannya sendiri. Selain itu, malam ini aku harus bertemu dengan beberapa menteri terkait beberapa proyek jadi kau harus menemaniku lagi," titah Tobirama.

"Saya belum bilang mau pergi dengan Anda," protes Karin.

Mengabaikan protes Karin, lelaki malah berdiri dan melangkah ke luar. Gadis beriris merah itu memandang kesal pada punggung Tobirama. Kalau begini mau tidak mau ia harus mengikuti pria itu lagi. Mana pernah Tobirama menghiraukan penolakannya? Yang ada, kembali ia yang tunduk pada perintah pria itu.

oOo

Sesampainya di kamar hotel yang ditempati Tobirama, Karin segera dirias oleh dua wanita yang ditugaskan oleh lelaki itu. Tobirama memang tidak tinggal di rumah sendiri. Ia memilih tinggal di kamar hotel selama ini karena kesibukannya yang padat dan mengharuskannya pergi ke berbagai tempat. Tinggal di hotel memang lebih mahal, tapi bagi Tobirama hal itu setimpal dengan kemudahan dan privasi yang ia dapatkan.

Lagi-lagi Karin kembali mengenakan kimono yang tidak disukainya. Ia protes pun hasilnya akan sama saja, karena ia tahu Tobirama menyukai wanita yang mengenakan kimono. Untung saja pertemuan Tobirama dengan para menteri diadakan di salah satu ruang pertemuan yang ada di hotel yang sementara ini ditempatinya, sehingga mereka tidak harus melakukan perjalanan yang jauh.

Gadis itu sesekali menghela napas bosan karena terjebak di antara istri-istri menteri dan beberapa pengusaha lain. Mereka bergosip dan mulai menceritakan rumor yang merebak di antara para petinggi. Walaupun tidak suka dengan kenyataan kalau ia adalah satu-satunya gadis muda di sana, tapi ia cukup senang karena mengetahui rahasia beberapa petinggi negara. Contohnya saja menteri pariwisata yang ternyata memiliki affair dengan sekretarisnya, atau wakil menteri kebudayaan yang ternyata telah memiliki anak gelap dengan seorang artis opera.

Memang tidak semua orang menerima kehadiran Karin. Ada beberapa istri petinggi atau pengusaha yang memandang rendah dirinya, tidak mau menyapanya, bahkan malah mengabaikan kalau ia ada di ruangan itu. Karin berpura-pura tak acuh dengan reaksi mereka. Meyakinkan diri kalau mereka hanya iri karena ia belakangan ini ia adalah pendamping Senju Tobirama dalam berbagai kesempatan.

Akhirnya, setelah memakan waktu berjam-jam, para pria keluar dari ruang pertemuan mereka. Beberapa langsung menghampiri istri mereka, namun ada juga yang lebih memilih berbincang-bincang dengan Tobirama, sekadar mencari muka di depan pria itu. Karin meniup poni yang membingkai wajahnya bosan. Selalu seperti ini. Tobirama tidak pernah bisa dibiarkan sendiri. Ia selalu dikelilingi banyak orang. Orang-orang yang di mata Karin seperti penjilat tidak tahu malu.

Saat itulah matanya menangkap sosok Hiashi Hyuuga. Paman Neji, atau yang sekarang menjadi ayah mertua Neji, menatapnya dengan pandangan menghina. Ia seperti heran kenapa Karin bisa berada di pertemuan sepenting ini. Karin merasa sesak napas hanya dengan tatapan tak menyenangkan pria paruh baya itu. Tatapan sang pemimpin Hyuuga seperti menggiringnya ke jurang dan siap dijatuhkan kapan saja. Sejak dulu pria ini memang tidak menyukai orang-orang yang tidak sederajat dengannya. Dia juga salah satu yang menentang hubungan Karin dan Neji, bahkan Karin menduga dialah yang mempengaruhi ayah Neji agar menolak Karin sebagai calon menantu. Saat masih menjalin hubungan dulu, Neji memang sudah menyatakan keseriusannya dengan Karin, tapi apa daya, kini pria itu telah menjadi milik orang lain.

"Karin, kita kembali," kata Tobirama menghampirinya.

"Bukankah sekarang adalah waktunya jamuan makan malam?" tanya Karin bingung.

"Kau lapar?" Dan Karin memberikan jawaban berupa gelengan kepala. "Bagus. Aku juga tidak lapar. Kita kembali saja," katanya mengambil keputusan.

Karin lalu patuh dan berjalan di samping Tobirama meninggalkan ruangan jamuan itu. Mereka diam satu sama lain selama perjalanan. Bahkan saat masuk ke dalam kamar Tobirama pun mereka tetap diam.

"Kau diremehkan lagi?" tanya Tobirama. Ia membuka jas hitamnya dan melonggarkan simpul dasinya yang dikenakannya.

"Sudah biasa," jawab Karin datar tapi wajahnya menunjukkan ekspresi sedih.

Tanpa Karin duga pria itu maju mendekat. Salah satu tangannya menyentuh pipi Karin. "Ekspresimu malah membuatku semakin ingin melakukan sesuatu untukmu?"

Karin mengangkat wajahnya, menatap lekat wajah Senju Tobirama yang sangat dekat dengan wajahnya sendiri. "Melakukan apa?"

"Ini."

Kepala pria itu menunduk dan menghapus jarak di antara mereka. Memberikan ciuman a la seorang pria dewasa yang sudah sangat berpengalaman. Karin terhanyut dan terbuai dalam ciuman itu, tanpa sadar ia meremas kemeja pria itu dengan kedua tangannya. Ia membiarkan saja saat pria itu melepaskan obi ungu yang melingkari pinggangnya. Setelah ini sepertinya hubungan mereka tidak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya.

.

.

.

oOo

.

.

.

Tidak terasa Sakura belum beranjak dari kamar Kenichi sejak siang tadi sampai malam. Kenichi memang tidak melepaskannya. Anak itu menahan Sakura untuk terus berada di sisinya. Sesekali kerabatnya datang untuk menengok keadaan Kenichi. Bocah manis ini tampak terhibur saat seorang pria berambut merah yang mengaku sebagai adik Temari datang dan menghiburnya.

Sakura kembali mengelus rambut Kenichi yang kini menjadikan pahanya sebagai bantal. Dia sudah tidak menangis lagi tapi wajah sedihnya sama sekali tidak berubah. Sejak tadi ia Kenichi juga tidak mau melepaskan foto di mana dirinya berserta kedua orang tuanya yang menjadi objek. Potret hitam putih itu menggambarkan betapa bahagianya keluarga mereka, di mana Shikamaru menggendong tubuh mungil putranya dengan sebelah tangan dan tangannya yang satu lagi merangkul bahu istrinya. Siapa pun yang melihat foto itu pasti langsung tahu betapa Shikamaru sangat mencintai keluarganya.

"Kau pasti sangat kehilangan mereka, kan?" kata Sakura pada Kenichi yang telah terlelap.

Sakura memang tidak lebih beruntung dari Kenichi. Sejak bayi ia sudah tinggal di panti asuhan. Kata para pengurus panti yang mengasuhnya, ibu Sakura meninggal sesaat setelah melahirkannya dan ayahnya adalah tentara yang ikut berperang. Karena itulah ia tidak merasakan cinta orang tua sejak kecil. Berbeda dengan Kenichi. Anak ini sudah pasti merasakan betapa hangatnya cinta keluarga sejak masih dalam kandungan. Selama sebulan bekerja sebagai guru di kediaman Nara, Sakura melihat sendiri kehangatan keluarga itu. Kematian Shikamaru dan Temari tentu saja membuat putra mereka sangat terpukul. Anak ini sudah terbiasa dengan kehadiran kedua orang tuanya dan sekarang secara mendadak dua orang yang paling dicintainya harus kembali pada Sang Pencipta.

"Dia sudah tidur?" suara milik Uchiha Sasuke kembali hadir di ruangan itu bersama dengan sosok tegapnya.

"Hm."

Kembali Sasuke ikut duduk di sebeleh futon anak itu dan mengulangi perbuatannya tadi siang, mengusap rambut Kenichi sebentar.

"Anda sangat menyayanginya, ya," kata Sakura.

"Hn." Sasuke memberikan jeda sesaat. "Apa dia menahanmu sejak tadi?"

"Begitulah," Sakura juga terdiam sebentar. "Tapi, saya paham. Ini memang berat untuknya."

Sakura sedikit salah tingkah karena ditatap begitu intens oleh pemuda yang sedang tidak mengenakan seragam militernya itu. Jari kakinya sedikit ditekuk karena merasa tak nyaman. Tatapan Sasuke begitu tajam, seolah ia bisa memotong apa saja dengan matanya itu.

"Kalau kau diminta untuk menjadi ibu Kenichi, apa kau bersedia?" tanya pria itu tanpa melepaskan pandangannya dari Sakura.

"Eh? A-apa?"

"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka berdua ... pengacaranya kemarin menghubungiku dan mengatakan bahwa Shikamaru dan Temari menunjukku sebagai wali Kenichi jika terjadi sesuatu pada mereka. Sejak siang, aku mengurusi perwalian Kenichi bersama dengan pengacara Shikamaru," kata pria itu tenang. Beberapa kali ia mengalihkan pandangannya pada Kenichi. Walaupaun sorot matanya datar tapi Sakura dapat melihat kalau Sasuke juga menyayangi Kenichi.

"Lalu?"

"Temari juga membesarkan anak ini tanpa menggunakan jasa pengasuh. Tidak heran kalau Kenichi sangat dekat dan mencintai ibunya. Sekarang setelah Temari meninggal, maka anak ini membutuhkan sosok ibu dalam pertumbuhannya. Aku tidak bisa sembarang memilih orang dan menjadikannya istri. Belum tentu wanita itu menyayangi Kenichi seperti Temari menyayanginya," Sasuke diam sejenak, menatap Sakura lekat-lekat. "Aku sudah memperhatikan bagaimana Kenichi menerima keberadaanmu. Demi anak ini ... maukah kau menikah denganku? Menjadi istriku dan ibu untuk Kenichi?" tanya Sasuke sungguh-sungguh.

"Aku?" tanya Sakura terkejut.

"Hn."

Sakura menatap Sasuke tak percaya. Ia masih tak percaya kalau dirinya baru saja dilamar. Ini ... ini pasti mimpi!

"Aku tidak memaksamu untuk menerimanya. Selain itu, kau harus tahu kalau aku memiliki trauma perang. Aku sering bermimpi buruk pada malam hari dan mungkin saja aku bisa melukai orang lain karena hal itu."

Keheningan meliputi mereka selama beberapa saat.

"Aku memang tidak memaksamu, Sakura. Tapi, aku butuh jawabannya dalam waktu dekat. Aku hanya ingin melihat Kenichi tumbuh normal seperti anak-anak lain. Walaupun dia kehilangan Shikamaru dan Temari, tapi setidaknya dia memiliki orang lain yang siap menyayanginya seperti kedua orang tuanya," lanjut Sasuke lagi.

Napas Sakura tercekat. Ia masih menatap pria itu. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Ia tahu tidak ada cinta antara laki-laki dan perempuan dalam lamaran ini. Ini murni karena perasaan sayang Sasuke pada Kenichi. Tapi, tetap saja ini terlalu cepat dan membingungkan baginya.

.

.

.

Tbc:

A/N:

Setelah ngambil waktu luang di tengah kesibukan, akhirnya chapter 3 jadi juga. Sebenarnya sedih juga matiin ShikaTema di sini huhuhu TT #pelukKenichi tapi mau gimana lagi #ditabok

Yos, saatnya balas ripiu

Love Foam: kayaknya baru aku deh yang bikin TobiramaxKarin. Abis mereka pair unyu sih hehe kalau kisah Ino ga kubikin soalnya ini memang fokus ke SasuSaku dan TobiramaKarin

Natsumo Kagerou: pelan-pelan aja interaksi mereka asal nampol fufufu

Senju A. Nagisa: hohoho makasih kalau kamu suka karakter Karin di sini, Rin. Di jaman sana emang kalau nikah beda usia udah jadi hal lumrah :3

Guest: makasih kalau kamu suka ^^

Sasusakupolepel: yoyoi, ini udah lanjut

Amu: kalau chapternya dipanjangin aku ga bisa janji, ini aja nyuri waktu luang hehe... dan kamu kira Tobirama itu Obito? Wahahaha gpp kok

Hachikodesuke: iya! Sasu pasti keren pake baju militer fufufu

Shen Meileng: TobiramaKarin lebih panas sih fufufu

WatchFang: nakal kamu ya, pake inet RS wkwk iya sih, nenek juga bilang gaya nulisku berubah :3

Summer: makasih kalau kamu suka .

Putri: makasih, ini udah update ^^

Terima kasih buat semua yang sudah membaca atau meripiu atau nge-fave atau pun nge-follow. Mind to review again? Thank you.