Wah datang lagi nih! Kali ini sedikit fluff antara orang tua vampir kesayangan kita, Carlisle dan Esme! Enjoy dan Review ya!

Semua sudah kembali normal. Renesmee akan hidup lama bersama keluarganya selama ratusan tahun. Para serigala berdamai dengan keluarga Cullen, terima kasih atas Jacob yang meng-imprint Renesmee. Volturi sudah meninggalkan mereka untuk hidup dengan damai. Tidak ada yang terluka... kecuali Irina.

Irina. Seorang teman dekat yang menghianati mereka. Bukan, bukan menghianati. Lebih tepatnya salah menyangka. Keluarga Denali masih berduka karena kehilangan seorang anggota keluarga. Walaupun begitu mereka pulang dengan anggota keluarga baru, Garrett, pasangan Kate.

Saat mereka memasuki rumah putih besar bertingkat tiga itu, masing-masing pasangan langsung pergi ke kamar mereka masing-masing. Tidak terkecuali Carlisle dan Esme.

Figur ayah dan ibu di keluarga Cullen itu langsung pergi ke kamar mereka yang berada di lantai tiga, di ujung lorong sebelah kanan. Sepasang pintu mahoni besar berukiran rumit adalah satu-satunya benda yang memisahkan lorong rumah dengan kamar mereka yang bergaya klasik-modern.

Begitu memasuki kamar, Carlisle langsung melepas jaketnya dan menggantungkan jaket berwarna gelap itu di salah satu kursi berlengan didekat perapian yang Esme sengaja tambahkan di kamar mereka. Esme melakukan hal yang sama dengan jaket kulitnya.

Tanpa merasa perlu untuk berganti baju, mereka berdua langsung naik ke tempat tidur King Size yang berseprai merah dengan rajutan-rajutan emas itu. Secara otomatis Carlisle menarik istrinya kedalam dekapannya yang penuh kehangatan. Esme mengubur wajahnya diatas dada bidang suaminya dan menghirup wanginya yang khas beraroma padang rumput hijau dan peppermint.

Carlisle sendiri membenamkan wajahnya di rambut Esme yang sewarna karamel. Wangi kayu manis dan bunga-bungaan dari istrinya tidak pernah membuatnya bosan. Dia mengelus punggung Esme dengan lembut, menanamkan kecupan-kecupan lembut diatas kepalanya.

"Semua sudah berakhir... kita damai sekarang." Esme bergumam pelan, jari telunjuknya bermain dengan kancing kemeja suaminya.

"Iya sayang... kita sudah aman sekarang." Carlisle mengelus rambut Esme dengan penuh kasih sayang. "Jika pertarungannya benar-benar terjadi... aku pasti akan memintamu untuk pergi berlindung."

Esme mendongak dengan ekspresi bingung tersirat diwajahnya. "Tapi kenapa? Aku akan bertarung bersamamu, apapun yang terjadi."

"Karena aku tidak ingin kau terluka, Essie..."

Esme mengangkat satu alis kearah suaminya. "Aku harus melindungi keluargaku. Tak terkecuali kau, Carlisle."

"Essie... Tanpa mu aku bukanlah siapa-siapa. Mengetahui bahwa kau terluka membuatku ingin melakukan apapun agar kau kembali aman, bahkan jika aku harus menghadapi maut sekalipun. Karena kau adalah hidupku..."

Esme pasti sudah akan mengeluarkan air mata jika ia bukanlah seorang vampir. Dia menarik suaminya untuk sebuah kecupan sayang yang akhirnya menjadi sebuah ciuman penuh gairah yang sudah ia rindukan. Sebelumnya, mengetahui bahwa mungkin mereka akan mati hari itu membuat mereka berdua ingin menjadi saat dekat dengan satu sama lain sesudahnya.

"Oh Carlisle... tanpa mu, aku pasti tidak akan pernah mendapatkan hidup seindah ini. Terima kasih atas semuanya..."

Carlisle tersenyum dan mengecup pipi istri tercintanya. "Dan terima kasih untukmu juga sayang... Tanpa mu, keabadian ini bukanlah apa-apa."

"I love you..." Esme berbisik ke telinga Carlisle.

"And I love you..."

Ini Bukanlah Sebuah Akhir...

Ini Hanyalah Sebuah Awal...

Semoga kalian suka ya sama cerita ini! Review!

Menerima request Fanfic Carlisle dan Esme :D