-The Another Black: GOSSIP TIME-

Hosted by Korra Gerrard-Black and Collin Littlesea

.

Disclaimer: Stephenie Meyer owns Twilight Saga, background, and its characters. I only own the OCs, few characters' development, and background for The Another Black.

Warning: Contains the story's behind the scenes, deleted scenes, A LOT OF GOSSIPS, OC, IC, spoilers, and omake(s).

.


.

Take 345. One… Two… Three… Camera rolling… ACTION!

"Salam Biang Gosiiiiip…"

"Perkenalkan. Aku Collin Littlesea," ucap seorang pemuda 18 tahun berambut ala Justin Bieber versi Quileute, yang memakai busana kebangsaannya: kemeja merah kotak-kotak.

"Dan aku sepupunya yang manis, Coraline Gerrard," sambung seorang gadis 16 tahun berambut boyish cut, dengan tubuh tak lebih dari 160 cm berbalut jaket tebal berbulu-bulu dan syal motif paisley. "Panggil aku Korra."

"Di sini kami akan membawakan satu infotainment terbaru seputar Behind The Scene salah satu fanfiction kisah yang telah melegenda… Twilight Saga!"

"Sudah tahu fanfiction karya ksatriabawangmerah—yup, dia bersikukuh namanya seluruhnya ditulis dalam huruf kecil tanpa jeda—yang berjudul The Another Black, Saudara-saudara?" ucap si gadis seraya mengedip sok-imut. "Jika tidak, silakan cek di akun penulis cerita ini… Tak terasa cerita itu sudah berjalan selama 8 bulan! Serinya sudah sampai episode 77, lho… Oh, tunggu sebentar," ia tampak serius dengan mikrofonnya dan mengangguk-angguk. "Ralat, Pemirsa. Baru saja ada kabar dari informan kami yang terpercaya, kisah itu baru saja update. Jadi 78 chapter sekarang."

"78? Wooowww... Memangnya masih ada yang mau baca?"

"Ajaibnya sih, iya... Padahal tadinya diniatkan cuma 30 chapter, lho..."

"Ya, terima kasih atas infonya, Saudari Korra. Itu sedikit iklan dari sponsor halaman yang tengah Anda baca ini. Jadi, mengikuti kesuksesan cerita The Another Black dan side-story-nya, the Legendiary of Korra, di mana sepupuku Korra yang sekarang berdiri di sampingku ini menjadi tokoh utamanya…"

"Atau ketidaksuksesan, tepatnya, Saudara Collin," potong si gadis, "berhubung sudah hampir tamat dan reviewnya masih x=2n…"

"Oke, cukup curhatnya, Saudari Korra. Bukan salah reader kalau yang mereview sedikit... Itu si penulis harusnya berterima kasih sudah ada yang mau membaca tulisannya yang super-panjang dan ribet. Bayangkan, belakangan per chapternya saja sudah di atas angka 7 ribuan... Hiiii... Sudah begitu, yang mereview panjang-panjang dan oke, pula, sampai sang penulis senang membacanya berulang-ulang sambil ketawa sendiri sampai adiknya saja mulai mempertanyakan kewarasannya. Pokoknya tepuk tangan untuk reader dan reviewer."

"Ya Cole, kau benar... Tepuk tangan semuanyaaa..."

Plok plok plok...

"Fiuh... Astaga, aku tak pernah menduga kau begitu bijaksana, Cole...," senyum Korra seraya mengerling.

"Oya?" Collin langsung saja melayang dipuja sedikit saja. Matanya langsung bersinar-sinar cemerlang. "Jadi kau mau pacaran denganku?"

"Eh? Aku kan tidak bilang begitu... Aku sudah bertunangan, ingat?"

"Oh ya...," pemuda itu langsung muram. "Maaf. Ehm," dehemnya, berusaha mengembalikan konsentrasi kembali pada tugasnya. "Jadi, Pemirsa," dalam sedetik ia sudah kembali bergaya sok-cool, "menyusul kisah tersebut, kali ini sang penulis—yang gilanya sedang kambuh menyusul stress berkelanjutan menghadapi deadline perbaikan tesis yang sudah pasti takkan dapat A—memaksa kami menjadi host untuk infotainment show terbaru, bertajuk…"

Eng ing eng…. —musik latar masuk—

"THE ANOTHER BLACK: GOSSIP TIME!"

"Langsung dibawakan dari balik hutan hujan gelap Semenanjung Olympic dengan tudung pohon-pohonnya yang tak menyisakan secercah pun cahaya masuk…"

"Hutan mengerikan, penuh misteri tersembunyi di mana kekuatan supranatural bersemayam…"

"Wilayah yang disatroni vampir-vampir haus darah dan dijaga para serigala jadi-jadian yang keren lagi menawan… Dengan pemimpinnya, si Jacob Black yang lusuh karena jarang mandi dan kebanyakan main oli…"

"Sekali lagi, kami persembahkan…"

Kedua host acara yang baru kali ini berakting di depan kamera itu memasang pose paling oke sejagat raya—atau begitu menurut mereka—dan berseru bersamaan.

—Musik latar kembali masuk—

"GOSSIP TIME…!"

Setelah pasang pose selama lima detik, keduanya langsung kembali ke gaya profesional bak presenter gosip manapun, dan melanjutkan baris script yang sudah disiapkan sang produser, Seth Clearwater, di bawah arahan sutradara dan sang kameramen, Quil Ateara IV dan Embry Call.

"Nah, Saudari Korra," ucap sang pemuda. "Jadi apa yang akan kita bicarakan di sini?"

"Oh, hal-hal menyenangkan, Saudara Collin," sambut si gadis, kembali menghadap kamera. "Di sini kami akan membahas beragam kisah di balik pembuatan cerita tersebut, termasuk plot awal, cerita-cerita yang tidak jadi dimasukkan, spoiler—huh, seolah ada yang mau tahu saja…"

"Keseharian para karakter dengan dunia bodohnya…"

"Dan tentu saja: omake!"

"Menyenangkan, kan?"

"Ya, tentu saja. Seandainya saja kisah infotainment ini tak lantas jadi ajang curhat si penulis…," si gadis menghela napas berat.

"Atau malah dihentikan, entah karena penulisnya kebingungan dengan utang multichapternya yang kian menumpuk, atau karena kisah kita ini dihujat massa…"

Mengikuti Korra, Collin pun menghela napas berat.

Tak hendak lama-lama terpuruk, Korra, yang selalu 'cerah ceria dan bersinar bak bunga matahari'—menurut Collin, tentu saja—, akhirnya kembali pada moodnya semula. Ia pun mulai mencerocos dengan mata berbinar-binar, "Anyway, kami sebagai host akan berusaha menyajikannya sebaik mungkin… supaya tidak dipecat, tentu saja. Karena kalau kami dipecat, percayalah kalian tidak akan menyukai host pengganti kami yang sudah disediakan oleh tunanganku sang produser…"

"Ya, siapa lagi kalau bukan Jigoku Shoujo: Kuroi 'Sadako' Kanna…"

"…Yang bahkan tidak bisa bicara itu…"

"…Dan sang mantan Alfa, atau lebih tepatnya lagi Alfa pengkhianat, Samuel 'Medusa' Uley alias Sam The Zordon—yang lebih mirip Terminator daripada Don Juan seperti banyak tergambar dalam benak para fans…," komentar Collin tidak penting.

"Atau mungkin Frankenstein…," tambah Korra.

"Percayalah, nanti acara infotainment ini bakal jadi acara horor…"

Keduanya bergidik.

"Jadi," Korra berdehem-dehem. "Berhubung menurut Guideline FFn tempat cerita ini bernaung, tidak boleh ada interview tokoh dan formatnya tidak boleh screenplay—seolah kami tahu saja seperti apa yang judulnya screenplay itu—kami akan membawakannya dalam format gosip. Lengkap dengan potongan adegan dan komentar…"

"Malah lebih bagus bukan, Saudari Korra? Kita bisa seenaknya memelintir fakta…"

"Benar..."

"HUAHAHAHAHAHAHAHAAHAAAA~!" Keduanya mengakak bak setan neraka.

Setelah tertawa selama sekitar 15 detik dan sang sutradara mulai memelototi mereka, Korra akhirnya berdehem-dehem lagi. "Jadi apa yang Anda, para Pemirsa yang budiman, saksikan di sini, mungkin sekali tidak 100% benar… Jangan kata menurut Tante Stephie, menurut cerita fanfiksinya pun… Aduh! Cole, kenapa kau memukulku?"

"Hush, bagian itu kan harus dirahasiakan, Korra… Ingat, ini gosip. Dan menurut peraturan gosip, kita harus membuat kejadian serealistis mungkin supaya pihak-pihak tertentu tidak sadar itu gosip dan menerimanya sebagai kebenaran."

"Oh ya, aku lupa… Maafkan aku, Saudara Collin."

Collin kembali berdehem. "Jadi di episode awal ini, kami akan membicarakan mengenai para pemeran. Dimulai dari tokoh utama…"

"Yakni aku, Cora…"

"Yakni sang Alfa, Jacob Black!"

Korra langsung berpaling begitu cepat pada sepupunya, mendelik sebal.

"Apa katamu, Cole? Pemeran utama cerita ini aku, aku!"

"Kau kan OC, Korra… Maaf saja, OC tidak bisa jadi pemeran utama…"

"Ugh, peraturan dari mana itu?"

"Ada di FFn World. Di Infantrum juga. Sering dibahas, tahu. Bahkan ada perdebatan tentang itu juga. Sudahlah, namamu bahkan tidak ada di daftar pemeran di kotak summary…"

"Ugh. Itu sama sekali tidak adil. Semenyebalkan apapun aku dan betapapun aku tidak disukai, aku kan karakter yang mempengaruhi keseluruhan cerita…"

"Ya, tapi kau tahu, Korra? Dunia memang tak adil, atau tepatnya lagi penulis cerita ini memang tidak adil. Kalau adil, sudah jelas kau akan lebih memilih aku daripada si Raja Neraka."

Penyebutan julukan itu membuat Korra menghentak-hentakkan kaki dengan kesal. "Collin~!" serunya. "Itu tidak ada hubungannya!"

Tak mempedulikan gadis kecil itu yang tengah merajuk, Collin menghadap kamera dan melanjutkan script bagiannya.

"Jadi… Kita mulai saja dengan perkenalan mengenai karakter Jacob Black… Ini dia liputannya…"

Yak… CUT!

.

Intro music

~THE GOSSIP TIME!~

.

Eps 1 (Percobaan). JACOB BLACK

Muncul tayangan mengenai seorang pemuda bertubuh tegap bak atlit rugby, berkulit perunggu keemasan, dengan rambut cepak yang poninya sedikit di-Tintin. Ia berlari-lari hanya dengan celana buntung, memamerkan otot kekarnya.

"Ya, inilah Jacob Ephraim Black, alias Jacob Black II," terdengar suara narator yang tak lain tak bukan adalah Collin Littlesea. "Yang Mulia Paduka Alfa The Almighty, yang terkenal dengan kalimat khas kasualnya yang sumpah tidak penting, 'Tentu, tentu…'," ia menirukan suara Jacob dengan nada sangat menyebalkan.

"Tunggu sebentar, Saudara Collin," potong narator kedua yang tak lain tak bukan adalah Korra Gerrard. Rupanya dia sudah berhasil mengatasi kekesalannya barusan—atau tepatnya terpaksa berdamai setelah sang tunangan merayunya dibarengi ancaman akan dicopot dari posisi host—dan memilih bersikap profesional. "Kenapa namanya Jacob Black II?"

"Karena nama Jacob Black sebenarnya sudah dipakai Tante Stephie untuk moyangnya, kakek Ephraim Black. Di cerita ini, Jacob Black I adalah nama yang dipakai oleh seorang kepala suku, How-yak II, setelah ia naik takhta. Pada masanya, sekitar akhir abad ke-19, memang sedang ada gerakan Anglikanisasi—entah apa istilah ini benar—pada nama-nama asli suku Quileute, meminjam nama yang ada di Bibel."

"Oooo…"

"Nah, karena keluarga How-yak menuntut pembelaan atas salah satu anggota keluarganya, inang Kierra yang terakhir, Shi'pa, dan secara turun-temurun mengusung namanya, jadilah mereka mengambil nama keluarga 'Black'. 'Shi'pa' memang kata bahasa Quileute yang berarti 'hitam'."

"Tunggu, Saudara Collin. Patutkah kita jelaskan siapa Kierra?"

"Itu ada waktunya nanti, Saudari Korra," ujar Collin, "yah, itu kalau penulisnya memang berniat melanjutkan yang ini, sih… Soalnya kalau tidak, rasanya cerita ini bakal cuma jadi One-shot…"

"Haaaah~?! Artinya aku tidak akan muncul, dong?"

"Ya, itu mungkin tergantung mood, dan dukungan Pemirsa, tentu," Collin meniru kedipan maut Justin Bieber, untuk kemudian kembali ke topik tatkala jelas kedipannya malah membuat udara di sekitar mereka mendingin drastis. "Nah, Pemirsa, Anda semua pasti sudah tahu mengapa Jacob bisa jadi Alfa, kan? Ya, itu karena darahnya. Ia adalah serigala jantan pertama dari galur Black. Kakek buyutnya, Ephraim, adalah serigala Alfa jantan dari kawanan terakhir, dan Jacob menyandang darah Black dari putranya, kakek Jacob, William Black Sr. Berhubung suku kami menganut pola patrilineal, karena aku lahir dari putri William Sr., Connie, dan bukan putranya, aku hanya menempati posisi ketiga dalam hierarki putra mahkota."

"Setelah aku, tentu," sambung Korra. "Meski perempuan, aku menempati posisi kedua karena darah Black-ku berasal dari dua sisi. Ibuku itu sepupu ayah Jacob… Yeah, kalau aku berubah di dalam La Push…"

"Yeah, Jacob cuma bisa jadi Alfa karena kedua kakaknya perempuan dan tidak berubah…"

"Kalaupun berubah, dengan skema patriarki ini, mungkin Jacob tetap jadi Alfa…," tukas Korra.

"Kita tidak tahu itu, Korra. Kan urusan pewarisan ini sudah tidak valid lagi semenjak terbukti perempuan pun bisa berubah…"

"Sudahlah. Pusing kalau membicarakan hierarki. Lebih baik kita lanjut ke topik selanjutnya, Cole…"

"Oh ya, tentu," Collin kembali ke layar. "Sekarang kita saksikan keseharian seorang Jacob Black." Seketika muncul tayangan mengenai seekor serigala berbulu merah kecoklatan bertampang sangar yang berlari menembus pepohonan. "Setiap malam ia begadang, keluyuran di hutan dalam wujud serigala merah raksasa. Selalu mengaku bahwa ialah pelindung La Push, bertindak sebagai Alfa kawanan Quileute, padahal nyatanya hobinya lari-lari sambil berpikir tanpa juntrungan. Kalau sudah mendekati fajar, sembunyi-sembunyi dari perhatian orang lain, ia akan kembali ke rumah dan tidur sampai pagi."

"Bukan pagi, tapi 'siang', Cole," koreksi Korra. "Ya, di kamus seorang Jacob Black, tidak ada yang judulnya bangun kalau belum jam 11. Malas membuat sarapan. Bikin telur ceplok saja gosong melulu. Kalau tidak ada aku, adiknya yang manis, sudah jelas Dad cuma akan makan sereal dan sosis-penuh-bahan-pengawet dan makanan-kaleng-tidak-sehat setiap hari… Sudah begitu, biar kata aku membela-belakan diri bangun jam 6 untuk membuat sarapan, ia masih saja tidak pernah mengucapkan terima kasih," katanya dengan sedikit sirat dendam. "Tidak. Satu. Kalipun."

Ia mendengus, agak kesal.

Collin berdehem. "Biar begitu, ia Alfa yang baik, sebetulnya… Paling kuat di kawanan."

"Dan mungkin kakak yang baik juga," Korra mengakui setengah hati. "Aku tidak tahu sih dia sayang padaku atau tidak. Yang jelas ia sayang pada ayah kami, William Black Jr. Setelah ibunya meninggal, dia yang terus merawat Dad sebelum aku tiba di La Push… Yang jelas sih, di rumah ia yang mengurus semua urusan rumah tangga mulai dari bersih-bersih hingga mencuci. Aku cuma kebagian memasak."

Keduanya diam sejenak.

"Oke, kita potong adegan melankolisnya dan lihat apa yang dilakukan Jacob Black sehari-hari."

Di layar besar muncul tayangan Jacob sedang melakukan rutinitas biasa. Bangun tidur, mandi, makan… lantas menyibukkan diri di garasi di bawah tubuh Volkswagen Rabbit kesayangannya.

"Ya, jadi itulah kesehariannya. Membosankan, bukan? Pantas saja ia sering uring-uringan," komentar Collin.

"Dan patut dicatat, Saudara-saudara. Sarapan favoritnya itu waffle dengan saus maple. Buatanku. Aku. Aku," Korra bersikukuh meminta perhatian, sampai mendekat ke kamera segala hingga mukanya memonopoli layar.

"Ya, ya, Korra, semua juga tahu itu," sepupunya menengahi, menarik Korra kembali ke set. "Dan mobil kesayangannya? Volswagen Rabbit keluaran tahun 1980-an. Sudah jadi bangkai waktu Uncle Bill menggereknya dari tempat pembuangan mobil sewaktu Jacob berusia 15. Sam dan ayahku, Kevin, mengajarinya beberapa teknik montir supaya ia tidak keluyuran seperti umumnya remaja nakal seumurnya dan mau menjagai ayahnya. Kau tahu, pamanku kena komplikasi diabetes dan asam urat sehingga tidak bisa ke mana-mana kalau tidak pakai kursi roda…"

"Bukan berarti dia mau benar-benar peduli, sih…," Korra kembali menggerutu. "Buktinya, makanan di rumah selalu tinggi kolesterol…"

"Sudahlah, Korra… Harus diakui kakakmu itu menunggui ayahmu selama 13 tahun. 13 tahun, lho. Tidak seperti pemuda seumurnya, ia tidak lantas pergi dari rumah, padahal imprintnya tinggal jauh di Alaska. Itu pastinya tidak mudah, Jacob harus berjuang berbulan-bulan mengatasi sindrom 'rindu imprint' sampai akhirnya dengan tekad kuat, ia bisa mengatasinya. Tentu saja dengan pengalaman itu, akhirnya ia bisa membantu Quil mengatasi masalah jaraknya dengan Claire. Dan ia cowok, walau bagaimanapun. Tentu saja ia tidak begitu perhatian urusan detail kecil-kecil…"

"Mana bisa itu jadi alasan… Lagipula kenapa sih, Collin, kau membela Jacob? Bukannya kau benci padanya?"

"Ya, memang…," Collin mengakui malu-malu. "Jacob itu Maharaja Bully," ia menunjuk layar yang menampilkan Jacob tengah seenaknya mengobral kuasanya menurunkan Titah Alfa aneh-aneh untuk mendisiplinkan kawanan. "Aku bahkan tidak mengerti mengapa mereka bilang ia mirip Taylor Lautner yang super-hot bin guanteng sejagat raya. Asli, itu kecakepan… Tapi karena aku sudah dikontrak, aku tidak bisa menjatuhkannya terus-terusan, kan? Nanti dibilang character bashing dan produser sial itu akan memecatku. Kau tahu, ketiga bos kita di situ sahabat Jacob," ia menatap rawan ke seberang set, tempat tiga penanggungjawab acara tengah mendelik padanya.

"Oh, ya…," Korra ikut nyengir sok-tidak-bersalah.

Tayangan di layar besar berganti, memunculkan gambar rumah kayu keluarga Black dengan cat merahnya.

"Nah, Saudara-saudara," tunjuk Korra. "Bangunan mirip kandang peternakan ini adalah rumah tempat keluarga kami tinggal. Kecil, memang, maklum keadaan ekonomi kami di bawah standar, tapi lumayan nyaman dengan halaman yang luas."

"Patut disebutkan, dikelilingi hutan. Jadi kami bisa mendapatkan akses yang mudah kalau mau berubah," Collin menambahkan dengan bangga.

"Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa seorang Kepala Suku tinggal di rumah paling jelek di La Push… Itu karena … mmm," Korra menekur, berpaling pada sepupunya, "alasannya kenapa ya, Cole?"

Yang ditanya cuma mengendikkan bahu.

"Ummm… Itu karena … Tante Stephie yang membuatnya seperti itu…"

Siiiing—

"Ehm, ehm, pokoknya intinya rumah itu lumayan cozy… Ya kan, Korra?"

"Ya, lumayanlah… Mengingat aku dulu hidup berpindah-pindah dan seringkali tinggal di gubuk reyot di suku manapun yang kami singgahi. Bahkan kata ibuku, kami dulu pernah tinggal di emperan toko dan rumah tunawisma, waktu aku baru lahir dan ibuku tak punya uang untuk menyewa apartemen karena harus membayar hutang persalinan…"

"Korra, fokus! Kita di sini mau membicarakan Jacob. Kau masih tunggu giliran nanti."

"Oh, ya… Maaf sekali lagi, Cole… Eh, maafkan aku, Pemirsa…"

"Lalu," Collin segera beranjak ke poin selanjutnya, "Anda bisa melihat hiasan ukiran yang menggantung di mana-mana di rumah Black, Pemirsa? Itu adalah ukiran khas suku kami. Dan patut kukatakan dengan bangga, kalau dalam hal ini aku rela mengakuinya, semua ukiran itu buatan tangan Jacob."

"Ya. Keluarga Black memang punya tangan-tangan seni…," senyum Korra. "Kecuali aku, tentu," ia menambahkan dengan agak muram. "Sayangnya kakakku lebih suka main otomotif daripada membuat ukiran. Ugh. Apa dia tidak tahu mesin menjajah manusia? Pemborosan sumber daya alam tak terbaharukan…"

Collin lekas mengambil alih giliran sebelum Korra sudah mulai mencerocos dengan konsep green-life-nya yang sudah melegenda. "Pemirsa, rasanya cukup perkenalan mengenai tokoh Jacob Black. Sudah terlalu banyak, malah. Kini kita masuk ke sesi Deleted Scene."

"Setelah pariwara berikut ini, tentu…"

.

-slot iklan-

.

.

.

Intro music

~THE GOSSIP TIME!~

.

"Ta daaaa… Kembali bersama Collin…"

"Dan Korra…"

"Dalam acara…"

Eng ing eng… "THE GOSSIP TIME!"

"Nah, Saudara Collin," Korra berputar menghadap sepupunya dengan gaya sok-anggun yang tidak pernah dilakukannya seumur hidup. "Jadi apa agenda kita setelah ini?" tanyanya di bawah mata Collin yang tak berkedip.

"Ya... A, apa?"

"Acara setelah ini, Cole..."

"Oh, ya... Eh... ehm...," Collin menarik napas beberapa kali untuk kemudian memasang tampangnya yang paling oke di depan kamera. "Sekarang kami akan tampilkan Deleted Scene…"

"Woooowwww…" mata gadis itu membulat berbinar.

"Jadi tayangan yang akan Anda saksikan ini adalah adegan rahasia mengenai apa yang terjadi setelah Jacob mencium Renesmee di observatorium mini Carlisle," jelas Collin.

"Bagi yang belum tahu, adegan ini muncul setelah adegan api unggun, di Chapter 17," tambah Korra dengan gaya centil. "Tidak usah bertanya bagaimana kami mendapatkan adegan ini, yaaa…"

"Oke. Langsung saja. Silakan putar rekamannya…"

.


.

5… 4… 3… 2… 1… 0.

.

Jacob mengerjap tatkala disadarinya apa yang telah ia lakukan. Mencium Renesmee? Yang benar saja!

Apa dia sudah bosan hidup? Tunggu hingga kabar ini sampai ke telinga Edward, atau yang lebih mungkin pikirannya. Dan ia tinggal bersiap-siap hingga Edward menggalang seluruh keluarga Cullen bekerjasama dengan Volturi untuk memberantas habis suku Quileute.

Oh, yeah... Mereka terkutuk!

"Jacob?" bisik gadis itu, memandang heran pada pemuda di hadapannya. Mereka masih terbaring berdekatan di bawah lensa teleskop bintang, namun Jacob bergeser menjauh darinya. Bayangan Jacob yang membeku tampak di retina gadis itu. "Kenapa?"

"Uhm, tidak…," pemuda itu tampak salah tingkah. "Maaf, aku harus pergi…"

"Sekarang? Tapi Emmet dan Jasper belum pulang…"

"Tidak. Justru aku harus pergi sebelum mereka pulang. Maaf Nessie," dan ia bangkit begitu tiba-tiba hingga kepalanya membentur teropong begitu keras. Jika ia bukan serigala, mungkin ia sudah pingsan.

"Jake!" teriak gadis itu khawatir, memperhatikan Jacob yang berusaha bangun sambil mengaduh-aduh dan memaki. "Kau tidak apa-apa?"

"Tidak…," Jacob kembali berusaha bangun, dan lagi-lagi membentur teropong. "Ugh, teropong sialan!" ia menggelinding dari bawah teropong dan bangkit, kemudian menendang teropong itu asal-asalan. Alhasil bukan teropong itu yang penyok, melainkan ia sendiri yang lantas mengaduh-aduh bilang kakinya sakit. Akhirnya, tak urung ia mengerahkan juga kekuatannya—menyiksa teropong itu sampai tak berwujud di bawah teriakan Nessie.

"Jake!" gadis itu tak lagi berseru khawatir, melainkan marah. "Apa kataku? Ibuku bilang tidak boleh memaki! Lagipula apa salah teleskopku?"

"Ugh. Ugh. Ugh. Maaf, Ness."

"Itu punya Carlisle, tahu!" air mata mulai merembang di bola mata coklatnya yang indah. "Dan aku merakitnya susah payah… Hiks, hiks...," kini isak-isak kecil mulai menjelma. "Lihat saja nanti kau akan kulaporkan pada Dad dan Granpa… Huaaaaaaa…," gadis itu mulai menangis. Alhasil Jacob langsung gugup setengah mati dibuatnya.

Bagaimana tidak? Kini ia mulai merasakan efek imprint itu. Dirinya nelangsa melihat gadisnya menangis, dan lebih menderita lagi karena tahu ialah yang menyebabkan tangis itu.

"Ssssh, Renesmee," ia berusaha mendamaikan gadis usia 5 tahun berbadan bongsor itu. Biasanya gadis hibrida itu mudah ditenangkan, Jacob tinggal menggendongnya atau membopongnya berlari-lari ke sana ke mari. Atau malah ia bisa mengajak Renesmee menunggangi punggungnya, berlari menyibak hutan… Tapi kali ini, rupanya tangis Renesmee tak semudah itu mereda.

"Kau jahat, Jakey!" ia mulai memukul-mukul dada pemuda itu. Semaju apapun mental dan otak Renesmee, siapa anak yang takkan marah kalau hasil kerja kerasnya—untuk nampang pula—dirusak oleh orang yang kepadanya ia persembahkan upaya itu?

"Uhm, Ness…"

"Jakey nakal! Badung! Pergi sana! Pergi!"

"Ness, aku minta maaf… Sungguh...," ia hampir berlutut, tapi mendadak berhenti ketika suatu hal tak terduga muncul di hadapan matanya. "Ugh, apa yang kaulakukan?" Jacob membeliak nanar tatkala Nessie dengan kekuatan supernya menyobek logam titanium yang membalut permukaan teropong, dan mulai mengayun-ngayunkannya pada sang imprinter. Tak ayal, sekilas ujung logam itu menyabet lengan Jacob yang berusaha menghindar. Satu sayatan tampak di sana, dan sekilas hidung Nessie mengembang mencium bau darah, tapi rupaya kemarahannya sudah mengemuka sehingga ia tak hendak menjatuhkan keping logam selebar selembar lantai linoleum itu. Masih untung ia tak lantas menerkam Jacob dan mengeringkan darahnya.

Tahu bagaimana efek keping logam berujung tajam itu, apalagi ia tahu kulit Ness tidak kebal seperti vampir, secara instingtif Jacob mengulurkan tangan untuk merampas logam itu. "Turunkan Ness, bahaya!" teriaknya.

Tak diduganya Nessie begitu keras kepala. Astaga, ia kira sifat ini sudah hilang bertahun lalu…

"Tidak mau dengar!" teriak gadis itu, masih mengayun-ngayunkan senjatanya. "Jakey anak bandel! Ness tidak suka anak bandel! Pergiiiii~!"

"Nessie, aku sungguh minta maaf…"

"Pergi kubilaaaaaaaang~!"

Karena tak mau Ness lantas membuat gerakan yang akan menyakiti dirinya sendiri, akhirnya, di bawah ancaman seorang anak lima tahun, Sang Alfa Yang Agung pun mundur perlahan, untuk kemudian melompat kabur dari jendela Carlisle. Masih didengarnya tangis Nessie, dan raungannya karena teleskopnya hancur, juga suara barang-barang jatuh dan pecah terkena amukan gadis itu. Tapi memangnya dia bisa apa? Nessie tidak menginginkannya lagi…

Dan dengan sendu, ia memacu kakinya kembali ke hutan.

.

Tayangan film itu pun selesai dan kedua host menatap bengong ke layar.

"I … itu kok jadi cerita romance-tragedy, sih?" Korra berbisik, masih melongo.

"Tidak tahu…," Collin juga melongo.

"Kan, kan harusnya cerita komedi…"

"Iya…"

"Jadi apa yang harus kita komentari, dong?"

"Tidak tahu…"

—Siiiing…

.

Maaf pemirsa, acara dipotong karena ada kesalahan teknis.

.

.

.

Credit Title

The Another Black: GOSSIP TIME

Host

Collin Littlesea

Coraline Louise Gerrard-Black

Guest

Jacob Ephraim Black

Producer

Seth Harold Clearwater

Director

Quil Ateara IV

Cameraman

Embry Call

Original Story

Stephenie Meyer

Idea and Script

ksatriabawangmerah

.

FFn Showbiz 2013

.


.

Catatan:

Apaan sih gueeee? Nulis fic geje lagiiii?

Maaf Saudara-saudara, lagi stress nih... biasa pelampiasan jadi malah ke sini... hahaha... *tawa setan*

ada yang mau baca ga ya? Ripiu mungkin?