Chapter 02...

Saat pagi hari, sehari setelah insiden pada hari itu, Naruto masih tidur pulas di ranjang empuk miliknya. Seluruh malam itu penuh dengan mimpi buruk yang mengerikan dari masa lalunya. Entah dimana, ia menempel ke sumber dari kehangatan, yang kebetulan adalah gadis berambut merah muda yang menyelinap ke tempat tidurnya pada tengah malam.

"Tidak! Sakura-chan! Jangan tinggalkan aku!" gumam Naruto, air mata mengalir dari mata nya yang masih tertutup.

Ia menggumam lembut, ditambah dengan tremor Naruto, gadis itu atau Lala pun terbangun dari tidurnya. Bingung, Lala memandang tubuh Naruto yang gemetar dengan khawatir.

"Maafkan aku Sakura-chan! Tolong jangan tinggalkan aku sendiri lagi! tolong jaganlah mati!" Naruto bergumam lagi, mengencangkan cengkeraman nya pada Lala.

'Dia bermimpi tentang apa? Dan siapa Sakura? Dia terus mengatakan nama itu berulang-ulang ... apa yang terjadi padamu, Naruto ...? ' pikir Lala sambil memandang Naruto dengan khawatir.

"Tolonglah jangan pergi, jangan tingalkan aku sendiri lagi Sakura-chan ..." kata Naruto dalam tidurnya. Cengkeramannya pun semakin kuat dan ia mempindahkan kepalanya di depan Lala, bibir mereka hanya beberapa centi terpisah.

"Naruto?" bisik Lala, rona merah menyebar di pipinya. Dalam sekejap, bibir Naruto berada pada bibir Lala yang lembut, namun ciuman yang bergairah. Kaget pada awalnya, Lala mulai tenang dan mulai menikmati ciuman mereka, perasaan senang, dan cinta pun mengalir melalui tubuhnya. Ciuman itu berlangsung selama beberapa saat dan mereka akhirnya berhenti, sehingga Naruto terbangun dari tidurnya.

Membuka matanya, ia bertemu dengan sepasang bola mata hijau menatap nya. Rambut merah muda membingkai di wajahnya. Masih berpikir dia bermimpi, Naruto mengusap tangannya ke bawah punggungnya yang telanjang sampai ia mencapai sesuatu yang seharusnya tidak ada. Sebuah ekor. Matanya melebar kaget.

"Uwaa! L-lala?!" teriak Naruto sambil melompat dari tempat tidur.

"Ohayo, Naruto!" seru Lala dengan nada ceria. wajahnya pun masih memerah, karena pikirannya kembali berputar kejadian yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu.

"A-apa yang kau lakukan di tempat tidurku, dan kenapa kau telanjang?" Teriak Naruto. Tangannya menutupi hidungnya untuk menghentikan mimisan yang keluar dari hidungnya.

"Aku hanya ingin tidur dengan Mu, Naruto!" Kata Lala. "Aku pikir itu normal di bumi untuk hidup bersama-sama ketika Anda bertunagan?"

"TUNAGAN?!" teriak Naruto. "Apa maksudmu bertunagan?!"

"Yah, um ..." Lala mulai sebelum sesuatu yang diluar menarik perhatian mereka.

"Berarti, Kau secara hukum bertunangan dengan Lala-sama oleh hukum Devilukian." kata Zastin saat ia melangkah melalui jendela ke tempat tidur. "Ketika Kau meraba-raba payudara Lala-sama keluar dari cinta, Kau mengakui keinginan Kau untuk menikah dengan Lala-sama, di mana dia telah syukur diterima. Ditambah dengan Kau memenangkan pertarungan kita, Kau telah menyelesaikan prosedur pertunagan, dinyatakan oleh hukum Deviluke."

"Nani?!" teriak Naruto shock. "Ini semua salah paham!"

"Apa maksudmu, 'kesalah pahaman'?" geram Zastin sambil menarik keluar pedangnya dan menunjukkan pada leher Naruto.

"a-apa!" kata Naruto dengan nada ketakutan.

"Itulah yang aku pikir." kata Zastin sambil menyeringai.

"Zastin! Naruto bukanlah orang yang tidak bertanggung jawab!" kata Lala. "Bukankah itu benar, Naruto?"

"Ya!" Naruto berkata dengan nada tidak membenarkan. "Hanya kalau dia tahu ... '

"Ok! Karena kita semua pada pemikiran yang sama, aku akan meninggalkan kalian berdua untuk melakukan aktivitas kalian sendiri." kata Zastin. Berbalik dia melewati jendela dan menghilang dalam sinar hijau.

"Wah! Terima kasih Kami-sama dia sudah pergi!" gumam Naruto sambil memandang Lala, yang memiliki senyum cerah di wajahnya. 'Astaga! Apa yang telah aku lakukan? '

"Oh ... Naruto" kata Lala dengan suara lemah, "Aku sangat senang, aku bisa menciummu!"

"Tunggu, ap-"

Sebelum Naruto bisa menyelesaikan kata-katanya, mulutnya ditutupi dengan bibir gadis berambut merah muda itu. Naruto membeku shock, Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Setelah beberapa saat, ciuman itu berakhir, meninggalkan Naruto yang memerah dan Lala juga memerah.

"Itu ciuman resmi pertama ku! Yang tadi sebelumnya tidak dihitung karena kau sedang tidur!" Kata Lala senang.

"Kau menciumku saat aku tertidur?!" tanya Naruto.

"Yah, karena kau yang duluan menciumku." Lala menjawab sebelum melanjutkan kata-katanya, "yang mengingatkan ku, siapa itu 'Sakura'? Kau tidur sambil bergumam, dan kau terus menyebut nama itu."

"Jadi kau mendengar ku bergumam, ya? Maaf tentang itu ..." kata Naruto. "Maaf, tapi aku benar-benar tidak ingin membahas tentang dia ... itu agak sulit untuk dikatakan."

"Aku mengerti ... dia pasti penting bagi mu." kata Lala secara serius.

"Ya. Bahwa dia adalah ..." kata Naruto, air mata mulai menuruni pipinya. Senyum kecil muncul di wajahnya. "Haha ... kalau dia tahu aku begini, dia tidak ingin aku menangis, dan harus melanjutkan hidup aku. Entah itu, atau dia akan memukul ku jika selalu merenung dan bersedih!"

"Hehe! Naruto, kau begitu lucu!" tawa Lala di pernyataan Naruto.

"Ha! Kau tidak mengerti apa-apa! Tunggu dulu !" seru Naruto. seringai nakal muncul diwajahnya.

"Oooh! Aku suka hal semacam itu!" kata Lala sambil tersenyum. Sedikit dia tahu kesamaan dalam kepribadian nya dengan gadis berambut merah muda yang lain.

"Mungkin aku akan menarik satu perhatian di sekolah hari ini!" kata Naruto, seringainya semakin lebar, batin iblisnya membuat jalan ke permukaan. "Itu Mengingatkan Aku! jam berapa sekarang ya?" Melihat jam, ia kembali menyadari bahwa ia hanya memiliki sepuluh menit untuk sampai ke sekolah.

"Apa ada yang salah, Naruto?" tanya Lala kebingungan melihat ekpresi Naruto.

"Kuso! Aku akan terlambat, dattebayo!" teriak Naruto dan ia mulai berlari di sekitar ruangan, dan berpakaian dalam sekejap. Melompat ke pintu, Naruto memanggil Lala, "Sampai ketemu nanti! Dan AMBIL BEBERAPA BAJU LALU PAKAILAH!" Dan Naruto pun menghilang dalam kilatan kuning dan pusaran daun, ia pergi ...

Tujuh Menit Kemudian di Sainan High School ...

Setelah berlari pada kecepatan yang sangat cepat, Naruto tiba di sekolah dalam beberapa menit yang masih tersisah. Duduk di kursi, ia mulai merenungkan kejahilan terbarunya.

"Hmm ... apa yang harus kulakukan? Aku akan menggunakan Oiroke no Jutsu, tapi pasti aku akan di tendang oleh semua gadis, terutama yang lucu gadis pemalu, Kotegawa Yui, tahu aku berada di belakangnya! Plus, Haruna-chan akan berpikir bahwa aku lelaki hentai! Hmm ... mungkin cara lama bisa, teknik ledakan! menaruh peledak di atasnya kaleng cat, dan BOOM! Ulangan Instan! Ya itulah satu kejahilan untuk hari ini! Kukukukukukuku! ' pikir Naruto dengan seringai jahat. Membuat Kage Bunshin, dia mengirimkan klon keluar untuk melakukan pekerjaan kotor, karena dia rileks untuk memikirkan apa yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu.

"Sekarang apa yang akan aku lakukan Lala? Entah bagaimana, kita bisa bertunagan, meskipun aku tidak ingat kapan aku melamarnya atau memberikan sebuah cincin, atau sesuatu seperti itu! Apa yang dimaksud dengan itu?! Dan apa yang harus aku lakukan Haruna-chan?! Aku akhirnya menemukan seorang gadis dan aku bisa melihat diriku dengannya, dan semua omong kosong ini datang! Apapun, aku akan bekerja supaya ini berakhir, dan aku dan Haruna-chan akan hidup bahagia selamanya! Dan kemudian kita akan melakukan mambo horisontal! '

Gertakan dari pikirannya, Naruto mendongak untuk melihat Haruna berbicara dengan kedua temannya, Risa dan Mio. Mereka berbisik-bisik dengan cara rahasia, dan tentu saja Naruto memutuskan untuk mendengarkan.

"Jadi Haruna, siapa yang kamu suka?" tanya gadis berambut hitam, memakai kacamata gadis itu bernama, Mio.

"Yah, aku uh ..." gumam Haruna, dan rona tipis di wajahnya.

"Jangan bilang kau masih suka dengan Rito?!" kata Risa, gadis berambut pirang. "Ada banyak orang yang lebih baik dari orang itu! Pilihlah Naruto, misalnya. Dia tinggi, mendapat semi-panjang, rambut runcing pirang, mata biru, kumis-seperti tanda di pipinya yang menambah kesan lucu, kepribadian yang besar, tubuh seorang atletis, dan memiliki atmosfer misteri di sekelilingnya! Plus, aku mendengar dia benar-benar menyukai Mu! Dia sempurna! "

"Yah, um ..." kata Haruna sambil melihat ke arah Naruto, dan tak disangkan Naruto juga menatap nya. Ini menyebabkan gadis itu memerah bahkan lebih.

"Ayolah Haruna! Beri dia kesempatan!" seru Risa. "Jika tidak, aku yakin sekali akan membawanya! Dia mungkin sedikit konyol, tapi aku yakin dia adalah orang yang hebat!"

"Ya Haruna! Ayo lakukan!" kata Mio dengan bersorak.

"M-mungkin aku akan!" kata Haruna.

Mendengar semua yang ia butuhkan untuk mendapat Haruna, Naruto mengalihkan perhatiannya dari gadis-gadis ke arah lain, senyum puas menghiasi wajahnya. 'Hehe! Naruto, Kau rupanya masih punya sentuhan! '

"Oh, tutup mulut mu anak nakal!" teriak Kyuubi dari dalam kandangnya. "Kau memberi Ku sakit kepala dengan pikiran kau tentang gadis berambut ungu itu!"

'Diam kau, Rubah sialan!'

"Grrr! Beraninya kau bocah! Kalau bukan segel sialan ini, aku akan membunuhmu!" geram Kyuubi. "Pertanyaan ku adalah, apa yang akan Kau lakukan tentang gadis berambut merah muda itu?"

'Sakura sudah mati, keparat! " teriak Naruto dalam pikirannya.

"Aku tidak berbicara tentang gadis yang lemah, aku berbicara tentang yang baru saja kau temukan! Dia tampaknya kuat, dan akan menanggung kit yang kuat!" kata Kyuubi dengan nada kesal. "Aku juga menyukai nya, bahwa kenyataan gadis itu memiliki ekor! Dia akan menjadi pasangan yang baik!"

"Diam, Kau rubah sesat! Apakah itu semua yang Kau pikirkan, menghancurkan dunia dan seks? '

"Kau tahu aku terlalu baik. Aku masih mengatakan bahwa Kau harus mengambil keuntungan dari situasi ini Kau mendapat diri mu ke dalamnya. Ini hanya sekali dan kesempatan seumur hidup. Jangan biarkan kesempatan ini hilang ..." kata Kyuubi sebelum memutuskan kontak dengan Naruto.

'Kyuubi-teme! Aku akan membuat mu menyesal suatu hari nanti! " pikir Naruto ...

Waktu berlalu dan hampir waktu makan siang. Naruto duduk menunggu pelajaran sejarah yang membosankan ketika ia memutuskan untuk membuat rencananya ke dalam tindakan. Merunduk ke bawah mejanya, dia membuat handsign tepat dan meledakkan tag peledak, menghambur cat oranye terang ke seluruh ruangan. Hanya sedikit yang bisa melarikan diri dari cat milik Naruto, tetapi orang-orang yang terkena tampak seperti terkena jus jeruk, dengan cara kulit mereka hampir bersinar oranye. Itu adalah pemandangan yang menarik untuk dilihat.

"Buahahahahaha! Kalian terlihat seperti sekelompok jeruk! Hahahahaha!" Naruto tertawa sangat keras sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa begitu keras.

"Hihihi... Uzumaki-kun? Apakah kau yang melakukan semua ini?" tanya Haruna dengan tawa. Dia adalah salah satu yang beruntung yang tidak terkena cat.

"Eh, mungkin aku, Mungkin juga tidak." kata Naruto santai sambil mengangkat bahu.

"Hah! Uzumaki! menjahili tidak diperbolehkan di sekolah!" teriak Yui, rambut biasanya berwarna hitamnya sekarang berwarna oranye neon.

"Oh, ayolah, Kotegawa! Itu hanya lelucon yang berbahaya! Ditambah lagi, aku harus mengatakan, Kau terlihat cukup bagus mengenakan pakaian dan rambut berwarna oranye, Yui-chan!" kata Naruto dengan mengedipkan mata dan menyeringai.

"Di-diam!" Yui mengatakan sementara blush tersebar di pipinya. Melirik keluar dari sudut matanya, ia menatap si pirang, menyebabkan wajahnya makin memerah.

"Jangan khawatir Kotegawa. Cat pada dasarnya terbuat dari air, sehingga menghilang kan nya sangat mudah. Dan Aku tidak menjahili, aku cuma membuat lelucon, bukannya itu hal yang bagus untuk membuat orang tertawa!" Kata Naruto. "Aku menyelamatkan mereka karena mereka orang yang aku tidak suka."

"Jangan biarkan aku melihat mu melakukan sesuatu seperti ini lagi, jagan pernah lagi!" teriak Yui, berusaha tidak membuat kontak mata dengan Naruto.

"Ya Bu!" hormat Naruto sambil mengejek. Dengan itu, Naruto kembali ke kursinya dan duduk.

Sisa kelas dihabiskan untuk membersihkan cat tadi, dan Naruto dipaksa melakukan sebagian besar pekerjaannya oleh Yui. sampai tiba waktunya makan siang, dan kelas pun mulai berbaris keluar dari ruangan. Naruto berjalan kembali ke kursinya dan membuka tasnya untuk mengambil makan siangnya. Mencari di dalamnya, ia tidak menemukan apa-apa.

'Sial! Aku lupa membawa makan siang! Itu semua gara-gara peristiwa pagi ini membuat ku lupa untuk membawa nya Sialan! ' pikir Naruto dalam kemarahan. Mendengar langkah kaki berlari menyusuri lorong, Naruto mengalihkan perhatiannya ke pintu, untuk melihat temannya Saruyama berhenti.

"Naruto!" seru Saruyama. "Ada seorang gadis cantik di sini mencarimu!"

"Terima kasih ketsu no Saru! dan siapa yang mencariku !" kata Naruto, kesal.

"Ya ampun Naruto! Apa masalahmu?" tanya Saruyama.

"Lupakan saja, Saruyama. Aku sekarang memiliki banyak tekanan belakagan ini." kata Naruto.

"Oke, baiklah." jawab Saruyama.

Di bagian aula seorang gadis berambut merah muda yang sangat indah yang mengenakan kostum aneh (seperti cosplay) berjalan melalui para siswa yang ada disitu. Semua siwa laki-laki dari semua kelas berjajar di dinding, hati, mata mereka dan ngiler keluar dari mulut mereka yang terbuka karena melihat betapa cantik dan sexy nya gadis itu.

"Whoa! Lihatlah pakaian itu!" kata seorang pria.

"Cosplay?" tanya yang lain.

"Siapa yang peduli!" seru beberapa siswa lainnya. "Dia benar-benar sexy!"

Hal ini terus berlanjut sepanjang jalan menyusuri lorong koridor, dengan gadis itu berteriak nama Naruto.

"Naruto! Dimana kau?" seru Lala. "Ayo keluar, keluarlah, dimanapun Kau berada!"

Berjalan menuruni tangga Naruto, dan diikuti oleh Saruyama. Saat melihat sesuatu mata Naruto melebar kaget saat melihat gadis berambut merah muda mengenakan pakaian aneh.

"Lala!" teriak Naruto. "Mengapa kau di sini?"

"Oh! Naruto! akhirnya Aku menemukanmu! "Seru Lala sambil menarik keluar sebuah bento." Aku membawa kan ini untuk mu! "

"Eh, terima kasih, Lala." kata Naruto sambil menerima kotak bento miliknya.

"Uh Naruto, siapa Dia?" tanya Saruyama. "Apa hubunganmu dengan Dia?"

"Ba-baiklah, um ..." Naruto tergagap karena malu.

"Aku?" tanya Lala sebelum menyambar dan memeluk lengan Naruto. "Aku tunagan Naruto!"

"Nani?!" kata seluruh siswa-siswa yang marah dan mulai berkumpul di sekitar situ.

"Naruto, Kau ... Kau memiliki Haruna-chan dan ..." kata Saruyama shock dan marah.

"Tidak! Ini semua adalah kesalah pahaman besar!" kata Naruto dalam ketakutan. "Dia hanya bercanda!"

"Naruto ... kau bilang kau mencintaiku dan kami berbagi ciuman penuh gairah ..." kata Lala dengan suara sedih. "Itu semua bohong?"

"Bu-bukan begitu aku...!" Naruto tergagap.

"NA-RU-TO! Jika aku bukan teman terbaik mu, aku akan menendang pantat mu sekarang!" teriak Saruyama dalam kemarahan. "Beraninya kau mendapatkan gadis cantik seperti itu di depanku!"

"Saya tidak tahu kenapa, tapi melihat orang itu dengan gadis seperti itu membuat saya gila!" kata seorang pria dengan mata merah menyala yang jahat seperti iblis.

"Yah! orang seperti dia seharusnya tidak diperbolehkan berada di sekitar seorang gadis cantik seperti itu!" teriak pria kedua. "Ayo kita tendang pantatnya!"

"Tangkap dia!" teriak pria ketiga.

"Oh, sial!" teriak Naruto saat ia meraih tangan Lala dan berlari menyusuri lorong dengan kecepatan Ninja.

"Naruto! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" teriak Saruyama sebagai kelompok mengejar. "Kau tidak boleh mendapatkan seorang gadis cantik seperti Lala!"

"Naruto? Mengapa mereka semua begitu marah?" tanya Lala dengan nada lucu.

"Karena kau!" teriak Naruto sambil berlari lebih cepat.

Naruto terus menyeret Lala sepanjang jalan menyusuri lorong, sampai mereka berlari ke jalan buntu dan tidak dapat melarikan diri.

"Oh sial! jalan buntu!" teriak Naruto. "Lala lakukan sesuatu?"

"Sesuatu?" tanya Lala, bingung.

"Yeah! Kau memiliki benda warp? Apa nama benda itu warp-kun?" tanya Naruto dengan punggung menempel ke dinding. Kelompok pengejar Naruto dan Lala mulai mendekati posisi mereka. 'Siapa yang akan berpikir aku akan membutuhkan Hiraishin sementara aku masih di sekolah di sekolah?'

"Oh? Maksudmu Pyon Pyon-Warp-kun?" tanya Lala.

"Ya! Itu! Gunakanlah cepat!" teriak Naruto.

"Aku akan mengunakannnya, tapi karena aku akan menikah denganmu, aku bisa mulai hidup dengan mu, kan?" tanya Lala dengan blush.

"Nani?!" Kau tidak bisa hidup dengan ku! "Teriak Naruto.

"Baiklah, aku tidak akan menggunakannya!" kata Lala dengan wajah cemberut.

Sambil menatap massa, yang hanya beberapa meter jauhnya, Naruto mulai panik, "Oke! Oke! Kau bisa hidup dengan ku! Hanya saja bawah aku keluar dari sini!"

"Ini adalah janji!" kata Lala sambil tersenyum. Mengambil sebuah ponsel Deal, dan ia mengunakannya untuk memanggil gelangnya. Meraih tangan Naruto, dia mengaktifkan gelang itu, dan membuat mereka berdua menghilang dalam sekejap.

Kelompok tadi berhenti dalam kebingungan. Anak dan gadis sexy tadi menghilang, meninggalka seragam dan pakaian mereka yang tergeletak di lantai.

"Nani? Kemana mereka pergi?" "Kata seorang pria." Mereka berdua menghilang! "

Di tempat lain ...

"Dimana aku?" tanya Naruto. Keduanya terjebak di tempat yang gelap, dan tempat itu sangat sempit. "Aku pikir aku merasa berat. Dan apa yang ada di atasku? Ini sangat lembut dan hangat."

"Mmmm ... hentikan Naruto." Lala mengerang sebagai lutut Naruto menggosok antara kedua kakinya. "Aku tidak tahu ini dimana? Benda ini digunakan saat keadaan darurat, jadi aku tidak bisa memilih lokasi."

Dengan ledakan dan kepulan asap, dua orang itu pun terjatuh dari loker yang tampaknya menjadi ruang ganti. Mereka benar-benar telanjang, dengan posisi ehmm... Lala diatas Naruto.

"..Ehh.." Kata Naruto shock. "Nani?! Mengapa kita telanjang?"

"Oh, itu benar! Warp-kun hanya bisa mengangkut mahluk hidup!" jawab Lala.

"Bagus ..." gumam Naruto dengan nada kesal. Naruto duduk di sana selama beberapa saat sampai dia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Memutar kepalanya gemetar, dia melihat Haruna menatap mereka dengan shock.

"Ehh!" tariak Haruna saat melihat Naruto dan Lala yang berada di depannya. "A-apa yang kau lakukan seperti itu di dalam ruang ganti?"

"Ahhhh! Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak! Ini hanya kesalah pahaman besar! Ini tidak seperti apa! yang kau pikirkan Haruna" teriak Naruto dalam ketakutan, dan mulai melangkah lebih dekat ke Haruna.

"Pe-Pergi dariku!" teriak Haruna sambil memukul Naruto sekeras yang dia bisa.

"Nande?!" teriak Naruto saat ia jatuh ke tanah.

Kemudian: Apartment Naruto ...

Setelah hari yang panjang di sekolah, Naruto kembali ke rumahnya, dengan Lala mengikuti di belakangnya. Membuka pintu, Naruto bertemu dengan kejutan lain.

"Apa yang kau lakukan di sini?" teriak Naruto pada tamunya.

"Aku datang untuk bertemu orang tua mu." kata Zastin. "By the way, di mana mereka?"

"Aku tinggal sendirian, teme!" teriak Naruto dalam kemarahan.

"Kenapa begitu, Naruto?" tanya Lala.

"Aku yatim piatu." kata Naruto. Kesedihan terpapang ke wajah nya yang biasanya selalu tersenyum.

"Aku mengerti ..." kata Zastin simpati. "Tapi kenapa kau tidak tinggal dengan keluarga mu yang lain?" tanya Zastin.

"Aku tak punya ..." kata Naruto. "Semua orang ku sudah meninggal. Aku yang terakhir."

"Bagaimana dengan pengasuh mu?" tanya Lala. "Mereka seharusnya mengurus kau ketika tidak ada orang lain yang tersisa."

"Kakek ku juga sudah meninggal. Terakhir Aku bertemu dengannya empat tahun yang lalu dan dia meninggal dua bulan lalu." kata Naruto dengan sedih. "Lucunya, aku bahkan tidak tahu dia menjadi pengasuh ku sampai setelah dia meninggal."

"Maafkan aku. Kami tidak tahu." kata Lala. Senyum kecil menghiasi bibirnya.

"Tidak apa-apa. Seperti kau bilang tadi, kau tidak tahu." Naruto menjawab sambil terseyum kecil.

Melihat simpati datang di wajah Lala sebelum dia ke pemikiran berpose. Setelah beberapa menit, dia memutuskan untuk berbicara.

"Aku tahu, aku akan memberimu sebuah keluarga!" serunya gembira terpampang di wajah Lala. Pernyataan ini menyebabkan rahang Naruto, serta Zastin, turun ke lantai karena shock. "Dengan cara kita menikah!"

'Oh sial! Dia mengatakan seperti itu! Dia juga seburuk Shion! ' pikir Naruto.

"L-Lala-sama ..." Zastin tergagap, tidak mampu memahami apa yang ia katakan.

"Uh, Lala? Apakah kau tahu apa yang kau katakan?! Apa yang kau katakan memerlukan itu?!" tanya Naruto.

"Yeah! Ketika kita menikah, kau akan memiliki keluarga baru! Akan ada aku, Papa, dan saudara ku, ditambah semua orang yang akan melayani mu ketika kau menjadi raja Deviluke!" kata Lala dengan cara blak-blakan.

"Oh! Terima kasih Kami-sama! Haa... Aku pikir kau akan mengatakan sesuatu yang sama di pikiranku!" Naruto mengatakan saat bernapas lega. "Aku pikir Zastin memikirkan hal yang sama seperti ku, juga."

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Lala dengan cemberut.

"U-uh, b-baik, u-um ..."Naruto tergagap dengan blush.

"Aku percaya apa yang Uzumaki-dono coba katakan adalah bahwa, ia berpikir Kau bersedia untuk melahirkan anak-anaknya." kata Zastin dengan nada formal, tetapi blush muncul di wajahnya membuktikan bahwa pikirannya juga sama dengan Naruto.

"Oh? Yah, aku akan melakukannya juga!" seru Lala saat ia menerkam ninja pirang favorite kita sekali lagi. Dan menyebabkan wajah Naruto pucat, pikiran nya tentang kalo Haruna akan berpikir ketika ia melihat bayi berambut pirang dan merah muda, dan menyebabkan kekacauan dimana-mana.

"Lala-sama! Apakah kau tahu bagaimana cara menciptakan anak-anak?!" tanya Zastin, berharap ia tidak harus memberikan 'burung masuk ke sarang lebah' pada penjelasan nya.

"Yeah! Ketika ibu dan ayah saling mencintai ia mengatakan, hal yang disebut bangau datang dan meninggalkan bayi di ambang pintu! Kadang-kadang bangau merasa murah hati dan meninggalkan dua bayi!" kata Lala, bangga dengan jawabannya. "Itulah yang Papa katakan ketika Nana dan Momo dilahirkan!"

"Eh, Lala-sama., Itu belum tentu bekerja seperti itu." kata Zastin dengan keringat turun. "Hal ini membutuhkan seorang pria dan seorang wanita untuk melakukan hubungan intim untuk menghasilkan anak".

"Hubungan Intim?" tanya Lala. "Apa itu?"

"Nah, seperti hubungan seksual ..."

Dengan itu, sebuah penjelasan panjang dan menyusahkan bagi Zastin dimulai. Dengan dia masih menjadi perjaka, itu membuat sangat sulit untuk menggambarkan perbuatan nya. Untuk Naruto, itu benar-benar sia-sia, setelah melewati ini dengan Ero-Sennin secara rinci. Si mesum tua bahkan memberinya demonstrasi langsung dari poin-poin penting dari seks. Menjadi hogtied dan diikat ke tempat tidur, sang pertapa menyewa gadis panggilan untuk datang dan memberinya test drive. Meskipun pirang benar-benar menikmatinya, ia masih menendang kotoran hidup dari sensei untuk memaksa dia untuk memberikan keperjakaannya kepada beberapa 'pelacur'.

"... Dan itu adalah bagaimana seorang anak akan lahir." kata Zastin menyelesaikan penjelasannya.

"Hmm ... Jadi, ketika sepasang kekasih berhubungan seks tanpa perlindungan, wanita bisa hamil." kata Lala shock. "Aku tidak tahu itu!"

"Sekarang kau mengerti." kata Zastin. "Dan ingat, keperawanan mu hanya dapat diberikan kepada satu orang, jadi pastikan bahwa ia adalah orang yang kau cintai."

"Terima kasih atas saran nya, Zastin!" kata Lala gembira. "Aku akan yakin itu."

"Senang aku bisa melayani mu, Lala-sama!"Zastin mengatakan, dan berpikir bahwa penjelasannya cukup memuaskan.

'Astaga! Orang ini belum pernah bercinta! Aku pikir Konohamaru bisa memberi penjelasan yang lebih baik! Mungkin aku harus memberinya salah satu buku Icha Icha, sehingga ia dapat mempelajarinya sedikit. " pikir Naruto. 'Entah itu, atau menyewa seorang pelacur! Ya, pelacur akan menjadi ide yang baik. ' tambah Naruto dalam pikirannya.

"Setidaknya sekarang aku tahu mengapa Naruto tersipu malu ketika ia melihat aku telanjang." Lala menyatakan dengan blush di wajahnya. "Aku pikir dia aneh."

"Aku percaya kau benar, Lala-sama! Naruto-dono pasti menemukan mu menarik dan melihat kau telanjang mendorong perasaan itu ke permukaan. Dia tidak boleh digunakan untuk melihat wanita telanjang, sehingga ia tabur." mencicit Peke.

"Jadi, Naruto. Kapan kita akan melakukan hubungan seksual?" tanya Lala malu-malu.

Pernyataan itu dikirim ke Naruto yang mengalami shock, matanya berputar kebelakang ke kepalanya dan mulutnya berbusa. Mimisan kecil mulai terbentuk sebelum meletus menjadi penuh pada geyser. sementara, Naruto berpikir,

'Kenapa aku! "...


yahh... akhir nya update juga fic ini

maaf yahh update lama, karena saya punya banyak pekerjaan seperti mempersiapkan ujian sekolah, & harus bekerja sampingan agar menambah uang saku saya. Karena saya nggak mau buat beban orang tua saya menambah karena uang saku saya..hahaha... gomen...gomen -_-"

nahh...bagaimana chapter ini jelekkah atau bagus..

yah cuma satu kata yang bisa saya keluarkan "RnR"