My Guardian

Chapter 12

Zayn POV

Sudah kuceritakan semuanya, semua kesalah pahaman ini. Benar seperti yang shine bilang, rumit, kisah cintaku memang rumit. Sekarang liza salah paham padaku akankah aku sakit hati lagi?

Flashback On~

Siang ini aku memang sudah janjian dengan Liza untuk makan siang bersama. Tepatnya aku memintanya menemaniku makan siang. Tapi tiba-tiba Lily masuk ke ruanganku dan dibelakangnya ada Lydia yang nampaknya sedang kesal.

"Maaf mr, nona ini memaksa masuk" ucap Lydia, dari nada bicara nya sepertinya dia takut aku marah

"Lily" ucapku tak percaya

"Sudah Lyd tak apa, kau boleh keluar sekarang" ucapku

"Baik, permisi mr" kemudian lydia menghilang dari balik pintu

Aku bangkit dari posisi dudukku, dan melepas kacamata yang sejak tadi kupakai. Aku menghampirinya yang masih terdiam di dekat meja

"Ada apa lil?" Tanyaku. Dia menangis dan langsung memelukku

"Lil kau kenapa?" Tanyaku makin heran

"Harry, aku benci padanya zayn" dia masih menangis. Aku melepaskan pelukannya.

"Kenapa dia, duduklah disini" ucapku sambil mengajaknya duduk di sofa.

Dan ya dia menceritakan semua kebrengsekan harry, dan yang paling membuatku kaget adalah ketika dia meminta untuk kembali berpacaran denganku

"Kau gila lil, aku tak bisa" jawabku, kemudian aku berdiri

"Kumohon zayn" dia menarik tanganku

"Lyl, mengertilah. Aku sudah mencintai gadis lain. Kumohon, aku bukan orang yang tepat untuk menggantikan posisi harry. Tuhan sudah menyiapkan seseorang yang lebih baik untukmu lyl , percayalah." Ucapku lirih sambil menatapnya. Dia melepaskan tangannya dari tanganku.

"Aku mengerti" kemudian lily bangkit dari posisi duduknya. Aku memeluknya. Tak tega melihatnya menangis

"Maafkan aku lil, terimakasih untuk pengertianmu" ucapku. Kemudian melepaskan pelukan kami.

"Aku yang minta maaf zayn, harusnya dari dulu aku percaya padamu. Tapi sudahlah. Aku permisi zayn" ucapnya sambil menyeka air matanya. Kemudian bergegas pergi dari ruanganku.

Setelah Lily pergi aku membereskan berkas2 ku di meja, dan aku bersiap untuk menemui Liza. Saat keluar dari ruangan tiba-tiba Lydia memanggilku

"Mr, ada titipan untuk anda" ucap Lydia

"Oh, apa Lyd?" Tanyaku heran

"Ini mr" dia menyodorkan ku sebuah kertas yang dilipat. Seperti surat

"Dari?"

"Ms. Liza, mr" jawab Lydia singkat

"Tadi dia kesini?" Aku terbelalak kaget. Jangan-jangan dia salah paham. Ah sial.

"Iya mr, sebelum masuk ke ruangan dia meminta izin dulu pada saya dan bertanya sedang ada siapa di dalam, ms . Liza sopan sekali" ucap Lydia sambil tersenyum

"Lalu kau jawab apa?"

"Ada ms. Lily, mr, kebetulan tadi saya mendengar ketika anda menyebutkan nama nona itu" jawab lydia

Benar saja. Tamat riwayatku. Pasti Liza salah paham.

"Anda tidak apa-apa mr?" Tanya lydia heran. Dia mengaburkan pikiranku

"Ah, tidak lyd, tak apa, terimakasih" aku mengangkat kertas itu , kemudian bergegas pergi untuk makan siang.

Aku mengirimi Liza pesan tapi tak dibalas, telponku juga tak diangkat. 'Ah mungkin dia masih marah padaku. Mungkin besok-besok juga dia akan lupa' batinku.

Tapi aku salah, liza benar-benar tak mengizinkan ku untuk menjelaskan semuanya. Sudah 2 minggu dia tak membalas pesan atau mengangkat telponku. Pernah aku ke rumahnya, tapi hanya ada Louis dan Elena. Dia bilang Liza sedang pergi bersama dad dan neneknya, tapi tak tau kemana.

"Dad mengajak mereka berdua jalan-jalan, tapi tak bilang mau kemana. Maaf zayn, aku tak bisa banyak membantu" ucap Lou sambil menepuk bahuku

"Ya tak apa Lou" jawabku pelan.

Flashback Off~

Louis POV

Hari ini jadwalku ke studio. Aku berniat membicarakan masalah zayn-liza dengan Shine. Kuharap dia bisa membantuku untuk membuat liza mau berbicara dengan zayn.

"Shine" sapaku saat tiba di ruang rekaman. Shine sedang mengobrol dengan davis.

"Heeey kenapa kau menyapa dia lebih dulu dibanding aku lou" ucap niall kesal. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya

"Hai Louis" dia tersenyum padaku

"Oh Hai babe" ucap shine, niall menghampirinya dan mencium pipi shine

"Apa-apaan lou pagi ini sudah menyapa mu lebih dulu daripada aku" wajah niall benar-benar konyol kalau sedang ngambek

"Sudahlah, tak usah dipermasalahkan" ucap shine sambil mengelus pipi pacarnya itu

"Tapi.."

"Sudah, cepat rekaman" ucap shine tegas.

Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua. Davis tersenyum sambil menggeleng. benar-benar lelucon di pagi hari ya tuhan.

Selesai rekaman aku kembali berbicara pada shine. Dia sedang entahlah membicarakan apa dengan davis.

"Shine"

"Ya" dia menoleh kearahku

"Lagi-lagi kau menyapanya duluan Louiissss" ucap niall menggeram

"Babe" shine melotot pada niall.

"Oke oke" jawab niall sambil mengangkat tangannya

"Shine ada yang perlu kubicarakan" ucapku menatapnya

"Tuhaaan sekarang dia mau bicara 4 mata dengan gadisku" niall mengacak-acak rambutnya

"Kau juga boleh ikut idiot, siapa tau kau bisa membantu" ucapku sambil menjitak kepalanya. Shine tertawa pelan.

"Ah ya baiklah, davis kami tinggal dulu ya. Tak apa kan?" Tanya shine

"Ya tak apa ms. Itu lagipula Ariana sudah datang" ucapnya sambil menunjuk seseorang di dekat pintu.

"Ah ya, hai ariana. Siap untuk rekaman?" Tanya shine

"Hai ms. Tentu saja" jawab ariana

"Oh hai louis, hai niall" ucapnya sambil tersenyum pada kami berdua. Aku dan niall membalas nya dengan senyum

"Hai" ucap kami berbarengan.

"Baiklah Kalau begitu kami permisi ya" ucap shine. Davis dan ariana mengangguk, aku dan niall mengekor dibelakang shine.

Ruangan shine

Kami tak perlu basa basi lagi. Aku dan niall langsung duduk di sofa di ruangannya. Shine duduk di samping niall.

"Ada apa lou?" Tanyanya penasaran

"Mengenai Liza dan Zayn, shine" ucapku pelan

"Mereka kenapa?" Tanya niall heran

"Salah paham mate, seperti kau dan james eh liam dulu" ucapku dengan nada menggoda. Niall mendengus kesal. Shine kemudian mengacak-acak rambut niall sambil tertawa

"Oh ya mereka ya, kita harus membantu mereka menyelesaikan salah paham ini Lou" ucap shine kembali fokus

"Ya, memang. Memang itu yang sedang kupikirkan" jawabku sambil terus berfikir

"Mereka break?" Ucap niall polos

"Bukan bodoh, memangnya kau" ucapku sambil tertawa pelan.

"Lalu kenapaaa?" Ucap niall kesal

"Liza tak mau berbicara pada zayn, padahal zayn sudah menjelaskan semuanya. Bahkan aku juga sudah membantu menjelaskan, tapi tetap saja liza tak menghiraukan kami, sejak kejadian itu pun Liza jadi jarang mengobrol denganku. Aku juga sulit menemuinya. Ele sudah mencoba membantu tapi tetap saja liza juga tak berbicara banyak pada ele" jelasku

"Aku ada ide" ucap niall sumringah

"Apa?" Tanyaku dan shine berbarengan. Niall menatap kami kesal. Shine tersenyum dan aku hanya menggeleng pelan

"Apa babe?" Ulang shine

"Kita pertemukan mereka berdua" ucap niall sambil melipat kedua tangannya di depan dada

"Itu memang mauku tapi bagaimana caranya bodoh?" Ucapku kesal

"Ya tentu saja secara tidak sengaja, kau tau kan trik lou trik. Kau lebih bodoh daripada aku ternyata" dia menggeleng pelan dan tertawa

"Beritahu kami rencanamu dear" ucap shine sambil menatap niall. Niall mengangguk mengiyakan

"Begini, kau ajak makan malam zayn di luar besok, begitu juga dengan mu lou ajak Liza pergi makan malam. Kalian harus berada di restoran yang sama tentunya. Kalian pura-pura tak sengaja bertemu, lalu kalian makan bersama-sama dan tiba2 kau babe pamit ke toilet dan kau lou bilang saja kalau elena menelpon jadi kau permisi sebentar. Jadilah mereka tinggal berdua kan, setelah itu awasi saja mereka dari jarak yang cukup jauh tapi pastikan pandangan kalian masih bisa menangkap gerak-gerik mereka. Seperti itu. Bagaimana?" Niall menjelaskan rencananya dan kemudian ia tersenyum tipis.

"Ya bisa dicoba" jawabku sambil mengangguk pelan. Shine juga melakukan hal yang sama

"Tak ada hadiah untukku setelah aku memberikan kalian ide hah?" Niall kembali bersikap ke kanak-kanakan. Dia menatapku dan shine bergantian. Aku dan shine memicingkan mata. Dan kemudian mencium pipi niall. Dia terbelalak kaget

"Ah ya terimakasih babe, dan sepertinya aku tak butuh itu darimu lou" ucapnya sambil menatap ku aneh.

"Biasanya juga kau yang menciumku" aku menjitak kepalanya dan tertawa sambil berjalan menuju pintu

"Enak saja. Aku masih normal" jawab niall kesal. Dia melemparkan bantal sofa padaku.

"Tidak kenaa" aku menjulurkan lidahku padanya. Niall mendengus kesal.

Shine hanya tertawa melihat tingkah laku kami berdua.

"Nanti ku telpon mengenai rencana ini shine, jangan cemburu babe niall" ucapku dengan nada menggoda sambil menutup pintu. Tingkah niall sungguh menggelikan jika dia sedang cemburu. Sungguh sangat kekanakan.

Aku sudah menelpon shine mengenai rencana yang akan kami lakukan, dan kami sudah mempersiapkan semuanya supaya pertemuan zayn dan liza tidak gagal. Tentu saja aku sudah menceritakan semuanya pada istriku, elena. Dia mendukung sepenuhnya dan membantu ku membujuk liza supaya mau pergi keluar denganku. Dan ya kami berdua berhasil walau kami juga dibantu dad, aku mengajak liza makan malam dengan alasan aku rindu adikku, dan ingin makan malam bersamanya sebelum aku dan elena pindah rumah. Dia sempat curiga kenapa aku tak mengajak dad juga, padahal aku juga kan akan meninggalkan dad di rumah ini. Tapi entahlah seperti mengerti akan keadaanku, dad bilang dia tak bisa ikut karena sudaha ada janji dengan kawan lamanya. Entahlah ini benar atau tidak yang jelas aku berterimakasih pada dad karena dia sudah membantuku.

Kuharap pertemuan malam ini akan berhasil.

Shine POV

Malam ini aku mengajak zayn makan malam diluar, sesuai rencana untuk mempertemukannya dengan Liza. Mudah sekali mengajak zayn ke luar rumah, mengingat dia tak pernah menolak ajakanku, se lelah apapun dia pasti dia selalu berusaha untuk mengabulkan permintaanku. Beruntung sekali aku mempunyai kakak seperti zayn. Untuk kali ini aku ingin sedikit memberikannya kebahagiaan. Jadi aku sangat bersemangat untuk melakukan rencana ini.

Aku bertemu lou dan liza di depan restoran, berusaha senormal mungkin

"Hai shine, zayn" sapa lou pada kami berdua

"Oh hai, lou. Hai liz sudah lama tak bertemu" ucapku. Liza hanya membalasnya dengan senyum. Dan zayn juga tak menjawab sapaan lou, sama seperti liza. Hanya tersenyum entahlah mereka berdua kenapa.

"Kebetulan sekali kita bertemu, bagaimana kalau makan bersama saja" ucap lou

"Ya boleh. Bagaimana zayn?" Tanyaku. Zayn hanya mengangguk pelan mengiyakan. Dan liza masih tersenyum, tapi sepertinya dipaksakan

"Oke baiklah" jawabku. Louis mengangguk dan tersenyum

Hidangan makan malam tiba, tapi semenjak kami duduk hingga makanan ini datang tak sepatah katapun di keluarkan oleh zayn dan liza, 'benar-benar lebih parah daripada salah paham ku dan niall waktu itu.' Batinku

Ketika mulai makan tak sengaja tanganku menyenggol piring berisi makanan dan ya sukses jatuh di dress yang aku pakai. Ini diluar rencana, seharusnya aku hanya izin ke toilet tanpa harus mendapatkan tumpahan makanan. Dan dapat kulihat sekarang louis sedang menahan tawanya. Aku hanya melotot menatapnya dan kemudian dia melanjutkan makannya.

"Aku permisi ke toliet, huhh sepertinya akan lama" ucapku kesal. Aku belum beranjak dari tempat dudukku. Tak lama kemudian ponsel louis berdering

"Permisi sebentar, elena menelpon" ucapnya.

Ya baiklah permainan kita mulai.

Aku bergegas pergi ke toilet dan lou entah kemana yang jelas dia izin menelpon.

Cukup lama aku di toilet hingga aku mendengar seseorang berteriak. Aku kenal suara itu, suara zayn. Aku memutuskan untuk keluar dan ya sepertinya sedang ada pertunjukan. Hahahaha

'Baguslah, seperti nya rencana nya berhasil' batinku senang

"Shine sinii" ucap louis pelan, kedengaran seperti berbisik. Dia tersenyum senang. Aku mengangguk mengiyakan dan menghampirinya.

"Just wait and watch!" Ucap louis. Aku tersenyum.

Zayn POV

'Sial apa-apaan ini shine dan louis belum kembali juga, aku seperti sedang makan malam dengan batu, kutanya hanya menjawab dengan bahasa tubuh, tak mengeluarkan sepatah katapun, dosa apa aku tuhan' batinku gusar

"Liz" ucapku pelan. Dia hanya menoleh padaku

"Liz, kumohon bicaralah padaku" ucapku lirih. Dia masih terdiam. Kini dia menunduk.

"Liz, itu hanya salah paham, kumohon mengertilah" ucapku sambil memegang tangannya. Dan sepertinya dia tak menyukainya dan menarik tangannya dari genggamanku.

"Baiklah liz jika kau tak mau berbicara padaku" ucapku sambil bangkit dari posisi dudukku. Tidak aku tidak pergi. Aku naik ke kursi dan berdiri. Entahlah aku punya ide. Tapi cukup ya membuatku membuang semua perasaan malu yang aku punya. 'Bukan saatnya jadi pemalu sekarang zayn' batinku menyemangati.

"Semuanya aku mohon perhatian kalian" ucapku berteriak. Dan kini semua mata tertuju padaku. Termasuk Liza. Mungkin dia sedang menerka-nerka apa yang akan aku lakukan.

"Liz, aku mencintaimu. Maukah kau jadi kekasihku" ucapku sambil menatapnya.

"Zayn, kumohon kau turun zayn" ucap liza kesal. Terdengar suara riuh orang2 di seisi restoran. Aku hanya tersenyum.

"Aku tak mau turun sebelum kau menjawab pertanyaanku Liz" ucapku tegas

"Ya ya terima.. Terima" terdengar suara org2 sesisi ruangan. Kulihat Liza semakin tak karuan, mukanya memerah. Dia malu kurasa

"Bagaimana Liz?" Aku menyeringai

"Baik, akan kujawab, tapi kau turun dulu" ucap liza panik

"Tidak aku tak mau turun, jawab sekarang liz kumohon" ucapku lirih. Restoran masih sangat ramai. Akhirnya Liza menyerah. Yes!

"Baik, ya aku mau zayn, sekarang turunlah" ucapnya pelan

"Apa liz aku tak dengar?" Ucapku dengan nada menggoda

"Iya aku mau, zayn" ulangnya

Dan seisi restoran bersorak. Aku turun dari kursi dan memeluknya.

"Terimakasih liz, maafkan aku" ucapku pelan

"Ya, maafkan aku juga" jawabnya

Kami berdua tersenyum. Dan aku mencium kening gadis yang sekarang sudah resmi jadi pacarku.

Tak lama kemudian shine dan louis muncul

"Yeaaah, salah pahamnya sudah berakhir eh?" Ucap louis meledek

"Menurutmu?" Tanya liza sambil tersenyum.

"Selamat ya kalian" ucap shine senang

"Eh kak, aku tak tau kau bisa melakukan hal itu, kau kan orang nya sangat pemalu" lanjutnya sambil menyiku lenganku. Aku hanya tersenyum malu menanggapi kalimatnya.

Malam ini adalah malam terbaik dalam hidupku, ya walau harus mengorbankan semua perasaan maluku. Kadang jadi orang yang tak punya malu menyenangkan juga ya. Hahaha

Normal POV

Liburan natal dan tahun baru, sangat menyenangkan bagi tiga pasangan muda ini. Mereka pergi berlibur ke dubai, di pulau pribadi milik zayn. Ya sekalian bertemu kawan lama. Liam. Sekarang dia sudah punya pendamping. Cantik. namanya Rose. Seorang dokter. Liam bertemu saat dia mengantar aunt ke rumah sakit. Rose dokter yang bertugas mengobati neneknya. Dan yaa, dia jatuh cinta pada gadis itu.

Liam-Rose ikut berlibur bersama Zayn-Liza, Niall-Shine, dan Louis-Elena. The best holiday ever.

"Rasanya, waktu berjalan cepat sekali ya" ucap zayn sambil menatap api unggun. Kemudian dia merangkul Liza. Liza tersenyum menatap zayn

Mereka sedang mengobrol di depan cottage mereka, sambil menatap lautan luas.

"Sangat cepat, aku saja masih tak percaya bahwa sebentar lagi aku akan jadi seoarang ayah. Terimakasih babe" ucap louis lalu dia mencium kening elena.

"Ya samasama" jawab elena sambil tersenyum

"Rasanya baru kemarin kita salah paham ya brother" ucap niall sambil menepuk bahu Liam yang duduk disampingnya.

"Maaf ya babe" lalu pandangannya beralih ke shine dan merangkul gadisnya itu

"Ya, semua kesalah pahaman itu konyol sekali rasanya. Rose saja tak berhenti tertawa mendengar ceritaku. Bodoh sekali orang yang sama tapi tak ada yang sadar" liam terkekeh, dan dia pun merangkul Rose yang sedang tertawa pelan.

"Kapan kalian menyusulku" tanya louis dengan nada bercanda

"Menyusul kemana? Pindah ke doncaster? Tidak-tidak aku masih mau di London" ucap niall polos. Shine hanya geleng-geleng sambil menghela nafas. Yang lain hanya tertawa melihat tingkahnya

"Bukan itu bodoh" ucap lou sambil melemparkan kerikil kepada niall

"Sakit louis. Lalu apa?" Tanya niall heran.

"Dosa apa aku tuhan akan punya adik ipar sepolos ini" ucap zayn dengan nada pura2 kecewa. Yang lain tertawa keras.

"Zayn" ucap shine sambil melotot

"Oke oke, maaf" ucap zayn sambil mengangkat kedua tangannya dan dia masih tertawa

"Babe, kau tak apa-apa kan?" Tanya niall pada shine.

"Apanya yang kenapa? Santai saja" ucap shine sambil tersenyum

"Kau belum menjawab pertanyaanku lou" ucap niall

"Ya, jadi kapan kau akan menyusulku menikah niall james horan pemuda blonde dari irlandia yang mempunya mata berwarna biru?" Tanya louis dengan nada menggoda. Yang lain tertawa mendengar ucapan louis

"Secepatnya pastinya. Kau mau kapan babe?" Tanya niall pada shine

"Terserah kau saja" jawab shine sambil tersenyum

"Bagaimana kalau besok? Kau siap?" Ucap niall dengan serius.

"Idioooooooot" ucap Shine sambil tertawa dan mencubit kedua pipi pacarnya ini.

"Nak, kalau kau lahir nanti jangan bersikap seperti paman mu ini ya, ayah pasti akan cepat mati jika tingkah lakumu seperti dia" ucap lou sambil menunjuk niall dan mengelus perut elena. Niall mendengus kesal.

"Apapun keadaanmu aku akan selalu mencintaimu babe" ucap shine sambil memeluk niall

"Tuhan memang maha adil teman-teman" ucapnya sumringah. Yang lain kembali mentertawakannya.


aaaaaa akhirnya selesai jugaaaaa

Sinthia gue suka ff lu

*di jitak sinthia*

reviewnya ya guys :D