" Betrayal "

-=Sherry Dark Jewel Present=-

Disclaimer: "Harry Potter" milik J.K Rowling. Dan Tom milik Yuki Gak bisa diganggu gugat..#dihajar rame-rame

Author : Yuki

Rate : M (ganti Rate Yohoho..)

Pairing : TMR/HJP

Genre : Adventure/Romance (sebenarnya Yuki juga binggung.. ni cerita sebenarnya genrenya apa..heheheā€¦#innocent#)

Warning : OOC, AU, OC, MaleXMale, Slash, AD/RW/GW/HG/AW/MW Bashing. #Yuki harap ini tak masalah#

Summary : Saat hati telah terjatuh ke dalam kegelapan. Dalam dan semakin dalam hati itu terjatuh. Cahaya tak pernah lagi baik untuknya. Iapun pergi menuju keyamanan di dalam Gelap.

"Bicara"

'berpikir' / 'telepati Harry dengan Tom '

.:: Parseltongue ::.

'telepati Tom / suara Tom dipikiran Harry'

"Mantra"

Surat

.

Chapter 8

.

Asrama Laki-Laki tahun ke 6 di Slytherin

Draco masih penasaran dengan apa yang ia lihat beberapa hari yang lalu di kereta. Dia menyadari bahwa Harry Potter telah berubah, dia yakin itu. Tapi melihat kelakuan Harry saat hari pertama kelas di mulai, seperti tidak ada yang berubah. Ia masih seperti Harry Potter yang dulu, seorangan Pahlawan dunia sihir yang di kagumi. Tapi dia tak bisa menampik perasaannya. Di dalam hatinya ada yang berteriak mengatakan bahwa ada yang tidak beres tengah terjadi.

Dia mengulung lengan kirinya, menampakkan tanda kegelapan disana. Dia telah mencoba semua mantra penyamaran dan glamor untuk menutupi tanda itu. Tapi hasilnya nihil, tidak ada yang bisa menutupi tanda itu dari tangannya. Ia harus sangat berhati hati sekarang. Terutama dengan Dombledore.

Ditambah tugas yang dia dapat saat ini. Dia tenang karena dia tak sendirian saat melakukan tugas ini, Theodore ada untuk membantunya. Kutu buku pasti tengah di perpustakaan, Draco yakin itu. Tenggelam di antara buku-buku disana. Dia tak habis pikir mengapa dia sangat betah di antara aroma-aroma perkamen dan buku-buku lama disana, dia saja tidak bisa membayangkan hal itu.

Lamunanya terganggu akan adanya burung hantu yang mengetuk jendela kamarnya. Ia tahu sekali milik siapa burung hantu itu, itu milik ayahnya. Tapi, kenapa ayahnya mengiriminya pesan malam malam seperti.

Dear Draco

Ayah dan ibumu memiliki urusan di Paris Akhir pekan ini. Sebelum kami berangkat ayah ingin bertemu denganmu. Jangan sendiri, tapi ayah sedang tak ingin menatap muka Crabbe dan Grygory, mungkin Mr. Nott lebih baik. Di Three Broomsticks tengah hari kami menunggumu.

Your Dad.

'Tak sendirian hemm..' lalu Draco pun membakar surat itu. Agar tak ada yang atau apa yang diinginkan ayahnya. Pintu ruang itu terbuka dan muncullah Theodore membawa beberapa buku yang ia yakin Theo pinjam dari perpustakaan. "Theo.. bisa mememaniku ke Three Broomsticks saat kunjungan ke Hogsmate minggu ini?"

Theo terdiam sejenak, melihat ekspresi Draco yang serius ia pun mengangguk "Oke.." lalu berlalu menuju ranjangnya.

'Dia terlalu pendiam' pikir Draco. "Apa kau menemukan petunjuk?"

"Ya-"

.

Yuki Jeje

.

Menara Griffindore

Sudah mendekati tengah malam, Harry masih bertahan duduk di kusen jendela kamar asramahnya sambil melihat bulan yang terpampang cantik di langit. Semua teman asramahnya sudah tidur di tempat tidur mereka, dia bisa mendengar suara dengkuran Ron dan Seamus.

'Tom.. apa kau sudah tidur'

'Belum Love...'

'Apa yang sedang kau lakukan Tom?'

'Masih memeriksa laporan'

'Hemm...'

'Kenapa Harry?'

'Aku Merindukanmu..' Raut wajahnya sendu.. terpantul dikaca jendela di depannya.

'Aku juga merindukanmu Harry...' Harry bisa merasakan keresahan Tom.

Harry tersenyum 'Aku pasti kuat Tom.. aku akan berusaha agar rencana ini berjalan lancar'

'Aku percaya padamu Harry..'

'Rencanamu untuk Draco sepertinya akan sedikit terhambat'

'Bagaimana kau tahu itu Love?'

'Hanya firasatku saja'

'Begitukah? Tapi aku yakin rencana itu akan berhasil Love'

'Ya.. Semoga saya Tom'

'Sudah malam.. Tidurlah Sayang.. kau harus bangun pagi besok..'

'Baik.. kau juga Tom.. jangan terlalu memaksakan diri.. G'nite Tom' Harry berjalan ke ranjangnya dan membaringkan tubuhnya.

'G'nite too Harry..' Bisikan Tom di kepala Harry membantunya terlelap dalam tidurnya.

.

Yuki Jeje

.

Hutan dekat kawasan para Warewolf

Akhir pekan yang cerah untuk berjalan-jalan ke hutan. Remus menemani sembilan anak-anaknya-Remus sudah menganggap mereka anaknya sendiri-menjelajah Hutan, mereka ingin belajar tentang jenis jenis tanaman Ramuan. Remus tidak sendirian, selain bersama sembilan anaknya, dia ditemani dengan Fenrir-yang memaksa ikut karena khawatir-yang berjalan di belakang Remus mengawasi interaksinya dengan anak anak werewolf.

Remus melirik Fenrir, hanya melihat Fenrir yang memasang wajah datar. 'Hemm.. kita terlihat seperti keluarga, aku ibu dan Fenrir Ayah..' Remus langsung memalingkan wajahnya kedepan kembali, mengawasi anak anak yang tengah memetik tanaman. Mukanya memerah padam ' apa yang kupikirkan, shit..' warna merah di wajahnya tak kunjung menghilang.

"Remus.. Kau baik-baik saja? Wajahmu memerah" Fenrir yang melihat wajah merah Remus.

"Oh.. Eh.. I'm Oke.. Aku baik baik saja Fenrir, hanya disini cuacanya sedikit panas" Remus memalingkan wajahnya ke arah lain.

Alis Fenrir sedikit terangkat "Huh.. Remus disini bahkan tidak ada cahaya matahari yang bisa menembus masuk"

Remus terbelalak lalu dengan cepat menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya "Astaga..." dia salah tingkah. 'Memalukan sekali'

"..."

"Aku tidak apa apa Fenrir.. hanya lelah" Jawab Remus saat dia sudah bisa sedikit mengontrol wajahnya. Dengan memasang senyum termanisnya. " i'm fine.."

Fenrir mendekatinnya, dan menepuk pundak Remus. "Jangan memaksakan dirimu Remus..."

Remus membeku dengan wajah yang semakin memerah 'Sial.. jantungku...'

Mereka terdiam sejenak, tak ada yang ingin memulai pembicaraan. Hanya diam dengan tangan Fenrir yang masih di pundak Remus. Hingga..

"Remus... kami sudah memetik tanamannya.." kesembilan anak werewolf berlari dengan semangat menuju Remus dan Fenrir.

Fenrir langsung melepas tangannya dari pundak Remus.

" Paman Fenrir.. lihat yang kami petik...banyak kan..."

Fenrir berjongkok di depan Fiora "Gadis pintar.." mengusap sayang kepala Fiora.

"Kami juga paman.. " sahut para werewolf kecil.

"Iya iya.. Kalian juga.." Fenrir kembali berdiri, Menangkap pandangan Remus yang dengan serius menetapnya. "Ayo kembali ke kawanan.."

.

Yuki Jeje

.

Hogsmaede

Draco mendorong pelan pintu masuk Three broomsticks dia bisa melihat ayahnya tengah duduk bersama ibunya di sudut terdalam Toko itu, mungkin tak ingin terlalu mengundang perhatian orang. Mereka berdua mendekati tempat Lord dan Lady Malfoy berdiri.

"Ayah.."

"Lord Malfoy.. senang bertemu dengan anda.." Theo menjabat tangan Lucius dengan mantap.

"Bagaimana kabar kalian?" Tanya sang Lady Malfoy.

"Kami baik Ibu.. benarkan Theo" Jawab Draco diikuti anggukan singkat Theo menyetujui.

"Duduklah.." Draco dan Theo menyamankan diri didepan sang Lord Malfoy. "Apa sudah ada perkembangan untuk tugas kalian?"

"Kami masih mencari lebih banyak petunjuk lagi ayah"

"Baiklah. Ingat jangan sampai gagal dalam tugas pertama kalian."

"Baik ayah" Jawab Draco pada sang ayah. Theo memang jarang berbicara, ia berbicara hanya seperlunya saja.

"Aku dan ibumu akan pergi ke Paris untuk urusan bisnis. sebelum kepergian kami ke Paris, aku kemari ingin menyampaikan pesan untuk kalian" Lord Malfoy memberikan sebuah surat kepada Draco dan Theo. "Rahasiakan hal ini, dan ingat kalian harus selalu waspada kepada Dumbledore aku tidak ingin sampai kalian terkena legilimency Kakek tua itu"

"Kami akan berhati hati ayah" memberikan surat itu pada Theo, dan menyembunyikannya.

Lucius dan Narcissa berdiri dari duduk mereka "Baiklah.. kami akan berangkat sekarang.."

Draco dan Theo ikut berdiri "Hati hati ayah.. ibu.."

Lucius dan Narcissa berjalan keluar dari Three broomsticks. Tapi tak disangka di pintu masuk mereka berdua berpapasan dengan kelompok Golden Boys Dumbledore.

.

Yuki Jeje

.

Harmione memandang curiga "Aku yakin mereka memiliki rencana jahat" Memicingkan matanya ke arah ujung Three broomsticks tempat Draco dan Theodore berbincang.

"Aku setuju.. bagaimana dengan mu Mate?" Tanya Ron pada Harry tang duduk disampingnya.

"Bisa saja itu terjadi, tapi kita harus mempunyai bukti dahulu. Tidak bisa asal menuduh kan.." Jawab Harry santai.

"Coba apa yang mereka lakukan disini jika bukan untuk merencanakan sesuatu yang buruk? Mereka Deat-" Mulut Ron dibekap oleh Harry.

"jangan menarik perhatian Ron, meski semua orang telah menerima jika Voldemort kembali. Kita tidak bisa membuat orang orang disini panik, apalagi membuat Malfoy curiga kita memata matai dia"

"Maaf Mate.. tapikan mereka.. kau tau apa" Ron mengecilkan suaranya.

"Kita harus terus mengawasi Malfoy" Harmione bersuara "Benar kata Harry kita tidak bisa terang terangan curiga, itu akan membuat Malfoy semakin waspada dan kita tidak akan tahu apa yang sedang dia rencanakan"

Ketiga Griffindore itu melirik Draco dan Theodore berjalan keluar dari Three Broomsticks. "Malfoy harus diawasi"

.

Yuki Jeje

.

Remus tengah menikmati sesi membacanya di dalam kamarnya.. api di perapian menyalak menghangatkan ruangan itu. Meskipun aslinya itu tidak begitu berguna untuk menghangatkan tubuhnya, karena werewolf tidak membutuhkan hal itu, mereka tidak merasa kedinginan ataupun kepanasan hanya dengan cuaca seperti saat ini, cuaca musim gugur. Rasa dingin hanya akan dirasakan saat musim dingin mulai datang.

Dengan sebuah buku tentang sejarah werewolf yang dia pinjam dari fenrir, Remus dengan damai menikmati apa yangia lakukan saat ini. Dia merasa mulai menerima semua hal yang terjadi, terutama tentang dia yang bersedia menjadi beta Fenrir, yang artinya dia akan terjebak selamanya dengan pria yang Remus benci itu, kecuali Remus mati atau Fenrir melepas status Remus sebagai Beta sang Alfa kawanan Werewolf itu.

Sejenak memandang Perapian 'Harry.. Bagaimana kabarmu sekarang. Jika kejadian musim panas kemarin tidak terjadi, pasti kau sudah ama di Hogwards'

Kriyettt...

"Fenrir.. ada yang kau perlukan?" tanya Remus mengalikan pandangannya dari buku buku tebal yang tengah ia baca.

"Remus.. aku ingin berbicara denganmu."

Remus memutup bukunya dan meletakkannya di meja yang ada di depannya. "Duduklah Fenrir, aku akan siapkan sesuatu untukmu? Keberatan dengan kopi?" Tanya Remus lalu berjalan ke meja di ujung kamar, berniat membuatkan sesuatu untuk Fenrir.

"Asal tidak manis" Jawab Fenrir. Alfa itu menyamankan dirinya di sofa yang bersebrangan dengan Remus duduk tadi.

Beberapa saat dengan keheningan, Remus kembali ke hadapan Fenrir dengan dua gelas kopi di tangannya. Setelah meletakkan kopi Fenrir dan dirinya. Remus menyamankan dirinya kembali di sofa yang tad dia duduki.

"Apa yang ingin kau bicarakan Fenrir?"

"Aku ingin memberikan berita tentang Harry Potter" Aku Fenrir sambil menyesap kopinya dengan tenang.

Remus membeku "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.." ucap Remus lirih.

"Aku tau kau nekat kemari, bergabung dengan kawanan bahkan menerima tanda kegelapan hanya untuk mencari Harry Potter kan?" Remus semakin membeku

"Bagaimana kau tau?" Muka Remus pucat pasi sekarang.

"Aku tidak menyalahkanmu dengan ambisimu itu" Fenrir meletakkan kopinya dan memandang Remus dengan Serius. "Kau terlalu gegabah dengan keputusanmu Remus, bahkan sejauh ini kau belum mendapat satu pun info tentang keberadaan Harry Potter kan?"

Remus menundukkan kepalanya, penyesalan tergambar jelas dimatanya "Bagaimana kabar Harry Fenrir? Bolehkah aku tau?"

"Dia selamat."

Remus memandang Fenrir tidak percaya "Maafkan aku.. apa maksudmu?"

"Dia telah selamat, telah kembali ke sisi cahaya."

Senyuman terukir tulus di wajah Remus. Dia lega mendengar berita itu "Syukurlah.."

"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang Remus?" Fenrir memecahkan kesenangan Remus dengan pertanyaan itu. "Sekarang hanya kau saja yang terjebak dengan di sisi dark"

"Aku.." jawab Remus ragu.

"kau tidak bisa kembali kesana Remus. Kau sudah berjanji pada Fiore, berjanji untuk tidak pergi dari kawanan ini. Apa kau akan menginkari janjimu itu?" tanya sang Alfa serius.

"Aku.. aku tidak akan mengingkari janjimu itu, aku sudah berjanji bukan?" Jawab Remus tersenyum sedih. Remus memandang lengan kirinya, tempat tanda kegelapan terukir dengan jelas. "Ya.. aku tidak akan pergi. Bukankah aku sudah tidak bisa pergi lagi Fenrir? Cahaya tidak akan bisa percaya lagi padaku, tidak hanya diriku sebagai werewolf, sekarang aku juga membawa tanda ini bersamaku. Aku tidak akan diterima oleh mereka" aku Remus. Senyumnya menyakitkan untuk dilihat.

Fenrir berdiri dari duduknya berniat untuk memegang kepala Remus tapi sebelum tangan itu menyentuh helai rambut Remus, Fenrir langsung menarik tangannya. "Fenrir.." Remus memandang Fenrir kaget.

Fenrir mengalihkan pandangannya "Aku juga tidak akan mengizinkanmu untuk pergi Remus. Kau Betaku, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sisiku. Sudah terlalu lama kau lari dari takdirmu sebagai Betaku, sekarang kau sudah disini. Tak akan kubiarkan kau pergi lagi Remus" Fenrir memandang Remus, ingin melihat reaksi Remus.

"Aku tidak akan pergi Fenrir, dari kawanan ataupun dari dirimu." Remus ikut berdiri menghadap Fenrir "Keputusanku untuk datang kemari artinya aku siap untuk mengambil takdirku. Aku menyerahkan diriku untuk kawaan, karena aku tahu konsekuensi dari apa yang aku lakukan."

"Aku senang mendengarnya. Takdirmu telah terikat bersamaku. Dan sekarang kau juga bagian dari dark. Apa kau berani untuk melawan Harry Potter? Sekarang kalian telah berbeda sisi"

Remus kembali terdiam, "A-aku.. aku berniat untuk netral Fenrir, aku ingin melindungi kawanan ini. Aku ingin untuk tidak terlibat dengan perang lagi." Aku Remus.

"Kau terlalu egois Remus, kau menerima tanda itu artinya mau tidak mau kau harus berjuang untuk dark." Fenrir berjalan mendekati jendela kamar itu memandang bulan yang berlihat seperti tengah mengejek mereka. "Tapi.. aku bisa membantumu agar tetap tidak tersentuh pangeran kegelapan"

"..."

"Kau bisa tetap netral Remus, hingga dimana kau memutuskan sendiri dimana sisi mu dalam perang ini. Tapi aku tidak akan membiarkan kau kembali ke Cahaya"

"Tapi bagaimana caranya kau mengahadapi pangeran kegelapan?"

Fenrir memandang tempat Remus berdiri. Dimata Remus saat ini, Fenrir terlihat menakjubkan di bawa sinar bulan yang menjadi latar belakang dia berdiri "itu urusanku, tapi aku bisa membuktikan bahwa aku pasti bisa menyelamatkanmu dari Pangeran Kegelapan." Fenrir berjalan mendekati Remus, memegang pipi kiri Remus "Akan kulakukan itu, Pasti. Asal kau berjanji tidak akan meninggalkanku Remus."

"Aku milikmu sekarang" Fenrir membelai pipi Remus dengan lembut.

"Itu memang takdirmu Remus. Istirahatlah.." Fenrir berjalan keluar dari kamar Remus. "Jika kau ingin sesuatu, kau hanya perlu memintanya padaku" Pintu kamar itu tertututp pelan.

Remus jatuh terduduk disofa "Harry.. syukurlah.. syukurlahh.." kesunyian malam itu menyamarkan isak tangis Remus.

.

Yuki Jeje

.

TBC

Yuki's Note

Long time not see you all..

Maaf maaf maaf semua..

Terlalu lama saya Hiatus tanpa pamit..#maafkandakukawan

Karena urusan pekerjaan dan kuliah yang bikin pusing kepala tuju keliling.. dan laptop yang rusak data hilang.. OMG cobaan sekali hidup ini *Fyuhhhh #lap_keringat

Finally.. I'm Back

I will you love this chapter..

Terima kasih buat yang masih mau nunggu Fic yuki yang satu ini..

Tapi Yuki takut kalau tulisan yuki chapter ini bikin banyak yang gak suka.

Dah lama sekali Yuki gak nyentuh fanfiction.

Jadi bener bener Tolong Yuki buat beri kesan dan kesan buat chapter ini..

Memang gak panjang Chapternya.

Tapi Yuki bener-bener butuh saran kalain..

Jadi

Jangan Lupa

Review ya..

Terima kasih semua

Arigatou Gozaimasu...

Yuki Jeje