-The Another Black: GOSSIP TIME-

Hosted by Coraline Gerrard-Black and Collin Littlesea

.

Disclaimer: Characters based on Twilight Saga by Stephenie Meyer, excluding OCs

Warning: if you hope for anything serious or funny, better hit the back button now…

.


.

Take 249. One… Two… Three… Camera Rolling… ACTION!

"Ya, Salam Biang Gossiiiiiiiipppp…."

"Jumpa lagi dengan kami, Pemirsa. Aku Korra."

"Dan aku Collin…"

"Dalam acara kesayangan kami…"

"Karena kami tak berani menyatakan 'kita'…"

Sepasang cowok dan cewek sok imut itu merentangkan tangan lebar-lebar dengan senyum empat jari ala covergirl dan coverboy majalah remaja era 90-an, menunggu jingle musik latar masuk lantas berseru ceria, "THE GOSSIP TIME!"

Setelah menahan pose itu selama sekitar 5 detik, akhirnya mereka kembali ke pose normal. Tentu saja dengan wajah berseri-seri.

"Saudara Collin," si cewek nyaris melompat-lompat di tempat saking girangnya. "Ternyata kita bisa juga syuting episode 2 ya…"

"Ya, karena kemarin ada yang minta lanjut…," Collin tak kalah girang. "Meski sedikit, si penulis sudah senang karena dia aslinya tidak mengira ada yang bakal baca. Ditambah lagi dia sedang di langit ketujuh karena deadline perbaikan tesisnya diundur hingga Jumat."

"Yah, kita lihat saja apa dia berhasil betulan menyelesaikan perbaikan itu atau malah keasyikan menulis fanfic, seperti yang sudah-sudah," ujar Korra skeptis. "Kalau kasusnya yang kedua, bisa jadi nanti dia tambah stress…"

"Dan dia mulai curhat sendiri lagi… Bisa-bisa nanti cerita ini dibilang IC dan bakal ada flame muncul…"

"Artinya cerita ini bakal dihentikan… Tak diduga ternyata jangka waktu hidup kita digantungkan padanya bocah tidak jelas itu ya…"

Mereka berdua menunduk lesu dengan wajah muram.

"Sudahlah, Saudari Korra…," akhirnya Collin mengangkat kepala. "Penulis cerita ini kan sudah setengah sinting. Toh kita muncul di sini juga sebagai pelampiasan, jadi kita cuek sajalah dan lakukan tugas kita…"

"Ah, ya, benar…" terpengaruh oleh perubahan mood host satunya, Korra pun menyunggingkan senyum lebar.

"Omong-omong, terima kasih untuk review episode lalu…," ucap Collin, kembali menghadap kamera. "Nah, patut diingat, Pemirsa. Cerita ini ditulis dalam Bahasa Indonesia, dibuat untuk konsumsi orang Indonesia. Namun, berhubung kami syuting di La Push, yang otomatis menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama di samping Quileute, sejujurnya ada beberapa istilah yang … yeah … agak asing dan sulit diterjemahkan… Bahkan walaupun aku sudah mencarinya di Google Translate…"

"Memangnya istilah apa? Sini, sini, Bahasa Indonesia sih keciiiiil…!" menanggapi ucapannya, sang sepupu menepuk dada dengan pongah. "Aku kan punya kawanan taklukan di Sumatra. Juga pernah berhubungan dengan kawanan di Kalimantan, Jawa, dan Papua. Jangan kata Bahasa Melayu, aku bisa setidaknya delapan bahasa daerah, lho!"

"Oh ya?" Collin tampak berbinar. "Kemarin ada yang menyebutmu 'alay'. Nah, apa itu artinya?"

"'Alay'?" mata Korra membelalak. "Yang benar?!" entah mengapa air mukanya agak kesal.

"Kau tahu artinya?"

Gadis itu lekas menggeleng. "Tidak, tidak."

"Bohong."

"Betul!"

Meski masih memicing, Collin mengabaikan Korra dan berseru riang ke arah kamera. "Nah, Pemirsa. Aku sudah tahu sepupuku yang sombong ini tidak sepintar yang ia akui, jadi aku sudah melakukan sedikit riset… Memang sulit, tapi akhirnya aku mendapatkan beberapa arti. Dalam Bahasa Turki, 'alay' berarti 'sindiran'. Dalam bahasa Tagalog, ternyata artinya adalah 'pengorbanan' atau 'persembahan'. Ada lagunya, lho, dari Filipina, 'Alay' yang dinyanyikan Kamikazee. Keduanya masih tidak masuk konteks, dan akhirnya setelah sibuk cari sana cari sini, aku menemukan definisi kata itu dari lagu yang dinyanyikan Lolita…"

"Heh?"

"Ya. Jadi itu singkatan, Pemirsa. Artinya adalah 'The Kite Runner' alias 'The Kite Kids'."

"Hah?"

"Yup," pemuda itu menampakkan wajah super-bangga seolah telah memecahkan misteri Segitiga Bermuda. "'Alay' adalah kependekan dari 'Anak Layangan' alias 'Bocah Tukang Main Layang-layang…' Aku sudah mengunduh lagunya dan menyerahkannya pada Ben, yang mengurus backsound, untuk ditampilkan di sini. Ya, silakan, Saudara Ben. Muuusikkkk~!"

Terdengar musik latar lagu pop-dangdut. Dengan riang, Collin menari mengikuti irama lagu seraya melantunkan sebait lirik yang sudah ia hapalkan mati-matian.

"Alay, anak layangan… Nongkrong pinggir jalan, bareng teman-teman… Biar keliatan anak pergaulan, yang doyan kelayapan…"

Korra menganga menatap sepupunya, yang kini mulai asyik sendiri, memutar-mutarkan jari telunjuk di atas kepala sambil menggoyang-goyangkan panggul ke kanan dan ke kiri. Matanya terpejam penuh penghayatan, sementara bibirnya terus merapalkan baris reff.

"Alay, kalo ngomong lebay, dasar anak jablay, dilihatnya jijay… Alay, orang bilang anak layangan… Kampungan, gayanya sok-sokan…"

"Stop!" seru Korra mendadak, menghentikan Collin tatkala bocah itu tengah berputar-putar bak gasing.

"Kenapa sih, Korra?" protes sepupunya. "Memangnya tarianku jelek?"

"Bukan jelek, sih… Ya, ya, kau memang eksotis dan jago tarian tradisional. Tapi entah mengapa aku memikirkan para pemirsa. Kasihan mereka..."

"Lho?"

"Yeah, berhubung kau dibilang mirip kakakku, dan kakakku mirip Taylor Lautner… Lantas ponimu itu meniru rambut Justin Bieber… Bayangkan saja persilangan TL dan JB menari dangdut koplo…"

Gadis itu tampak hanyut selama dua detik lantas merinding bak anak anjing habis tercebur ke got, di bawah mata memicing Collin yang memandang sepupunya seakan gadis itu sudah setengah sinting atau apa. Yang nyaris benar, kalau mau jujur.

"Hiiii, pokoknya jangan lakukan itu lagi!" perintah Korra seraya mengibas-ngibas, berusaha mengenyahkan bayangan mengerikan dari kepalanya. Sebelum Collin protes, ia sudah bertanya, "Lagipula, memangnya kau tahu apa artinya?"

"Tentu!" angguk Collin bangga, lantas mengeluarkan selembar kertas dari saku. "Dengar, ya… Ehm. Ehm. Ini terjemahan dari The Almighty Google:

Alay. Kids Kites.

Roadside hanging out with friends.

Let me look socially children. Are fond of wandering.

.

Alay, style kayak artist, quasi-celebrities, tacky-tacky abis

Ouch unclean so narcisstic

Alay don't lebay please

.

Alay if talking lebay

Basic child jablay, saw jijay

Alay, people say kids kites, countrified style dissimulation…"

Korra makin menganga.

"Me, memang kau bisa mengerti terjemahan sekacau itu?"

"Sebenarnya tidak, sih…," Collin cengengesan. "Aku meraba-raba kasar, tapi makin lama makin tidak mengerti… Maksudnya apa sih? 'Layang-layang milik anak kecil'? Apa maksudnya soal bocah yang suka menerbangkan layang-layang, hang-out bersama teman-temannya, jadi seniman kayak, hidup tidak bersih dan narsis, pura-pura… eh, gaya kampungan? Atau maksudnya bergaya bak penduduk desa?"

Korra menepuk jidat. "Collin~" erangnya putus asa. "Kan semua juga tahu, terjemahan instan Google tidak bisa dipercaya…"

"Ya, makanya itu aku ingin bertanya. Misalnya, apa arti 'jijay', 'lebay', dan 'jablay'? Lalu apa hubungannya denganmu hingga kau dibilang 'pengejar layang-layang'? Memangnya kau suka main layang-layang?"

"Oh Tuhan… Sudah, Cole, pokoknya kau tidak perlu tahu…"

"Tapi aku penasaran…"

"Aaaaah, tidak, tidak. Lupakan itu! Itu bahasa slank, kau takkan bisa dapatkan artinya di kamus manapun."

"Artinya kau tahu kan?" tembak Collin, yang sesaat membuat Korra seakan kebakaran jenggot, kalau ia punya.

"Ugh," merasa kalah, gadis itu memalingkan muka. "Tahu pun takkan kuberi tahu," tegasnya.

Makin berdeterminasi dengan penolakan sepupunya yang jelas menyembunyikan sesuatu, Collin terus mencecar. "Pleeeeasssseee…," bujuknya, kini melancarkan jurus jitu puppy-eyes.

"Tidak mempan, Cole!" pelotot Korra kejam.

"Ugh. Kalau sama Seth, kau mau…"

"Jangan mulai deh, Cole… Kau mau aku cabut dari posisi host, biar kau berpasangan dengan Kuroi Kanna?"

Korra yang mendadak menyerang balik dengan ancaman Sadako kontan membuat Collin langsung bergidik. "Tidak, terima kasih," tolaknya cepat.

"Ya sudah, kalau begitu cepat lanjut acaranya!"

"Iya, iya…," gerutu Collin. "Ya sudah, Pemirsa. Rupanya sepupuku ini memang omongnya saja yang besar, dia tidak mau bilang apa artinya pasti karena ia memang tidak tahu. Atau artinya jelek, seperti salah satu frase dalam lagu tadi, ia dikatakan 'tacky' dan 'countrified'."

"Collin!"

"Uhm. Ya, ya, ya… Maaf, maaf," ia berdehem di bawah pelototan Korra. "Oh ya, Pemirsa, perlu kami sampaikan. Kali ini, acaranya akan disiarkan secara LIVE!" serunya ceria.

"Live? Memangnya dananya cukup ya?" si gadis melirik ke arah produser.

"Sudahlah… Yang penting kan kita sudah dikontrak…"

"Yeah, tidak apa-apa sih… Masalahnya dia memberiku cincin tunangan dengan batu diamond palsu karena bilang tidak punya uang, lantas bikin acara live… Itu kan aneh…" si gadis tampak menekur, lantas memandang sinis ke seberang set dengan wajah kejam. Namun sesaat kemudian wajahnya tampak sangat sumringah. "Oh ya, aku baru ingat!" ia menepuk tangan. "Tentu saja tunanganku yang baik akan membuatnya live! Karena ini episode 2! Tahu apa artinya?"

Kendati sudah tidak terkejut lagi dengan perubahan mood Korra yang bagai roller-coaster, Collin agak bingung dengan hubungan antara episode 2, live, dan urusan Seth. "Apa memang?" tanyanya tak mengerti.

"Ini … adalah…," wajah si gadis memonopoli layar, tersenyum sangat lebar seraya menunjuk hidungnya, "… Episode tentang aku!"

"Heh?"

"Ya kan, Cole? Kemarin sudah Jacob, artinya sekarang giliran aku sebagai heroine kisah ini yang dibahas kan yaaaaa?"

"Ummm…"

Tak mempedulikan sikap rekannya yang kentara sekali ragu, si perempuan sudah berjingkrak-jingkrak di tempatnya berdiri.

"Ya kan? Ya kan? Ya kan?" senandungnya. "Aku sudah punya firasat, jadi aku sudah berdandan spesial untuk kesempatan ini!" ia mengumumkan seraya berputar untuk menunjukkan busana barunya: jaket vintage bermotif bunga-bunga dengan hotpants hijau turquoise di atas stoking putih, dilengkapi syal crochet warna cerah. Sepatunya juga berganti, bukan boots coklat seperti biasa. Meski sama-sama boots, kali ini warnanya lebih cerah, sama seperti celananya: turquoise, dengan tali-temali warna oranye. Bahkan kini poni asimetrisnya tampak lebih rapi, jepit rambut bunga matahari tampak bertengger di sana. "Aku bahkan pakai make-up, lho," ia mengerjap-ngerjapkan matanya sok-imut. Tampak jelas, meski tipis-tipis, kali ini ia memakai maskara dan lip-gloss.

"Ummm…" Collin tampak tidak yakin.

"Cantik kan? Cantik kan?"

"Entahlah… Aku sih lebih suka kau dengan dandanan cuek yang agak tomboy seperti biasa…"

Mendengar komentar Collin, gadis itu langsung menggembungkan pipi.

"Jahat…"

"Lho, aku kan bicara sesuai kenyataan… Lagipula kurasa warna itu tidak sesuai untukmu. Kulit seperti kita ini bagusnya pakai warna earthy tone."

"Ugh. Masih mending daripada kau, bajunya begitu terus," ditunjuknya busana Collin. Meski berbeda dari kemarin, tetap saja temanya sama: kemeja merah kotak-kotak. "Memangnya kau mau kampanye di sini? Percuma Cole, Jokowi tidak bakal menjadi gubernur La Push…"

"Siapa lagi itu Jokowi? Sudahlah…," Collin mengibas, tidak peduli dengan ocehan sepupunya. "Lagipula, hari ini kita tidak akan membahas kau. Kita akan membahas para Triad."

"HAAAAHHH~?" gadis itu mengerang. "Kok bisa? Kan aku heroine…"

"Sayangnya, Korra, di The Another Black, kau itu antagonis."

"Antagonis?!" suaranya meninggi. "Aku yang kelimpungan ke sana ke mari berusaha menyelamatkan kalian waktu ada serangan, tahu!"

"Ummm… Tapi sepertinya reader tidak menganggap begitu. Mereka semua kesal padamu karena kau merebut Seth dari Kuroi."

Kening gadis itu berkerut. "Apa-apaan itu?!" serunya marah. "Memangnya kau tak pernah baca fairy tale? Aku Angsa Putih, Kuroi Angsa Hitam. Tentu saja Pangeran Berkuda Putih adalah milikku!"

"'Pangeran Berkuda Putih'? Maksudmu Seth? Ewwwww~!," ia bergidik. "Memang sih dia ke mana-mana pakai Volvo putih, tapi… Iiiiiigh~!" ia kembali memasang tampang jijik. "Lagipula memangnya ada Pangeran Berkuda Putih dalam cerita Swan Lake?"

"Oh, ada saja…"

"Huh, kau itu memang buta, sih, Korra… Apa coba bagusnya Seth? Sudahlah, lepaskan saja dia… Lalu kau bersamaku…"

Korra mendelik.

"Sudahlah, Korra. Hari ini menyenangkan karena kita masih akan membahas para petinggi kawanan." Tanpa mempedulikan Korra yang makin mendelik masam, Collin segera berpaling pada kamera dan berseru riang, "Ya, Pemirsa. Jadi kita langsung saja saksikan tayangan berikut."

.

Intro musik

-THE GOSSIP TIME-

.

Eps 2. SETH CLEARWATER

Di layar besar di belakang mereka tampak gambar segerombolan serigala tengah berdiri di ujung tebing dalam skema segitiga. Yang paling depan adalah seekor serigala merah kecoklatan, diikuti serigala coklat pasir di kanannya dan serigala abu-abu berbintik hitam di kirinya.

"Seperti yang Pemirsa ketahui," terdengar suara Collin, lagi-lagi berperan sebagai narator, "sistem kawanan yang diceritakan dalam The Another Black menganut pola piramida bertingkat ala MLM. Tiap orang mengepalai dua orang di bawahnya dan demikian seterusnya," ia menunjuk layar yang menampilkan bagan organisasi kawanan. "Tante Stephie bilang, sistem itu dibuat untuk mengatasi masalah kepemimpinan. Jika salah satu pemimpin tidak bisa bertugas, seperti sering terjadi, atau bahkan tewas—amit-amit jabang bayi—mereka yang ada di urutan selanjutnya bisa langsung mengambil alih, sehingga tak ada yang namanya kekosongan takhta. Dalam cerita ini, para tim kecil yang dipimpin para Beta Tingkat Dua—salah satunya aku—juga berfungsi sebagai tim patroli. Juga tentu saja mempermudah jaringan informasi dan pertanggungjawaban, kita semua tahu betapa pemalasnya Jacob untuk mengontrol anggota sampai level bawah…"

Gambar di layar besar di belakang mereka berganti, kali tampak gambar tiga orang laki-laki dengan pose agak sangar.

Tak ada suara narasi apapun.

"Pssst, Korra," bisik Collin. "Sekarang giliranmu…"

"Masa bodoh!" Korra rupanya masih kesal dengan adegan sebelumnya, membuang muka dengan tangan bersidekap. Terdengar deheman peringatan dari seberang set, tapi rupanya ia tak peduli.

"Korra, ayolah…" rayu Collin tegang, sesekali mengintip ke arah sutradara dan kameraman yang memelototi mereka.

"Tidak!"

"Tapi kalau kau tidak mau, nanti kau digantikan Kuroi…," ia menunjuk gadis bergaun putih berambut hitam panjang yang tengah duduk di depan meja rias di pojok, menyisir rambut dengan ritme sangat-sangat lambat. Aura gelap nan dingin menguar darinya. Bulu roma Collin langsung merinding.

Lekas ia berpaling pada sepupunya.

"Ayolah, Korra… Aku tak mau dipasangkan dengan hantu Jepang itu… Aku bahkan tak yakin bayangannya ada di cermin!"

Si hantu yang ditunjuk tiba-tiba memutar kursi yang didudukinya dengan gerakan sangat pelan. Anehnya, hanya bagian bawah tubuhnya saja yang kini menghadap kedua host, sedangkan kepalanya masih tetap menghadap cermin.

"HIIIIIIIIIIIII~!" sontak Collin berteriak ngeri, langsung sembunyi di belakang tubuh Korra. "Badannya berputar 180 derajat! 180 derajat!"

Tapi Korra hanya berdecak dan menanggapi dengan kelewat santai untuk ukuran situasi horor itu. "Hush, Cole! Lihat baik-baik! Itu bukan belakang kepala, itu wajahnya saja ditutupi rambut."

Hantu itu menyibak rambutnya. Dan benar saja: di balik tirai panjang hitam itu, Collin melihat hidung, dan bibir, dan… sepasang bola mata beku yang menatapnya dari balik celah sempit…

"HIIII~" ia kembali menyurukkan wajah di balik bahu sepupunya.

"Masa kau takut sama hantu? Katanya kau calon Alfa? Sok berani menjelajah hutan segala?"

"Itu karena Jacob mengataiku 'lembek seperti Seth' kalau aku tidak ikut-ikutan dia. Gengsi, dong... Padahal aku sebenarnya takut sama yang begituan, nyaris kencing di celana kalau lewat tempat gelap…"

"Hah! Lawan vampir kau berani!"

"Vampir kan beda. Badan cling-cling begitu mana bisa menakutkan?"

"Tetap saja! Malu sama badan, dong!"

"Jangan salahkan aku, dong! Salahkan anak buahmu, tuh…," dengan bibir mengerucut Collin menunjuk Kuroi. "Jangan kata aku, Seth saja sudah berapa kali nyaris kena serangan jantung?"

"Ugh! Kalian kawanan raksasa penakut! Memalukan!"

"Makanya, Korra… Kasihanilah aku… Jangan ngambek, please…," rayunya. Sadar Korra masih manyun, ia melancarkan jurus lain, "Eh, kita mau membicarakan Triad, lho."

Penyebutan nama Triad membuat ekspresi gadis itu berubah. "Eh? Artinya kita akan membahas Seth?" tanyanya antusias.

"Tentu. Hahaha, itu artinya aku punya kesempatan menjelek-jelekkan si Raja Setan," Collin membunyikan buku-buku jarinya dengan mata menyala. Tampak dua tanduk merah muncul di kepalanya sementara aura api kegelapan membayang di sekitarnya.

Mendadak, begitu saja, sebuah pukulan melayang ke kepalanya.

"Aduh! Kenapa sih kau, Korra?" protesnya seraya mengusap-usap kepalanya yang benjol. Dilihatnya sang sepupu tengah berkacak pinggang seraya melotot padanya.

"Jangan bicara jelek soal cowokku, Cole!"

"Ugh. Dia kan memang menyebalkan."

"Tapi dia itu produser… Awas nanti kau dipecat."

Meski merinding, apalah Collin jika tidak keras kepala? Ia sudah akan berkomentar tidak terima, namun Korra lebih cepat memonopoli layar.

"Ya, Pemirsa. Itulah para Triad," seru Korra penuh semangat seolah itu kawanannya saja. "Sebutan itu digunakan bagi tiga orang petinggi kawanan, sang Alfa dan dua orang wakilnya, Wakil Sayap Kanan yang disebut Beta dan Wakil Sayap Kiri yang disebut Gamma. Mereka ini berfungsi sebagai penerjemah setiap perintah Jacob, sekaligus memastikan Titahnya dilaksanakan oleh para serigala di level bawah."

"Ya," sambung Collin. "Sebagaimana diketahui, Jacob suka meneriakkan perintah asal-asalan sehingga kami sering protes."

"Padahal sesungguhnya tidak seasal itu…" Korra menyambar. "Kau tahu, kami para Alfa memiliki insting lebih daripada siapapun. Seringkali walau alasan di balik tindakan kami tidak logis, kami merasa harus melakukannya. Agak sulit menyampaikan alasan ini-itu pada anak buah; banyak kepala kadang menyusahkan. Jadi itulah fungsinya Titah, memotong segala urusan debat kusir, sehingga keputusan cepat bisa diambil dan kami tetap bisa bergerak bagai kesatuan."

"Ya," Collin mengangguk berat hati. "Memang pada dasarnya Jacob agak susah, atau malas, untuk mencari dan mengemukakan didaktik yang cukup. Jadilah ia membebankan semua itu pada Seth. Bisa dibilang Seth yang paling bisa memahami Jake luar-dalam."

"Ya dong," tanggap Korra bangga. "Memang Sethie itu lelaki paling hueeeeebaaaaaaaaaaatttt sedunia… Baik, tampan, imut, lembut, ramah, sopan, sudah begitu bijaksana dan bertanggungjawab…" ujarnya subyektif dengan nada menerawang. "Pokoknya dia itu yang paling bisa diandalkan di kawanan!"

Mendengar pujian setinggi langit yang kelewat tidak realistis itu, Collin langsung mendengus ketus. "Apanya? Ya ya, memang harus kuakui dia hebat sebagai wakil pemimpin. Tapi di balik itu, sebenarnya dia cowok tidak tahu diri yang bisanya main belakang… Perebut kecengan orang, tukang paksa terselubung, sudah begitu kebanyakan analisis. Belum apa-apa sudah bikin hipotesis tanpa bukti-bukti jelas…"

"Apa itu, Cole? Seth itu orang yang penuh pertimbangan, tahu!"

"Yeah… Itu cuma kata lain dari 'tukang bikin pusing'. Sherlock-Wannabe. Dan lagi, meski banyak hipotesis sok-detektifnya mengarah pada kebenaran, banyak pula yang total salah dan malah bikin bencana."

"Enak saja! Mana coba contohnya?

"Lho, itu kan sudah jelas?" Tak perlu bukti macam-macam, pemuda itu menunjuk layar.

.

Seekor serigala coklat pasir berlari tanpa arah di antara pepohonan, jelas mengambil wujud serigala hanya untuk menghabiskan waktu atau melenyapkan kegalauan, bukan patroli dalam arti sesungguhnya—sudah bukan rahasia lagi bahwa kawanan Quileute sering menggunakan alasan 'patroli' untuk main-main atau sekadar melampiaskan emosi. Sesekali ia berlari silang dengan menjadikan jajaran pohon sebagai patokan, atau mengejar kupu-kupu dan kelinci malang yang kebetulan lewat, lantas tidur-tiduran dengan menjadikan kedua kaki depannya sebagai tumpuan kepalanya yang besar.

Namun mendadak suasana berubah ketika ia merasakan keberadaan yang lain. Ia menaikkan ujung moncongnya, seakan menangkap suatu bau. Gesturnya langsung menegang. Dalam sekejap ia bangkit, berlari ke arah sumber bau. Tak sampai satu kilometer, ia berhenti, dengan mata membeliak nanar. Di tepi sebuah sungai, mimpi buruknya berwujud: dua ekor lintah tengah bekerjasama mengeringkan darah seorang pria yang malang…

Meski beribu emosi membalut, segera ia melakukan yang harus ia lakukan. Dengan langkah pasti, segera ia menerjang. Tetapi belum apa-apa, mendadak berlompatan para vampir lain dari berbagai arah. Mengepungnya. Si serigala coklat pasir tampak beku sesaat, namun ia tak mundur. Mereka menyerang, mengeroyok si serigala yang tampak di bawah angin.

.

"Itu membuktikan bahwa Seth adalah Beta yang hebat! Ya, ia kalah, tapi ia tidak menyerah begitu saja. Kau lihat adegan awal penyerangan? Putar ulang, Ben. Ya, itu, stop," ia menunjuk layar. "Seth menyerang dengan gerak tipuan untuk membuka kesempatan, lalu menyerang yang kelihatan lemah terlebih dahulu. Artinya ia bertarung tidak hanya berdasarkan emosi, tetapi juga dengan taktik!"

"Ya, masalah itu sih aku juga tidak menggugat, Korra… Yang kumaksud ini. Lanjutkan, Ben… Ya, stop di situ." Layar menunjukkan adegan ketika Seth jatuh dan bayangan hitam tampak melengkung di atas tubuhnya. "Oke, lanjutkan dalam gerak pelan… Nah, itu dia!" seru Collin, tatkala gerakan slow-motion rekaman itu menunjukkan seekor serigala hitam betina, membentengi tubuh Seth yang sudah terkapar dari serangan para lintah. "Kesalahan terbesar Seth!"

Korra kelihatannya tahu ke mana ini menuju. Langsung saja ia pasang wajah masam.

"Nah, adegan penyelamatan Seth oleh serigala hitam berhenti sampai di sini, Saudara-saudara. Setelah ini Seth pingsan. Ia hanya sekilas menatap rupa si Hitam, tapi ia langsung jatuh cinta dan mengejar-ngejar si Hitam, atau tepatnya 'tersangka' si Hitam. Ada yang tahu mengapa?"

Korra makin mendelik.

"Jawabannya bukan imprint, Saudara-saudara. Ada konsep krusial tentang imprint. Yakni seseorang harus melihat mata sang imprint. Reaksinya tidak instan, tetap butuh setidaknya beberapa detik kontak mata agar alam bawah sadarnya mampu membangun seluruh kesadaran itu. Oke, memang ada semacam tarikan yang terjadi jika ia sempat bertemu atau melihat bayangan orang itu, yang dinamakan tug, tapi imprint akan menyegel perjodohan itu. Tug hanya perasaan, semacam naluri bahwa kau akan bertemu jodohmu. Misalnya ketika Jacob merasakan tarikan pada Bella ketika Bella hamil, atau ketika Paul atau Quil merasa harus pergi ke suatu tempat dan di sana mereka bertemu imprintnya. Tapi insting semacam itu lemah dan tak bisa dipastikan. Jadi intinya, Seth belum mengimprint si Hitam, bahkan ia tidak tahu bahwa si serigala hitam adalah imprintnya saat itu. Lantas mengapa ia melakukan dua kesalahan? Satu, ia mengira ia jatuh cinta. Dan dua, ia mengira serigala hitam itu adalah Korra."

Di bawah delikan Korra yang kian berbahaya, Collin kembali menunjuk layar.

"Nah, jawabannya ada di sini. Coba bandingkan adegan itu dengan ini, Pemirsa."

.

Layar menampilkan adegan sama, tapi sedikit berbeda. Tampak Seth tidak langsung pingsan sesudah jatuh. Meski kembali ke wujud manusia, ia masih mempertahankan kesadaran. Samar dilihatnya sosok serigala hitam itu pergi ke balik pepohonan. Tak berapa lama, ia kembali, kali ini sudah berpakaian. Dihampirinya tubuh yang terbaring itu, lantas ia duduk bersimpuh dan meletakkan kepala Seth di pangkuannya.

"Oh Seth, maafkan aku datang terlambat…," Seth bisa mendengar suara selembut buaian angin. Suara yang dikenalnya…

Ia ingin bicara, tapi suaranya tercekat. Hanya keluar a-a-a parau. Begitu ia mencoba bersuara, atau bahkan bernapas, kontan ia terbatuk hingga memuncratkan darah.

"Oh, Tuhan, apa yang terjadi?" bisik sosok itu panik. Ia menjalankan jemarinya di tubuh pemuda itu, mencari tanda kerusakan apapun. "Astaga, rusukmu menghujam paru-paru!"

"Ko… rra…," bisik Seth, memaksakan diri mengangkat tangannya.

"Jangan bicara, Seth. Jangan…"

"A, aku … hanya ingin … bilang … a, aku … menyukaimu…"

Itu rupanya kata-kata penghabisan karena menyusul satu kalimat itu, tangan Seth segera jatuh. Pupil matanya mengecil ketika kelopak yang menudunginya bergetar hingga akhirnya menutup. Tubuhnya terkulai lemas mengikuti satu napas terakhir kala nyawanya terlepas dari badannya.

Sontak si gadis meraung. "Oh, Seth… Tidak, tidak, tidak," gelengnya riuh, memeluk tubuh lunglai yang sudah jadi mayat. "Seth, kumohon jangan mati… Aku, aku, aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama aku bertemu denganmu di bandara…"

Gadis itu mulai menangis. Air matanya jatuh mengenai wajah Seth yang tak bergerak. Satu keajaiban terjadi. Begitu tetes air mata itu menyentuh pipi Seth, segerabutir air itu bersinar kemilau. Satu motif tribal nan indah muncul di wajah Seth, sebelum tubuh itu luka-luka di sekujur tubuh Seth menipis perlahan hingga akhirnya menghilang.

Di bawah ketakjuban Korra, sinar itu pun redup. Tak lama terlihat gerak di ujung jemari dan pelupuk mata Seth, lantas kelopak itu pun membuka.

"Seth, kau sadar…," bisik Korra dengan senyum bahagia, seolah sudah melupakan keajaiban aneh yang baru saja terjadi.

"Ko… Korra…," Seth balas berbisik. Ditatapnya mata coklat Korra, dan suatu keajaiban terjadi. "A, astaga…," bisiknya. "A, aku mengimprint…"

"Oh Tuhan," Korra menangkupkan tangan ke mulutnya. "Benarkah? Oh, Seth, aku sangat senang…"

Dan mereka pun berciuman.

-Happy End-

.

Korra melongo melihat adegan itu.

"Adegan Rapunzel apa itu? Memangnya aku bakal mengucapkan 'Oh Seth, aku sangat senang' dengan lagak Disney-Princess begitu, mentang-mentang aku kekanakan? Dan kalimat-bodoh-super-amit-amit-nan-cheesy apa itu? Siapa sih yang membuat skenarionya? Oh, please!"

"Ya, memang adegan itu tidak nyata, Pemirsa," komentar Collin panas. "Itu murni imajinasi. Selain itu ada adegan Seth pingsan dan Korra memberi napas buatan—ugh—atau Korra menghisap racun dari tubuh telanjangnya—AAARGH!—atau suhu tubuh Seth mendadak berkurang drastis dan Korra—GRHAAAA~!—menghangatkannya dengan…"

"Stop!" teriak Korra panik. "Rating acara ini K+! Jangan dibuat jadi M!"

"Memangnya itu niatku?!" bentak Collin. "Dan tidak usah merona begitu! Menyebalkan!"

Bagaimanapun bocah itu ingin mengomel dan memaki, ia sadar ia tak bisa melakukannya di hadapan kamera. Budget acara ini, bagaimanapun, sangat minim. Jika ia sampai kelepasan dan menonjok layar, misalnya, atau lebih buruk lagi menghantam kamera, bukan cuma ia akan dipecat. Bisa jadi ia malah disuruh mengganti. Padahal kondisi keuangannya bulan ini sudah sangat mengenaskan—ibunya memangkas uang sakunya sebagai hukuman karena bulan lalu ia menghambur-hamburkan uangnya demi benda-benda tak penting: sebut saja tiket konser JB plus merchandise mahal edisi terbatas, ditambah benang-benang rajut premium yang akhirnya hanya tertumpuk tak tersentuh di pojok. Bagaimana mungkin Collin punya semangat untuk meneruskan merajut syal bukti cintanya itu, jika gadis yang kepadanya hendak ia persembahkan syal itu keburu digaet orang?

"Intinya pasti Pemirsa tahu kan?" mati-matian Collin berusaha tampil profesional meski kentara benar masih emosi. "Seth bisa sampai naksir Korra, itu kesalahan total!"

"Itu bukan salah Seth! Itu salahmu! Kalian para Gossip Guys menginfiltrasi pikiran Seth!"

"Tidak semata salah kami juga. Ia saja yang bodoh dan membiarkan imajinasinya—koreksi, imajinasi orang lain—mengacaukan penilaian logisnya. "

"Tapi jika ia sampai termakan, pasti ada trigger-nya kan?" Korra berusaha membela kekasihnya. Atau tepatnya, membela dasar hubungan mereka. "Artinya sejak awal Seth naksir padaku, diam-diam berharap serigala itu aku. Alam bawah sadarnya menjadikan gosip kalian sebagai bahan bakar untuk mengembangkan harapan menjadi kecurigaan, memaksa logikanya mencari celah untuk menghubungkan fakta-fakta demi menjustifikasi kecurigaannya…"

"Hah! Tidak usah begitu juga, kalau kau terus memutar ulang adegan yang sama berkali-kali, bahkan walau adegan itu telah dipelintir, ide yang semula dianggap bukan kebenaran lama-kelamaan akan mulai dianggap sebagai kebenaran. Itu yang dinamakan cuci otak…"

"Oke. Jangan bilang kau sengaja…"

"Untuk apa, coba?" pemuda itu memutar bola mata. "Jelas itu merugikanku, kan? Gara-gara si tolol Seth mulai serius mempertimbangkan ide itu sebagai kebenaran, walau tanpa bukti, ia mendekatimu. Ujung-ujungnya apa? Ia merampasmu dariku. Padahal sudah jelas kalau tidak ada dia, kau bakalan jatuh cinta padaku."

"Ha! Kau tak sungguh-sungguh menyukaiku, Cole. Kalau ya, kau takkan membuat imajinasi bodoh itu!"

Collin seakan tertampar, tapi ia tetap menegakkan kepala, jelas merencanakan pukulan balasan.

"Oke. Pemirsa pun tahu, ada satu lubang dalam adegan tadi. Ini yang paling jelas," tunjuknya. "Mana ada ceritanya Seth bisa mendadak mengimprint Korra saat itu? Kalau ya, itu kan seharusnya terjadi di bandara!"

"Ya…," aku Korra masam. "Bagaimanapun aku berharap, kalau memang ada imprint, aku yang seharusnya mengimprintnya karena darahku lebih tinggi. Belum lagi tidak bisa mengimprint antarserigala dalam satu darah… Tapi tidak apa," ia menoleh pada si produser di seberang set. "Justru dengan begini, kami membuktikan bahwa cinta sejati bisa mengalahkan imprint… Benar kan, Seth?" katanya dengan senyum lebar, yang kontan membuat orang bersangkutan bergerak kiri-kanan seolah bangku yang didudukinya terbuat dari bara api.

Rupanya Collin salah strategi, karena mendengar Korra mengatakan 'berharap ada imprint' dan 'cinta sejati', ia justru makin kesal.

"Nah, Pemirsa," ujarnya cepat, kelihatan ingin buru-buru kabur sebelum Korra mengatakan hal-hal menyebalkan lebih banyak, "Berhubung durasinya sudah hampir habis, sebagai penutup, kami akan menampilkan satu adegan spesial Seth."

"Setelah pariwara berikut..."

.

-slot iklan-

.

THE GOSSIP TIME!

.

"Jumpa lagi dengan Korra…"

"Dan Collin…"

"Dalam THE GOSSIP TIME!"

Kali ini kentara sekali kontras sikap kedua host itu. Meski mereka tetap memasang pose ceria, kentara sekali yang satu berbinar-binar, yang satu agak muram.

"Nah, tadi kau janji, Cole, setelah ini kita akan menampilkan adegan spesial Seth," Korra berpaling padanya dengan mata cerah. "Apa maksudmu soal pertunanganku?"

Meski setengah menggerutu, Collin menjawab juga, "Yeah, memang ini ada hubungannya dengan itu, sih…"

"Horeeeeee!"

"Tepatnya, soal cincin."

Kata-kata Collin membuat gadis itu menghentikan sorakannya. "Cincin?" kerungnya.

"Yup. Cincin bertakhtakan cubic zirconia yang muncul pada episode 77… Nah, ayo kita analisa adegan itu, Pemirsa. Ada beberapa poin penting di sini. Nomor satu, mengapa ia tidak bisa membeli berlian?"

"Itu karena ia tidak punya uang…," timpal Korra. "Dan aku tidak peduli. Permata palsu atau bukan, bukan bendanya yang berharga, tapi makna di balik benda itu. Ia telah memberiku hal yang diidam-idamkan setiap gadis… Harapan akan masa depan yang indah berdua…," ia mulai larut dalam imajinasi romantisnya, lengkap dengan kerubi-kerubi cilik yang beterbangan bersama kupu-kupu di padang penuh bunga.

"No-no-no! Hapus itu!" dengan tega Collin menyepak si Cupid hingga jatuh menggelinding melindas tatanan bunga. "Tidak usah banyak bicara. Kita saksikan saja tayangannya."

.

Tampak sosok seorang pemuda tengah duduk termenung di selusur tangga rumah Cullen. Keningnya berkerut, entah apa yang dipikirkannya. Tak lama ia bangkit, melangkah menuju mobil putih yang terparkir di carport. Melesatkannya menembus jalan kecil di tengah hutan.

Tak lama ia berhenti di depan sebuah rumah kayu bergaya ekletik Prancis-Quileute. Sekian lama memencet bel, akhirnya seseorang membukanya.

"Seth?" rupanya itu Brady. "Ada apa? Jam patroliku kan masih sore nanti…"

"Anu, kau sendiri?"

"Eh, tidak… Aku, eh, bersama Collin…"

Meski agak mengernyit, Seth tidak tanya-tanya. Sejak insiden Korra, Brady memang sama sekali tak pernah meninggalkan Collin, yang setelah kejadian di jurang masih juga setengah sinting.

"Tunggu," sergah sang host mendadak. "Apa itu yang dibilang narator tadi? Aku sinting?"

"Sudah, Cole, jangan ribut!" decak Korra sebal.

"Tapi…"

"Diam saja dan tonton!"

Melihat Korra sudah masuk mode-tidak-sabarnya, Collin tak punya cara lain dan tutup mulut, kembali mendaratkan perhatian pada adegan di layar.

Brady, yang kelihatannya sudah punya firasat maksud kedatangan Seth tidak terlalu baik, langsung bertanya ke intinya, "Ada apa?"

"Anu, Brady…," Seth menggaruk-garuk kepalanya, biasa kalau ia tidak enak hati. "Aku tidak ingin mengatakannya. Eh, apa kau … sedang ada … dana lebih?"

"Hah?"

"Anu… Aku sedang butuh uang, dan… ehm, yang hampir setahun lalu itu…"

Brady nyaris bingung harus merangkai kata bagaimana. Benar, ia memang sempat meminjam uang tahun lalu, berkali-kali malah, total nyaris enamribu dollar. Semua demi membiayai kencan dan makan malam di restoran bintang lima dengan Roxanne, termasuk membelikannya gaun, kalung, jam tangan mewah, dan entah apa lagi. Sebelum ujung-ujungnya ia didepak.

"A, aku tahu tidak pada tempatnya aku … eh, memintamu melunasi. Apalagi aku tahu … kondisimu," Seth bahkan tak tega mengatakan alasannya, sadar itu akan melukai hati Brady. "Tapi aku ingin membeli cincin untuk Korra, dan aku kalah besar di bursa saham, jadi…"

Brady tahu yang judulnya Seth tidak pernah mau hitung-hitungan masalah utang. Jika ia sampai menagih seperti ini, pasti ia benar-benar terpaksa. Tapi saat ini Brady merasa ia akan sudi melakukan apapun, termasuk berlutut dan menjadi kacung kawanan, asal Seth melupakan utangnya.

"Uhm, Seth, aku benar-benar minta maaf. Tapi aku sedang tidak punya uang…"

"Separuh juga tak apa…"

"Aku cuma punya duapuluh dolar… Itu juga harus bertahan hingga bulan depan."

"Oh, begitu ya?" Seth garuk-garuk kepala lagi. "Ya sudah, maaf…"

Kenapa malah ia yang minta maaf? Tapi itulah Seth…

"Ngg, kalau kau mau, mungkin kau bisa pinjam pada Quil atau Embry? Kudengar Quil dapat bonus dari perusahaan asuransi baru-baru ini. Atau Josh, dia kan baru menang lotere."

"Iya, terima kasih, Brad… Aku permisi kalau begitu."

Dengan itu Seth keluar dari pekarangan rumah keluarga Fuller. Apa ia akan meminjam? Tentu tidak, sudah prinsip hidupnya untuk tak pernah meminjam dari siapapun, apalagi dari kawanan yang memang miskin. Alhasil, seharian ia putar-putar ke sana ke mari, menagih sana-sini tanpa hasil.

.

"Tuh. Sudah kubilang apa! Seth sedang miskin sekarang!" seru Korra seraya menunjuk layar, yang lantas membuat si produser menyurukkan muka ke telapak tangan. Sepertinya ia menyesal adegan ini disiarkan secara live

"Ya, itulah Pemirsa, kisah Seth si rentenir gagal…," komentar Collin cengengesan. Sepertinya ia lupa kalau ia sendiri punya utang yang sama besar dengan Brady.

Gadis itu sepertinya tidak peduli kata-katanya sebelumnya mempermalukan sang kekasih, dan melanjutkan dengan nada penuh tekad.

"Tidak apa-apa, Sethie… Aku bukan cewek matre, kok…," proklamasinya. "Biaya pernikahan kita toh katanya bakal ditanggung para lintah... Setelah kita menikah pun, aku takkan menuntut macam-macam. Aku juga bisa mencari uang. Kita pasti bisa mengatasi masalah ekonomi bersama…"

"Eh, tunggu sebentar, Korra. Cullen bakal menanggung biaya pestamu?!" Collin membelalak seakan mendengar ada kuda baru saja lahir dari mulut singa. "Masa sih mereka sedermawan itu? Jangan bilang Seth si pengkhianat itu sudah betulan diangkat anak… Atau ini gara-gara Alice sudah gatal ingin membuat pesta…"

"Tidak juga kok. Memang sudah seharusnya saja…," tanggap Korra santai.

"Mencurigakan…," picing Collin.

"Apa memang yang kaucurigai? Anggap saja mereka membayar hutang!"

"Hutang?"

"Ya. Kautahu, tanah yang sekarang mereka tempati itu kan dulu bagian dari tanah Quileute yang diberikan Alfaku. Ck, Kierra memang bodoh tidak tahu harga properti..."

"Makin mencurigakan… Memang dulu wilayah Quileute luas, tapi bukannya sudah dikerdilkan sejak perjanjian tahun 1855? Alfamu saja sudah pergi 20 tahun sebelumnya… Lagipula para Cullen kan baru menginjak tanah ini pada 1930-an… Jangan-jangan Alfamu itu membuat kesepakatan tertentu dengan mereka, agar parasit itu membantunya supaya bisa menguasai kawanan… Kalau dia sampai betulan menjual tanah Quileute yang sekarang atau mencabut Perjanjian Teritorial…"

"Sudah, Cole! Apa lagi sih yang kaucurigai," pukul sepupunya. "Yang jelas kami bakal menikah gratis! GRATIS! Itu saja cukup, kan?"

"Dasar setan gratisan…"

"Masa bodoh! Weeeekkk…"

"Huh. Harus kukatakan cintamu pada Seth itu membuatmu buta, Korra. Masa kau tidak bisa melihat kenyataan? Ayolah. Seth. Orang termakmur di kawanan. Tidak bisa membeli cincin berdesain sederhana dengan satu saja diamond asli?"

"Orang kan tidak selamanya di atas..." bela Korra. "Lihat saja. Ia sampai kesana-kemari menagih utang…"

"Tapi dia pergi bersama si Lintah Hiperaktif!"

"Lantas?"

"Dia kan bisa pinjam!"

"Itu dia… Ini masalah harga diri. Masa kau membelikan gadismu cincin dengan uang pinjaman?"

"Makanya kubilang kau buta. Kau tidak memikirkan kemungkinan lain?"

"Apa?"

"Misalnya dia tidak mau membelikanmu mahal-mahal karena takut rugi… Begitu-begitu juga, biar kuliahnya di Kelautan, dia pemain saham. Masa dia tidak memperhitungkan untung-ruginya membelikanmu cincin asli?"

"Maksudmu?"

"Yah, kau bukan imprintnya dan satu saat pasti kalian berpisah…"

"Cole!" bentak Korra marah. "Kau tega bicara begitu?"

"Itu kan cuma satu kemungkinan…"

"… Yang mustahil! Tidak mungkin Sethie sekejam itu padaku! Tarik kata-katamu!"

"Tidak! Alasanku sangat logis!"

"Apa yang logis? Kau bilang begitu supaya aku memilihmu, kan? Kau bisanya main curang!" saking kesalnya, tinju kecil Korra mulai menghantam.

"Ugh! Aduh! Korra!" biar kata ia bisa saja membalas, tentu saja Collin tak akan melakukannya. Akhirnya ia cuma bisa meringkuk, sementara Korra yang marah, setengah menangis, terus saja memukulinya.

"Jahat! Aku kira kau sahabat terbaikku! Kenapa sih kau tidak suka aku bahagia?!"

"…"

"Aku benci kamu, Collin!"

Dengan itu Korra langsung meninggalkan set. Tidak peduli waktu sang sutradara memanggilnya kembali. Tujuannya jelas: langsung mengkonfrontasi sang produser guna mengkonfirmasi kata-kata Collin.

Set jadi kacau karena di sana, Korra mulai bertengkar dengan sang produser. Dan baik sang host, sutradara, maupun kameraman hanya bisa melongo.

.

Maaf, acara kembali dihentikan hingga jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.

.

THE GOSSIP TIME

Fanfiction Showbiz ©2013

.


.

"Alay" by Lolita, 2010 Sani Sentosa Abadi

Oke… Penting ya aku nulis ini? -seperti dibilang: pelampiasan stress…

Silakan jika mau komen, menghujat pun bolehlah… *pundung*