Wanita

Special Chapter: Happy Mother's Day!

Uchiha Family Story

Disclaimer©Masashi Kishimoto

Story©Akai Kiiroi

Fugaku U, Mikoto U, Itachi U, Sasuke U

Warning: Gaje, OOC, pendek,gaknyambung, pendek, dan lainnya

Happy Reading~

.

.

Besok tanggal 22 Desember adalah hari Ibu

Itachi tampak menopang dagu sembari mengingat kata-kata Shisui kemarin sore. Bibirnya tampak mengerucut dengan kening berkerut. Kaki kecilnya tampak diayunkan asal, berbaring telungkup memandangi tembok kamar.

''Itachi, ayo turun! Sarapan sudah siap, nak!''

Ah, itu suara ibunya. Bagaimana? Apa yang harus ia lakukan?

''Hai, Kaa-san! Aku turun!'' Bocah kecil itu memilih untuk melupakan masalahnya sejenak dan memilih untuk menuruti kata-kata ibunya. Segera saja, ia berlari turun menuju ruang makan.

''Ohayou,'' Ia berujar sopan sebelum mendudukkan diri di kursinya. Tepat di sebelah ayahnya, dan di seberang ibunya. Fugaku, tanpa mengalihkan perhatian dari Koran, hanya bergumam ambigu seperti biasa, ''Hn,''

''Ohayou, Itachi. Ini sarapanmu,'' Mikoto Uchiha, ibu tersayang dari Itachi dan Istri tercinta dari Fugaku, muncul dari dapur dengan sepiring nasi goreng di tangannya. Ia tersenyum lembut, mengecup kening Itachi pelan sebelum meletakkan sepiring nasi goreng hangat di hadapan Itachi. Lalu beranjak kembali ke dapur.

Fugaku tampak mengangkat wajahnya dari Koran, lalu dengan cueknya menarik piring nasi goreng milik Itachi yang baru saja berniat menyendoknya. Pemimpin klan itu tampak mengambil sesendok, memakannya, lalu mengembalikan piring itu ke hadapan putra sulungnya yang masih bengong.

''Ayah minta punyaku?" Itachi mengangkat alis heran sembari menatap ayahnya yang kembali asyik membaca Koran.

''Hn,'' ambigu. Tidak jelas. Membingungkan.

''Kenapa tidak bilang dulu?'' Mata onyx polos nan lebar itu menatap ayahnya lekat-lekat.

''Ayah minta,'' Fugaku berujar datar. Benar-benar, mana ada orang meminta izin setelah memakan barangnya? Terlambat sekali respon orang ini.

Itachi semakin kebingungan, ia menatap ayahnya bingung sebelum mengendikkan bahu. Memilih melanjutkan sarapan lezatnya yang sempat tertunda.

.

.

''Haaah…,''

Siang yang terik ketika dua bocah beda umur terduduk bosan di pelataran rumah pemimpin klan Uchiha. Satu Itachi, yang satu lagi sahabat yang dianggap kakak olehnya, Uchiha Shisui.

''Apa yang mau kau lakukan hari ini, Tachi?'' Shisui memandang sahabat—sekaligus adik seklan—nya itu dengan pandangan bertanya. Lama-lama tak enak juga melihat wajah Itachi yang tampak murung seharian.

''Aku tidak tahu,'' ia menjawab lesu.

Shisui hanya tertawa kecil mendengarnya, sementara Itachi malah cemberut mengetahui kakaknya itu tega menertawakan dirinya ketika ia menderita seperti ini.

''Berikan saja hadiah, Tachi..,''

''Berhenti memanggilku seperti itu!'' Ia mendengus. ''Aku tidak ada uang untuk membeli hadiah, sudah kupakai untuk membeli beberapa peralatan yang rusak kemarin,'' bocah itu menunduk sedih. ''Sisa uang yang kumiliki tidak cukup untuk membeli barang-barang yang bagus di toko-toko Konoha,''

Shisui menghela napas pelan, ia menggeser posisi duduknya mendekat ke Itachi. Ia menepuk pelan kepala sang adik yang kini tengah memeluk lutut dengan bibir yang kian mengerucut itu.

''Hadiah untuk ibu tidak harus barang-barang yang bagus,'' Shisui berujar . ''Tidak harus hadiah mahal yang mebutuhkan banyak uang,''

Itachi memandang Shisui keheranan. ''Nanti ibu tidak senang, aku ingin membuat ibu senang di hari special ini,'' suaranya parau, jari mungilnya mulai memainkan kelopak Sakura yang mendarat perlahan di lantai kayu pelataran rumahnya.

Tak lama kekehan kecil keluar dari mulut Shisui.

''Ibu akan selalu senang kalau anaknya memberikan hal-hal yang baik untuknya,'' setelah itu ia bangkit berdiri. Itachi tampak membuka mulutnya ingin protes, tetapi ia urungkan ketika melihat Shisui yang melemparkan senyum hangat padanya.

''Kau temukan saja sendiri hadiah yang cocok, semoga berhasil, Tachi!'' laki-laki yang tak kalah tampan dengan anggota Uchiha lain itu segera berlari menjauh sebelum kena semprot pemilik bibir yang semakin mengerucut saat itu.

''BERHENTI MEMANGGILKU SEPERTI ITU! ''

Bisa terdengar jelas tawa puas Shisui dari kejauhan sana. Itachi hanya mendengus sebelum berjalan tenang keluar rumah. Pergi ke suatu tempat, mencari hadiah yang kiranya bisa ia beli dengan sisa uang yang ia miliki.

.

.

.

Mikoto Uchiha menghentikan acara cuci piringnya ketika merasakan sepasang tangan mungil menyentuh punggungnya. Ia menolehkan kepalanya dan tersenyum lembut ketika mendapati malaikat sulungnya tengah memandangnya polos di sana.

''Ada apa, Itachi?'' wanita itu mengelap tangannya yang basah ke celemek yang ia pakai, lalu berjongkok menyejajarkan tingginya dengan sang putra. Menatap langsung sepasang iris obsidian di hadapannya.

''Ibu, ada yang bisa kubantu?''

Mikoto menaikkan sebelah alisnya. Ada apa dengan anaknya? Tidak biasanya malaikat kecilnya itu bersikap seperti ini. Tetapi ia memilih tak menghiraukan itu semua, ia cukup senang diperlakukan seperti ini.

''Itachi tidak mengerjakan PR dari sensei?'' Mikoto menatap sayang anaknya itu, mengusap pelan kepala belakang Itachi yang sampai saat ini masih tetap menatapnya. ''Aku sudah mengerjakan semuanya, ibu,'' anak laki-laki itu menjawab tenang.

''Baiklah, kurasa mengelap meja makan cukup membantu,''

Itachi menatap ibunya dengan pandangan berbinar, setelah itu ia mengangguk cepat sebelum melesat pergi mengambil kain basah untuk dijadikan lap—membersihkan meja makan.

Mikoto hanya geleng-geleng kepala melihatnya. ''Benar-benar Malaikat..,'' Ia tersenyum, melanjutkan acara cuci piring yang sempat tertunda.

Tak berapa lama Itachi kembali, ''Ibu, biar sekalian aku menyapu halaman dan rumah ya, kalau ada yang kurang, katakan padaku,'' Mikoto hanya mengangguk sembari tersenyum. ''Jangan dipaksakan, kau tidak boleh terlalu lelah, sayang,''

Itachi mengangguk, tersenyum tulus. Lalu melesat, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah yang ia tawarkan kepada sang ibu.

.

.

.

''Itachi? Bangun sayang…, jangan tidur di sini, nanti kamu masuk angin..,''

Samar-samar suara lembut yang telah ia kenal masuk ke dalam indera pendengaran Itachi. Bocah itu tampak membuka matanya pelan dan mengerjap beberapa kali. Merasakan beberapa bagian tubuh yang terasa sakit dan kaku. Jam berapa sekarang? Diliriknya jam dinding yang menempel tak jauh dari tempatnya duduk.

19:00

Sudah malam rupanya, ia bisa melihat sang ibu yang berjongkok di sebelahnya tersenyum hangat. ''Kau terlalu lelah ya, sampai tertidur di lantai begini…,''

Itachi membelalakkan matanya. Menyadari sesuatu yang telah terlupakan. Ah! Ya!

Ia sedang menyapu rumah dan tertidur begitu saja dilantai.

Dengan panik ia bangun, berdiri dan mencari-cari sapu yang ia yakini tergeletak di sampingnya. Mikoto yang melihatnya berjengit kaget dan memandang khawatir kepada sang putra.

''Ada apa, Itachi?''

Itachi berhenti mencari dan menatap ibunya dengan tatapan bingung. ''Ibu mana sapunya? Aku belum menyelesaikan pekerjaanku,''

Mikoto tersenyum dan menarik Itachi ke pangkuannya. ''Sudah ibu selesaikan, kok…, sekarang, kita makan malam, ayah sudah menunggu,''

Bocah itu memandang punggung ibunya yang menggandeng tangannya dengan sayu. Binar-binar keceriaan menghilang. Lenyap berganti tatapan sedih. Wajahnya murung seketika.

Aku bukan anak yang baik…

Tangannya menggenggam erat bungkusan sederhana yang ia sembunyikan di balik sakunya.

.

.

.

''Kau kenapa, Itachi?''

Makan malam telah usai. Mikoto yang sedang menimang Sasuke dibuat heran dengan wajah Itachi yang tertekuk—menunduk. Jelas sekali ada yang tidak beres dengan anak itu. Fugaku hanya menatap datar anak sulungnya—meski tak bisa dipungkiri sirat-sirat kekhawatiran terpancar dari tatapannya, anak sulungnya itu bertingkah tidak wajar selama makan malam berlangsung. Itachi memakan makanannya lambat-lambat dan tidak bersemangat.

''Ibu…,'' suara parau terdengar dari bocah itu. Merasakan hal yang tidak beres, Mikoto memindahtangankan Sasuke kepada Fugaku, lalu mendekati anak sulungnya itu. ''Ada apa, nak?''

Itachi mendongak dan memandang sedih ibunya. Tangan kecilnya perlahan merogoh sakunya dan mengeluarkan benda yang sudah agak layu dari dalamnya, tetapi masih bagus untuk dilihat.

Seikat Bunga Mawar.

''Eh?'' Mikoto memandang anaknya dengan tatapan bingung bercampur terkejut.

''Selamat Hari Ibu,'' ucapan Itachi selanjutnya menjadi penjelas sebab memberikan benda itu. Sementara Mikoto masih diam terpaku menatap anaknya itu sebelum tersenyum lembut. Ia menerima bunga itu dengan perlahan.

''Terima ka—''

''Maaf,'' Perkataan Mikoto terputus.

''Aku minta maaf hanya bisa memberi ibu bunga itu. Aku tidak punya cukup uang untuk memberi ibu hadiah yang bagus,'' suara Itachi terdengar parau dan sedih. ''Aku ingin membahagiakan ibu hari ini, tapi yang kulakukan justru menambah pekerjaan ibu, aku minta maaf,'' Mikoto menatap tidak percaya pada anak bungsunya, matanya mulai berkaca-kaca.

''Aku ingin membantu ibu, meringankan pekerjaan ibu untuk hari ini. Tapi justru yang kulakukan malah tertidur dan akhirnya ibu yang menyelesaikan,'' kepala bocah itu semakin tertunduk.

''Aku hanya bisa memberi bunga yang bahkan sudah agak layu, dan menyusahkan ibu hari ini. Benar-benar payah. Maafkan aku bu, aku tidak menjadi anak yang baik hari ini. Tapi bu, ibu percayalah. Aku selalu sayang ibu…,''

Mikoto menangis terharu dan memeluk putra sulungnya itu erat-erat.

''Tidak-tidak,'' ia terisak. ''Itachi sudah menjadi anka baik hari ini, Itachi samasekali tidak menyusahkan ibu, kau sudah membantu, nak. Ibu sudah cukup senang Itachi mau berusaha membantu, apalagi sampai memberi ibu hal manis seperti bunga ini,'' wanita itu menatap bunga pemberian Itachi.

''Tidak perlu hadiah yang bagus dan mahal,'' terbitlah senyuman hangat diwajahnya. ''Mendapatkan malaikat sepertimu saja sudah membuat ibu senang dan bangga, kau berbuat baik dan mau menjadi anak kesayangan ibu sudah cukup membuat ibu bahagia, jadi.., hari ini Ibu sudah bahagia meski hanya melihatmu yang mau menemani adikmu, menuruti semua nasihat dari ibu,'' Mikoto memeluk Itachi semakin erat. Sementara Itachi menepuk punggung ibunya pelan, penuh sayang—mencoba menenangkan.

''Ibu juga selalu sayang Itachi. Ibu mencintai kalian semua, malaikat-malaikat yang sudah hadir dalam hidupku. Fugaku, Itachi, Sasuke,'' Mikoto kemudian melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut, menatap malaikat tersayangnya satu-satu, dan memberi mereka masing-masing satu kecupan di pipi.

''Hn, jadilah anak yang baik, Itachi, Sasuke,'' Fugaku ikut buka suara dan menepuk punggung kedua anaknya, lalu mengecup pelan puncak kepala istrinya.

Malam itu keluarga Uchiha dipenuhi rasa hangat. Kasih sayang dan rasa cinta yang terpancar dari setiap anggotanya, bahkan si kecil Sasuke yang mengoceh tidak jelas dan mengusap pipi anggota keluarga pelan. Bayi kecil itu mengalungkan kedua tangannya—memeluk—setiap anggota keluarga yang natanya mencintai dan ia cintai itu.

Sungguh malam yang hangat, ne?

.

.

Selamat Hari Ibu :D

A/N: hoi minna! Ini chapter special untuk hari ibu…

Nggak jelas dan nggak ada feelnya ya? Maaf deh, ini system kebut sejam…

Kuharap readers bisa terhibur dan tidak bosan membaca fic ini, ya…

Aku sayaaang kalian semua! Terima kasih untuk segalanya :D

Baiklah, kritik dan sarannya ya…. Blak-blakan ajah, saya butuh untuk belajar XD

REVIEW NYO~

FLAME NYO JUGA BOLEH~

Selamat Hari Ibu yaaa!

Arigatou ^^

23 Desember 2013

Akai Kiiroi