Wanita

2

Disclaimer ©Masashi Kishimoto

Story©NadyaA

Rated: T mungkin? *digeplak

Genre: Nggak tau -''

Warning: Alur berantakan, Alur (super) kecepetan, Nggak nyambung, OOC, Garing -,- ,Misstypo(s), Dan banyak kesalahan lainnya ! ^^

DLDR! and RnR?

Happy Reading Minna!

Arigatou ~(^,^)~

Wanita itu….

.

.

.

Minato Namikaze kembali memijat keningnya. Kepalanya terasa pening. Persoalan desa-baik internal ataupun external- kian hari kian bertambah. Hokage muda itu kini tengah sibuk bergelut dengan tumpukan dokumen-dokumen di meja kerjanya. Tangannya yang sedari tadi sibuk mengurus dokumen yang ada, kini berpindah ke keningnya. Ia melirik jam di sudut ruangan, lalu menghela napas perlahan. Sepertinya malam ini pun, ia harus pulang larut lagi. Meninggalkan sang istri yang 3 bulan lagi akan melahirkan. Kebiasaan sang istri yang selalu menunggunya sampai di rumah sukses membuat laki-laki berambut kuning itu diselimuti kekhawatiran. Ia tak mau kalau-kalau istri berambut merahnya itu sampai sakit hanya karena dirinya-pekerjaannya.

Tak mau membuang waktu lebih lama lagi, Minato memutuskan untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Sehingga dirinya bisa segera pulang dan bertemu dengan istrinya-Kushina, dan juga calon anaknya-Naruto. Dan sesuai julukan yang diberikan padanya, Minato menyelesaikan tugasnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, 17 Agustus 1945, atas nama –stop! Ngelantur deng*dilemparkaleng

.

.

.

Wanita itu…, umm….

.

.

.

21.00

Minato mempercepat langkahnya menuju kediaman keluarganya. Ini sudah hampir larut, dan seharusnya Kushina sudah tidur. Seharusnya.

Tapi, yang namanya Kushina itu tak pernah pergi tidur mendahuluinya. Selalu menunggunya, dan menyambutnya ketika ia sampai di rumah. Belakangan ini dirinya semakin sibuk. Hanya bisa bertemu Kushina di pagi hari-ketika sarapan- atau malam hari –sepulang kerja.

Langkahnya terhenti ketika iris biru langitnya menangkap sesosok wanita berambut merah tengah duduk di teras rumahnya. Duduk menopang dagu dengan tatapan menerawang. Iris violetnya menatap bintang di langit sana. Wajahnya tampak tenang, bibir tipisnya membentuk segaris lengkung tipis. Meski begitu, tersirat kesenduan di dalamnya. Tangannya yang sebelah lagi mengelus perlahan perutnya yang sudah membuncit.

''Kushina!'' Minato berteriak lantang. Wanita di seberang sana tersentak. Dengan segera, ia bangkit dari duduknya. Agak kesulitan, memang. Dan ia nyaris saja terjatuh kalau saja Minato tak segera menopang tubuhnya.

''Pelan-pelan saja, Kushina. Nanti kalau kamu terjatuh, bagaimana?''

Dan Kushina hanya tersenyum.

''Apa Naruto baik-baik saja?''

Tersenyum.

.

.

.

Dan menunduk.

''Kushina?''

Tetap menunduk.

.

.

.

Menyadari kejanggalan yang sedang terjadi, Minato mengangkat dagu Kushina. Memaksa agar istrinya itu menatapnya. Dan ketika kedua iris itu bertemu, yang ditemukan Minato adalah wajah dengan senyuman.

''Kau kenapa?'' Minato menarik Kushina ke dalam pelukannya. Tapi sebelum Kushina jatuh dalam dekapannya, tangan istrinya itu lebih dulu menahannya. Dan menjauhkan diri dengan perlahan.

Lantas ia mengangkat kepalanya dan menatap iris Minato dalam-dalam.

''Aku baik-baik saja,''

Minato mengerutkan alis.

''Tapi—''

''Aku baik-baik saja, Minato. Segeralah mandi, aku sudah menyiapkan makan malam untukmu,''

Sejenak, Minato menatap istrinya sungguh-sungguh. Sejurus kemudian, Ia menghela napas.

''Baiklah,''

Dan Minato masuk ke dalam rumahnya dengan Kushina di gandengannya.

.

.

.

Kushina tengah membereskan meja makan ketika dirasa seseorang menepuk bahunya perlahan. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati durian kesayangannya itu tengah menatap khawatir ke arahnya. Tak ingin membuat suaminya khawatir, Kushina memberinya seulas senyum.

Manis, seperti biasanya.

Ia tahu suaminya itu pasti merasa lelah setelah bekerja seharian. Diselesaikannya pekerjaannya lalu diraihnya tangan sang suami . Diseretnya laki-laki yang tengah kebingungan ke arah kamar. Lantas, Kushina membaringkan Minato di kasur dan membeberkan selimut di atasnya. Kushina kembali tersenyum. Lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Minato.

''Tidurlah, kau pasti kelelahan, Minato,''

''Tapi—''

''Aku baik-baik saja…, Tidurlah, kau terlalu lelah. Besok kau masih harus—'

Kushina menggantung perkataannya.

''—bekerja…,''

''Tapi kondisimu juga harus dijaga..,''

''Aku juga akan tidur, kok. Nah, sekarang tidurlah,''

Kushina mengusap perlahan rambut Minato, lalu memberinya kecupan selamat malam di keningnya. Tak lupa, senyuman juga kembali ia berikan.

.

.

.

Wanita itu, pengertian..

.

.

.

Minato tersenyum. Ia benar-benar bahagia . Dikecupnya balik dahi Kushina, lalu menariknya ke dalam rengkuhannya. Tentu saja,dengan perlahan. Ia tak mau melukai anaknya.

Dan malam itu, Minato benar-benar tertidur dengan damai. Rasa lelah yang sedari tadi mendera tubuhnya hilang begitu saja. Semua karena Kushina. Senyumnya, sentuhannya, perhatiannya, serta pengertiannya. Wanita yang telah mendampinginya ini benar-benar hebat. Wanita yang selalu mampu memberinya kehangatan. Dan juga mewarnai hidupnya.

Yondaime hokage itu tidur dengan hati yang bahagia. Tanpa tahu ada sebersit rasa gundah yang kini tengah melanda hati istri tercintanya.

.

.

.

Minato tengah bersiap untuk berangkat pagi itu. Ketika Kushina datang dan menepuk bahunya perlahan.

''Nanti malam jangan pulang terlalu malam, ya..,''

Iris violet milik istrinya itu memancarkan kebahagiaan.

''Ada sesuatu yang ingin kurayakan denganmu,''

Minato tersenyum simpul.

''Akan kuusahakan,''

Kushina mengangguk senang. Minato memakai sandal ninjanya.

.

.

Sejurus kemudian ia menolehkan kepala kepada istrinya.

''Ada apa memangnya?''

Lantas senyuman di wajah Kushina memudar. Tapi segera kembali menyadari situasi yang ada.

''Ah…., kau tidak ingat?''

Ada sebersit kekecewaan di wajah Kushina.

Sial…

Minato benar-benar tidak ingat.

Ia benar-benar tidak ingat.

Sungguh.

Tapi melihat perubahan wajah Kushina, Ia yakin benar ada suatu hal penting bagi Kushina yang telah ia lupakan. Pekerjaan yang menumpuk telah membuat otaknya benar-benar kacau.

Kacau-balau.

''Ah…, sudahlah, kau sudah hampir terlambat,''

Perkataan Kushina memecahkan pikiran Minato. Lalu ia melirik jam di atas rak sepatu.

''Hm.., kau benar. Hari ini aku ada rapat penting dengan petinggi desa. ,''

''Berhati-hatilah,''

''Ya…,''

Minato mengecup puncak kepala Kushina dan mulai berjalan meninggalkan rumah. Kushina menatap punggung suaminya lalu menghela napas.

''Mungkin ia sedang lelah…..,''

.

.

.

Tapi….

.

.

.

Larut lagi, sepertinya. Rapat rahasia dengan petinggi desa telah memakan banyak waktu—

.

.

'—Dan menghasilkan pekerjaan baru, tentunya.

.

.

Minato kembali menghela napas untuk yang keseratus kalinya. Ia tak bisa menepati janjinya, sepertinya. Mungkin akan sedikit larut. Yang masih terpikir olehnya adalah, apa yang sebenarnya direncanakan oleh Kushina?. Apakah sesuatu yang istimewa?.

Sapphirenya bergulir tak menentu. Dan seperti dituntun oleh Kami-sama, pandangannya berhenti pada kalender di ujung mejanya. Dan matanya membulat seketika.

Hari ini, 10 Juli.

Merupakan kesalahan besar kalau ia sampai melupakan hari sepenting ini.

Hari ulang tahun istrinya.

.

.

.

Tersenyum lagi. Untuk yang ke lima puluh kalinya.

Kushina mencoba tersenyum.

Menatap hidangan yang sudah ia siapkan dengan susah payah, kini mulai mendingin.

Sudah 2 jam lewat waktu makan malam. Minato mungkin benar-benar sibuk…..

Kushina mencoba mengerti.

Tapi tetap saja, semengerti apapun, kesabaran Kushina tetap ada batasnya.

Ia menunduk, menatap perutnya dalam diam.

''Ayahmu benar-benar sibuk,ya….,''

Kushina berbicara pada Naruto-yang ada di perutnya.

''Mungkin aku hanya mengganggu pekerjaannya kalau begini caranya,''

Iris violetnya kembali bergulir menatap makanan di meja. Yakiniku, sup miso, ramen, kare, ocha hangat…..

Menghela napas, wanita berjuluk Habanero itu kembali mengusap perutnya lembut.

''Tapi tetap saja…,''

Ia menggigit bibir bawahnya. Menahan diri akan perasaannya yang terus meluap.

''Tetap saja aku merasa kesepian,''

Menutup matanya rapat-rapat.

''Dan menyedihkan,''

Kuharap, aku bisa lebih bersabar lagi….

Mungkin ia memang sedang sibuk.

Tapi aku juga punya perasaan.

Rasanya…

Sakit.

.

.

.

Ia juga butuh dimengerti

.

.

.

Minato membuka pintu rumahnya . Cepat-cepat ia melangkah menuju ruang makan.

''Kushina?''

Dan yang ia temukan adalah istrinya yang sedang duduk diam di depan makanan yang sudah mendingin.

''Maaf, aku—'

''Tak perlu meminta maaf,''

Kushina berucap pelan.

Minato terkesiap.

''Ada ap—''

''Aku sudah terbiasa,''

''…''

Menghela napas perlahan dan melanjutkan perkataannya.

''Aku sudah terbiasa seperti ini,''

''…''

''Setiap tahunnya memang selalu seperti ini,''

''…''

''Semenjak kau menjadi hokage, kau menjadi jauh lebih sibuk,''

Kushina menggigit bibirnya keras-keras.

''Terkadang aku merasa sepi dan dilupakan,''

Kali ini lebih keras lagi. Bahkan sampai berdarah.

''Aku mencoba mengerti…., tapi—''

Kushina memejamkan matanya rapat-rapat. Menahan luapan perasaannya.

''Tapi tetap saja aku merasa sakit,''

Minato tertegun. Sekejam itukah dirinya?.

''Aku bahkan merasa kau jauh lebih menyayangi pekerjaanmu ketimbang aku,''

''Karena itulah, aku—''

''Aku tak berani mengganggumu lebih jauh lagi,''

Minato menelan ludah.

Sial.

Ia benar-benar merasa bersalah sekarang.

''Aku sudah mencoba untuk berpikiran positif. Kupikir, kau hanya kelelahan dan kesulitan mengatur waktu. Dan aku mulai bisa untuk memahami,''

''Tapi yang masih tak bisa kupahami sampai sekarang adalah, kau bahkan sampai melupakan—''

Kali ini Kushina yang menelan ludahnya dengan susah payah.

''Melupakan hari ulang tahunku. Bahkan karena pekerjaanmu pun, di hari ulang tahunku, kau bahkan—bahkan—'

Dan Kushina tak sanggup meneruskan perkataannya lagi. Perasaan yang selama ini ia pendam membludak saat itu juga. Dan ini pertama kalinya ia kembali menangis semenjak insiden ''Penjambakan Rambut Merah'' ketika ia di akademi dulu terjadi.

Minato berjalan mendekat. Lalu memeluk Kushina erat-erat.

''Maafkan aku…''

''…''

''Sungguh maafkan aku…,''

''…''

''Aku benar-benar tak menyadari kalau-kalau diriku sampai sekejam itu,''

''…''

''Aku benar-benar merasa bersalah,''

''…''

''Jangan menangis lagi, Kushina,''

Minato menghapus air mata yang mengalir di kedua belah pipi Kushina.

''Aku selalu menyayangimu, mencintaimu, selamanya,''

''Dan aku merasa menjadi laki-laki yang paling tak berguna kalau sampai membuatmu atau melihatmu menangis,''

''…''

''Jadi, kumohon jangan menangis,''

Minato merengkuh Kushina semakin erat dan mendaratkan kecupan hangat di puncak kepalanya.

''Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu berhenti menangis—''

''—Dan kembali tersenyum untukku?''

Kushina tersenyum—tentu saja di dalam pelukan Minato, tanpa terlihat oleh Minato. Ia benar-benar lega. Sungguh lega. Bagaimanapun, ia tetap menyayangi dan mencintai Minato.

Tapi yang namanya Kushina, tetap saja masih merasa sedikit dongkol—akibat ulah Minato di hari ulang tahunnya. Menjadi moodbreaker sekaligus moodboster sekaligus dalam sehari tentu tidak lucu.

Dan otak jahilnya mulai bekerja. Hitung-hitung balas dendam, hoho…

Kushina mengangkat kepalanya lalu menyeringai ke arah Minato.

.

.

GLEK!

Minato merasakan firasat buruk.

Sepertinya dompetnya akan mengempis lagi kali ini.

''Baiklah, aku akan berhenti menangis dan tersenyum lagi. Asalkan—''

Minato tertawa canggung.

''Karena makanannya sudah dingin, jadi—''

Oh, Kami-sama!

''—Aku ingin makan sampai puas di kedai ramen, Minato-kun!,''

Kushina menunjukkan senyuman manis mautnya.

''Dan semuanya kau yang bayar,''

Dan Minato tak bisa berkutik lagi.

Sesuai dugaannya.

Mentraktir Kushina makan di kedai ramen, berarti tidak ada uang jajan untuk satu bulan.

Tapi karena tak tega mengecewakan istrinya-lagi- di hari ulang tahunnya, Minato tersenyum simpul—

''Baiklah,''

-Dan mengecup dahi Kushina.

Kushina menyeringai puas.

''Ariga—'

''Tapi…''

Perkataan Kushina terpotong oleh Minato.

Lantas Minato menyeringai –ini pertanda buruk.

Lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Kushina dan berbisik jahil.

''Kau harus cabut hukuman yang kau berikan padaku minggu lalu,''

Senyuman Kushina menghilang.

Berganti dengan seringaian sinis.

.

.

.

''Tidak akan!''

Lalu Habanero mode on

.

.

.

Dan—

.

.

.

Malam itu dihiasi bintang, ditambah sosok kuning yang terpental bebas di angkasa.

.

.

.

Dan sepertinya, Minato, kau harus istirahat dulu di rumah sakit untuk besok, eh?

Setidaknya libur sejenak dari pekerjaanmu dan menghabiskan waktu bersama istri tercintamu, kan?

Bagaimana, hm?!

Kau harus berterima kasih padaku, khukhukhu…

.

.

.

Wanita itu perhatian.

Tapi juga butuh untuk diperhatikan.

OWARI

Hai! Ketemu lagi! (^,^)/

Nih, kubuat lanjutannya *nggak ada yang minta -_-

Fic ini gak ada humornya ya?! Garing banget. Plus nggak nyambung juga *duengg

Nggak pake plot lagi,hohoh. Males buatnya -''

Jadi semacam mendayu-dayu begitu *apaan tuh?!

Maaf deh, kalau chapter ini jadi jelek. *ngangguk-ngangguk

Abisnya, feel lagi jelek .

Fic ini kutulis sambil meringkuk-?- di pojokan kelas. Sebab tempat duduknya dapet di pojokan. Nah, feelnya jadi iku mojok, deh *alasan .-.

Maklum, masih remaja. Jadinya labil, *dilempar

Kali ini, aku muter-muter satu kelas untuk nanyain bagaimana wanita itu.

Dan fic Wanita ini, di setiap chapternya, adalah inspirasi yang kudapatkan dari teman-teman cewek di kelasku.

Kecuali untuk chapter awal, itu emang akunya aja yang error makanya jadi sesat begitu -,-

Ada sekitar 20 pendapat mereka tentang perempuan. Tapi nggak kupakai semuanya.

BTW, aku minta pendapat para readers tentang wanita dong, barangkali bisa kujadikan inspirasi ^^

Oh iya, terima kasih untuk para pembaca dan reviewers yang sudah baca dan review fic-fic buatanku yang masih jauh dari kata sempurna.

Sebelumnya maaf kalau sampai sekarang belum bisa memuaskan. Tapi aku bakal belajar kok, hoho. Tenang saja… :P

Review anda membangun semangat saya *eh, slogan baru?!

Terimakasih minna ~(^.^)~

And the last, Review please?

Flame juga dipersilahkan dan diterima dengan senang-?- hati ._.

Arigatou ! ^,^

20 Sepetember 2013

NadyaA