Dandelion Girl

Chapter 1 : Someone Special

Hajimashite, boku wa namae wa Miyucchi des, yoroshiku (^w^)/ Ane hanyalah author newbie dari fandom di kamar sebelah(?), dan ane lagi kepengen nyampah disini~ Selamat membaca!

Disclaimer : Prince of Tennis bukan punya saia. Kalo punya saia, Ryo-ryo akan ane buat se-innocent mungkin! XD

Warning : RyoxOC, OOC, Ryo-Ryo ngegalau/ceileh\, Typo, Abal, Gaje, dll. Apabila anda terkena penyakit muntah-muntah, segera hubungi dokter cinta! #Lha


Author POV

Ryoma berlari ke sekolah terburu-buru. Hari ini dia terlambat latihan lagi karena Momoshiro lupa untuk menjemputnya. Dia segera mengganti bajunya dan berlari menuju lapangan.

"Echizen, lari 20 putaran, kemudian ikut bergabung ke lapangan !" Perintah sang stoic buchou, Tezuka.

"Ha'i…" Ryoma menjalankan hukumannya dengan tidak semangat . Para regular memandangnya dengan aneh.

"Nee, nee, Momo. Tumben kau tidak berangkat bareng Ochibi. Ada apa?" Tanya Eiji. Momoshiro menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Etto… Tadi aku lupa untuk menjemputnya, makanya dia telat," Jawab Momoshiro sekenanya. Eiji terus memperhatikan Ochibinya berlari.

"Tapi… Tumben Ochibi tidak mengeluh. Biasanya kalau disuruh keliling lapangan dia pasti berkomentar 'mada mada dane' atau sejenisnya," Kata Eiji bingung. Oishi langsung masuk ke mode 'Mother Hen'.

"Eh !? Apa jangan-jangan dia sakit !? Atau dia tadi mengalami sesuatu yang buruk sehingga dia sedang bad mood !? Oh, apa yang ha-" Kalimat Oishi langsung dipotong Momoshiro. "Tidak mungkin Oishi-senpai, tidak mungkin,"

Inui mencatat data di bukunya. "Hm… 60% Dia sedang kecapean, 39,5% Tadi malam dia bermimpi buruk," gumam Inui. Mereka menoleh ke Inui.

"Lalu 0,5% nya apaan ?" Tanya Momoshiro. Inui melirik sebentar ke Momoshiro kemudian kembali mencatat.

"Tidak terlalu mungkin sih, tapi... 0,5% karena perempuan," Jawab Inui. Mendengar persentase 'perempuan', Momoshiro tersenyum jahil.

"Hee… perempuan ya… Sayang sekali persentasenya kecil. Benar-benar disayangkan," Komentar Momoshiro. Yang lain mengangguk setuju.

"Saa nee," Fuji mengangkat bahunya. Kawamura menggaruk-garuk kepalanya.

"Nee, senpai-tachi. Apa yang kalian bicarakan ?" Tanya Ryoma muncul tiba-tiba ala makhluk biru(?) dari pandom sebelah. (A/N : Sebelah mana? Sebelah genteng~). Mereka semua langsung teriak fansgirling(?).

"Ochibi!" Eiji langsung memeluk erat Kouhai kesayangannya hingga wajahnya membiru. Ryoma megap-megap kayak ikan kakap(?).

"Na…pas…Ha…na…s…" Ryoma berusaha lepas dari 'Pelukan Maut' senpainya, tapi gagal. Untung saja ada Humpty Dumpty(?) yang menolongnya.

"Eiji ! Wajahnya sudah membiru !" Kata Oishi memperingatkan. Eiji melihat muka Ryoma yang sudah dicat warna biru dengan pewarna alami.

"Ah ! Gomenne Ochibi !" Eiji melepaskan pelukannya. Akhirnya Ryoma bisa berfontosintesis(?) kembali.

Momoshiro merangkul pundak sahabat mungilnya itu. "Echizen, tumben ente tidak berkeluh-kesah akan hukuman elu, ada ape nih ?" Tanya Momoshiro dengan bahasa yang sama-sekali-nggak-elit-campur-aduk-ala-ketoprak. (A/N : Ketoprak ? KETOPRAK! *bangkit dari kubur*)

Ryoma memalingkan mukanya. "Nandemonai suyo," Jawabnya sambil menurunkan topinya. Dia mengambil raketnya kemudian berjalan menjauhi kerubutan(?) senpainya. Momoshiro mengejarnya.

"Ayolah Echizen, kau tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari kami. Tidak bisa," Kata Momoshiro.

"Apa yang kau bicarakan, Momo-senpai ?" Ryoma berjalan keluar lapangan. Dia memukul-mukul pundaknya pelan dengan raketnya.

"Echizen, mau kemana ?" Tanya Oishi. (A/N : Sama siapa~ /jangan nyanyi woy\)

"Beli Ponta," Jawab Ryoma tanpa menoleh. Kaidoh berjalan melewati Momoshiro.

"Fsshh… baka," Ejek Kaidoh. Momoshiro naik pitam mendengar ejekan rivalnya.

"Kau ngajak berantem, Mamushi !?"

"Itu yang kuharapkan, Peach-head!"

"Nani!?"

"Kuso peach-head!"

"Baka Mamushi!"

"Kaidoh, Momoshiro, 20 putaran !" Tegur Tezuka. Mereka terbelalak tidak terima.

"Ta-tapi Buchou, ini semua salah dia!" Bela mereka saling menunjuk satu sama lain.

"40 putaran,"

"Bu-buchou !"

"…Apakah kalian mau 100 putaran ?"

"Hi-hieeee! Gomennasai buchou!"

Kaidoh dan Momoshiro langsung berlari dengan hiasan sumpah-serapah yang (tidak) pantas untuk didengarkan. Para regular hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Di saat yang sama, Ryoma hanya terdiam di depan vending machine sambil menatap pontanya.

'Hari ini… adalah hari itu… 3 tahun yang lalu…' pikir Ryoma. Dia menghela napas sesaat, sebelum kembali ke lapangan.

Ryoma mengacak-acak tasnya mencari sesuatu. Dia terus mencari bung, dan… Akhirnya ketemu saudara-saudara! Beri applause kepada hunter terbaru kita, Echizen Ryoma! (A/N : SALAH SCENE WOY!)

Ehm, baik. Ryoma mengambil sebuah gantugan kunci dengan hiasan bunga matahari. Bagi yang melihat itu bola tennis, dipastikan sedang menderita penyakit katarak. #plak

Dia memandang lama gantungan kunci, kemudian menghela napas panjang. Pikirannya menerawang ke masa lalunya, mengenang seseorang yang memberinya barang tersebut.


Gadis sebayanya yang dia temui di taman waktu itu. Berambut coklat tua, dan bermata hazel. Gadis yang tidak terlalu menarik. Anehnya, ada sesuatu yang istimewa dari dirinya.

Karena dia itu…

Gadis pertama yang bertanya kepadanya apa itu tennis.

Gadis pertama yang tidak memandang status, kelebihan, dan kekurangannya.

Gadis pertama yang tidak menyukai smirk andalannya.

Gadis pertama yang memaksanya untuk tersenyum

Gadis pertama yang menyamakan dirinya dengan bunga matahari saat tersenyum

Gadis pertama, yang…

Membuatnya tersenyum tulus, untuk pertama kalinya….

Tapi,

Dia tidak mengetahui, sama sekali tidak mengetahui,

siapa namanya….

Hanya gantungan kunci inilah, yang menjadi kenang-kenangan akan dirinya…


'Hh… Kok jadi galau gini sih? OOC pulak…' Tukas Ryoma sembari ngeglare Author (sedeng) yang sedang ber-fansgirlling yang dilihatnya dari sebuah jendela Intradimensional. Yang diglare juga gak nyadar, malah lagi klepek-klepek bareng temennya.

Karena lama-lama Ryocchi (Narrator : Eh, WHAT!? Author, salah pengetikan! Miyu : Biarin, itukan imut~) ilpil ngeliat kelakuan si BakAuthor ini, dia kembali ke jalan cerita, yaitu…

…JADI TUKANG BATAGOR! (Ryoma : Keberatan! NarrAuthor : Diterima!*dibunuh Ryoma pake twist serve*)

Baiklah, sekarang ayo kita kembali ke jalan yang benar(?).

Ryoma sedikit tersenyum mengingat masa lalunya. Untung saja dia berhasil menyembunyikan senyumnya, kalau enggak nanti dia diserbu oleh pasukan pertanyaan dari kerajaan manusia kepo. Ryoma lagi-lagi menghela napas panjang, dan menaruh kembali gantungan kunci itu dengan lesu.

Dia berjalan ketengah lapangan dengan sedikit melamun, terus berjalan hingga tidak sadar…

"Echizen, AWAS!" DUAKKKK!

Yak, saudara-saudara, Cocky rookie kita telah terkalahkan oleh serangan bola tennis nyasar yang tak bertuan. Ryoma pun pingsan dengan tidak elitnya. Para regular dan yang lain langsung mengerubuninya seperti antara semut dan gula(?). Yang terakhir Ryoma ingat adalah Momoshiro menggendongnya ala bridal style.(A/N : Sedikit hint yaoi tidak apa-apa kan ? *terdengar amukan massa diluar*)


Ryoma POV

"Siapa…nama…" Aku mulai mengerjapkan mataku. Setelah mengumpulkan nyawa(?), aku baru sadar kalau ini bukan di lapangan lagi. Setelah menscanning setiap sudut, bahkan debu-debu tidak kasat mata pun aku scanning seperti manusia pure pokerface dari pandom tetangga, ternyata aku berada di ruang UKS.

Aku memegang kepalaku. Sedikit sakit, tapi tidak apa-apa. Sepertinya petugasnya keluar setelah selesai memperban kepalaku. Baru saja turun dari kasur, pasukan manusia(?) langsung menerobos masuk dan menyerangku dengan ribuan pertanyaan.

"Echizen! Daijoubu!? Tadikamukenabolatennisteruskamupingsandankepalamub erdarah,jadiMomolangsungmembawamukeUKSdanteru-" Ocehan Oishi langsung kupotong. "Oishi-senpai, boku wa daijoubu desuka," tegasku. Oishi menghela napas lega.

"Echizen, tidak kusangka instingmu menurun. Benar-benar tidak kusangka," Komentar Momoshiro langsung ku glare.

"Baka Momo-senpai. Senpai-tachi, kenapa kalian bisa kesini ?" tanyaku. Inui melihat jamnya.

"Sekarang sudah jam istirahat, jadi kau pingsan sekitar setengah hari," jelasnya. Aku ber'ooh'ria.

"Hee… Kalau begitu, aku kembali ke kelas saja," Baru saja mau membuka pintu, aku langsung dicegah Oishi dan Eiji.

"Tidak, tidak, Ochibi. Kau harus istirahat nyan~," Ucap Eiji sambil menggendongku kembali ke alam(?). Aku meronta-ronta minta turun.

"Kikumaru-senpai, turunkan aku!" Rontaku. Sambil bersiul, Eiji menaruhku dikasur dan menyelimutiku.

"Tidak boleh Ochibi, kau harus istirahat, nya,"Aku berusaha melepaskan diri.

"Tapi aku mau makan, dan habis istirahat ada pelajaran Science!" Belaku. Momoshiro merangkul pundakku.

"Kikumaru-senpai, tidak usah se-over protective itu. Echizen tidak terluka parah, apalagi sampai lupa ingatan. Tidak apa-apa," Kata Momoshiro sambil memberikan puppy eyesnya. Bukannya terlihat imut-imut, malah jadi amit-amit jabang bayi.

"Demo…" Fuji yang dari tadi diam saja, menepuk pundak Eiji. "Dia juga sudah bilang dia tidak apa-apa kan ?Nee, Echizen ?" Tanyanya disambut anggukan.

Eiji dan Oishi akhirnya menyerah. "Baiklah… Tapi Echizen, jangan memaksakan diri ya !" Pesan Oishi. Aku mengangguk kemudian berjalan keluar UKS.

Baru saja tiba di kelas, aku langsung diserbu (lagi) oleh pasukan pertanyaan. Trio Ichinen, Osakada, dan Ryuzaki berlari mendatangiku.

"Ryoma-sama! Kau tidak apa-apa!?" Teriak Osakada. Duh, dia tau enggak sih kalo suaranya bikin aku ada 'apa-apa' !?

"…Daijaoubu…" Gumamku. Kachiro dan Katsuo menatapku dengan khawatir.

"Echizen-kun, jangan memaksakan diri," pesan mereka berdua. Horio mendengus sombong.

"Huh ! Kalau aku, dengan pengalamanku 2 tahun bermain tennis, tidak akan pingsan dengan bola seperti itu !" Bual Horio membanggakan diri. Yang lain langsung facepalm.

"Bualan yang bagus, Horio-kun…" Komentar Kachiro, Osakada, dan Katsuo sarkastik. Horio tertawa gugup.

Aku menghela napas. Tidak memperdulikan marah, aku kembali ke tempat dudukku dan memakan bekalku. Ryuzaki berjalan mendekatiku.

"A-ano… R-ry-ryoma-kun…" Panggilnya gugup. Saat aku melirik kepadanya, wajahnya langsung menyamai apel.

"Nani ?" Wajahnya makin merah. Aku tidak tahu mengapa…

"Eng… E-etto…Lu-lukamu…"

"…"

"A-ap-apa… Ba-baik..."

"…"

"Ba-baik… Sa…" Hh… Bisakah dia mengatakan langsung to the point dan tanpa tergagap-gagap ? Kalau begini terus, 100 tahun pun tidak akan selesai! (A/N : Maaf bagi para pecinta Ponta Pair, soalnya ane anti bgt Anime!Sakuno, ane lebih suka Manga!Sakuno)

"I-itu… Ke-kepala…" Sebelum dia menyelesaikan perkataannya, aku langsung bangun dari kursi dan pergi meninggalkannya.

"Jaa," Aku langsung keluar dari kelas. Terdengar gerutuan mereka dari dalam kelas. Aku menghela napas, dan pergi ketempat favoritku, atap sekolah.

Disitu, aku tiduran seperti biasa. Untung saja tadi aku sempat mengambil gantungan kuncinya. Aku mengangkatnya keatas, terhias dengan langit biru yang membuatnya semakin indah. Dilengkapi dengan angin sepoi-sepoi dan kicauan burung, membuatku sedikit terkantuk. Aku menggenggam gantungan kunci tersebut.

Aku ingin… Bertemu denganmu…


Muokokokokok, Ryo-Ryo galauuuu~

Perjuangan banget bikin Ryoma ngegalau, dan jadi OOC~ *tiba-tiba terdengar amukan massa dari pandom sebelah*

Manusia bertanduk : WOY! APDET CHAPTER 6! *gedor-gedor pintu dengan semangat 45(?)*

Makhluk bertanduk panjang : Selesain dulu cerita lo! *ikut gedor-gedor*

Cowok pokerface : Baru juga chapter 5, udah main loncat pandom aja! *bikin blackmail*

Perempuan (gak) innocent : /Hunter mode : on\ BISA KONSEN KE KITA DULU GAK!? LO MAU GUE BUNUH SEKARANG JUGA!? *nembak-nembakin AK-5(?) ke segala arah*

Gyaaa! Jangan bunuh ane! Soalnya ide ini udah lama mendekam di otak ane, dan sekarang mulai memberontak. Sayang kalo gak ditulis… *puppy eyes 4000 watt* /My eyes\

Mind to Review ?