" Betrayal "

-=Sherry Dark Jewel Present=-

Disclaimer: "Harry Potter" milik J.K Rowling. Dan Tom milik Yuki Gak bisa diganggu gugat..#dihajar rame-rame

Author : Yuki

Rate : M (ganti Rate Yohoho..)

Pairing : TMR/HJP

Genre : Adventure/Romance (sebenarnya Yuki juga binggung.. ni cerita sebenarnya genrenya apa..hehehe…#innocent#)

Warning : OOC, AU, OC, MaleXMale, Slash, AD/RW/GW/HG/AW/MW Bashing. #Yuki harap ini tak masalah#

Summary : Saat hati telah terjatuh ke dalam kegelapan. Dalam dan semakin dalam hati itu terjatuh. Cahaya tak pernah lagi baik untuknya. Iapun pergi menuju keyamanan di dalam Gelap.

"Bicara"

'berpikir' / 'telepati Harry dengan Tom '

.:: Parseltongue ::.

'telepati Tom / suara Tom dipikiran Harry'

"Mantra"

.

Chapter 7

.

Satu September tiba. Harry hanya menghelang nafas tak tertarik. Ia benar-benar malas kembali ke Hogwart. Ia ingin pulang, kembali ke rumah Tom. Mungkin jika pulang ia bisa melakukan yang lebih menyenangkan dari pada sebelumnya.

Shit..

Pipinya memanas hanya dengan memikirkan sentuhan tak langsung Tom kepadanya. Ia benar-benar seperti gadis remaja yang tengah kasmaran. Jika membayangkan sentuhan tak nyata saja semalu ini. Lalu bagaimana jika Tom menyentunya langsung?..

'Kau pasti akan ketagihan'

Mata Harry membesar sejenak. 'Tom' geram Harry dalam pikiran, 'Bisakah kau tak muncul tiba-tiba'

'oh Love.. semua yang kau pikirkan selalu terngiang dikepalaku, bagaimana bisa aku tak menyahutinya. Saat kau tengah memikirkan hal mesum'

Pipi Harry merona 'Tapi kenapa pikiran mu tak pernah terdengar dipikiranku?'

'Mungkin karena kau Horcrux ku..'

'itu tidak adil.. kau seenaknya membaca pikiranku, sedangkan aku tak bisa'

'aku tidak membacanya love.. pikiranmu saja yang selalu mengaung di pikiranku'

'sama saja..'

'itu berbeda Love..'

'sama..' Harry merengut sebal.

'Oh Love.. jangan marah..Maafkan aku' Harry merasa tengah Tom peluk. Harry tersenyum, meski mereka selalu bertengkar tapi pada akhirnya Tom yang selalu minta maaf-meski kadang dia memaksa Harry memaafkannya-tapi Harry tetap saja memaafkannya. Silahkan sebut Harry egois, tapi hanya dengan pertengkaran kecil itulah Harry selalu merasa Tom sangat menyayanginya. Dan pelukan Tom tak pernah bisa Harry tolak. Ia terlalu menyukai kehangatan yang Tom berikan padanya..

'Aku akan memikirkan jalan keluarnya, agar kau tak merasa kucurangi. Oke..'

Harry tersenyum. 'Hemm.. Oke.. asal kau mau memelukku hingga aku sampai di Hogwart'

'Tentu Love'

Srekkk..

Harry melihat siapa yang membuka pintu kompartemennya. Matanya melirik orang yang menganggu ketenangannya. Ia mendengus sebal..

'Dia'

'Siapa Love..?' tanya Tom dalam pikiran Harry..

"Malfoy.. apa yang kau lakukan disini Malfoy" desis kesal Harry.

'Oh..Malfoy Junior..Buat dia menjadi anak buahmu sayang.. Malfoy memiliki loyalitas jika kita bisa mendapatkan kepercayaan mereka'

Harry menyeringai.. seringai itu bahkan bisa ditangkap oleh mata perak Draco yang sedari tadi terteguh melihat Harry di kompartemen paling belakang di kereta yang mereka tumpangi.

"Potter.. aku tak menyangka bisa menemukan mu disini.. tidak bersama dengan dua teman bodohmu?"

"Hemm.. Bodoh ya.." Harry terkikik geli. Membuat Draco memandang penasaran sang pahlawan dunia sihir.

Draco sangat tertarik saat melihat mata Harry menyiratkan kesenangan saat mendengar Draco menghina dua teman Harry.

"Ya.. mereka Bodoh.. dan Malfoy.. bisakah kau pergi dari sini. Aku tak ingin diganggu.." Ucap Harry sambil menyeringai. Tanpa menunggu jawaban Draco.. pintu kompartemen itu langsung menutup di depan wajah Draco. Draco hanya bergumam sebal saat melihat Harry menyeringai dari kaca kompartemen.

'Dia membuat ku penasaran' batin Draco sambil berlalu mencari kompartemen kosong lainnya.

.

Yuki Jeje

.

Harry mendengus sebal saat mendengar pintu kompartemen tergeser terbuka. 'Siapa sih mengganggu waktu tenangku?' pikirnya sebal. Lalu ia pun membuka matanya untuk melihat siapa yang mengganggunya.

Dia tak tau siapa gadis kecil yang mengganggunya itu. Tapi ia yakin dia adalah anak tahun ketiga. Gadis itu memandangnya malu malu.

"Ehemm.. Ada apa gadis manis?" Tanya Harry sambil tersenyum manis.

"A-aku diminta mengantar ini pada Harry P-potter" Ujar gadis itu gugup. Saat matanya menatap mata Harry, mukanya langsung memerah padam. Gadis itu menyodorkan sebuah gulungan perkamen yang diikat dengan pita ungu. Bingung, Harry mengambil Perkamen yang ditujukan kepadanya dan gadis itu pun berlalu pergi.

'Siapa gadis itu? Menarik.. dia bisa menemukanku'

Harry membuka Gulungan itu dan melihat apa isinya.

Mr. Harry Potter aku senang jika kau bisa bersedia bergabung makan siang denganku di kompartemen C.

Profesor H.E.F Slughorn

"Siapa Slughorn?" Harry tidak tahu siapa profesor ini. Apakah Profesor baru di Hogwart? Pasti begitu. Tapi Undangan itu tiba tiba tertuju padanya, mengenal saja dia tidak.

'Datang saja Love..'

'Tom.. Kau mengenalnya?'

'Ya.. dia adalah profesor ramuanku dulu. Datanglah Love.. aku yakin dia mengundangmu ke klubnya. Itu akan sangat bermanfaat jika kau bisa dekat dengannya..'

'Ramuan? Oke lah aku akan datang dalam acarannya.'

'senang mendengarnya..'

Lalu link mereka terputus. Harry tersenyum, dia akan datang. Tom memintannya datang ke undangan itu.

.

Yuki Jeje

.

Saat tiba di Komparteman C. Harry disambut hangat oleh Slughorn. Sepertinya Harrya sangat dinanti kedatangannya oleh sang Profesor.

"Mr. Harry Potter.. senang melihatmu memenuhi undanganku. Perkenalkan.. Profesor Slughorn, Profesor baru di Hogwart" Harry tersenyum saat Slughorn menjabat tangannya.

"Senang bertemu denganmu Profesor.."

Harry pun mendudukan dirinya di kursi kosong yang tersisa. Melihat siapa saja yang ada pada acara itu.

Dia bisa melihat Neville dan Ginny yang duduk bersebalahan. Lalu seorang Slytherin-Harry yakin.

"Ah mungkin kau sudah mengenal dia.." Slughorn memegang bahu sang pemuda Slytherin itu. "Dia Blaise Zabini, dia ada di tahun yang sama sepertimu Harry." Blaise hanya memandangnya sejenak lalu memalingkan mukanya.

"Lalu Cormac McLagger, mungkin kalian pernah bertemu? Belum?" Mc Lagger adalah pemuda bertubuh besar dan awut-awutan. Dia mengangguk singkat pada Harry dan Harry pun menggangguk membalasnya.

"-dan ini Marcus Belby" Balby hanya tersenyum tegang. Harry tau dia tengah Gugup sekarang.

"Dan Naville Longbottom dan Gadis yang sangat menarik ini mengatakan sangat mengenalmu Harry.." Harry hanya tersenyum meniyakan, dia bisa melihat muka Ginny yang sangat ingin duduk disebelahnya. Itu menakutkan sebenarnya..

'Gadis itu…' Suara di pikiran Harry mengeram marah.

'Tenang Tom.. Aku tak akan terpikat olehnya. Aku hanya milikmu..'

Harry tau Tom pasti tengah tersenyum senang saat ini. Harry tersenyum senang juga saat memikirkan Tom. Tapi Ginny yang melihatnya tersenyum sepertinya mengira senyum itu untuknya. Lalu gadis itu menyeringai senang pada Harry.

"Wah, ini menyenangkan sekali," kata Slughorn gembira. "Kesempatan untuk mengenal kalian sedikit lebih baik. Ini, silakan ambil serbet. Aku sudah menyiapkan makan siang sendiri. Troli, seingatku, banyak Tongkat Likor-nya, dan sistem pencernaan orang tua yang malang tak cukup kuat untuk makanan semacam itu... kalkun, Belby?"

Belby tersentak, dan menerima apa yang tampak seperti separo kalkun dingin.

"Aku tadi sedang memberitahu si Marcus ini bahwa aku senang mengajar pamannya Damocles," Slughorn memberitahu Harry, sambil sekarang mengedarkan sekeranjang roti. "Penyihir luar biasa dan Order of Merlin-nya memang layak sekali diterimanya. Kau sering bertemu pamanmu, Marcus?"

Celakanya Belby baru saja menyuap sepotong besar kalkun. Dalam ketergesaannya menjawab Slughorn dia menelan terlalu cepat, tersedak, dan wajahnya berubah ungu.

"Anapneo" kata Slughorn tenang, mengacungkan tongkat sihirnya ke arah Belby, yang tenggorokannya langsung lega.

"Tidak... tidak sering, tidak," sengal Belby, matanya berair.

"Yah, maklum, pasti dia sibuk," kata Slughorn, memandang Belby ingin tahu.

"Tentunya dia perlu kerja keras sewaktu menciptakan Ramuan Kutukan-Serigala!"

"Saya kira..." kata Belby, yang kelihatannya takut menyuap kalkun lagi sebelum yakin Slughorn sudah selesai dengannya. "Er... sebetulnya Paman dan ayah saya tidak begitu rukun, jadi saya tak tahu banyak tentang..."

Suaranya menghilang ketika Slughorn memberinya senyum dingin dan beralih menoleh ke McLaggen.

"Nah, kau, Cormac," kata Slughorn, "kebetulan aku tahu kau sering bertemu pamanmu Tiberius, karena dia punya foto bagus kalian berdua sedang berburu Nogtails di Norfolk, kalau tak salah?"

"Oh, yeah, perburuan yang sangat menyenangkan," kata McLaggen. "Kami pergi dengan Bertie Higgs dan Rufus Scrimgeour—sebelum dia menjadi Menteri, tentu —"

"Ah, kau kenal Bertie dan Rufus juga?" wajah Slughorn berseri. Sekarang dia menawarkan senampan kecil pai; entah bagaimana, Belby tidak ditawari. "Ceritakan padaku..."

Ternyata kecurigaan Harry benar. Semua orang di sini rupanya diundang karena mereka ada hubungannya dengan orang yang penting atau punya pengaruh besar —semuanya kecuali Ginny. Zabini, yang diinterogasi setelah McLaggen, ternyata ibunya penyihir yang kecantikannya tersohor . Berikutnya giliran Neville: sepuluh menit yang sangat tidak nyaman, karena orangtua Neville, Auror terkenal, telah disiksa sampai menjadi gila oleh Bellatrix Lestrange dan beberapa kroni Pelahap Mautnya. Pada akhir wawancara, Harry mendapat kesan bahwa Slughorn menunda keputusan untuk Neville, masih ingin melihat apakah dia mewarisi kecakapan orangtuanya.

'Apa dia memang seperti itu Tom?'

'Yes Love..dia memang sangat mendambakan dekat dengan orang yang terkenal. Dekati dia Love.. nanti akan ada manfaat dekat dengannya'

"Dan sekarang," kata Slughorn, tubuh gemuknya bergerak di tempat duduknya dengan gaya seorang pembawa acara yang memperkenalkan bintang utamanya. "Harry Potter! Mulai dari mana?"

Dia memandang Harry sejenak seolah Harry sepotong besar kalkun yang lezat, kemudian berkata, "'Sang Terpilih', begitu mereka menyebutmu sekarang!"

Harry diam saja. Belby, McLaggen, dan Zabini semua memandangnya.

"Tentu saja," kata Slughorn, menatap Harry lekat-lekat, "sudah ada desas-desus selama bertahun-tahun... aku ingat waktu—yah—setelah malam mengerikan itu— Lily—James—dan kau selamat—dan berita yang beredar adalah bahwa kau pastilah memiliki kekuatan yang luar biasa—"

Zabini terbatuk kecil, yang jelas dimaksudkan menyiratkan keraguan dan kegelian. Suara marah terdengar dari belakang Slughorn. "Yeah, Zabini, karena kau sangat berbakat... berakting..."

"Wah, wah!" decak Slughorn senang, menoleh memandang Ginny yang sedang mendelik kepada Zabini dari balik perut besar Slughorn. "Hati-hati, Blaise! Aku melihat gadis ini melakukan Kutukan Kepak-Kelelawar yang hebat sekali waktu aku melewati gerbongnya! Kalau aku, aku tak berani membuatnya marah!"

Zabini cuma tampak menghina.

"Bagaimanapun juga," kata Slughorn, kembali berpaling ke Harry. "Begitulah desas-desus yang beredar musim panas ini. Tentu saja, kita tak tahu bisa dipercaya atau tidak, Prophet sudah diketahui mencetak data yang tidak benar, membuat kekeliruan—tapi tampaknya tak diragukan lagi, berhubung banyak saksinya, bahwa memang terjadi keonaran cukup hebat di Kementerian dan bahwa kau terlibat dalam peristiwa itu!"

Harry, inget jika Tomnya ingin dia mengambil semua perhatian Slughorn hanya bisa mnegangguk diam. Slughorn berseri-seri memandangnya.

"Sangat rendah hati, sangat rendah hati, pantas Dumbledore sangat menyukaimu —kau memang di sana, kalau begitu? Tapi cerita-cerita yang lain—sangat sensasional, tentu saja, kita tak tahu lagi apa yang bisa dipercaya—ramalan yang sangat terkenal ini, misalnya—"

"Kami tidak pernah mendengar ramalan," kata Neville, merona semerah bunga geranium ketika mengucapkannya.

"Itu betul," kata Ginny mengukuhkan. "Neville dan saya juga di sana, dan semua omong kosong 'Sang Terpilih' ini cuma rekaan Prophet seperti biasanya."

Tentu saja hanya Harry sang pemilik ramalan yang bisa mendengarnya. Meski Harry mendengarnya sedikit saja. Tapi Harry memang dapet mendengar Ramalan itu.

Harry memandang Neville yang membelanya. Dia sudah menganggap Neville temannya, tapi Neville tidak tahu masalah kasus keluarga Weasley yang membuatnya sangat membenci mereka.

"Kalian berdua juga di sana?" kata Slughorn sangat tertarik, bergantian memandang Ginny dan Neville, namun keduanya sudah mengatup erat seperti kerang di depan senyum membujuk Slughorn. "Ya... memang benar Prophet sering membesar-besarkan, tentu saja..." Slughorn melanjutkan, kedengarannya agak kecewa, "Aku ingat dear Gwenog memberitahuku—Gwenog Jones, maksudku, tentu, kapten Holyhead Harpies—"

Dia lalu panjang-lebar menceritakan kenangannya, namun Harry mendapat kesan jelas bahwa Slughorn belum selesai dengannya, dan bahwa dia belum diyakinkan oleh Neville dan Ginny.

'Ini membosankan Tom'

'bertahanlah Love..'

Waktu terus berlalu dengan anekdot tentang para penyihir terkenal yang pernah diajar Slughorn, semuanya dengan senang hati bergabung dalam kelompok yang disebutnya "Klub Slug" di Hogwarts. Nama yang konyol sebetulnya, mengingat kata "slug" yang dimaksudkan sebagai kependekan nama Slughorn ini bisa juga berarti "siput". Harry sudah tak sabar ingin pergi, namun tak tahu bagaimana bisa melakukannya dengan sopan. Akhirnya kereta muncul dari selubung kabut panjang yang lain ke dalam merahnya matahari terbenam, dan Slughorn memandang ke sekitarnya, mengerjap dalam temaram senja.

"Astaga, sudah mulai gelap! Aku tidak memperhatikan mereka sudah menyalakan lampu! Kalian semua sebaiknya pergi dan berganti memakai jubah kalian. McLaggen, kau harus menemuiku dan meminjam buku tentang Nogtails. Harry, Blaise—kapan saja kalian lewat. Undangan yang sama untukmu, Nona," dia mengedip kepada Ginny "Nah, pergilah, pergilah!"

Lalu Harry menghilang dibalik jubah gaibnya saat sudah keluar dari komparteman dia tak ingin diseret Ginny untuk menuju Kompartemennya.

"Dimana Harry?" Ginny menengok kekiri dan kekanan mencari sang pujaan hati. Raut wajahnya sedih sekarang.

"Mungkin Harry ingin sendiri dulu Ginny. Dia sedikit lebih tertutup sejak liburan musim panas lalu. Kau tahu Harry kenapa? Ginny?" tanya Neville mulai mengajak Ginny kembali ke Kompartemen mereka.

"Tidak.. Aku tidak tahu.." jawab Ginny cepet.

Tapi Neville tahu jika ada yang Ginny sembunyikan sekarang. Dan Neville tak mau memaksa Ginny mengatakannya. Lebih baik dia bertanya langsung pada Harry.

.

Yuki Jeje

.

Harry telah turun di stasiun hogsmeade. Tak lupa senyum yang terpampang di wajahnya.

"Harry.."

Harry melihat siapa yang memanggil namanya. 'Shit..Grenger.. Weasley' gerutu Harry dalam hati. Tapi wajahnya tetap tersenyum ramah.

"Oh Harry.. kami mencarimu sejak di kereta." Adu Harmione sedikit kesal. "Tapi Ginny berkata kalian mendatangi undangan bersama.. kenapa tidak ikut ke kompartemen kami Harry?"

"Maafkan aku Mione.. aku hanya ingin sendiri dahulu" gumam Harry yang masih bisa di dengar oleh kedua remaja yang ada dihadapannya. Dengan raut wajah sedih-yang tentu saja hanya akting belaka-Ron dan Harmione percaya jika Harry memang membutuhkan waktu untuk sendiri. Karena sejak ditemukan penuh luka beberapa Harry yang lalu, Harry mulai menarik diri dengan sekitar. Harry sedikit takut dengan orang-orang di sekitarnya. Itu yang mereka berdua pikir.

"Hemm.. Oke.. Ayo kita berangkat ke Hogwart.." ajak Ron memecah keheningan. Lalu mereka pun menaiki kereta yang di tarik thestral.

.

Yuki Jeje

.

Saat Harry telah sampai di Aula Besar, semua berjalan seperti awal tahun sebelumnya. Suara riuh para murid yang saling bercengkrama. Sepertinya berita hilangnya Harry di sembunyikan kepada para masyarakat dunia sihir. Hanya orde dan kementrian yang tahu. Mungkin mereka tak ingin masyarakat dunia sihir panik saat tahu jika pahlawan mereka telah diculik.

Harry mengerutu pelan, ia tak suka suasana berisik ini. Hidup beberapa minggu di manor milik Tom yang tenang membuatnya benci dengan keriuhan Aula besar. Kecuali suara teriakan siksaan yang mengalun indah bagai melodi pengantar tidur Harry.

Peran Harry sebagai Adrian membuat Harry selalu menyertai Tom kemanapun ia pergi. Tentu saja ke ruang bawah tanah juga untuk menyiksa para tawanan. Di tambah Bellatrix yang selalu menyeretnya untuk ikut menyiksa para tawanan. Oh Harry jadi merindukan wanita sadis itu. Meskipun faktanya Bellatrix telah membunuh Sirius, rasa bencinya pada wanita sadis itu sudah mulai berkurang. Memikirkan hal itu membuat bibir Harry tersenyum indah.

"Aku senang kau bisa tersenyum seperti itu Harry.." Ucap Ginny yang tengah duduk di sampingnya di meja Gryffindor. Karena setahu Ron,Ginny dan Harmione, Harry sangat jarang tersenyum tulus seperti ini. Setelah sesuatu yang terjadi di musim panas.

"Sepertinya suasana hogwart akan membantumu mengatasi masalah kecilmu Harry" Ucapan Ginny di lanjutkan oleh Harmione.

Harry kembali tersenyum.

"Mungkin.."

'Mungkin mereka kira kau tersenyum karena keramaian menyebalkan yang ada di hadapanmu'

'TOMM'

'Ya Love..'

'Sudah kukatakan jangan muncul tiba-tiba' Harry kembali diam di mata ketiga temannya-mungkin. Namun hati Harry tengah berteriak kesal dengan datangnya suara Tom yang tiba-tiba.

'Oh Love.. maafkan aku.. jangan marah sayang..'

Harry tetap diam ia membaca buku transfigurasi di meja. Buku transfigurasi tahun keenam.

"Oh Mate.. kau membaca?" tanya Ron memandang aneh. "Kau tertular Harmione.."

"memang kenapa jika aku suka membaca hah..? itu kan bagus jika memang Harry mau berubah lebih baik. Memangnya dirimu yang selalu malas.." ketus Harmione tak terima.

Harry hanya diam mendengarkan pertengkaran dua orang di hadapannya itu, bahkan dia mendengar gumaman Harmione tentang 'cowok pemalas' dan 'tak punya masa depan'. Jika Harmione dan Ron tengah adu mulut. Lain lagi dengan Ginny yang sedari tadi selalu memandang Harry kagum.

'Oh Love.. kau tenang saja. Ada aku yang selalu menemanimu' ucap suara dipikiran Harry.

'TOMMM..SUDAH KU KATAKAN JANGAN MUNCUL TIBA TIBA'

'Oh Love.. ayolah aku merindukanmu.. jadi biarkan aku disini sejenak'

Harry masih fokus pada bukunya. Tapi Harry dapat merasakan kehangatan yang melingkupi dirinya. Kehangatan sihir Tom yang tersalur dari horcrux Tom, mungkin karena Horcrux ini membuatnya bisa merasakan apa saja yang dilakukan Tom. Bahkan saat Tom membayangkan ia memeluk tubuh Harry, Harry pun dapat merasakan tengah di peluk erat oleh lelaki kejam itu.

'kau tahu aku lebih suka kata sadis dari pada kejam. Sadis terdengar lebih keren.'

'Oke.. Tuan yang Sadis..'

'kkkk... Oh Love rasanya aku selalu ingin memelukmu.'

'kalau begitu peluk aku selalu Tom.. peluk aku saat aku tak ada di dekatmu.. agar aku ingat siapa yang sudah memilikiku.'

'wowww.. itu romantis love.. oke.. aku akan membayangkan selalu memelukmu setiap saat. Kecuali saat pertemuan.'

'baiklah.. karena aku nyaman saat merasakan sihirmu yang tengah mendekapku. Rasanya hangat.'

'…'

'oh Tom.. aku tengah membayangkan senyummu sekarang. Kau tersenyum Tom?'Harry menyeringai senang, sayang hal itu tertangkap mata Ginny.

"Harry.. Ada apa? Kenapa kau tersenyum aneh seperti itu..?" Tanya sang tuan putri keluarga weasley. Pertanyaan Ginny menarik rasa penasaran dua teman-mungkin-Harry yang sedari tadi cekcok.

"Tersenyum aneh?" Tanya Ron.

'Shit…'

"Aneh? Aku hanya merasa senang bisa kembali kesini..seperti yang kau bilang. Mungkin aku bisa menyembuhkan masalahku.." ucap Harry sambil tersenyum manis. Senyum yang langsung membungkam semua keraguan Ginny.

"Aku senang mendengar hal itu Harry." Aku Harmione.

"hemm.. kita akan membantumu Harry.. tenang saja." Ron melanjutkan ucapan Harmione. "Iya kan Ginny..?"

Sedangkan Ginny tersenyum "Iya.. Aku pasti membantu" mata Ginny bagai terhipnotis akan ketampanan sang terpilih-menurut warga dunia sihir.

'Bodoh..'Harry tersenyum manis..hingga membuat mata emerald Harry menyipit."Terima Kasih teman-teman."

.

Yuki Jeje

.

Dumbledore menyita semua perhatian siswa siswi di aula lagi dengan tangannya yang mulai menghitam, bisik bisik mulai terdengar. Tapi Dumbledore menghentikannya dengan cepat, dia melambaikan lengan bajunya agar bisa menutupi tangannya yang menghitam.

"Jangan cemaskan ini" ucapnya santai."Selamat datang untuk murid-murid baru. Dan selamat datang kembali untuk murid-murid lama. satu tahun penuh pendidikan sihir menunggu kalian."

"tangannya seperti mati, itu hitam mengering" kata Harmeoni, ia sedikit merasa mual dengan hal itu. "tapi ada luka-luka yang memang tak bisa di obati..kutukan-kutukan lama dan racun yang tak ada penangkalnya." Gumam Harmeoni.

"...dan Mr Filch, penjaga sekolah, memintaku untuk menyampaikan, ada larangan untuk barang apa pun yang dibeli di toko yang bernama Sihir Sakti Weasley.

"Mereka yang berminat untuk masuk ke tim Quidditch baru, silahkan hubungi kepala asrama masing-masing. Juga bagi yang berminat menjadi komentator pertandingan, kami tengah mencari komentator Quidditch baru.

"Kita bergembira menyambut professor baru" ucap Dumbledore. "dia adalah rekan kerja lamaku, dia bersedia melepas masa pensiunnya untuk kembali mangajar Ramuan di Hogwart"

"Ramuan?"

"Ramuan?"

Suara suara bising mulai mengisi ruangan itu. Mereka terkejut jika professor baru itu yang akan mengajar Ramuan. Lalu siapa yang mengajar Pertahanan terhadap ilmu hitam? Pertanyaan itu yang mengalun india di pikiran setiap orang.

"Kalau dia mengajar Ramuan? Lalu siapa yang mengajar Dada?" Tanya Ron.

Sedagkan Harry hanya terdiam tak hanya mengelengkan kepalanya tak tahu.

'sudah kukatakan. Dia adalah guru ramuan love.. Guru ramuan ku dan Severus dulu. Tetu saja dia akan kemabali mengajar ramuan'

'hemm.. aku kira dia akan mengajar DADA'

'Sepertinya Dumbledore memiliki rencana..Love'

'ya aku yakin tentang itu, lalu siapa yang akan mengajar DADA Tom?'

"Dan Profesor Snape yang sementara ini akan mengajarkan Pertahanan terhadap ilmu hitam" suara tegas Dumbledore menghentikan kebisingan disana.

Terdiam dan mencerna ucapan Dumbledore.

'Kau sudah tahu jawabannya Love..kkkk'

'Oh Tom kenapa kau tak mengatakan padaku juga jika Severus akan mengajar DADA?'

'Biar itu menjadi kejutan untukmu love...'

'Ya itu sangat mengejutkanku Tom'

"Profesor Snape?"

"Profesor Snape mengajar Pertahanan?" semuanya bergumam tak percaya.

"aku tak percaya ini" Harmeoni mengumam sambil melihat snape yang tengah melambaikan tangannya.

"Tapi jabatan itu terkutuk, mungkin ini akan jadi tahun terakhir snape disini" kata Harry.

"Bisa saja Snape kembali ke posisinya yang sebelumnya." Harmeoni sedikit tidak menyukai ucapan Harry dan Ron hanya diam saja tak menyahuti-atau mugkin binggung?.

Setelah itu Dombledore mempesilahkan semua kembali ke asramah masing-masing.

'Mungkin tahun ini akan benar-benar menarik'

' Tentu Tom.. Tahun ini akan sangat menarik. Karena kau pun pasti merencanakan sesuatukan? '

'kau akan tahu saat acara Yule ball nanti Love'

.

Yuki Jeje

.

Mata hijau Harry melihat Draco Malfoy yang sedari tadi melihatnya dengan pandangan tertarik. Harry ingat jika Malfoy dan Nott-yang beberapa minggu lalu ditandai-tak mengetahui perihal dirinya-dalam arti sosok Adrian.

Harry hanya sedikit menyeringai pada sang pewaris Malfoy lalu berlalu mengikuti Ron menuju ke Asrama. 'mungkin sedikit permainan akan menyenangkan'.

'kau boleh bermain sesukamu, tapi ingat Love. Jangan bongkar siapa dirimu dahulu.'

'Tentu..itu akan menghancurkan permainanku nanti'

Mereka-Ron dan Harry-telah sampai di Asrama para Singa yang hanya mengumpat dalam sedikit tak nyaman itu terlalu ramai dan terang.

Bahkan dia bisa melihat Harmeoni yang mulai berteriak menyita barang barang lelucon yang tak seharusnya boleh dibawa ke hogwart.

.

.

.

TBC

Yuki's Note :

OMG.. I so sorry..
Maafkan Yuki yang baru Update ya..

Yuki mulai Sibuk dengan Kuliah Yuki jadi belum sempat sama sekali melanjutkan Fic ini. Yuki bener bener minta maaf ya.. hampir setahun lebih fic ini tergeletak tak disentuh sama sekali.

Tapi ini dia akhirnya ch 7 udah Yuki selesaiin.

Mungkin gak bisa nepatin tentang FenrirXRemus di ch ini.. maaf ya..

Mungkin ch selanjutnya..

Terim kasih buat semua yang masih mau menunggu Fic ini…

Doumo Arigatou Gozaimasu..

Dan Yuki gak bisa lama lama ini.

Yuki nulis ch ini secepat Yuki bisa. Jadi mohon maaf jika banyak Typo ya.. hehehe…

Yuki juga belum bisa membalas Review semuanya.. maaf ya…

Akhir kata dari Yuki..

Terima kasih.. ^w^

Dan Mohon Reviewnya..