Fallen Angel Eren

Matanya begitu berat, rasa sakit bertubi-tubi itu menyiksa saraf-sarafnya manusianya, membabi buta menyakitinya tanpa ampun. Serangan bidadari itu benar-benar kuat dan semakin kuat dengan adanya kemarahan dalam dirinya.

Sial, persetan dengan sakit ini… Eren, eren…

Tiba-tiba sengatan rasa sakit tubuhnya terhenti. Apakah ia mengalami mati rasa?

Dengan seluruh tenaga tersisa, ia membuka matanya, memfokuskan pandangannya yang bagai kabut asap nikotin berkumpul di korneanya. Dan ia terkejut.

'Eren? Apa yang kau lakukan?'

Ia ingin memanggil Eren dan melindunginya, namun yang keluar dari mulutnya hanya erangan sakit dan nafas berat.

Ia seakan tuli, apa yang Eren katakan? Kenapa ia sampai berteriak-teriak begitu?

Sesaat ia merasa tubuhnya didekap. Hangat sekali.

'Eren, kau kelihatan cantik dari sini. Bahkan dengan senyum dan air mata disaat yang bersamaan…'

Pemuda yang memeluknya terisak. Namun ia tak dapat mendengar jelas perkataannya. Saat itu, Rivaille memandang dalam-dalam mata hijau berlingkar emas berair itu. Warna emas itu berpendar. Indah sekali. Dan bersamaan dengan menguatnya pendar lingkar cincin emas di mata sang bidadara, Rivaille merasa tubuhnya melayang, rasa sakitnya terasa menghilang sedikit demi sedikit.

Namun ada yang aneh.

Tubuh Eren semakin lama semakin terasa dingin.

Kemana hangat itu?

"Rivaille… maafkan aku. Maaf sudah membuatmu seperti ini. Kau sudah berkorban terlalu banyak untukku."

Rivaille terkekeh pelan mendengar kata maaf itu. Tak ada yang perlu dimaafkan, jangan menangis…'Tidak, Eren. Ini bukan apa-apa. Aku bisa menanggung yang lebih berat seribukali lipat daripada ini jika kau mau…'

Eren menggeleng pelan. Senyumnya berubah menjadi tawa kecil.

"Tidak. Tidak, Rivaille. Ini sudah cukup bagiku…"

Rivaille mengulas senyum. Diangkatnya sebelah tangannya yang entah kenapa terasa kebas, dan disentuhnya pipi bersemu merah bidadara itu. Dan menghapus jejak-jejak air mata disana. Warna emas mata itu mengilat, sangat bercahaya bagai halo matahari.

"Hanya aku yang belum melakukan apapun untukmu. Sekaranglah saatnya."

Didudukkannya Rivaille dengan perlahan dengan punggung disandarkan ke dinding, dan sekarang ia bisa melihat jelas, Eren ada dalam sosok bidadaranya. Bersayap putih mengembang, berselimutkan aura putih cantik menyilaukan.

Setelah meringankan semua rasa sakit di tubuh manusia itu, sang bidadara itu berdiri. Tangannya mantap merentang lurus.

"Kali ini, aku yang akan berkorban untukmu, Rivaille."

Kepingan cahaya yang berpendar menguar kuat dari tubuhnya. Suara yang ada hanya helaan nafas panjang. Melayang berubah menjadi bulu burung putih bersih bagai salju.

Rivaille memandang kesekeliling. Bidadari berambut hitam itu dan bidadari satunya menatap terkejut kea rah Eren. Pandangan apa itu? Sorot ketakutan dan panic… ada apa sebenarnya?

"EREN! APA YANG KAU LAKUKAN!?" mata berwarna hitam bidadari yang menyiksanya itu berkaca-kaca, sambil mencoba mendekati Eren.

"Aku akan mengakhiri penderitaan Rivaille, manusia yang paling berharga untukku."

Mengakhiri penderitaan? Apa…

―Apa maksudnya…

TIDAK!

"EREN! HENTIKAN!" dengan sekuat tenaga, persetan dengan tubuhnya yangrasanya mati rasa, digapainya tungkai kaki Eren, namun tubuh Eren terasa sangat berbeda.

Bola mata kehijauan itu bergulir, menatapnya.

"Kau―KUMOHON HENTIKAN! AKU TIDAK MAU KAU BERKORBAN UNTUKKU!"

Meredup sejenak, pandangan mata Eren lalu dengan mantap menatapnya.

"Harus. Aku akan mengakhiri penderiitaanmu, dan mengulang semua dari awal. Sudah cukup sakit yang kau tahan, Levi. Aku tak bisa melihatmu hancur karenaku."

Ulasan senyum di wajah bidadara itu membuat Levi tambah gusar. Eren sudah terlalu bertekad.

"TAPI, AKU TIDAK MAU KAU―!"

"EREN!"

Bidadari diseberang mereka menatap Eren dengan lebih berkaca-kaca dan panik. "Tenanglah, Eren. Hentikan pelepasanmu dan kita pulang. Menikah dan bahagia, Eren. Denganku."

Eren hanya terdiam, lalu menggeleng pelan.

"Maafkan aku dan keegoisanku, Mikasa, Armin."

"Eren, kami minta maaf―"

"Tidak perlu, Armin. Kalian membuatku sadar. Dengan begini, aku tidak bisa membuat diri orang yang kusayang berbahagia, lebih baik untukku berkorban."

"Kau tidak perlu berkorban―"

Eren menggeleng, matanya menerawang langit-langit apartemen diatasnya. "Aku sudah merebut kebahagiaan semua orang. Kalian yang kecewa… dan keselamatan manusia terbaik yang menolongku dalam pelarian egoisku."

Kedua teman Eren terlihat terpukul. Sementara itu cengkraman lemah Rivaille pada kaki telanjang Eren, dilepaskan secara lembut. Eren dengan sabar mengembalikan posisi menyandar Rivaille.

"Sejauh ini aku sudah berlari… dan bertemu takdir seperti ini. Laki-laki yang menolongku. Kebahagiaan walau sejenak. Kebebasan walau secuil."

Saat Eren mengelus bekas ruam di pipi Rivaille, bekasnya menghilang. Namun tubuhnya terasa tak bisa bergerak. Eren memantrainya.

"Eren, apa yang kau lakukan?!"

"Aku menyembuhkanmu… dan mendiamkan mu sementara. Mantra ini akan lepas sesudah kau sembuh, tidak lama―"
"Tidak, Eren, lepaskan sekarang!"

Kata-kata memotong pria di depannya ia abaikan dengan senyum.

"Aku… lebih baik tersucikan hari ini. Aku tak ingin kembali bersama mereka. Bahagia terkurung disana tak sebanding dengan bahagia di dunia manusia yang singkat ini…"

"Iya, Eren, aku akan menolongmu dari mereka! Jadi tolong lepaskan aku dan biarkan aku menolo―"

Eren menggeleng pelan, "Aku akan menyucikan diriku. Jika… kita adalah satu, bahagia kita adalah apa yang disebut takdir maka tak peduli dimanapun kau terlahir Rivaille, aku akan selalu menemukanmu."

Telunjuk lentiknya menyentuh tepat ditengah bibir Rivaille. Dengan lembut ia menyentuhkan kulit lembab bibirnya dengan bibir beraroma kopi dan maskulin pria di depannya.

Mantra singkat tertanam.

Mantra pembungkam sementara. Dan setelah itu, Eren melepaskan pertemuan kulit bibirnya yang merona merah dengan pria di depannya.

"Terimakasih atas semuanya, Rivaille." Mata itu memancarkan kesedihan dan cinta di saat yang bersamaan. Rivaille ingin berteriak, memberontak, melepas dirinya dari mantra yang ditanam Eren. Namun apa daya, ia hanya bisa berbicara lewat pandangan matanya.

Dengan elusan di bibir terakhir, Eren berdiri menghadap kedua temannya.

"Terimakasih dan maaf atas semua yang kuperbuat. Selamat tinggal."

Tepat saat Mikasa berusaha meraih salah satu tangan Eren, bidadara itu membuat perisai disekelilingnya.

"UrghhhHHHH―EREEENNN! JANGANNN!"

Rivaille berusaha dan berhasil keluar dari mantra pembungkam itu berteriak putus asa dari tempatnya bersandar lemah.

"Aku aka nada dimanapun kau berada… Jadi sampai jumpa, Rivaille…"

Tubuhnya memutih, cahaya berpendar diseluruh tubuh Eren, membutakan pandangan ketiga orang yang ada di dalam sana, dan cahaya itu memisahkan diri dan lenyap perlahan bagai salju.

Rivaille berusaha menangkap salah satu cahaya yang tersisa dan terbang ke arahnya dan pertama kalinya ia menangisi cinta dan takdir yang mati demi melindunginya.

Ia tak tahu… apakah yang akan dilakukan setelah ini, setelah cahaya-nya menghilang…

Perlahan, matanya memberat, semakin berat dan tak tertahankan, ia pun masuk ke dalam bawah sadarnya.

.

.

Fallen Angel Eren

.

.

Pagi ini, Rivaille seperti biasa, melakukan aktifitas paginya dengan seperti biasa yang ia lakukan dari dulu dari jam 4 pagi.
Merapikan tempat tidur, membersihkan apartemen, sarapan pagi dengan secangkir kopi hitam, memilah-milah dokumen dan foto hasil jepretan kemarin, dan bersiap-siap memulai pekerjaannya di kantor.

Sekarang, ia sedang berdiri di depan cermin setinggi tubuhnya, merapikan rambutnya dengan minyak rambut dan membenahi jaket tebal kecoklatannya. Tiba-tiba saat dia sedang sibuk bedandan, jam weker digitalnya berbunyi nyaring, namun cukup membuat Rivalle terganggu. Dengan langkah dan wajah berekspresi malas, dihampiri jam weker itu, dan dimatikan dengan agak kasar.

Jam itu menunjukkan pukul 10.

Kembali, suasana jadi aneh. Kertas dokumennya yang berada di atas meja dekat jendela, berterbangan terhembus angin dari luar jendela kamarnya.

Seingatnya ini bukan musim "angin".

Aneh.

Sesaat dia melamun dengan dahi berkerut, ponselnya berbunyi nyaring. Kembali, konsentrasinya buyar saat mengangkat telpon atasannya.

Namun kali ini ia merasa janggal, ia hanya membiarkan telpon di meja nakas itu bordering dan mati sendirinya.

Ditatapnya dengan heran, cangkir kopi hitamnya bergetar-getar.

Bukan―tapi semua benda bergetar.

Matanya yang setajam elang, langsung mengitari ruangan. Gempa. Makin keras, namun tidak terlalu besar skalanya.

Sekilas mata elangnya menoleh kea rah jendela utamanya yang menghadap langit langsung, Rivaille tertegun.

Ia melihat sulutan cahaya di langit.

Oh, bukan―itu api! Meteor!

Dengan cepat, disambarnya kamera DSLR pribadi kesayangannya dan langsung mengarahkan lensanya kea rah luar jendela, memfoto sebanyak mungkin gambar meteor yang jatuh ke bumi itu.

Satu… dua… tiga…empat.

Cukup.

Meteor itu menghilang bersamaan dengan hilangnya gempa skala kecil itu.

Apa ini… de javu? Kenapa rasanya terasa sangat familiar?

Dengan sedikit termangu, ia melihat viewscreen kamera SLRnya. Dan di salah satu fotonya terlihat samar namun dari bentuk obyek masih jelas, sesosok putih bercahaya dengan sayap putih bersinar tertangkap kameranya. Sesaat kemudian, Rivaille terserang sakit kepala hebat yang membuat postur tegapnya melemas dan terhuyung dan IA INGAT SEMUA.

Erennya. Itu Erennya. Cahayanya yang hilang.

Sesaat ia memandang rindu foto jepretannya dan lamunannya buyar saat bunyi ponselnya kembali memenuhi ruangan.

"Hallo. Irvine, aku sedang ada pemotretan model― begitukah? Baik aku akan ke rumah Hanji. Pemotretan apa ini? Apa? Bawa kameraku? Baik."

Segera ia bergegas keluar dari apartemennya, sambil menghapus jejak air mata di pipinya.

.

.

.

Ia berdiri dengan kebingungan di depan Hanji yang sedang membawa sesosok bayi di lengannya.

"Jadi aku ingin minta tolong, fotokan babyboy-ku ini ya, yang cantik! Dia keponakan ku yang baru lahir kemarin!"

Rivaille memandang Hanji dengan alis satu terangkat.

"Aku perlu namanya, dan tanggal lahirnya untuk kumasukkan dalam albumnya nanti."

"Ah tentu saja~ ! Aku terlalu bersemangat membawanya padamu, jadi aku lupa menanyakan nama dan usianya, hehehe! Emmm.. pegangi ia sebentar, aku akan telfon adikku!"

Dengan lembut Rivalle mengambil alih gendongan Hanji atas bayi yang rambutnya kecoklatan itu, dan sesaat setelah Hanji mengatakan permisi, Rivaille menjatuhkan pandangannya pada bayi di pangkuannya dan ia tercekat.

Rambut itu… bibir itu… kulit itu…

Nafas Rivaille seakan terhenti. Bayi yang tampak tertidur nyenyak tadi itu membuka mata, dan menawarkan warna mata nan uniknya.

Hijau berhalo emas jernih dengan bulu mata panjang.

Jangan-jangan…

"Aku akan selalu menemukanmu Rivaille…"

Mata Rivaille berkaca-kaca saat mengingat kalimat itu. Kalimat cahayanya

"Rivaille nama ponakanku itu―"

"EREN."

Hanji tertegun. Menatapnya keheranan sambil memperbaiki kacamatanya.

"Bagaimana kau bisa tahu namanya? Kau cenayang?"

Dipeluknya erat bayi digendongannya sambil menangis kecil melepas rindu. Bayi itu hanya terdiam sambil mengulas senyum polosnya.

Cahayanya kembali… Dan kali ini aku akan melindungimu dan takkan pernah kulepaskan lagi, EREN.

.

.

.

. END.

A/N sides: Hallo semuaa! Maaf sekali saya baruuu mengupdate fic ini setelah setahun mangkrak. Banyak yang terjadi di Reallife yang memaksa saya kadang lupa pada dunia fanfic, hahaha. But here I am now, proudly present the LAST CHAPTER of Fallen Angel Eren!

Say abaca… hampir semua respon yang saya terima positif, dan itu membuat saya ngerjain ini fic (Fic yang sudah finish 3bulan lalu dan teruuuus lupa upload (Ah, just said that you are too lazy to do that, Wanda/Sherlock) jadi maaf soal ketidaknyamannannya ya! Dan thank you so much bagi yang memberi masukan positif bagi saya dan kritik membangunnya. Akan saya jadikan pelajaran!

So… how is it? The ending kinda like… predictable and boring should I say (disappointing me, Wanda/Sherlock) Yah soalnya saya gamau cerita ini berakhir sama dengan MV aslinya. Kadang, fanfic dibuat sebaggai bentuk ketidak puasan fans kan? (Oh, you and your lack of alibi, Wanda/Sherlock). Ummm…Maaf soal Sherlock yang suka sekali menyela kata-kata saya, kadang-kadang kalau tidak ada Jawn-nya dia jadi sensi sama saya. (It's John, Wanda, not Jawn and stop it, its how I call my dearman./Sherlock)

Saya Cuma gamau MENGECEWAKAN KALIAAANN SEMUAA! Saya sudah cukup mengecewakan dengan alur yang saya buat di last chap ini saya sadari. Jadi saya gamau ngecewain kalian dengan endingnya juga. So, I think this will be a great closing better than Eren just deceased.

Jadi dengan berakhirnya fic ini saya mau terimakasih pada kalian! Love you! Dan maaf atas kebanyakan typo yang ada di fic ini, saya kadang bingung sama system FFnet, menghilangkan unsur2 kata2 dan penomoran yang sebenernya bisa utk tidak dihilangkan. Seperti tiba-tiba ada kalimat atau kata yang hilangkan, dan saya sudah coba perbaiki, dan malah sama sekali tidak mau. Argh, mengesalkan! Jadi ini bukan salah saya 100% yaa jadi maaf sekali!

Saya juga maunya buat fic diluar fandom ini, saya mau mampir sebentar di Fandom JohnLock dengan Top!Sherlock hohoho! (Yeah, great step) Ada yang suka Sherlock BBC disini? Yang aktornya Benedict Cumberbatch? If you haven't watch it, YOU SHOULD! So much bromance, sexual tension, and EYE SEX between Sherlock (Benedict) and John Watson (Martin) ! Fujo akan suka! :D

Tulis di review box pendapatkalian soal last chap ini dan tentang SHERLOCK BBC ya! Kalo kalian mau bisa kalian liat di google dengan keyword Johnlock, its super HAWT jaminan 100% :D

Until next time, my fellow bros… ! Love you!

Brofis,Fanta.