Dandelion Girl

Chapter 4 : Everything is NO LOGIC

Yo~ Miyucchi gelinding(?)! Waktu saia lagi ngobrol gaje bareng temen saia, dia saranin denger lagu No Logic. Dan tara~ Tring! Haha. Ibu peri langsung ngasih ide buat fanfic ini. Arigachu my sista~ Kapan nih gue main ke rumah lo? :)

Btw, hari ini saia ultah lho :D /APAHUBUNGANNYANYET\

Disclaimer(s) : Prince of Tennis bukan punya saia, dan saia juga minjem bentar kok lagunya. Lukanee-san gak usah pasang pose siap-siap mau colok mata saia pake ikan tuna gitu dong... *sembunyi di kolong* *pake kacamata anti pecah*

Warning(s) : CharaxOC, OOC, abal, gaje, aneh, plot bunnies, lagu nyasar(?), emo banget, apdetnya sesuka hati author*dibunuh readers*, DLL. Mana kadonya!?#Woy


Author POV

Setelah 10 minggu 10 hari 10 jam 10 detik 10 kedipan mata sampai 10 jari kaki(?), Ryoma dan Himawari menjadi teman dekat tanpa sepengetahuan teman-temannya. Pulang bareng diam-diam sudah menjadi suatu kebiasaan bagi mereka. Kadang, Ryoma suka menjemput dia saat pagi hari. Sayangnya hari ini Himawari tidak masuk.

"Hh…" Untuk kesekian kalinya, Ryoma menghela napas. Sekarang sedang pelajaran Bahasa Inggris, jadinya dia kebosanan. Lagipula dia tahu kalau gurunya nggak akan berani menunjuknya menjawab soal. You-know-what-i-mean.

Kriiiiiinngggggg!

"Baik anak-anak, jangan lupa kerjakan tugasnya ya," Kata sang guru botak setengah pitak(?) kepada murid-muridnya. Beberapa siswa mendesah lega, termasuk Horio.

"Ha'i, sensei!"

Ryoma segera merapikan bukunya lalu keluar kelas. Dia memasukkan MP3 Playernya kedalam saku beserta earphonenya. Baru saja sebentar berjalan, tiba-tiba Horio memanggilnya

"Oi, Echizen, chotto matte!" Panggil Horio. Ryoma menoleh ke sumber suara.

"Hei, kau mau kemana? Ke kantin?"

"…Betsuni,"

Horio menggembungkan pipinya marah. Dia tidak membalas perkataan Ryoma, toh arah jalannya juga mengarah ke kantin. Akhirnya Ryoma dan Horio berjalan bersama-sama. Seperti biasa, Horio sibuk membanggakan tentang apa saja sementara Ryoma lebih memilih tidak memedulikannya.

Saat melewati sebuah kelas, mereka langsung dihadang segerombolan anak yang sedang mengerubuni seorang perempuan. Horio berusaha mengintip kedalam saking penasarannya.

"Ah, itu Katsumi Koyomi-senpai!" Seru Horio dengan mata berbinar-binar. Para siswa yang mengerubuninya ber-'kyakya'ria. Ryoma hanya menatapnya sambil mendesah pelan.

Katsumi Koyomi merupakan salah satu junior ter-popular di Seigaku. Selain terkenal sebagai anak pindahan dari sekolah ternama dan murid teladan, dia juga memiliki rambut biru tua panjang yang diikat half-ponytail. Tidak lupa bulu mata lentik yang mempertambah kecantikannya. Dia juga lembut, baik hati, dan murah senyum. Tidak heran dia memiliki setumpuk fans.

Hanya saja Ryoma menyadari ada sesuatu yang salah dari dirinya. Hei, jangan diremehkan ya, dia bisa melihat diri seseorang yang sebenarnya walaupun dia memakai topeng permanen. Hanya saja Ryoma malas untuk mengemukakannya.

Merasa terganggu, Ryoma melanjutkan jalannya tanpa menghiraukan segerembolan anak itu. Horio yang berencana ke kantin malah ikut-ikutan ikut berfansboy-ria bersama teman-temannya.

Readers sudah tau kan kemana dia pergi? Ya. Atap sekolah.


"Hh… Akhirnya bisa bebas juga…" Gumam Koyomi seraya berjalan ke atap sekolah. Menjadi anak teladan memang tidak gampang. Tidak boleh melanggar peraturan sekolah satu kalipun, selalu sempurna di segala bidang, tidak pernah membangkang kepada guru, de-el-el.

Sejak kecil, dia sudah dididik untuk sempurna di segala bidang, demi masa depannya. Itulah jawaban orangtuanya saat dia bertanya kenapa dia harus les ini-itu. Demi masa depannya. Kalimat itu membuat Koyomi stress.

Yang dia inginkan adalah hidup sebagai siswa yang normal, hidup di dunia normal, dan mempunyai sahabat sejati. Bukan fans. Yang dia inginkan adalah seseorang yang mengerti dirinya, bukan ketenaran. Karena itulah dia memilih makan dia atap sekolah dibandingkan di kantin.

Baru saja membuka pintu, dia langsung disuguhi punggung seorang kouhainya. Rambut hijau hampir hitamnya itu dia biarkan menari tertiap angin. Di sampingnya, tergeletak sebuah MP3 Player yang sedang memutarkan sebuah lagu. Kyomi mengerutkan dahinya saat mendengar nada asing di telinganya. Seingatnya, tidak ada penyanyi yang mempunyai lagu bernada seperti ini.

Daitai sore de ii'njanai no? Tekitou datte ii'njanai no?
Sukoshi fuan nokoshita hou ga, tanoshiku ikirareru'njanai no
Tsukaretara nereba ii'njanai no? Tama ni wa raku shite ii'njanai no?
Yaritai koto yaru tame ni, bokura wa ikiteiru'ndeshou

(Isn't this basically enough? Isn't it okay to be just good enough?
Life is more fun if you've left some room for suspense, right?
Isn't it fine to sleep if you're tired? Isn't it fine to take a break now and then?
So that we can do the things we want to, isn't that what we're all living for?)

Koyomi menahan napas mendengarnya. Lagu itu benar-benar menggambarkan tentang hidupnya. Ditambah suara cowok itu yang lembut, membuat dirinya sedikit ragu akan gender orang didepannya.

Daitai sore de ii'njanai no? Shippai shite mo ii'njanai no?
Donna ni naya'ndatte hora kekkyoku TIMING nan janai no
Hitotsu hitotsu kakaekonde, Ittai nani o dou shitai no?
Yaritai koto yaru tame ni, kimi wa umaretekita'ndeshou

(Isn't this basically enough? Isn't it fine even if you mess up?
No matter how much you worry, doesn't everything come down to timing?
You keep taking things on one by one, what exactly do you want to do?
So that you can do the things you want to, isn't that why you were born?)

"…Untuk apa aku lahir?" Bisiknya pelan. Ya, dia tidak pernah memikirkan hal itu. Yang dia pikirkan adalah mengikuti pesan orangtuanya, tok. Dia lahir untuk mengikuti peraturan, dan itulah mottonya. Mungkin. Kyomi lebih memilih diam menunggu bagian reffnya.

Kanpeki na ikikata nante dekinai kara
Kanpeki na ikikata nante shitakunai kara
Bukiyou na boku wa bukiyou na mama de

(Since there's no way to live a perfect life
Since I don't want to live a perfect life
My clumsy self will just stay clumsy)

Lagi-lagi Kyomi menahan napasnya. Dia selalu ditekan untuk membuat hidupnya sempurna, sempurna, dan sempurna. Demi guru-gurunya. Demi kebahagian orangtuanya. Tapi hal itu bukan untuk kebahagian dirinya sendiri.

Kami-sama, kono uta ga kikoeru kai? Anata ga nozo'nde inakutemo
Boku wa waratteitai'ndesu, nakitai toki wa nakitai'ndesu
Itsudatte shizen tai de itai'ndesu
Dare mo ga nido to modorenu ima o kitto itsuka koukai suru kara
Ima wa mada konna kimochi de ki mama ni aruiteitatte, ii yo ne

(God, can you hear this song? Even if you don't wish me to
I want to laugh, and when I'm upset I want to cry
Always living for the moment, that's what I want to do
No one can ever return to a moment once it's passed, and surely there will be regrets
With these feelings I have now, I want to walk on my own path)

"Berjalan… Di hidupku sendiri…"Kyomi sangat ingin menyanyikan lagu itu. Didepan teman-temannya. Didepan guru-gurunya. Didepan orangtuanya. Didepan semuanya. Lagu itu benar-benar menggambarkan impiannya, yang dia kubur jauh didasar hatinya. Ingin bebas.

Kyomi menikmati nada lagu tersebut. Sederhana, namun menenangkan. Di liriknya juga, setiap kata berarti besar. Hingga sekarang, sepertinya anak itu tidak sadar akan keberadaannya.

Daitai sore de ii'njanai no? Muri wa shinakute ii'njanai no?
Tsukuri waraishitatte hora Chitto mo tanoshikunai deshou
Hitotsu hitotsu kakaekonde, Ittai nani o dou shitai no?
Dare mo 100 ten manten no kotae nante dasenai'ndeshou

(Isn't this basically good enough? Isn't it okay to not overdo it?
If you have to fake a smile, then you're not having any fun at all are you?
You keep taking things on one by one, what exactly do you want to do?
There's no question that everyone can get a perfect score on, right?)

Tanpa sadar Koyomi mengeratkan genggamannya pada kotak bekalnya. Dia terkenal dengan murah senyum, bukan? Tapi itu hanyalah topeng. Nilai-nilai yang selama ini dia dapatkan juga bukan karena keinginannya. Lagi-lagi, demi memenuhi keinginan orangtuanya. Tapi, apakah itu juga keinginannya sendiri? Menjadi seseorang yang sempurna, apa itu keinginannya?

Musiknya mulai berubah, tapi tetap mempertahankan kesederhanaannya. Dia mengingatkan dirinya sendiri untuk bertanya judul lagu tersebut ke anak itu.

Kanpeki na ikikata nante dekinai kara
Kanpeki na ikikata nante shitakunai kara
Fukanzen na boku wa fukanzen na mama de

(Since there's no way to live a perfect life
Since I don't want to live a perfect life
My imperfect self will just stay imperfect)

Tidak sempurna. Ya, itulah manusia. Justru karena itulah, manusia itu sempurna. Dan Koyomi mulai menyadari hal itu. Pandangannya mulai melembut. Mulutnya mulai melantunkan nada lagu tersebut pelan, takut membuat orang itu menyadari keberadaannya.

Kami-sama, kono uta ga kikoeru kai? Anata ga nozo'nde inakutemo
Boku wa waratteitai'ndesu, Soshite ima sakebitai'ndesu
Itsudatte saigo wa NO LOGIC
Bokura no kono ichidou kiri no mu douse itsuka owari ga kuru nara
Ikiru koto o yametai toki dake tachi yamatte kangaeru kurai de, ii yo ne

(God, can you hear this song? Even if you don't wish me to
I want to laugh, and now I want to shout out
The conclusion is always NO LOGIC
Since someday the end of our one-time dream will come
Until we accept the end our lives, we won't even think of giving up)

Tes. Tes. "Eh?"

Tanpa sadar airmata Koyomi berjatuhan. Aneh, padahal dia sama sekali tidak merasa sedih, tapi kenapa menangis? Apa ini yang namanya airmata bahagia? Bahagia… karena lagu tersebut?

Koyomi tersenyum lembut. Tidak, ini berbeda dari biasanyanya. Ini berasal dari dalam hatinya. Berkat lagu ini,dia menemukan jalan hidupnya. Dan mungkin… cintanya?

"Yaritai koto dake erande, iranai mono kiri sutete"
Dare mo ga minna sonna kuu ni arukeru wake...nai yo ne

"Choose only the things you want to do, and throw away what you don't"
For everyone to live by that method... isn't possible is it

Setelah kalimat tersebut, nada lagu itu langsung berhenti. Koyomi sedikit kecewa karena lagunya sudah selesai, tapi dia tetap puas. Laki-laki itu merentangkan badannya. Walau Koyomi tidak melihatnya, dia tahu kalau anak itu tersenyum.

"Ano… Sumimasen…"

Anak itu langsung menoleh. Koyomi sedikit blusing saat melihat wajahnya. Matanya yang tajam namun bulat layaknya kucing, dan pipinya yang agak chubby tersebut menambah poin keimutannya. Andai saja dia memiliki rambut panjang, pasti sudah dikira perempuan.

"Maaf, sedari tadi aku mendengar kau bernyanyi…"Kata Koyomi blak-blakkan. Laki-laki tersebut membulatkan matanya kaget. Muncul semburat merah dipipinya.

"…Menurut senpai bagaimana?" Tanyanya. Koyomi terkekeh pelan.

"Bagus. Bagus sekali. Tidak kusangka ada cowok yang memiliki suara yang bisa menandingi suara cewek, bahkan tadi aku hampir ragu akan gendermu lho," Jawabnya makin membuat laki-laki didepannya itu malu.

Koyomi tersenyum lembut. "Kau tahu, aku sangat menyukai lagunya. Lagu itu me-"

"Menggambarkan tentang seorang anak yang menginginkan suatu kebebasan, benar? Dan…" Anak itu tersenyum.

"…Itu sama sepertimu, apa aku benar?"

Koyomi membulatkan matanya kaget. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mengerti tentangnya. Dia hanya bisa mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.

"Ah, iya. Maaf kalau aku telat menanyakannya, tapi namamu siapa? Aku yakin kau sudah tahu namaku,"

Anak itu menjulurkan tangannya. "Echizen Ryoma, yoroshiku Katsumi-senpai,"

Koyomi menjabat tangan Ryoma. "Yoroshiku, Echizen-kun. Ngomong-ngomong, judul lagunya apa? Aku tidak pernah mendengarnya,"

Ryoma mengambil MP3 Playernya. "Judulnya No Logic, dan itu buatanku sendiri," Balasnya sambil mengantonginya.

Koyomi sedikit kaget mendengarnya. "Ka-kau membuatnya sendiri!? Sugoooiiiiiiiii!"

Yang dipuji hanya terkekeh pelan. "Kukira bakal jelek hasilnya. Yokatta kalau bagus,"

"Um! Dan…" Koyomi menundukkan kepalanya sambil memainkan jarinya. "Apa komentarmu tentang hidupku?"

Ryoma berjalan ke ujung atap sekolah lalu berpangku tangan. "…Penuh dengan kebohongan, sama sepertiku,"

"Eh?"

"Mungkin terdengar aneh, tapi… aku tidak pernah menganggap orang-orang disekitarku adalah 'teman'. Mereka mendekatiku karena tenis, itu saja. Mereka juga menganggapku sempurna, dan selalu memaksaku untuk menjadi sempurna, walau mereka tidak pernah mengatakannya sih. Tapi… sejak aku mengenal seseorang, kurasa dia adalah orang yang paling pantas disebut 'teman'. Dia sama sekali tidak peduli siapa aku, dan aku juga tidak peduli siapa dia. Dia membutuhkanku, dan aku juga membutuhkannya,"

"…" Koyomi terdiam mendengar kalimat Ryoma. Tidak disangka kouhainya yang terkenal cool itu merasa kesepian didalam. Yah, kalimat 'jangan pernah melihat seseorang dari luarnya' itu terbukti ya?

"Kau tidak sendirian,"

Ryoma menoleh ke belakang. "Maksudmu?"

Koyomi tersenyum sembari mengambil posisi di sebelah Ryoma. "Kau tidak sendirian. Kau mempunyai nasib yang sama denganku, jadi kau tidak sendirian. Kau masih mempunyai temanmu itu, dan…" Dia menjulurkan tangannya.

"Maukah kau jadi temanku, Echizen-kun?"

Ryoma terdiam mendengarnya, tapi kemudian membalas uluran tangan Koyomi. "Tentu saja, Katsumi-senpai,"

Koyomi kembali tersenyum. Bukan, ini bukan senyuman yang biasa dia perlihatkan kepada orang lain. Ini senyuman tulus, dari dasar hatinya.


Tapi tapi Tapioka~ Watashi no oishii o tomodachi~

"Moshi-moshi? Ah, Echizen-kun! Ada apa? Eh? Keadaanku? Baik-baik saja kok, tinggal tidur semalam, besok tinggal sekolah deh! Kenapa? Kangen? Aww~ Lemme give you a hug, my sweet green teddy bear~ Ahahaha, gomen, gomen. Eh? Masa? Mou… yasud lah. Kalau aku lupa nanti aku minta contekan ya. Haha, Jaa nee~"

Klik. "Hh… Sehari nggak masuk pe-er numpuk banyak ya…" Keluh Himawari. Hanya karena kemarin minum jus jeruk dingin hingga 10 gelas, dia harus berdiam diri dirumah karena sakit flu. Salahkan saja kenapa kemarin paman matahari tiba-tiba marah-marah.

Dibukanya buku tugasnya. Sejak dia mengenal Ryoma, pelajaran yang dulunya dia benci sekarang mulai dia sukai. Untung saja Ryoma mengusulkannya menjadi pengurus perpustakaan.

"Hm… Apa yang dilakukan Echizen-kun sekarang ya?" Gumamnya seraya memainkan pensil mekaniknya.


"Tadaima…" Ryoma langsung mengecek laptopnya. Fyuh, Brown-san masih aktif. Hari ini dia pulang agak telat berkat Inui Juice dan latihan spartan ala Tezuka-buchou dan Ryuzaki-sensei. Kebayang kan seberapa capeknya Ryo-Ryo?

(GreenNeko151 is Log In)

Brown_Shiropico : Yo, Greencchi! Tumben baru on~

GreenNeko151 : Yep. Baru pulang dari neraka nih

Brown_Shiropico : Seriously? Ketemu setan-setan ngambang gak?

GreenNeko151 : Haha. Tuh, barusan sadako nitip salam. Dia juga nitip tolong dibeliin conditioner, katanya capek punya rambut lebat tapi kayak sapu ijuk XD

Brown_Shiropico : Wk, lol XXD. Gimana sekolah?

GreenNeko151 : Baik-baik saja. Kamu?

Brown_Shiropico : I'm sick :c

GreenNeko151 : Eh? Sakit apa?

Brown_Shiropico : Bukan apa-apa, hanya karena hal yang tidak penting. Maybe ;)

GreenNeko151 : -_- Sekarang sudah sembuh?

Brown_Shiropico : Yep, dengan obat mujarab :D Jangan tanya dapet darimana~

GreenNeko151 : Mou, kau hanya membuatku semakin penasaran…

Brown_Shiropico : Ah, aku baru ingat! Saatnya melanjutkan tugas 'menggelinding'ku~ See you, Greencchi! *chu*

GreenNeko151 : Eh? O-oy!

(Brown_shiropico is log off)

Ryoma sweatdrop. 'Menggelinding? Ada-ada saja Brown-san…' Pikirnya sambil mematikan laptopnya.

"Ryoma-san, makan malam!"

"Ha'i!"

Tanpa dia ketahui, gantungan kuncinya dan laptopnya, akan menjadi terompet bisu dalam suatu 'perang'…


Hahahai! Chapter 4~!

Hm… Apa saja yang ane dapatkan dihari ini? Let see…

Ucapan dari ortu dan teman-teman, tagihan PU, chatime dan kaos dari kakak, dan dijanjiin sama sepupu ditraktir sushi sebagai hadiah ultah… *drool*

Untuk para readers, ini dia PU dari saia~! Saia lagi bokek, jadinya pake chappie baru aja ya? Ya? Ya? *fail puppy eyes* *readers geser-geser menjauh*

Untuk ringtonenya Himacchi, silahkan tanyakan saja pada mas Gugel~ Itu hanyalah sebuah lagu pendek yang secara tidak sengaja ane temukan di yutub. Suer. Lagi asik-asik nyari lagunya Len Kagamine bergenre Angst malah disuguhi ntu lagu, yowes ane tonton aja.

Well, stop curcol gaje bangetnya. Bahkan saia belum mandi. Boro-boro mandi, lepas seragam aja belom. Ehem, malah makin buka aib.

Saa, minna-san…

REVIEW, ONEGAI?