Love by Esposa Malfoy

Chapter 1

Disclamer: Semua karakter punya tante JK Rowling, aku hanya penggemar yang ingin meyalurkan ideku pada fiksi ini.

Warning: OOC

Author's Note: Tadinya aku mau bikin ini sebagai sequelnya Not Just You, tapi pas aku coba, kok aku kehilangan The Weasleys&Potters Family yang terkenal hangat itu ya?:/ Jadi, kuputuskan bisa deh ini jadi sequel, tapi Hermione nggak nikah sama Cedric Diggory. Tetep jadinya sama Ron Weasley. Dan disini ceritanya setelah wafatnya Si-Botak-Yang-Pas-Muda-Ganteng—Voldemort, The Malfoys Family jadi deket sama The Weasleys&Potters Family, jadi mereka sering natalan bareng, kumpul-kumpul bareng, dsb. Asik kan? Baca dan review dong!;p


Stasiun King Cross, 2020.

"Scorpie!"

Scorpius Malfoy menghembuskan napasnya perlahan-lahan kemudian berbalik badan sambil tersenyum palsu. "Ya, Mum?"

Astoria Malfoy nẽẽ Greengrass berlari mengejar putra tunggalnya hingga terengah-engah.

"Mengapa kau berjalan cepat sekali, Scorpie?" Tegurnya dengan napas yang terputus-putus. "Bahkan Mum belum memberikan goodbye-kiss untukmu!"

Nah, justru itu yang kuhindari, Mum. Batin Scorpius. Kau akan membuatku nampak seperti bayi babon yang baru lahir.

"Sudahlah, Tori. Scorp sudah besar, kau akan membuatnya malu jika tetap menciumnya seperti anak kecil." Suara berat ayahnya, Draco Malfoy, menyahut yang baru menyusul Astoria dan Scorpius.

Benar sekali, Dad! You know me so well. Kata Scorpius, yang tentu saja hanya ia ucapkan dalam hati mengingat perasaan ibunya yang sensitif.

Astoria cemberut. "Aku kan tetap menyayanginya Draco, tak peduli walaupun dia sudah besar sekalipun. Pokoknya setua apapun ia, aku tidak akan berhenti menciumnya!"

Draco terkekeh geli. "Kau cium aku saja" Kata Draco yang di iringi dengan wajah Astoria yang tersipu-sipu malu dan wajah Scorpius yang pura-pura sedang menahan muntah.

"Ergh— Mum, Dad, sorry mengganggu kemesraan kalian, tapi kita harus cepat-cepat ke Peron 9 ¾ sebelum aku terlambat berangkat ke Hogwarts." Kata Scorpius sambil menatap orangtuanya canggung.

"Oh ya!" Pekik Astoria. "Kau sih, Drake!"

Mereka bertiga-pun memeriksa sekeliling, kemudian dengan langkah santai menembus tembok perbatasan antara Peron 9 dengan Peron 10.


"Jadilah anak yang baik, Scorp." Titah ayahnya. "Tapi sesekali melanggar aturan, aku tak melarang." Lanjutnya dengan suara berbisik.

Scorpius terkekeh, teringat tahun pertamanya, tepat disinilah ayahnya memberikan sapu balap pertamanya yang membuat Mr. Filch bernapsu sekali untuk menyita sapunya.

By the way, umur Mr. Filch panjang sekali. Dari angkatan kakek dan nenek tersayangnya, Lucius dan Narcissa Malfoy, sampai angkatan ibu dan ayahnya, Draco dan Astoria Malfoy, bahkan sampai angkatannya, Mr. Filch tetap berjaya 'mensterilkan' Hogwarts dan sekitarnya. Mungkin hanya Merlin dan Mr. Filch sendiri yang tahu berapa umurnya.

"Oh Scorpie My Lil Baby sekarang sudah dewasa dan harus dilepas.. Aku akan merindukanmu, Son.." Kata Astoria dengan mata berkaca-kaca.

"Mum, please.. Aku hanya pergi ke Hogwarts, bukan ke medan perang. Jangan mendramatisir." Scorpius memutar bola matanya bosan. Seakan-akan tak mendengarkan keluhan Scorpius, Astoria memeluk Scorpius erat-erat kemudian menciumnya tiga kali, seperti biasa. Pipi kanan, pipi kiri, dan dahinya.

Ketika ia selesai dicium, Scorpius menelan ludahnya kasar. Ia sempat melihat Albus Potter, James Potter dan Hugo Weasley dari dalam Hogwarts Express sedang tertawa terpingkal-pingkal.

Oh tidak.. Batin Scorpius miris.

"Ngg— oke Mum, Dad, aku harus ke dalam kereta sekarang. Kurasa para Potter dan Weasley sudah menungguku." Kata Scorpius. Menunggu untuk mencemoohku tentunya. Lanjutnya dalam hati.

"Ok, take care, Son!" Jawab ayahnya, sedangkan ibunya tidak dapat menjawab karena sedang menahan tangis.

"Bye! Aku akan mengirimimu surat!" Scorpius mendorong troli barangnya memasuki Hogwarts Express. Ia mencari-cari kompartemen sampai ia melihat surai pirang Lily Potter di salah satu kompartemen.

Deg! Ah, tidak. Perasaan ini lagi.

Ok, here we go. Scorpius menarik napas dalam-dalam.


"HAHAHAHAHAHA" Scorpius masuk ke kompartemen di iringi dengan tawa terbahak-bahak James, Albus dan Hugo.

"My Lil Baby Scorpie, cup cup muaaaah!" Tiru si Duo-Jahil—Potter, James dan Albus yang membuat mood Scorpius makin down.

"Guys, sudahlah, kalian berisik sekali. Aku sedang mengerjakan tugas, ok? Dan jangan menghina Scorpius. Kalian yang kutahu justru lebih parah. Sebelum berangkat juga kalian di cium Grandma Molly sampai mendapatkan cap lipstik." Kata Rose Weasley membuka 'kartu', yang membuat mereka mendengus kesal.

Scorpius menyeringai senang. Barusan, Rose Weasley membelanya. Rose Weasley mem-be-la-nya.

"Ah, tak asik kau Rose!" Seru James kesal. "Lagian kau sedang mengerjakan apa sih?"

"Essay Transfigurasiku belum ku kerjakan. Tugas liburan sebenarnya, tapi aku benar-benar lupa." Jawab Rose suram.

"Bagaimana kau tidak lupa kalau kau terus memikirkan—AW!" Jerit Albus karena pinggangnya dicubit Rose. "Baiklah, aku tak akan membocorkannya." Albus nyengir sambil pura-pura membentuk gerakan mengunci mulutnya.

Rose memikirkan siapa? Senyum Scorpius hilang dari wajah putih pucatnya yang tampan.

"Kau punya kekasih sekarang Rose?" Kata James pura-pura terkejut. "Memangnya kau laku?"

"Sialan!" Rose menggulung essay Trasfigurasinya, kemudian memukul kepala James menggunakan itu. "Belum jadi kekasihku, James!"

"Tuhkan, sudah kuduga. Tak ada yang mau denganmu." Kata James sambil tertawa terpingkal-pingkal yang membuat bibir Rose mancung beberapa sentimeter.

"Yah, belum jadi kekasih sih. Belum. Belum kan Rose? Kalau belum, berarti akan." Perkataan Lily sontak membuat pipi Rose memerah karena malu.

"Nggg—kurasa disini sudah penuh. Aku akan mencari kompartemen lain." Kata Scorpius sambil buru-buru mengeluarkan troli barangnya dari sana.

"Penuh?" Tanya James heran. "Bahkan disini masih muat untuk lima orang lagi."


Rose Weasley.

Mereka sudah saling mengenal, sejak bayi bahkan. Tapi ia baru menyadari perasaannya saat tahun pertamanya. Ketika objek-objek bunga tidurnya selalu Rose Weasley, ia jadi berpikir. Apakah karena mereka terlalu sering bertemu atau karena memang selama ini pusat perhatiannya adalah Rose? Lily yang lebih lembut dari Rose saja, tak pernah terbayangkan olehnya, apalagi sampai masuk ke zona bunga tidurnya.

Dugaannya semakin kuat ketika ia melihat Rose, mulai ada rasa mulas-mulas geli di perutnya, seakan-akan ada kupu-kupu berterbangan. Parasnya yang manis, kian manis saja dengan hiasan bintik-bintik merah yang di wariskan sang ayah, Ron Weasley. Di tambah lagi terbuktinya otak Rose yang di atas rata-rata keturunan ibunya, Hermione Granger, makin menambah nilai keindahan Rose di mata Scorpius.

Rose juga tidak seperti cewek-cewek pada umumnya yang manja dan cengeng. Rose sangat tangguh dan mandiri bahkan cenderung cuek. Sampai detik ini, ia belum pernah melihat setetespun airmata dari mata birunya yang menenangkan.

Sayang sekali, Scorpius entah mengapa nyalinya selalu ciut jika di depan Rose. Mungkin ia takut di tolak atau bahkan tak di pedulikan, mengingat cueknya Rose pada kaum Adam, kecuali pada adik dan sepupu-sepupunya.

Maka disinilah ia, berpura-pura tak peduli, tapi terus mengawasi gerak-geriknya. Ikut senang jika Rose senang, dan patah hati tanpa seorangpun yang tahu jika Rose menyukai orang lain.

Untungnya, Rose belum pernah benar-benar jadian dengan cowok yang ia sukai. Bisa saja mereka dekat, tapi adik dan sepupu-sepupunya akan menyeleksi cowok-cowok yang akan menjadi kekasih Rose. Biasanya, setelah ada 'seleksi' tersebut, cowok-cowok itu akan mundur perlahan. Kebanyakan dari mereka memang ingin mendapatkan ketenaran dari Rose atau ingin menambah 'koleksi' pacar mereka. Terima kasih banyak untuk James, Albus dan Hugo.

Oke, untuk urusan kesetiaan, Scorpius lah jagonya. Pada tahun pertamanya saja, Stephanie McLaggen sudah pernah mengajaknya bercinta! Oh ayolah, padahal ia baru berumur sebelas tahun pada saat itu. Se-hot apa sih ia sampai kakak kelas terseksi sepenjuru Hogwarts yang mendapatkan gen semok—seksi dan montok— dari ibunya, Lavender Brown bisa bernapsu kepadanya? Padahal jujur saja, Scorpius baru mengalami mimpi basah pertamanya sehari sebelum ia berangkat ke Hogwarts. Nah, apa yang di harapkan Stephanie pada Scorpius-Si-Bau-Kencur-Tak-Berpengalaman? Padahal ribuan kakak-kakak kelas mesumnya sampai bermimpi-mimpi untuk mendapatkannya.

Tetapi walaupun sudah mendapat tiket emas menuju surga dunia, Scorpius dengan tegas menolak. Tidak, bukan karena ia sok alim, tetapi yang ia inginkan hanyalah Rose.

Hanya Rose yang ia inginkan untuk menjadi ciuman pertamanya, pelukan pertamanya, kelembutan pertama yang ia tunjukkan, bahkan—cinta pertamanya. Hanya Rose.

Kau pasti berpikir ia seperti bukan Malfoy kan, mengingat Malfoy-Malfoy terdahulu selalu mendapat julukan Cassanova Hogwarts (termasuk ayah dan kakeknya).

Maka dari kesetiaannya itu, ia tak pernah berdekatan dengan cewek. Selain kaum Hawa itu menyebalkan dan pencari perhatian (kecuali para betina di keluarga Potter dan Weasley), ia hanya mendedikasikan cintanya pada Rose. Hanya Rose yang boleh mendapat perhatiannya.

Untungnya saja, kekuasaan Malfoy sangat nampak di Slytherin, bahkan Hogwarts, sehingga antek-antek sepermainannya tak ada yang menjulukinya 'Manusia Homo', 'Pecinta Sesama Jenis', atau singkatnya 'Gay'.


Albus memasuki salah satu kompartemen yang sudah terisi oleh sahabat se-asramanya, Scorpius Malfoy. Scorpius terlihat murung. Wajahnya sendu sambil memandang jendela yang mulai basah terkena rintik-rintik hujan.

Oh, ayolah. Batin Albus. Hal ini lagi.

"Jadi ada apa lagi antara kau dengan sepupuku?" Ia bisa melihat Scorpius tersentak kaget, seakan terbangun dari lamunannya.

Jadi sejak tadi ia tak menyadari keberadaanku. Give applause to Rose Weasley. Batin Scorpius kesal.

"Aku tak apa." Scorpius menoleh datar. "Dan aku tak ada apa-apa dengan Rose, Al."

Albus mendengus bosan. "Oh, aku baru tahu kalau yang namanya 'tidak ada apa-apa' itu selalu memperhatikan gerak-geriknya, pada saat natal selalu mengiriminya kado paling besar daripada daripada sepupu-sepupunya, dan setiap malam kau selalu mendesahkan nama Rose." Kata Albus sambil tertawa cekikikan. Ada rona merah samar di pipi pucat Scorpius, tapi beberapa saat kemudian ia mampu mengendalikannya lagi.

"Tidak seperti apa yang kau lihat dan kau dengar, Al." Balas Scorpius sok cuek.

Albus memutar bola matanya. "Kau mengelak saja terus."

"Aku tidak mengelak, itu benar-benar kenyataan."

Tiba-tiba Albus berseru. "Ah ya! Barusan yang kutanyakan kan hanya sepupuku. Kan masih ada Victoire, Dominique, Roxanne, Molly, Lucy, dan Lily tapi kenapa kau langsung ke Rose? Sudahlah kau tidak usah mengelak lagi."

Scorpius menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Kok kau bisa tahu sih? Kurasa aku sudah menyembunyikannya dengan sangat sempurna."

"Aku tahu kau itu bagaimana, Scorp. Kita bersahabat juga tidak sehari dua hari." Kata Albus dengan nada bosan. "Jadi?"

Scorpius mengangkat sebelah alisnya. "Jadi apa?"

Albus menaik-turunkan alisnya menggoda.

"Hhh—" Scorpius mendesah lelah. "Oke, aku memang menyukainya."

"Menyukai siapa?" Albus berlagak innocent.

"Aku menyukai Rose Weasley. Puas?" Kata Scorpius dengan wajah semerah kepiting rebus.

Kemudian Albus bersiul-siul. "Kau harus cepat-cepat menyatakan padanya, Scorp. Sudah kutelusuri dan Michael Creevey—cowok yang mendekatinya sekarang, sama saja seperti yang sebelum-sebelumnya. Tipe-tipe bajingan. Aku heran pada Rose, para bajingan selalu dia sukai, sedangkan disini ada seseorang yang rela dicap gay demi dirinya malah sama sekali tak dilirik."

"Sialan kau, Al!" Scorpius melemparkan sampah bekas Kacang-Segala-Rasa Bertie Botts ke kepala Albus.

"Haha, I'm sorry. Lagian kau lama sekali memendamnya. Kau tak berani mengatakannya ya? Malfoy yang payah! Kalau kakek buyutmu tahu tentang hal ini, ia pasti akan kecewa pada penerusnya yang pengecut." Sindir Albus.

"Aku tidak takut dan aku bukan pengecut, Potter!" Balas Scorpius kesal. "Hanya saja—uh—aku hanya menunggu waktu yang tepat!"

"Waktu yang tepat itu kapan, Scorpius? Ketika ia sudah menemukan orang yang bisa membahagiakannya dan itu bukan dirimu? Jangan pernah menyia-nyiakan waktu, sobat." Kata Albus bijak kemudian pergi keluar dari kompartemen meninggalkan Scorpius dengan sejuta pikiran di kepalanya.


Perkataan Albus tempo hari masih terngiang-ngiang di kepalanya. Apakah memang ini waktu yang tepat? Apakah memang waktu yang menjadi masalah? Atau hanya ketidakberanian Scorpius seperti yang dikatakan Albus?

Scorpius mengacak-acak rambut pirang-platinanya frustasi.

"Scorpius?" Deg! Suara yang selalu hadir di bunga-bunga tidurnya. Suara yang merdu dan selalu ia rindukan.

Scorpius menoleh dengan hati yang berdebar-debar. "Ya, Rose?"

Rose memandang heran ke arahnya. "Kau kenapa? Sedang ada masalah ya? Uncle Draco dan Aunt Tori sedang bertengkar?"

"Errr—tidak. Memangnya kenapa?"

"Tadi kau mengacak-acak rambutmu. Sepertinya kau sedang ada masalah. Haha, aku salah ya? Sorry." Kata Rose sambil tertawa ceria.

Justru masalahnya itu kau, Rose. Batin Scorpius frustasi.

"Ya, tak apa." Jawab Scorpius singkat. Rose duduk di hadapannya dan mulai mengerjakan sesuatu.

"Kau mengerjakan apa, Rose?" Tanya Scorpius penasaran.

"Ah ya, aku mengerjakan essay Transfigurasiku. Untung aku di beri kelonggaran waktu." Kata Rose sambil tetap mengerjakan essaynya. "Kau sendiri sedang apa di perpustakaan? Tumben sekali, biasanya kau bermain Quidditch bersama Al."

"Hari ini salju mulai turun, aku agak malas bermain Quidditch. Aku suka bau perpustakaan, bau buku-buku lama itu menurutku hangat." Kata Scorpius sambil tersenyum.

Rose tertegun. "Kau sama seperti ibuku, Scorp. Ia juga pernah bilang begitu."

"Oh ya?" Jawab Scorpius singkat, bingung ingin menjawab apa. Rose mengangguk. Kemudian hening beberapa saat karena tidak ada topik.

"Rose.." Panggil Scorpius. Rose menoleh. Scorpius menarik napasnya, mengumpulkan keberaniannya.

"Bagaimana kalau kita minum Butterbeer di The Three Broomstick? Aku yang traktir."

To be continued.


HAI! Reviews ayo reviews! Thank you for reading!

Nox,

Esposa Malfoy