Notes : Haha~ sambil menunggu chapter berikutnya yang saya usahakan dapat memuaskan reader, kini staw-chan membuat omake pertama untuk fict Dokuganryū and Hime sebagai penghilang rasa 'lapar' (?). Scene dari omake ini staw-chan buat saat minggu kedua dimana mereka baru saja menikah. Lebih mudahnya, scene sebelum chapter pertama. Jadi jangan pada ambil pusing ya~

Enjoy!

. . . . .

Dokuganryū and Hime

Omake I : Being Around You

"Eh? K-kencan?"

Megohime menjawab dengan shock setelah Masamune dengan kakunya menanyakan hal memalukan seperti itu. "Sialan kau, Sasuke... Usulanmu sangat membuatku malu sampai seperti ini!" rutuk dalam hati sang pemuda yang memakai penutup mata di sebelah kanannya, sedangkan Megohime masih menatap wajah Masamune yang memerah—otomatis wajahnya juga ikut seperti tomat segar.

Walau mereka sudah menikah, mereka memang belum pernah berkencan. Kencan mungkin hal yang menyenangkan bersama orang yang disukai, itu yang Megohime dengar dari kawan perempuan yang waktu berkunjung ke kediaman Megohime.

Jadi tidak ada salahnya mencoba bukan?

"B-baiklah, Masamune-sama. Jika memang itu keinginanmu, aku akan mencoba lakukan." jawab Megohime sambil tersenyum ramah. Suaranya yang lembut didengar oleh Masamune yang langsung menatap perempuan itu dengan kaget. Dia tak menyangka kalau permintaan bodoh dari sang pemegang wilayah Oushuu ternyata diterima begitu saja.

Tidak tahu harus bicara apa, Masamune hanya membalikkan badan dan berjalan untuk membuka fusuma dan pergi keluar. Megohime menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan satu jari, bingung dengan sikap Masamune yang tidak bisa dibilang "manis".

. . .

Langkah kaki Masamune terhenti tepat di belakang Sasuke dan Koujuuro yang mengutip pembicaraan sepasang suami-istri. "Koujuuro, bukankah menguping itu tidak sopan? Apalagi terhadap tuannya." Masamune berbicara dengan nada menantang tegas seperti biasa, membuat dua makhluk yang membuat rencana kencan itu melirik ke belakang.

"Ah, Masamune-dono~ bagaimana? Di terima kan?"

Ternyata Sasuke tidak sadar kalau tangan kanan Masamune sudah memegang salah satu katana dan bersiap untuk menebas sang tangan kanan rivalnya, Sanada Yukimura.

Segera Sasuke berdiri, bersama dengan Koujuuro yang membungkuk hormat minta maaf—karena takut ditebas, mungkin. Kemudian Koujuuro memulai pembicaraan, "maafkan saya, Masamune-sama... mungkin ini pertama kalinya saya penasaran sampai benar-benar nekat untuk melakukan hal seperti ini, tapi saya ingin Masamune-sama bisa lebih dekat dengan Megohime-sama."

Masamune menyilangkan tangan dan mulai mendengarkan.

"Saya dan Sarutobi sudah menyusun apa-apa saja yang perlu Masamune-sama lakukan jika Masamune-sama ingin lakukan." Koujuuro pun menyerahkan secarik kertas dan Sasuke hanya tersenyum polos.

Pemuda bertubuh tegap yang mata kanannya ditutup dan memakai yukata itu pun mengambil secarik kertas yang berisi rentetan huruf. Mata kiri Masamune bergerak-gerak membaca tiap-tiap hurufnya sesekali mengangkat alisnya.

Masamune pun membaca dalam hati, "berpegangan tangan saat berjalan agar tidak hilang, bawa ketempat romantis, peluk dan cium?" kemudian dirinya teringat beberapa bulan lalu saat Megohime belum terbiasa di sentuh oleh Masamune.

.

.

.

Masamune memandangi Megohime sejenak, tidak mengerti dan tidak tahu harus berbuat apa di suasana yang canggung ini, sang Dokuganryu hanya bisa duduk bersilang dan melipat tangannya didepan dada—memberi kesan menantang.

Tentu dengan melihat Masamune berdiam diri dengan cara seperti itu, Megohime takut dirinya tidak bisa membawa Masamune ke suasana yang lebih 'cerah'.

Sampai akhirnya datang seorang pemuda bertubuh sedikit lebih besar dari Masamune dengan monyet kecil duduk santai dan terlihat manis di bahu pemuda itu. Rambut coklatnya yang telah dikuncir melambai seiring arah gerakan tubuhnya.

"Yo~ Dokuganryu! Ah, dan kau pasti Megohime~ kau sangat cantik ya?" ucap pemuda itu dengan wajahnya yang ceria dan juga blak-blakan—membuat sang istri dari Masamune tersipu malu.

"Keiji... jangan kau berani-beraninya menggoda istriku." tentu saja dengan aura listrik yang mulai bermunculan di sekitar tubuh Masamune, Keiji Maeda—nama pemuda gembira-setiap-saat tadi—langsung mundur ke belakang kemudian dengan canggung dia garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan.

"Ahaha! Tenang dulu, dokuganryu! Tujuanku kesini bukan untuk mengambil istrimu tercinta kok~ aku hanya ingin mengucapkan selamat dan—"

Tiba-tiba saja fusuma bergeser dengan cepat dan menampakkan pemuda bertubuh tegap beserta mata kirinya yang ditutupi headband ungu tua. "SELAMAT ATAS PERNIKAHAN KALIAN, DATE!" dengan itu Megohime menjauh perlahan sambil berusaha menormalkan pernafasannya yang cepat.

"Ahh! Seharusnya aku yang mengatakan itu, Motochika-dono!" ujar Keiji tidak mau kalah.

Masamune langsung angkat bicara, "Oi! Kau tidak lihat Megohime sudah ketakutan, hah?!". Tangan milik Masamune langsung memegang tangan Megohime dan mendekap tubuh Megohime ke pelukannya untuk melindungi istri tercintanya—seperti anak kecil yang menyembunyikan permen miliknya agar tidak diambil orang.

Wajah Megohime seketika terasa panas menahan malu dan dengan sekuat tenaga Megohime melepaskan dekapan dari tubuh Masamune.

Dan ketiga pemuda yang ada di dalam ruangan tersebut hanya memandangi Megohime yang berlari menjauh dengan kedua tangan yang menutupi wajah merahnya.

"Sebenarnya kau yang membuat dia takut, Date." ucap Motochika Chousokabe dengan kemudian diiringi death fang dari Masamune untuk membuat laki-laki sok yang menjadi kapten bajak laut itu terpental keluar ruangan.

.

.

.

Setelah mengingat itu, Masamune merobek kertas itu; dengan tanda bahwa Masamune menolak mentah-mentah rencana mereka dan kemudian beranjak ke kamarnya lagi setelahnya berdiam diri seharian didalam ruangannya—membuat Megohime kebingungan dengan sikap Masamune.

Walau hari sudah beranjak sore setelah dia merajuk hampir seharian, sampai sekarang pun dia tidak bergerak seinci pun dari posisi ia duduk. Kedua tangannya tetap disilangkan di depan dada. Mata kirinya tampak tertutup—entah dia tidur sambil duduk atau apa.

Megohime pun mencari Koujuuro dan perempuan yang masih gadis itu menemukan Koujuuro sedang berbicara kebingungan dengan Sarutobi Sasuke.

"Ah, Megohime-dono! Bagaimana keadaan Masamune-dono?" Sasuke segera menghampiri Megohime dan menunggu sepatah kata keluar dari bibirnya, namun Megohime hanya menggeleng. "Justru seharusnya aku yang bertanya pada kalian, tadi dia mengajakku kencan... kemudian setelah itu dia kembali dan berdiam diri seperti itu."

Koujuuro pun berdeham. "Mungkin aku bisa men—"

"—Tidak perlu menjelaskan apapun." Masamune seketika sudah berada di belakang mereka tanpa mereka sadari. Ternyata mereka bisa lengah juga ya?

Megohime pun melihat ekspresi bingung dan takut dari masing-masing pemuda yang sedang berhadapan dengan sang Oushuu hitto. "Masamune-sama, apa yang sebenarnya telah terjadi?" sang putri dari Mutsu benar-benar bingung sekarang, tidak ada satu pun orang yang mau menjelaskan tentang 'kencan tidak jelas' ini.

Tiba-tiba dari arah gerbang, muncullah seekor kuda dengan penunggangnya sosok berbaju merah terang dengan dua spear di masing-masing tangannya. Mata coklat berbinarnya terus menatap ke empat sosok orang yang semakin lama jaraknya semakin dekat.

"Sasuke! Kenapa kau belum kembali juga?" Sanada Yukimura pun lompat dari kudanya dan melihat mereka berempat. "Ooh! Mego-dono! Bagaimana keadaanmu?" ujar Yukimura dengan semangat seperti biasanya.

"Aku baik-baik saja, terimakasih sudah bertanya, Yukimura-dono."

Megohime dan Yukimura memang sudah akrab sejak pertama Yukimura berkunjung ke tempat Masamune sambil membawa berita kalau daimyo dari Oushuu itu diundang makan malam oleh Takeda Shingen dalam rangka selamat karena Masamune sudah memiliki istri. Setelah acara keakraban tersebut, Yukimura dan Megohime juga makin akrab—tentunya membuat Masamune iri karena dia belum fasih berbicara tanpa kegugupan dengan Megohime, istrinya sendiri.

Yah, bisa dibilang cemburu.

"Oi, Yukimura. Tck, you piss me off. Aku minta kau melawanku sekarang juga!" Masamune langsung mencela pembicaraan Megohime dan rivalnya itu agar tidak terlalu panjang. Seketika, kuda Masamune datang menghampiri tuannya dan langsung saja Masamune menunggangi kudanya dan mengeluarkan ke-enam katananya.

Yukimura juga ternyata kebingungan dengan apa yang terjadi dengan rivalnya sendiri. Biasanya dia menyeringai atau pun berbasa-basi. Kalau memang begitu kemauan rivalnya untuk mengajaknya bertanding, kobaran api semangat dalam dirinya juga tidak dapat ia tahan.

Jadi Yukimura terima tantangan itu dan segera menunggangi kudanya juga dan beradu senjata di luar istana.

Megohime menatap khawatir mereka berdua, terlebih lagi pada suaminya. Karena melihat ekspresi itu Koujuuro langsung menatap lekat Megohime, "tenang saja, Yukimura-dono pasti akan membuat Masamune-sama kembali seperti biasa."

"Kalau begitu, Koujuuro-dono. Bisakah kau menjelaskan apa yang sudah terjadi?"

.

.

.

Desiran angin sejuk dan indahnya matahari terbenam tidak mampu mengganggu pertarungan sang biru dengan merah. Mereka tetap berlari, mengeluarkan tenaga terbaiknya untuk mengalahkan satu sama lain.

Teriakan pun tidak kunjung berhenti terdengar, siapapun yang melintasi wilayah tempat mereka sedang bertarung mungkin akan di 'selesaikan' oleh Masamune dan Yukimura sendiri karena mereka tidak ingin ada yang mengganggu mereka.

"Mana semangatmu seperti biasanya, Masamune-dono!?"

"Heh! Aku sudah semangat sedari tadi, you see?"

"Masamune-dono! Aku akan mengalahkanmu!"

"Hahahahah! Fool! Coba saja, Yukimura!"

"Heeaaaaaaaaahh!" keduanya berteriak semangat dan pada kecepatan dan kekuatan yang setara, mereka mengantukkan senjata mereka masing-masing hingga terpelanting. Kemudian keduanya memandang satu sama lain dan tertawa puas.

Masamune sendiri berjalan mengambil keenam katananya diikuti dengan Yukimura yang juga mengambil kedua spear kesayangannya. "Hari ini sangat seru, kuharap bisa seperti ini lagi!" teriak Masamune, dirinya sekarang seperti seseorang yang kembali berjalan di jalan perangnya.

"Tentu saja, Masamune-dono!"

Kemudian Masamune segera menaiki kudanya dan tangannya mengangkat tali agar bisa menceluti kudanya; memerintahkan untuk berjalan. Tetapi di hentikan gerakannya karena rivalnya itu memanggil namanya.

"Ada apa, huh?"

"Masamune-dono harus bisa membuat Megohime-dono merasa selayaknya seorang istri! Oyakata-sama berkata seperti itu! Karena aku juga melihat kebaikan dalam diri Megohime-dono dan juga semangat dalam Masamune-dono!"

Masamune terdiam sambil menatap lama wajah Yukimura yang lusuh akan luka goresan dan tanah. Semenit kemudian, dia tersenyum menyeringai seperti biasa. "Alright, aku akan menunjukkan padamu kekuatan dari Oushuu, Yukimura!"

Dengan itu kuda Masamune berlari kencang ke arah selatan agar kembali ke tempat dimana seharusnya tuannya itu berada.

. . . . .

Bulan purnama kembali memantul di air kolam ikan. Megohime duduk di perkarangan washitsu menunggu kepulangan suaminya sambil memberi makan ikan koi emas peliharannya.

Perkiraannya sudah pukul delapan malam dan sebentar lagi waktunya tidur.

Kemudian pintu tergeser dan menampakkan Koujuuro berlutut hormat, otomatis Megohime menghadap ke belakang untuk mendengar apa yang akan disampaikan mata kanan dari suaminya.

"Mego-sama, Masamune-sama sudah kembali dan sekarang dia berada dalam perjalanan ke ruangan."

Megohime mengangguk dan menatap tangannya yang masih menggenggam tabung berisi makanan ikan. "Koujuuro-dono, apa yang kau katakan padaku tadi, akan ku beranikan diriku. Karena aku ini adalah istri Masamune-sama, benar kan? Apa aku melakukan hal yang benar?"

"Tentu, Mego-sama. Anda telah melakukan hal yang tepat."

"Minggir, Koujuuro."

Sontak mereka berdua terkejut karena Masamune sudah tiba. "S-selamat datang kembali, Masamune-sama, dan Koujuuro-dono boleh pergi untuk beristirahat."

Koujuuro pun pergi dan meninggalkan mereka berdua dalam ruangan itu.

Sejenak keheningan tercipta.

Kemudian Megohime memutuskan untuk berbicara, "Masamune-sama. Air hangat sudah kusiapkan di bak mandi, jika Masamune-sama ingin aku memban—"

"Tidak usah."

Megohime terdiam tapi dia belum menyerah dengan usahanya agar dirinya bisa membangun hubungan yang baik dengan suaminya. Maka dari itu, Megohime segera menghampiri Masamune yang baru akan membuka pintu kamar mandi.

Tangan besarnya di genggam oleh kedua tangan mungil milik Megohime.

"M-masamune-sama. Bukannya aku membencimu atau apapun, a-aku hanya... hanya belum terbiasa di sentuh oleh laki-laki yang bukan dari keluargaku seumur hidup." Megohime berbicara hampir terisak, ia tahan segala tangisannya.

Dia benar-benar takut sekarang.

"Aku takut tidak bisa menjadi berguna bagimu. Aku takut, Masamune-sama akan memulangkanku. Aku takut aku tidak bisa menepati janji ayah untuk selalu berada di sampingmu apapun yang terjadi."

Air mata kemudian mengalir perlahan dari kedua mata Megohime.

"Gomenasai, Masamune-sama... Go—"

Tubuh Masamune berbalik dan tiba-tiba tangannya terulur mendekap Megohime.

"Kau bilang laki-laki yang bukan dari keluargamu? Aku ini sekarang keluargamu, dan aku takka memulangkanmu hanya karena ini. Aku juga... takut dan bingung. Apa mungkin dengan mata satuku ini kau mulai tak suka padaku atau apa."

Untuk pertama kalinya lah, Megohime merasakan kehangatan lain. Tangan kecilnya membalas pelukan dari Masamune.

Untuk kurang dari lima menit mereka terus bertahan dalam posisi nyaman itu. Tangisan Megohime sudah berhenti dan dirinya tersenyum ceria.

"Sudah sudah, aku ini masih penuh dengan tanah karena bertarung dengan si merah itu. Aku akan mandi." Megohime kemudian melihat Masamune berlalu ke kamar mandi dan tanpa sengaja ia melihat telinga Masamune yang memerah.

Dan dia pun baru sadar akan apa yang telah dia lakukan, meskipun begitu, dia merasa ingin memeluk suaminya kembali dengan hangat dan mencari kenyamanan disana.

Setelah Masamune selesai membasuh dirinya, barulah suaminya itu kembali memeluk istrinya dan mereka tertidur dalam kehangatan masing-masing. Dan mungkin, itulah kencan malam mereka dengan keduanya yang mulai saling terbuka dan mengenal satu sama lain.

. . . . . . . . . . .

終わ3.5

. . . . . . . . . . .

Staw-chan : haha! Selesai deh buat omake pertama untuk fiksi ini! Seiring berjalannya waktu, tugas dan latihan makin menumpuk dan staw-chan makin berusaha mati-matian mengulurkan waktu senggang untuk membuat chappie selanjutnya~ dari pada lama menunggu jadi ku buat saja omakenya :3 dan di setiap ada omake, saya akan buat preview untuk chapter selanjutnya agar penasaran~

Kemudian berikut balasan dari review chapter sebelumnya! Saya akan membalasnya sebagian, jadi gomen kalau namanya tidak ada di bawah~ keep it cool and stay tune!

MariyamaHina : Terimakasih sudah membaca XD untuk selanjutnya mungkin agak telatan~ tapi akan saya usahakan!

Honey Sho : Eheheh, Yoshihime begini karena ini baru perawalan. Lihat saja chappie selanjutnya karena aku punya rencana OvO)b

Meaaaa : Maafkan saya, tapi kuharap tidak cemburu lgi eheheh, karena babang Motonyan masih ada di hatimu, babang Masmun punya saya~ /kemudian staw-chan kena phantom dive.

Dissa-CHAlovers : sankyu! Kuharap kamu masih mau menunggu dan setia RnR fict ini XD akan ku usahakan buat romance karena ini baru pertama kalinya aku membuat fict ada romancenya~

Renka Shiro : bye bye, pisau-chan (?) Stay tune saja saat melihat Mego-nyan dan Mamu-nyan (?) punya 14 anak~ /bikin tim sepak bola

rekha .julita : emak kan seperti itu, makanya sabar saja deh~ tapi chappie berikutnya, kamu akan lebih kesal lagi kok ke Yoshihime-sama /author ajak tawuran (?) Terimakasih~ semoga betahan bacanya XD


[PREVIEW] NEXT ON DOKUGANRYU AND HIME. CHAPTER #4.

"Untuk sekarang, apa arti benda ini!?" dia berteriak dan mengenggam talisman ungu. "Sekarang yang kulihat ini sudah seperti sampah!"

.

"Dokuganryu isn't just for show, you see?"

.

"Masamune-sama!" dengan itu, sosok akan keberadaannya sudah menghilang. Meninggalkan pemuda yang sendirian itu menggertakkan giginya.

. . . . .

Sankyu for read this chapter and please don't be meannie silent-reader next time~