Speed of Destiny: Rise Up

Naruto © Masahi Kishimoto

Genre: Friendshiep

Inspirasi jelas dari Initial D

Rated : T

Warning : OOC, semua serba ngawur dan hanya fiktif, tidak lupa Typo.

Chapter 10

Takdir.

Merupakan alur yang harus dijalani oleh manusia dan telah digariskan oleh Yang Maha Esa. Berbicara tentang takdir, ada dua macam takdir, yang dapat diubah dan tidak dapat diubah. Seperti kelahiran, kematian, jenis kelamin, dan lahir dari orang tua mana merupakan sesuatu yang tidak dapat diubah. Nasib memang telah digariskan tapi nasib bisa berubah bergantung usaha manusia.

Takdir, menjadi suatu misteri bagi manusia karena tidak akan tahu nasib apa yang membawa manusia untuk terpaksa masuk dalam garis cerita yang telah ditetapkan oleh sang pemilik hidup.

Termasuk pada pemuda ini.

Brummmmm….

Derungan suara motor merk Honda CBR 250 cc warna hitam melaju cepat menuju jalur lingkar luar Sunagakure. Meski cuaca cukup dingin, angin yang menerpa tubuhnya terasa begitu menyegarkan otak. Dia terasa begitu bebas saat motornya melaju dengan kecepatan tidak lazim. Bukan ketakutan lagi yang dirasakan tapi kesenangan saat irama detak jantung mulai menggila.

Dia terlalu senang malam ini, sampai melupakan sesuatu yang ada dibelakangnya. Sebuah mobil tipe R32 warna hitam mengekor dari belakang. Mendecih pelan dia menurunkan laju kecepatannya meski enggan. Kalau bukan karena pengemudi R32 adalah sahabatnya dia tidak akan mengimbangi sang sahabat.

Sahabatnya, penggila balap mobil jalanan sedangkan dirinya penggila balap motor berstatus di top level balap motor jalanan Sunagakure. Membiarkan mobil hitam itu lewat giliran dirinya yang mengekor. Dia hanya sedikit tahu tentang mobil, R32 menurut orang-orang sudah termasuk mobil bagus untuk balapan jalan. Dia hanya tahu itu, tapi sayangnya sampai sekarang dia belum pernah benar-benar melihat fantastisnya mobil itu di jalanan. Dengan motornya saja kalah, mungkin faktor pengemudinya.

Jangan ditanya bagaimana skill sang sahabat dalam mengemudi karena dia hanya akan menjawab satu kata, buruk. Dari segi manapun dia bahkan tidak bisa melihat sisi seni dari cara mengemudi sang sahabat. Gerakan menikungnya jelek, sering kehilangan kecepatan, dalam menikung tidak jarang menyerempet pembatas jalan. Berbeda sekali dengan video yang sering ditunjukkan padanya. Walaupun begitu, dia tidak pernah mencela impian sang sahabat karena mereka sudah seperti saudara, mereka berdua bersahabat sejak kecil dan keduanya saling mendukung. Dia yang agak dingin dan sahabatnya yang selalu bersemangat, entah mengapa bisa saling melengkapi.

Pemuda berjaket kulit hitam itu mengekor seolah memberi pengawalan pada mobil R32 sang sahabat. Mata safire indahnya dia fokuskan untuk mengawasi, siapa tahu sahabatnya itu akan melakukan kebodohan tidak terduga seperti yang sudah-sudah.

Tidak jarang dia menjadi layaknya pengasuh bagi sang sahabat. Membiarkan mobil di depan meluncur bebas dia memilih menikmati sensasi angin yang berhembus. Jika sudah di atas motor, jalanan ini terasa hanya miliknya seorang. Di tanah Sunagakure inilah dia menemukan bentuk kesenangan lain dalam hidupnya.

Balapan, dia sangat suka beradu kecepatan dengan motor dan malam ini dia mendengar isu baru yang membuatnya tertarik untuk keluar.

Lawan baru dan lebih menantang. Semoga dia akan mendapatkannya malam ini.

Derungan mobil memecah lamunanya, terdengar samar-samar menuju arah mereka tapi dia tidak peduli.

Itu awalnya.

Sampai pantulan kaca spionnya memantulkan mobil berwarna putih meluncur cepat kearah mereka. Dia begitu kaget ketika mobil itu tidak sampai hitungan menit sudah tepat di belakangnya. Mengambil sisi luar mobil itu dengan mudahnya menyalip dua sahabat itu sekaligus. Lebih mencengangkan lagi bagi sang pemilik mata safire adalah kecepatan gila mobil menuju tikungan. Belum selesai disitu, iris matanya dibuat takjub saat melihat cara menikung dari mobil. Luar biasa, dia pernah melihat cara menikung sesempurna itu hanya dari video yang pernah ditunjukkan sang sahabat.

Dia tercengang, belum pernah selama hidupnya di wilayah Sunagakure melihat kemampuan mengemudi mobil seperti itu. Rasa penasarannya kemudian tergelitik untuk mengikuti. Menyalip sang sahabat dia memburu mobil itu untuk diikuti.

"Pasti tidak terlalu jauh!" Gumamnya pelan. Sial, tidak biasanya dia mudah penasaran, beberapa kali menonton balap mobil sahabatnya dia belum pernah sepenasaran ini.

Menaikkan gigi dia mempercepat laju motornya, melihat arah tujuan, sepertinya mobil itu juga menuju jalur lingkar luar. Tapi ada apa gerangan mobil itu kesana? Bukankah para geng penguasa itu sedang gencar berulah. Membuka sedikit memorinya dia baru ingat jika tahun ini menurut sang sahabat Sunagakure jadi tuan rumah event balapan mobil. Mengambil kesimpulan sementara, dia menduga itu mobil luar Sunagakure.

Selain memenuhi rasa ingin tahunya dia juga ingin memberi peringatan pada sang pengemudi untuk tidak berada di daerah lingkar, terlalu berbahaya bagi sang pengemudi mobil jika dia disana.

"Aku harus lebih cepat lagi!" Gumamnya pada diri sendiri.

Dalam kegelapan malam, motor hitam itu melaju lebih cepat lagi seolah memburu takdir untuk datang lebih cepat.

Takdir yang tidak mungkin akan dia duga sebelumnya.

.

.

.

"Wuhuuuuu!"

"YOOOOO!"

Sorak surai menggemuruh diantara suara derungan mesin motor-motor yang oleh pemiliknya sengaja dimainkan gasnya. Para pengendara itu beratraksi, memutar motornya tiga ratus enam puluh derajat layaknya jam. Pertunjukkan hiburan sebelum balapan, menunjukkan berbagai skill yang dimiliki kepada sesama rider lain.

Malam itu jalanan lingkar luar Sunagakure tampak jauh lebih ramai daripada biasanya. Pemicunya tidak lain adalah isu tentang akan munculnya seseorang yang selama ini sering diagung-agungkan oleh salah satu klub balap motor elit di Suna. Seseorang yang dijuluki oleh Taemujin dengan gelar "The Lost King." Kabar tentang kekalahan Taemujin melawan orang yang disebut-sebut Raja yang hilang begitu cepat menyebar luas seantero kawasan Suna.

"Hei bocah, kau yakin ketuamu akan membawanya kemari?" Tanya salah seorang yang ada di sana, dia berbadan kekar dengan kumis tipis di wajahnya dan Inari tidak tahu namanya.

Dia pria awal tiga puluhan, menunjukkan sorot kecongkakan di mata hitamnya. Inari benar-benar tidak suka dengan orang-orang ini. Para geng balap congkak dan kolot, begitulah Inari dan kawan-kawan menyebutnya.

"Pasti, ketua kami tidak pernah bohong pada kalian bukan?" Jawab Inari diiringi senyum palsu. Dia semakin muak pada mereka setelah tahu siapa mereka sesungguhnya. Para penoda dunia balap motor Sunagakure.

"Kuharap si pirang itu tidak mengecewakan orang yang sudah repot-repot datang." Komentar pria itu pada Inari agak keras. Beberapa pasang mata melirik pada keduanya, tidak terkecuali Pein, Shishui, Hidan yang diperkenalkan Inari sebagai teman baru.

Alih-alih melemparkan pandangan meremehkan pada tiga orang baru itu, anehnya justru beberapa orang tampak mengambil jarak atau menghindar. Tatapan ketiga orang itu benar-benar layaknya predator yang menunggu mangsa. Pein, Shishui dan Hidan datang dengan masing-masing mengendarai motor balap warna hitam yang identik. Entah mereka sudah mengenal lama atau memang kebetulan, kesamaan jenis dan warna motor banyak membuat orang bertanya-tanya. Terlebih aura mereka, sama-sama membuat tidak nyaman, seolah kau harus tunduk jika berhadapan dengan mereka.

Pein, pemuda bersurai orange ketua Akatsuki jelas memiliki karisma tersendiri meski orang-orang ini tidak tahu apa predikatnya. Lihat saja meski penampilannya begitu biasa, berbalut sweater rajut abu-abu dan jeans hitam layaknya pemuda umumnya dia terlihat begitu mendetensi dalam posisi duduk diatas motor. Wajah tenangnya memancarkan kewibawaan bagi siapapun yang melihat. Shishui dan Hidan, terlihat sama saja, keduanya terlihat sangat dingin, jangankan mengejek seperti kebiasaan saat kedatangan anak baru orang-orang disana justru merasa terintimidasi tanpa diketahui sebabnya.

"Hei Inari, kau tidak mau bersenang-senang sedikit sambil menunggu ketua. Ada banyak orang yang bisa kau tantang hari ini." Sara sang wakil mengejutkan Inari dengan kedatangannya.

Wanita bersurai merah sejenak mengedarkan pandangan ke sekitar area seolah untuk mencari seseorang. Menma mungkin?

Entahlah! Tapi jika menyebut nama Menma pipi gadis itu selalu bersemu merah.

"Tidak, bukan waktunya untuk bersenang-senang. Kita harus ingat tujuan kita disini." Jawab Inari penasaran.

Wanita cantik itu menggaruk kepalanya. "He he, yeah aku tahu. Jadi mereka orangnya?" Sara mengarahkan pandangan kepada tiga pemuda yang tidak jauh berdiri di dekat mereka.

Pemuda bersurai hitam mengangguk. "Biar aku perkenalkan."

Inari kemudian mengajak Sara untuk mendekat pada tiga pemuda.

"Hei kawan-kawan." Sapa Inari tanpa ada kecanggungan. Dia memang baru saja mengenal mereka tapi karena pembawaannya yang mudah akrab dia tidak merasa canggung untuk berkomunikasi. Dimata Inari ketiga orang itu tidaklah kaku seperti kelihatannya.

"Ah, Inari-san. Hei juga." Hidan menjadi orang yang pertama kali merespon. Pria platinum itu tersenyum hangat kemudian memandang sosok wanita merah di belakang Inari yang menunduk malu-malu.

"Aku ingin memperkenalkan temanku, dia wakil ketua klub ini. Sara, perkenalkan ini Hidan-san, ini Pein Nii-san dan itu Shishui Nii-san." Kata Inari untuk memperkenalkan sambil menunjuk satu-satu.

Sara tersenyum gugup. "Sa-salam kenal."

"Ya ampun, aku kira di dunia balapan motor tidak akan bertemu gadis cantik ternyata ada juga gadis yang tertarik dengan balapan motor. Kau harus pandai menjaga diri Sara-chan." Sempat-sempatnya Hidan memberi nasihat kepada Sara.

Anggota kepolisian itu agaknya tidak tahan jika tidak memberi pengarahan kepada siapa saja yang melanggar hukum dan bertindak berbahaya. Ingin rasanya dia mengadakan razia motor saat itu juga, pasti anak-anak itu akan tertangkap. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti setelah misi ini selesai. Dia banyak melihat anak di bawah umur, tidak seharusnya mereka di sini.

"Ba-baiklah." Jawab wanita cantik itu agak gugup.

Inari tertawa. "Tuh, Pak Polisi sudah bilang begitu, sebaiknya balapan motormu itu dikurangi Sara-chan!"

Sontak Sara memberi tatapan sinis pada Inari. "Dasar anak kecil, jangan sok tahu kau!"

Untuk beberapa saat mereka tampak mengobrol akrab.

"Apa setiap balapan suasana seramai ini? Agak terlalu aneh." Kata Pein sambil menggaruk pipi. Untuk ukuran balapan biasa suasana ini terlalu ramai.

Sara melipat kedua tangan di depan dada. Wajah cantiknya menggeleng pelan. "Ini pasti gara-gara isu Itachi akan datang. Bukan rahasia umum lagi, dari dahulu ketua selalu membanggakan sosok Itachi pada siapapun. Mereka pasti ingin tahu siapa orang yang selama ini disebut Raja yang hilang oleh Taemujin."

"Ehh, begitu?" Pein sedikit tidak percaya. Dia tidak banyak tahu rekam jejak Itachi dalam dunia balap motor jadi agak terkejut ketika mendengar ucapan Sara.

"Memangnya selama ini kalian tidak tahu?" Tanya Inari pada ketua Akatsuki. Sulit mempercayai jika rekan Itachi sampai tidak tahu masa lalu sulung Uchiha.

Pein menggeleng. "Kami tidak sampai memiliki pikiran dia sehebat itu. Hmmm…jadi mereka tertarik dengan nama besar Itachi."

"Tapi bukan hanya itu." Sela Inari memberi komentar. Shishui, Hidan dan Pein kompak saling memandang. Jika bukan hanya karena Itachi lalu apa lagi?

"Ini tidak akan hanya tentang Itachi tapi ada isu juga bahwa Rise akan datang." Sara melanjutkan ucapan Inari. Tidak ada nada manis lagi dalam suara gadis merah. Dari raut wajahnya yang serius tampaknya nama yang disebut tadi bukanlah orang sembarangan.

Alis orange Pein bertaut tanda penasaran. "Rise? Siapa itu? Dia anak motor juga?"

"Maaf aku lupa jika kalian itu bukan lingkungan balap motor Suna. Rise adalah nama samaran dari rider yang dua tahun belakangan ini muncul dan selalu menantang para anak klub motor. Dari seluruh balapannya belum pernah dia mengalami kekalahan. Dia itu misterius, tidak memiliki klub, tidak ada yang tahu nama aslinya dan seperti apa wajahnya. Dia datang sesuka hati dan malam ini isunya dia akan datang. Mungkin akan menantang Itachi?" Ungkap Sara lagi.

"Oh?" Jawab Pein pendek, kelihatannya tidak tertarik atau memang tidak tertarik. Tidak ada kepentingan bagi dirinya untuk berurusan dengan orang yang bernama Rise itu.

"Harapanku orang bernama Rise itu tidak akan merepotkan." Komentar Hidan untuk menanggapi.

"Tidak-tidak! Rise itu bukan bagian dari apapun, kami bisa pastikan dia itu netral. Dia tidak akan ikut campur urusan seperti itu." Tutur Inari memastikan dengan mantap. Dia merasa yakin Rise tidak akan terlibat karena selama ini Rise dikenal sebagai orang yang apatis, tidak pernah mau bersosialisasi dengan yang lain kecuali temannya yang selalu ada dimanapun Rise datang.

"Kami harap keyakinan itu tepat kalau tidak akan mempersulit keadaan, ini akan lebih menyulitkan karena banyak orang disini. Hidan, apa kau sudah mendapat kabar yang lain?" Pria Uchiha bertanya pada Hidan.

"Sudah, semua sudah ada di tempatnya masing-masing. Tinggal Taemujin dan Itachi yang saat ini sedang mengambil motor di rumah Taemujin dan Naruto baru saja meluncur menuju titik persimpangan keluar dari jalan lingkar luar ini untuk bergabung dengan Minato dan Arashi. Itu info terakhir yang kudapat dari pesan singkat mereka." Jawab Hidan pada Shishui.

"Bagus, tinggal menunggu waktu." Tutur Shishui sambil melihat kearah jam tangan.

.

.

.

Sebuah Mitsubishi lancer Evo IV warna putih melesat anggun membelah jalanan malam. Sorot lampunya berpendar terang menyorot hitamnya aspal jalanan. Tidak takut akan penerangan yang cukup minim pengemudi di dalamnya justru memacu mobil dalam kecepatan tinggi.

Melirik jam yang ada di mobil, pukul 10.05 PM. Gara-gara harus mengisi bensin dia jadi sedikit tertinggal dengan yang lain.

"Hatching!" Naruto bersin lagi untuk kesekian kalinya. Hidungnya sudah memerah akibat flu. Pemuda itu mengambil tissu dengan tangan kiri kemudian menempelkannya pada hidung.

Aneh tapi nyata, keadaan tubuhnya yang tidak fit nyatanya sama sekali tidak menggangu kemampuannya dalam memacu mobil dalam kecepatan tinggi. Tissu kotor itu di remas lalu di buang di tempat sampah kecil di belakang jok mobil. Akan mengambil tissue lagi iris safirenya tertarik untuk melirik spion kiri yang memantulkan sinar pantulan kendaraan lain.

Sebuah motor, salah. Tidak jauh dibelakangnya turut pula sebuah mobil hitam mengekorinya dari belakang. Keduanya meluncur dalam kecepatan tinggi menuju kearahnya.

"Bukankah itu kendaraan yang tadi kusalip?" Gumam Naruto sendirian. Berpikir lebih dalam, pemikiran inilah yang muncul.

"Mereka mengikutiku! Jangan-jangan mereka ingin berbuat jahat." Sifat Paranoidnya dengan mudah mengambil kesimpulan itu. Wajar jika Naruto takut, teman-temannya sudah ada yang jadi korban geng motor. Tidak akan baik jika dia menjadi korban selanjutnya.

Dalam kepanikan putra Namikaze tanpa ambil pusing melakukan jurus seribu bayangan untuk kabur. Naruto tidak jago berkelahi jadi cara terbaik menyelamatkan diri menurutnya adalah kabur dari musuh.

"Kecepatannya bertambah!" Untuk sesaat sang pengendara motor tertegun. Hampir saja dia berhasil mendahului jika saja kecepatan mobil itu tidak bertambah.

Gila! Mobil putih itu semakin cepat bahkan saat mendekati tikungan di depan. Tikungan di depan hampir 90 derajad dan sedikit curam, kalau mobil putih itu tidak menguasai medan dia akan meluncur menuju pembatas dan menabrak.

Jantung sang pemuda mulai berdesir aneh saat kecepatan motornya mungkin hampir menyamai kecepatan mobil di depan. Irama ketegangan yang begitu dinikmatinya. Pemuda bersurai pirang itu sangat tidak masalah jika harus melibas tikungan di depan dengan kecepatan tinggi, tapi dia sangat penasaran bagaimana mobil di depan akan mengatasi tikungan itu.

Apa yang didapatinya?

Iris safire miliknya membola takjub karena tepat saat memasuki tikungan mobil berwarna putih itu membelok layaknya pendulum mengikuti arah tikungan sebelum kembali memasuki lintasan lurus tanpa kehilangan kecepatan. Gerakan mobil itu layaknya pelukis yang dengan indahnya menggoreskan kuas pada kanvas. Oke! Mungkin berlebihan tapi bagi dirinya yang tidak mengerti seni mengemudi mobil, pengemudi di depan setidaknya jauh lebih bagus jika dibandingkan temannya yang bisanya menghabiskan ban.

BRUMMMM. BRUMMMMMMMMMMMM.

Dia kembali memacu kembali motornya untuk berusaha mengejar. Berkat kejadian tadi dia semakin penasaran saja! Sehebat itukah pembalap dari klub mobil. Disaat dirinya mulai dihinggapi kebosanan di balap motor jalanan dia akhirnya mendapat sesuatu yang menarik. Meski di depannya bukan motor dia merasa sangat tertantang.

Surai pirangnya yang agak panjang makin tersibak hebat saat dia kembali ke jalanan lurus dengan kecepatan tinggi. Meski sebagian tertutup helm surai pirang itu tidak kuasa sedikit berkibar saat tekanan angin menerpa.

Semakin bersemangat saja!

Menaikkan gigi motor setelah keluar tikungan dia mengekor di belakang mobil putih itu. Memasuki tikungan kembali, dia memperhatikan baik-baik ketika visualisasi matanya seolah melihat bagian belakang mobil saja yang bergeser untuk melibas tikungan yang tidak terlalu tajam di depan. Dia tidak habis pikir, bagaimana caranya mobil dalam kecepatan tinggi bisa tiba-tiba berbelok. Teknik barusan berbeda dengan yang tadi, cara membelok sebelumnya dimulai dari arah mobil yang terlihat dibawa kearah berlawanan dari tikungan, kemudian secara tiba-tiba berbalik ke arah tikungan dan memberi efek layaknya pendulum.

Tidak mau kalah dia menunjukkan kelasnya, memasuki tikungan dia membuka gas lebih awal agar mendapatkan tenaga untuk memperoleh kondisi kecepatan menikung yang baik. Salah satu keunggulannya, dia bisa memanfaatkan tikungan untuk memangkas jarak maupun menyalip.

Namun kondisi kali ini berbeda, dirasa sulit menyalip mobil di depan karena badan jalan saat menikung hampir tertutup oleh mobil. Mungkin dalam lintasan lurus? Sulit juga.

Mobil di depan memiliki kombinasi sempurna, efisien di tikungan dan cepat saat jalan lurus.

Seringaian tipis dibalik masker hitam itu akhirnya tersungging. "Target berikutnya adalah mobil itu."

"Oh Ibu! Ibu! Ibu! Kenapa orang dibelakang terus mengejarku." Pemuda dibalik kemudi mobil Mitshubishi lancer evo IV, Naruto. Sudah panik luar dalam. Keringat dingin meluncur hebat dari seluruh tubuhnya, detak jantungnya sudah tidak mempunyai irama teratur. Kedua tangannya terasa begitu kaku digunakan untuk mengemudi. Air ludahnya bahkan terasa makin pahit saat memandang kaca spion. Dirinya benar-benar ditempel ketat.

Bibirnya memucat, dia sudah sekuat tenaga untuk lepas dari motor itu.

"OH, ASTAGA! ASTAGA! IBU!" Kepanikan Naruto makin menjadi lagi saat mengetahui motor tidak dikenal hampir sejajar dengan mobil yang dikemudikannya.

"Tenang Naruto! Kau akan selamat. Aku pasti bisa selamat dari dia." Mahasiswa jurusan kedokteran itu berusaha menenangkan batinnya yang terguncang.

BRUMMMM!

"Kuso!" Umpat pemuda pengendara motor. Mobil warna putih itu benar-benar membuatnya hampir frustasi, hampir saja dia berhasil melewati dari sisi luar tiba-tiba mobil itu kembali hilang dari jangkaunya.

Pertarungan yang sengit dan sangat mendebarkan. Satu-satunya saksi mata pertarungan itu adalah pemuda dibalik kemudi mobil R 32 warna hitam. Seumur hidupnya dia belum pernah secara langsung melihat balapan mobil dengan motor terjadi secara nyata. Kejadian teramat langka. Meski harus susah payah mengikuti, semua itu terbayar ketika melihat bagaimana drama adu kecepatan itu tersaji.

Harap-harap cemas perasaan itulah yang terjadi saat melihat sahabatnya yang berada di jajaran tertinggi dalam balap motor Suna dibuat bekerja keras mengatasi pembalap di depan. Pengemudi R 32 dapat memastikan jika orang dibalik evo IV pasti orang yang hebat dalam balap mobil jalanan. Dimatanya drifting yang dilakukan tadi sudah sempurna.

Dia ingin mobil di depan yang menang tapi dia juga tidak ingin sahabatnya kalah.

Teman yang plin-plan!

BRUMMMMM.

Derungan suara motor dan mobil dalam kecepatan tinggi memecah keheningan malam yang kian larut. Rumput bergoyang pelan dan hewan-hewan kecil yang mulanya berada di tengah jalan menyingkir secara naluriah saat suara menggema itu tertangkap oleh indera pendengaran mereka. Motor hitam itu kembali mencoba berada pada posisi sejajar dengan mobil, tidak hentinya mencoba mendahului meski terus mendapat perlawanan keras dan dibuat dalam posisi tidak menguntungkan.

Dua pemuda itu tidak mau mengalah.

Beberapa puluh meter di depan akan ada pertigaan menuju lingkar luar Suna. Sang pengendara motor tahu benar jika jalanan yang cukup lebar disana dapat dimanfaatkan untuk menyalip. Dia tidak akan membiarkan kesempatan itu terlewatkan begitu saja. Memaksa motornya hingga batas maksimal dia akan melakukan pertarungan habis-habisan disana.

Mengambil sisi luar dari jalan, dia mendekatkan motornya pada mobil putih itu. Berbahaya, tapi dia harus melakukannya. Sesuai dugaan mobil itu mulai beraksi kembali, kali ini dia tidak akan tertipu. Dia harus mengikuti alur mobil itu bergerak, dengan begitu pasti ada celah.

Suara ban bergesekkan dengan jalan mulai menggema lagi saat mobil mulai mengikuti alur tikungan.

"Dia pasti ke kanan!"

Brummm.

Tidak ragu sang pengendara memacu motornya lebih cepat lagi untuk menyalip dari luar. Motor dan mobil saling beradu menuju pertigaan, tapi ada yang salah dalam perhitungan sang pengendara motor. Alih-alih berbelok ke kanan, sang pengemudi mobil justru tidak mengubah arah beloknya. Dia berbelok ke kiri.

Akibatnya?

Brummmm…Cittttttttttttt….

Mitshubisi lancer evo IV terhenti di sisi kiri jalan hampir menyerempet pembatas jalan dengan posisi melintang dan sang pengendara motor terhenti di batas rerumputan di tepi jalan. Tidak beberapa lama mobil hitam R 32 datang dan berhenti tepat ditengah diantara mereka.

Bersambung

Terimakasih banyak untuk para pembaca. Mungkin ini agak telat, atau terlalu telat? #Nyengir, semoga tidak terlalu mengecewakan. Kembali menulis itu susah ternyata. Oh, saya ingin bertanya, seandainya Bolt saya masukin disini bagaimana? Saya lagi senang berkhayal Bolt itu kembaran Naruto.

Terimakasih sudah membaca. Silahkan berikan kritik dan saran untuk perbaikan.

Terimakasih

Mind to Review?