Semalaman Sakura mondar-mandir di kamarnya seperti sebuah seterika panas. Lamaran mendadak dari Uchiha Sasuke membuat pikirannya tidak bisa tenang. Pikirannya kacau. Ia butuh teman untuk berbagi sekarang, tetapi Ino dan Karin sedang tidak ada di tempat. Ino menemani Tsunade berkunjung ke sekolah milik yayasan yang ada di pelosok, sedangkan Karin ... entahlah. Kata salah satu anak panti, Karin pergi menemani Senju Tobirama. Biasanya sahabat berambut merahnya itu akan diantar pulang setelah pesta selesai, tapi sudah semalam suntuk Sakura menunggu, namun batang hidung Karin tak juga terlihat.

"Karin, Ino, aku butuh kalian sekarang ...," ujarnya parau.

Suara ayam jantan yang berkokok memberikan tanda bahwa pagi telah menjelang. Sakura memeluk tubuhnya sendiri dan mengusap lengannya secara perlahan. Jujur, ia sangat menyayangi Kenichi. Tapi, kalau harus menikah dalam waktu dekat, ia sama sekali tidak siap. Belum lagi ia sudah berjanji pada Kimimaro untuk memperbaiki hubungan mereka setelah lelaki itu pulang nanti. Pertimbangan lain adalah, ia sama sekali tidak mengenal Uchiha Sasuke.

Menikahi salah satu pria Uchiha? Dunia pasti sedang berputar terbalik sekarang! Uchiha adalah keluarga bangsawan tinggi dan sepak terjang mereka dalam dunia militer sudah sangat termasyur. Kesetiaan mereka pada Kaisar sudah tidak perlu diragukan lagi. Dari abad ke abad, Uchiha adalah keluarga yang menjadi simbol pertahanan Jepang.

"Ini benar-benar memusingkan," ujarnya yang kembali berjalan mondar-mandir dengan tidak tenang.

.

.

.

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by Morena L

Main chara: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uzumaki Karin, Senju Tobirama

Warning: AU, OOC, typo, DLDR, rated M untuk konflik dan bahasan yang berat

.

.

.

Karin mengusap tubuhnya yang berbalut sabun secara perlahan. Uap-uap hangat dari shower yang digunakannya membuatnya merasa cukup nyaman. Karin tidak pernah mandi menggunakan shower sebelumnya, jika ingin mandi memakai air panas, biasanya mereka memanaskannya sendiri. Setelah mengenal Tobirama, banyak hal baru yang ia dapatkan.

Hal baru?

Tentu saja baru.

Tadi malam pria itu telah mengajarkan padanya apa yang disebut kenikmatan dalam gairah fisik. Hasrat seksual yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Tubuh Karin kembali menjadi panas karena mengingat lagi apa yang sudah mereka lakukan semalam.

Tubuhnya yang penuh dengan bercak merah―bahkan ada yang membiru―merupakan tanda kalau dia sudah bukan anak gadis lagi. Matanya terpejam, sambil sesekali mengusap lapisan sabun pada tubuhnya, mengingat di mana saja tangan Tobirama telah menyentuhnya, merekam jejak bibir Tobirama pada tubuhnya, mengingat lagi saat tubuh mereka akhirnya menyatu sepenuhnya, dan memutar kembali ingatan saat hasrat fisiknya meledak. Karin menggigit bibirnya karena rasa malu menyergapnya secara tiba-tiba.

"Oh, Tobirama."

"Kumohon... lebih ce—ahn—pat."

"Tobirama."

Ck, Karin menutup wajahnya dengan tangan sekarang. Bagaimana mungkin ia bisa mengeluarkan suara-suara seperti itu semalam? Itu ... benar-benar memalukan. Sekarang, bagaimana Karin harus menghadapi lelaki itu?

Dengan modal nekat dan rasa malu yang ditahan, Karin akhirnya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi yang terbuat dari bahan handuk yang tebal dan hangat. Pada salah satu sudut suite hotel yang disewa Tobirama, tampak pria itu sedang duduk menikmati sarapan paginya. Sosoknya yang mengenakan jubah tidur berwarna coklat tampak sangat memukau, bagaikan dewa perang yang sedang bersantai menikmati kemenangan besarnya.

"Ah, sudah selesai mandi rupanya. Duduklah, kita sarapan, " perintahnya.

Tanpa membantah, Karin mengambil tempat di sisi Tobirama. Hidangan di atas meja bundar itu cukup menggugah seleranya, kombinasi antara makanan Jepang dan roti dari Eropa. Acara makan pagi ini dilewatkan begitu saja tanpa ada gangguan sepatah kata pun dari keduanya. Sangat tenang. Seolah semalam tidak terjadi sesuatu di antara keduanya.

"Aku juga mau mandi, kau berpakaianlah. Tadi orangku sudah membawakan keperluanmu."

Setelah mengeluarkan perintahnya, Tobirama lalu melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. Karin menahan napas saat melihat beberapa potong gaun di atas ranjang yang telah ditata rapi sebelumnya. Ada tiga gaun, masing-masing berwarna biru, merah dengan detail garis-garis putih, dan hijau dengan pola rumit. Karin menyentuh gaun-gaun itu, materialnya sangat halus, pasti dari sutra berkualitas. Selain itu, ada juga beberapa pasang sepatu yang sedang menjadi mode saat ini. Belum habis keterkejutannya, ia menemukan dua kotak coklat yang lumayan besar di dekat deretan-deretan sepatunya. Karin mendadak kehilangan suara saat melihat isi salah satu kotak, di mana di dalamnya terdapat aksesoris seperti pita, jepit rambut, gelang, kalung, anting yang jika ditaksir memiliki harga selangit menghiasi kotak itu. Wajahnya kembali merona saat membuka kotak yang satu lagi, isinya dalah barang-barang pribadi wanita seperti pakaian dalam, stoking, dan barang pribadi lainnya. Masih ada beberapa peralatan merias diri yang belum pernah ia lihat sebelumnya, yang ditebak Karin pasti berasal dari luar negeri.

oOo

Tobirama yang keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana panjang hitam tersenyum puas saat melihat penampilan Karin. Ia tahu kalau Karin tidak begitu menyukai kimono sehingga ia menyuruh orang kepercayaaanya membawakan gaun.

"Kau suka?"

Karin yang memilih mengenakan gaun berwarna hijau menganggukan kepalanya. Detakan jantungnya menjadi dua kali lipat lebih cepat saat Tobirama berjalan mendekatinya. Aroma mint dari sabun mandi yang dipakai dan penampilan Tobirama yang memamerkan tubuh bagian atasnya membius Karin. Tanpa ia sadari, pria itu telah melepaskan cepolan di belakang kepalanya sehingga rambut wanita muda itu tergerai.

"Aku lebih suka rambut panjangmu tidak diikat," bisiknya di telinga Karin yang memberikan efek rona merah di seluruh permukaan wajah sang lawan jenis.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Tobirama santai sambil membuka lemarinya. Memilih kemeja dan dasi yang sesuai untuk dikenakan. Dalam waktu singkat, lelaki itu sudah berada dalam sosok businessman-nya.

Karin kemudian mengikuti Tobirama ke sofa santai yang terletak di dekat dinding kaca besar yang berada di suite hotel itu. Pemandangan dari atas terlihat sangat memukau. Di sana-sini terlihat dengan jelas, kalau Tokyo sudah memulai pembangunan besar-besaran. Tak lama lagi kota ini akan menjadi kota modern yang tidak kalah bersaing dengan kota besar milik negara lain. Lebih dari setengah pembangun di Tokyo berada di bawah kendali proyek Tobirama.

"Aku ingin membicarakan yang tadi malam," kata Tobirama membuka percakapan.

"Saya ... tidak ingin membicarakannya. Saya membiarkan Anda melakukannya, saya menikmatinya, dan saya tidak menyesal," timpal Karin.

"Aku tahu," seru Tobirama penuh percaya diri. "Kalau kau menyesal, kau pasti sudah histeris sekarang dan menangis sejadi-jadinya."

"Apa Anda ... maksud saya ... apa Anda juga selalu memberikan hadiah pada wanita-wanita yang..." Karin merasa sedikit kesulitan dalam menemukan kata yang pas untuk menyampaikan maksudnya. "... wanita yang—"

"Wanita yang menghangatkan ranjangku? Begitu?" sambar Tobirama. Pria itu memamerkan gelak tawa singkat. "Tidak, Karin. Tidak. Mereka biasanya sudah sangat puas dengan permainanku, tidak perlu lagi memberikan mereka hadiah di pagi hari" lanjutnya, sementara wajah Karin sudah menyerupai kepiting rebus sekarang.

Sial! rutuk Karin dalam hati.

"Aku punya penawaran yang akan menguntungkan kita berdua. Aku tidak suka pada komitmen seperti pernikahan dan kau pun begitu. Aku rasa kita bisa menjadi partner yang cukup menguntungkan," kata Tobirama santai.

"Maksud Anda?"

"Aku cukup tertarik denganmu. Kau muda, enerjik, supel, dan cantik. Dan aku tahu kau juga tertarik padaku. Akuilah Karin ... kita memiliki ketertarikan fisik yang kuat. Setelah tadi malam, sepertinya aku masih menginginkanmu. Selama kau ada di sisiku, semua orang yang menghina dan meremehkanmu tidak akan bisa melakukannya lagi. Bahkan aku bisa memastikan kalau mereka akan menunduk hormat padamu," ujar pria itu memberi penjelasan.

Tobirama ingin memberikan standing applause pada reaksi Karin yang sangat tenang. Gadis itu tidak menunjukkan reaksi kaget yang berlebihan. "Saya tidak menyangkalnya. Saya akhirnya mengerti kenapa para wanita menginginkan Anda, selain daya tarik pada uang dan kedudukan yang Anda miliki."

Orang ini dapat membuat para wanita saling bunuh agar bisa mendapat kesempatan ke atas ranjangnya, jerit Karin dalam hati.

"Jadi?"

"Anda juga benar, saya memang tidak ingin terikat pada pernikahan. Tapi, Anda pasti akan segera bosan dan membuang saya. Setelah itu, saya pasti akan kembali seperti dulu. Bahkan mungkin harga diri saya akan semakin terinjak karena pernah menjadi simpanan Anda."

Tobirama menaikkkan salah satu alisnya. "Simpanan? Kau tidak akan dipandang sebagai simpananku, Karin. Orang-orang akan menganggap kau kekasihku. Dan kau jangan khawatir, aku menganut monogami―menjalin satu hubungan saja―saat bersama dengan seseorang. Jika suatu saat nanti kita sudah sama-sama bosan, maka kita akan berpisah secara baik-baik. Aku akan menjamin masa depanmu, aku bisa memberikanmu modal agar kau dapat membuat bisnismu sendiri, atau aku bisa memberikanmu saham yang cukup dari salah satu perusahaanku sehingga hidupmu terjamin."

Karin menatap Tobirama dengan tatapan menyelidik. "Monogami? Saya tidak yakin Anda bisa setia," pancingya.

"Selama kau menjalin hubungan denganku, kupastikan kau satu-satunya wanitaku. Dan aku menuntut hal yang sama. Jangan coba-coba berkhianat, atau surga yang kuberikan akan menjadi nerakamu," ucapnya penuh kepastian.

"Anda berani menjamin kalau saya tidak akan diremehkan lagi?"

Tobirama menarik seringai tipis, tanda bahwa itu sama sekali bukan masalah besar untuknya. "Kau bahkan akan tinggal bersamaku, tidak ada seorang pun yang akan memprotesnya. Banyak petinggi negara dan pengusaha yang memiliki simpanan lebih dari satu, tapi tak ada keluhan langsung. Sedangkan tentang kita, tikus pun tidak akan berani menggosipkannya di dalam selokan," ucapnya angkuh.

Sekarang dia benar-benar yakin kalau Tobirama memang bukan hanya kontraktor biasa. Pria ini punya kekuasaan yang sangat besar. "Sepertinya Anda memang selalu mendapatkan yang Anda inginkan. Baik. Saya setuju."

"Sesuai dugaanku. Mulai hari ini kau di sini saja, aku yang akan memberitahu Tsunade. Katakan saja apa yang kauinginkan nanti. Selama aku masih menginginkanmu, kau bisa mendapatkan segalanya yang kau mau, bahkan jika yang kau inginkan itu adalah Tokyo dan seluruh isinya.

"Satu lagi ... mulai sekarang jangan bersikap formal padaku," perintah Tobirama dengan tegas.

Uzumaki Karin, seorang wanita yang selama sembilan belas tahun menghabiskan harinya di panti asuhan, kini telah menjelma menjadi wanita yang paling diinginkan oleh pria yang memiliki kuasa luas seperti Senju Tobirama. Karin memang tahu kalau Tobirama adalah pria yang punya power, tapi dia tidak tahu sekuat apa kekuasaan yang dimiliki Tobirama. Setelah mengucapkan kalimat persetujuan atas tawaran pria itu, maka sekarang ia resmi menjadi milik Tobirama.

Akan menjadi apakah hubungan yang didasari dengan ketertarikan fisik ini?

.

.

.

oOo

.

.

.

Sakura memasuki kamar Kenichi dengan membawa nampan untuk makan siang. Kediaman rumah duka masih cukup ramai dengan pelayat-pelayat yang datang. Siang ini juga akan diadakan upacara kemiliteran untuk menghormati masa bakti Shikamaru sebagai prajurit Angkatan Darat dan jasa-jasanya dalam Perang Dunia II.

Sakura terkejut melihat ekspresi Kenichi yang seperti mayat hidup. Bagaimana mungkin kejiwaan anak ini kembali drop? Bukankah kemarin ia sudah cukup membaik. Apa duka karena kehilangan kedua orang tuanya terlalu besar?

"Kenichi ... Kenichi ...," panggilnya sambil memegang bahu anak itu.

Tapi, Kenichi hanya diam. Ia memandang kosong ke depan. Tatapannya sarat akan kehampaan.

"Makan dulu, ya," bujuk Sakura.

Dengan sabar Sakura menyuapi anak itu. Kenichi memang makan, dia mengangguk atau menggeleng jika Sakura menanyakan sesuatu. Tapi, reaksi itu tidak lebih dari reaksi boneka tanpa jiwa.

"Oh, Kami-sama," ujar Sakura parau.

"Kaa-san," ucap Kenichi sambil memeluk tubuh Sakura dengan erat. "Kaa-san pulang ...," serunya tersenyum senang. Bibirnya memberikan garis senyuman, tapi raut wajah Kenichi tetap kosong. "Aku rindu Kaa-san."

Sakura tak dapat membendung air matanya lagi. Anak ini pasti tersiksa. Dia pasti sangat merindukan kedua orang tuanya.

"Adikku kapan lahirnya, Kaa-san? Aku sudah tidak sabar ...," kata Kenichi lagi sambil mematung.

Sakura makin tak bisa menahan tangisannya. Sasuke benar, Kenichi butuh ibunya. Anak ini tumbuh besar bersama orang tuanya, dia pasti sangat terpukul karena kematian mendadak mereka sampai-sampai bereaksi seperti ini.

oOo

Sore harinya, setelah upacara penghormatan selesai diadakan, Sasuke bergegas ke kamar Kenichi untuk menengok keponakannya itu. Kembali ia menemukan Kenichi yang sedang tertidur dan Sakura yang berjaga di sebelahnya.

"Terima kasih kau mau terus menjaganya," kata Sasuke tulus.

"Kenichi masih terpukul. Tadi kondisinya cukup buruk, sorot matanya kosong dan dia berhalusinasi kalau aku adalah Temari-san. Aku tidak tega melihatnya, dia masih terlalu kecil, umurnya bahkan belum enam tahun," kata Sakura lirih.

"Hn."

"Saya bersedia Uchiha-san. Saya bersedia menggantikan Temari-san menyayangi anak ini."

Sasuke berusaha bersikap tenang. Dia tidak mau Sakura menerima permintaanya karena desakan emosi sesaat. "Kau harus tahu ini adalah keputusan penting, Sakura. Aku tidak mau kau menyesal nantinya karena mengambil keputusan tanpa berpikir panjang."

"Percayalah. Saya sudah memikirkannya sejak berjam-jam yang lalu."

"Apa kau sudah siap dengan kemungkinan kalau aku bisa saja mencelakanku dengan trauma perangku yang masih ada sampai sekarang?"

Sakura memandang lelaki itu dengan penuh simpati. "Kalau boleh, apa Anda bisa menjelaskan trauma yang seperti apa?"

Sasuke terdiam sejenak, memandang langit sore dari jendela yang memberikan pemandangan mozaik jingga. "Perang adalah neraka dunia yang sesungguhnya. Banyak orang yang mati dihadapanku. Sebagian besar karena aku tidak mampu menyelamatkan mereka, dan sebagian lagi ... mati karena peluruku atau pertarungan fisik di arena perang. Saat malam tidak pernah ada ketenangan. Semakin sepi justru semakin berbahaya. Kami berperang demi negara. Tapi, saat berada di sana aku mengemban tugas untuk membunuh musuh sebanyak mungkin dan mencegah sesedikit mungkin pasukanku yang tewas. Setelah perang, setiap malam aroma kematian berada di mana-mana, kegelapan mencengkeramku tanpa ampun. Aku sering bermimpi buruk dan terbangun dalam keadaan tidak tenang. Aku bisa menghancurkan atau melempar apa saja yang ada di dekatku. Karena itu―"

"Saya percaya Anda pelan-pelan pasti bisa mengatasinya. Apalagi Anda sangat menyayangi Kenichi, Anda pasti tidak ingin membuatnya takut karena hal itu," sela Sakura.

"Aku akan berusaha."

"Kalau Anda bisa berusaha untuk menjadi ayah yang baik demi Kenichi, mengenyahkan trauma Anda secara perlahan, maka saya juga akan berusaha untuk menjadi ibu yang baik bagi anak ini," kata Sakura mantap.

"Terima kasih," balas Sasuke.

"Kalau saya boleh tahu, kenapa Anda sangat sayang pada anak ini?"

"Aku tidak menghabiskan masa kecil seperti anak-anak pada umumnya. Sejak kecil aku diajari tentang dunia militer. Kakakku sakit-sakitan saat dia masih kecil sehingga harapan keluarga dibebankan di pundakku. Selain itu, Shikamaru adalah sahabat baikku. Kami tumbuh besar bersama di akademi militer dan berperang bersama. Kenichi seperti perwujudan masa kecil yang tidak pernah kurasakan. Mungkin inilah yang membuatku ingin menyelamatkan masa kecilnya."

Keduanya kemudian memandang wajah Kenichi yang sedang tertidur. Dalam hati, mereka masing-masing berjanji akan mengembalikan kebahagiaan padanya. Kenichi akan tumbuh normal seperti anak lain.

"Maukah kauikut denganku keluar? Orangtuaku juga hadir di upacara penghormatan tadi. Sekarang mungkin mereka belum pulang, aku ingin menperkenalkanmu pada mereka sebelum mengajukan lamaran resmi pada Senju Tsunade," kata Sasuke sambil mengulurkan tangannya pada Sakura.

"Tapi, bagaimana kalau Kenichi mencariku saat bangun nanti?"

Sasuke tersenyum singkat. Senyuman yang sangat jarang ia keluarkan. "Dia adalah putra Shikamaru yang terkenal sebagai tukang tidur."

oOo

Sakura berjalan gelisah di belakang Sasuke. Dalam mimpi pun ia tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan salah satu petinggi militer dari keluarga Uchiha. Dunianya telah berubah seratus delapan puluh derajat dalam empat puluh delapan jam terakhir ini.

"Tou-san, Kaa-san," panggil Sasuke.

Seorang lelaki paruh baya dengan seragam kebesaran milik para jendral dan seorang wanita berkimono gelap namun sangat anggun berbalik menghadap mereka setelah mendengar panggilan dari Sasuke.

"Ini Haruno Sakura," kata Sasuke memperkenalkan gadis di sebelahnya. "Sakura, ini orangtuaku, Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto," lanjutnya ganti memperkenalkan kedua orangtuanya.

"Ah, jadi ini putri Haruno Kizashi?"

Sakura menautkan alisnya heran. Ayah Sasuke mengenal ayahnya? Bagaimana bisa?

"Hn," jawab Sasuke singkat.

"Anda mengenal Ayah saya?" tanya Sakura takjub.

"Ayahmu adalah salah satu prajurit paling berani yang pernah kutemui. Dia mengorbankan diri untuk menyelamatkan nyawaku dalam pertempuran sembilan belas tahun yang lalu. Aku turut berduka untukmu, nak," kata Fugaku penuh simpati.

"Jadi, ini gadis yang ingin kaunikahi?" tanya Mikoto sambil tersenyum memandang calon menantunya.

"Ya."

Mendadak rasa ragu menyerangnya. Bagaimana jika keluarga Uchiha menolak? Bagaimana pun Sakura bukan berasal dari keluarga bangsawan yang setara dengan mereka.

"Keberanian ayahmu masih kuingat sampai sekarang, suatu kehormatan bagiku untuk dapat menjadikanmu sebagai menantuku," jawab ayah dari Uchiha Sasuke dengan mantap. "Ayahmu sudah berjasa besar padaku, tanpanya mungkin saat ini aku tidak bisa berdiri di tempat ini."

"Sasuke sudah menceritakan tentangmu pada kami. Aku sangat mengapresiasi rasa sayangmu pada Kenichi, jarang ada seseorang yang bisa menyayangi orang lain seperti anaknya sendiri," ucap Mikoto tulus.

"Sasuke, kapan kita akan melamar secara resmi?" tanya Fugaku lagi.

Mata Sakura berkaca-kaca seketika. Ia tidak menyangka akan diterima baik seperti ini. Dalam hatinya ia berterima kasih pada ayahnya, ibunya, dan Kami-sama. Ia juga berjanji akan menyayangi Kenichi dan mengembalikan senyum anak itu seperti semula.

.

oOo

.

Hari ini, dua orang perempuan telah mengambil keputusan besar. Keputusan yang akan mengubah hidup mereka secara total. Takdir macam apa yang telah menunggu mereka di depan? Semuanya berada di tangan Kami-sama.

.

.

.

Tbc

A/N:

Sedang menunggu hasil di lab, karena nunggu lama akhirnya diam-diam saya membuat chapter ini biar tidak ketahuan pengawas laboratorium fufufu #ditebas Buat yang masih nanya, Sakura umurnya 19 tahun, Sasuke 36 tahun, beda umur SasuSaku 17 tahun. Kalau karin juga 19 tahun, Tobirama 38 tahun, beda umur TobiramaKarin 19 tahun. Naruto dan Kimimaro akan muncul di chapter-chapter depan, jadi tunggu aja ya. Well, sepertinya fict ini memang tidak bisa selesai dalam lima chapter, tapi tidak akan lebih dari sepuluh chapter kok.

Yosh, balas ripiu dulu, yang login cek PM ya :3

Natsumo Kagerou: hoho pasti... hubungan SasuSaku akan terus berkembang kok, tapi mereka memang pelan-pelan :3

Love Foam: aaaaa senangnya kalau kamu juga suka TobiramaKarin :3 memang pendek sih, soalnya lagi sibuk banget.

Hachikodesuka: jiah, kamu malah tegang :3 Kalau mau liat bagaimana sasu sama anak sendiri, suruh dia segera bikin anak! #dichidori

Haruchan: iyap, abang sasu single sampai umurnya 36 tahun ini :3

Airin nagisa: itu,Rin, Tobiramakarin udah... #gamaulanjutin wkwk

Ayam petok: makasih udah sukaaa . kalau TR sabar dulu ya, lagi mau ngembangin strategi actionnya dulu hehe ;)

Terima kasih buat semua yang sudah membaca atau meripiu atau nge-fave atau pun nge-follow. Mind to ripiu? Tengkyu ^^