We Were Once...

AoKise! fic.

I own nothing, the charas belongs to Fujimaki Tadatoshi

Prologue

Kise menghadang Aomine saat ia tengah memasukkan bola kedalam ring. Pemuda bermata emas madu itu sempat menatap lawan yang pernah menjadi teman dekatnya itu, partner lamanya saat ia masih di Teikou. Aomine, seseorang yang membuat Kise jatuh cinta pada basket begitu ia melihat permainannya. Basket, adalah satu-satunya hal yang ingin dimainkan Kise bersama dengan Aomine saat itu. Tetapi sekarang, mereka tengah bertanding untuk detik-detik terakhir pertandingan mereka.

Sejujurnya, Kise sangat ingin menang. Tetapi, ia juga tidak berharap Aomine kalah. Kise selalu memandangnya sebagai inspirasi. Kise terlalu memandangnya.

"Aku menang, Kise."

"Karena kau mencoba sesuatu yang diluar karakter, akhir pertandingan ini jadi mengecewakan."

"Pada akhirnya, kau kalah karena kau lemah dan bergantung pada rekan tim-mu pada menit terakhir."

Aomine telah berubah. Ia bukanlah Aomine yang dulu selalu bermain basket dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Ia bukanlah Aomine yang dulu selalu bersamanya. Ia bukanlah Aomine yang peduli akan perasaan orang disekitarnya. Ia bukanlah Aomine yang dulu selalu bermain dengan ceria bersama rekan-rekannya. Ia bukanlah Aomine yang dikenal Kise dulu.

"Kau mungkin benar."

"Tapi, aku tidak akan mungkin sampai sejauh ini kalau sendirian."

Aomine menatap Kise dengan ekspresi kaget, tidak menyangka bahwa Kise masih memiliki kemampuan untuk menghadangnya. "Jadi, aku tidak keberatan jika kami kalah, tapi aku tidak bisa menjadi satu-satunya yang menyerah.

"Jika ada alasannya aku kalah," kata Kise, ia menyunggingkan senyum lemah pada Aomine. "Itu hanyalah aku masih belum cukup kuat."

Aomine mendengus pelan sebelum dia memamerkan seringainya pada Kise, menatap pemuda berambut blonde itu dengan tatapan merendahkan. "Jangan mengatakan hal yang sudah jelas." Adalah kalimat terakhirnya sebelum ia melompat untuk memasukkan bola kedalam ring.

Kise berusaha melompat , menahan bola dengan posisi lompatan yang sama dengan Aomine. Tetapi, kekuatannya yang sekarang—jika dibandingkan dengan Aomine—jauh lebih lemah. Ia menghabiskan seluruh kekuatan raganya, mendorongnya hingga titik rawan, untuk melawan Aomine. Pemuda bermata biru gelap itu pun mendorong bola itu lebih kuat, berusaha untuk melakukan dunk, yang tentu saja berhasil. Kise meringis kesakitan. Dorongan Aomine terlalu kuat hingga membuat Kise terjatuh.

Mata Kise terbuka lebar. Kedua bola matanya mengecil perlahan ketika peluit tanda pertandingan berakhir berbunyi. Lagi-lagi, ia gagal menghentikan Aomine, untuk yang kesekian kalinya.

Aomine menatap Kise yang terkulai lemas di lantai, tanpa berkata apapun. Kise terdiam, tatapannya kosong.

"Kedua tim, berbaris!"

Kise mencoba bangkit untuk berdiri, tetapi, kakinya tidak mau menuruti perintahnya. Sekali lagi, bola matanya mengecil. Kakinya terasa sakit, dan parahnya lagi, berat untuk digerakkan. Ia mencoba untuk berdiri lagi, kali ini ia mengerahkan sisa kekuatannya untuk berdiri. Kakinya gemetar hebat, rasa sakitnya berkedut-kedut disana. Ia mengepalkan pergelangan tangannya, berdecak keras.

Aomine yang melihat hal itu—entah mengapa—dadanya terasa berat pada setiap tarikan nafasnya. Keringatnya mengucur deras, tangannya pun juga sempat ia mengesampingkan hal-hal itu. Ia menatap pemuda yang sempat menjadi partner one-on-one nya itu. Ia merasa ada yang salah dengannya. Seharusnya dia tidak berkata seperti itu. Kise sudah berusaha sekuat tenaga untuk melawannya. Kise tidak pernah menyerah saat melawannya, bahkan saat ia tahu bahwa ia akan kalah. Dan yang Aomine lakukan malah mencemoohnya.

Kise sedang mengalami cedera yang parah. Bahkan ia tidak bisa berdiri sendiri sekarang. Aomine hendak membantunya berdiri, tetapi, ada seseorang yang mengulurkan tangannya terlebih dahulu pada Kise.

"Kau bisa berdiri?" pemuda itu bertanya dengan mimik wajah khawatir. "Bertahanlah sedikit lagi." Ia tersenyum lembut. Senyum tipis yang menggambarkan penyesalan.

Aomine meninggalkan mereka sebelum Kise menjawab. Entah kenapa, ia tidak ingin mendengar pembicaraan mereka. Dadanya terasa bertambah berat pada setiap tarikan nafasnya –lebih berat dari yang dirasakannya tadi—saat kapten Kaijou itu mengulurkan tangannya pada Kise. Uluran tangan yang harusnya dari Aomine. Tapi ia tidak peduli, toh Touou yang menang. Setidaknya, itu yang ia yakini.

Kise menatap kapten timnya itu. "Senpai,aku..." Ia menggertakkan giginya, matanya berkaca-kaca.

Kasamatsu Yukio—sang kapten—sudah tahu apa yang akan dikatakan Kise. Tanpa membuang waktunya, Kasamatsu mengalungkan satu lengan Kise ke lehernya, membopong pemuda yang tengah menangis itu.

"Kau bermain dengan bagus." Ia menepuk kepala Kise, berusaha menenangkannya. "Lagipula, ini semua belum berakhir. Kau bisa membalasnya di musim dingin."

Aomine melihat Kasamatsu yang telah membopong Kise dari sudut matanya. Seperti biasanya, ia memasang wajah datar dengan tatapan kosong. Tetapi siapa tahu, penampilan luarnya itu tidak sama dengan hal yang ia rasakan.

"Kau yakin tidak ingin megatakan sesuatu ?" tanya Imayoshi. Kapten Touou ini tahu jelas bagaimana karakter Aomine. Ia masih menyimpan belas kasihan pada mantan anggota timnya itu. Imayoshi merasa Aomine ingin mengatakan sesuatu pada Kise, hanya saja ia terlalu gengsi untuk mengungkapkannya. "Bukankah dia mantan rekan tim-mu?"

"Ha," Aomine mendengus. Lalu ia menatap Imayoshi dan menyunggingkan seringai kepadanya. "Pemenang tidak perlu mengatakan apapun pada yang kalah."


Beberapa bulan berlalu sejak kejadian itu. Winter Cup telah berlalu dengan Rakuzan yang keluar sebagai juara pertama. Touou tereliminasi sebelum sempat melawan Kaijou, jadi Aomine dan Kise tidak sempat bertanding lagi.

Terakhir kali mereka bertemu adalah saat Akashi memerintahkan mereka untuk berkumpul di awal Winter Cup. Mereka pun tidak saling berbicara karena adanya aura canggung diantara keduanya.

Hembusan angin musim dingin membawa Kise ke sebuah convenience store yang dulu sering ia kunjungi.

Dulu..

Ya, dulu. Ia masih ingat saat ia pertama kali kesini. Saat teman-temannya berkata mereka akan mengadakan pesta untuk Kise. Dulu, mereka membagi suka citanya disini, sambil memakan popsicle yang mereka beli bersama. Kise merindukan hal itu. Ia dulu sering meninggalkan dunia modelnya untuk berkumpul bersama teman-temannya, hanya sekedar memakan popsicle sambil tertawa bersama.

Kehangatan yang dirasakannya dulu berbeda dengan sekarang. Rekan-rekan timnya di Kaijou memang sangat peduli satu sama lain. Selain itu, mereka juga bisa bersikap dewasa dan kekanakan disaat yang sama. Solidaritas antar anggota tim Kaijou juga sangat tinggi, karena pada dasarnya Kaijou memang bukan tipikal tim basket individual. Kise merasa nyaman dengan mereka. Tapi, ini berbeda dengan yang ia rasakan dulu. Mungkin,dulu ada seseorang yang eksistensinya bersinar begitu terang di matanya. Seseorang yang sangat ingin ia lampaui. Seseorang yang menjadi rival dan sahabatnya disaat yang sama. Seseorang yang sangat .. ia harapkan. Mungkin. Tapi itu sudah berlalu.

Kise hendak masuk kedalam toko itu sebelum ponselnya berbunyi nyaring. Ia merogoh tasnya dan segera mengambil ponselnya. Sebuah pesan dari... Momocchi?

from: Momocchi

Ki-chan! Lama tidak bertemu! Sebenarnya aku ingin menelponmu tadi, tapi aku takut aku akan menginterupsi kegiatanmu, jadi aku memutuskan untuk mengirimkan pesan saja. Langsung saja pada intinya, apa Ki-chan ada acara pada akhir bulan ini? Tolong balas secepatnya jika kau membaca pesan ini, aku menunggu balasanmu, Ki-chan! ^^

Kise mengerjapkan kedua matanya setelah ia selesai membaca pesan itu. Momoi tidak pernah memberi pesan pada Kise sejak mereka terpisah dari Teikou. Jadi, wajar Kise heran jika Momoi mengiriminya sebuah pesan. Gadis berambut merah muda itu pasti tengah merencanakan sesuatu.

To: Momocchi

Ah, Momocchi! Aku tidak ada acara spesifik akhir-akhir ini, mungkin hanya jadwal latihan ekstra saja. Memangnya kenapa, Momocchi ? Aku mempunyai firasat kalau kau merencanakan sesuatu, apakah aku benar-ssu ? Sesuai permintaanmu, aku membalas ini dengan cepat! ^o^

Send dan Klik! Pesan itu terkirim pada Momoi.

Kise tidak ingin terlalu memikiran Momoi, ataupun rencananya. Ia sudah cukup terbebani dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Yang paling ia pikirkan sekarang adalah kapten Kaijou, Kasamatsu Yukio.

Setelah kekalahan saat bertanding melawan Touou, Kasamatsu meminta timnya untuk kembali terlebih dahulu. Kapten Kaijou yang selalu bertingkah dewasa dan sering menendanginya itu begitu tegar saat menghadapi kekalahan. Tetapi, ketegarannya terasa pecah berkeping-keping saat itu. Ia akhirnya mengalah pada perasaannya. Ia membiarkan emosi menguasainya. Air mata yang mulai meleleh di pelupuk matanya tak bisa ia bendung lagi.

Kise merupakan orang yang bisa dibilang sangat dekat dengan kaptennya itu. Mereka sering pergi berdua untuk sekedar membeli keperluan basket mereka, atau untuk makan okonomiyaki. Kise sangat tahu bahwa Kasamatsu bukan tipikal orang yang akan menangis didepan orang lain, bahkan didepannya sekalipun. Sakit rasanya. Kasamatsu selalu menenangkan dan memberi semangat pada Kise saat ia menangis. Tetapi saat itu, Kise bahkan tidak bisa menenangkannya, atau memberinya semangat. Kise tidak mampu melakukan apa-apa untuk kaptennya itu. Tetapi satu hal yang Kise yakini: mereka saling mempercayai satu sama lain.

Sejak itu, Kasamatsu jadi sedikit protektif pada Kise. Cedera yang dialami Kise belum sembuh total. Bahkan sering kali kambuh saat latihan. Apalagi diperparah saat Kise memaksakan diri melawan Seirin. Kasamatsu tidak bisa membiarkan Kise mencederai dirinya sendiri lebih dari itu. Terkadang, Kasamatsu akan membopongnya lagi saat cederanya kambuh. Lalu ia yang membalut perban pada kaki Kise. Ia merasa sangat lemah dihadapan Kasamatsu. Tetapi di sisi lain, ia juga merasa nyaman karena ia dipedulikan oleh anggota timnya. Mereka sangat baik, tidak ada yang mencemooh atau menghardik Kise disaat ia selemah itu.

Kasamatsu merupakan seorang figur yang begitu baik di mata Kise. Ia menganggapnya seperti kakak—cerewet—nya sendiri. Di mata Kise, perlakuan Kasamatsu padanya tidak lebih dari sekedar saudara. Tetapi, Kasamatsu merubah pemikiran Kise.

Beeeeppp! Bunyi ponsel membuyarkan lamunannya. Sebuah pesan balasan dari Momoi.

From: Momocchi

Ki-chan, ternyata kau sudah mencurigaiku sebelum aku mengatakannya, huh? =3= Tapi tak apalah, aku akan mengatakannya. Jika itu berarti jadwalmu kosong, aku akan mengadakan reuni, Ki-chan. Aku ingin kalian semua datang. Aku sudah mengirim pesan pada semuanya. Aku ingin menghabiskan sisa liburan bersama kalian. Lagipula, sudah lama sekali kita tidak menghabiskan waktu bersama. Dan oh, jangan khawatir soal tempatnya. Kita akan berlibur di penginapan keluargaku di Kurokawa, aku sudah meminta izin pada orang tuaku. Ki-chan akan datang, kan ? Kumohon, ikutlah, Ki-chan /\ Tahun depan belum tentu kita mempunyai kesempatan untuk berkumpul lagi. Aku .. Aku merindukan kalian.

Kise terdiam dalam keheningan selama beberapa detik. Kise paham siapa yang dimaksud Momoi dalam pesannya. Ia tampak sangat berharap mereka akan berkumpul untuk reuni, atau lebih tepatnya menghabiskan liburan bersama untuk tahun ini. Kise sudah sering menolak gadis-gadis yang mengajaknya untuk keluar. Tetapi untuk Momoi, apalagi jika permintaannya seperti ini, akan sangat sulit untuk menolaknya. Ralat, Kise tidak mau menolaknya.

Kalimat terakhir dari pesan Momoi seperti ditebali oleh spidol ekstra tebal. Rasanya, Kise juga ingin mengatakan hal yang sama. Tapi setelah apa yang ia alami, rasanya berat untuk mengucapkan kata-kata itu.

To: Momocchi

Tentu, aku akan ikut, Momocchi.

Send.

Kise tidak bisa membalas pesan itu dengan kata-kata yang sama panjangnya, bukan ? Hanya hal itulah yang sekarang bisa dikatakan oleh Kise. Sejujurnya, Kise ingin membalas bahwa ia juga merindukan mereka. Tetapi mengatakan hal itu tidak semudah kelihatannya. Momoi bisa saja mengatakan hal itu karena ia tidak ikut bertanding. Tapi bagi Kise, setelah mengalami kekalahan, dengan cemoohan yang diterimanya, rasanya berat untuk mengatakannya.

Ia tersenyum pahit pada dirinya sendiri.

Jika aku bukan bagian dari kalian, apakah ini semua akan menjadi lebih baik?


"Satsuki," panggil seseorang. "Bagaimana?" mata biru gelapnya terlihat sayu. Corak gelap tersirat di kantung matanya. Terlihat jelas bahwa ia kurang tidur.

"Semuanya akan datang, Dai-chan!" gadis berambut merah muda itu meloncat-loncat kegirangan. "Aku senang sekali! Tidak ada yang lebih baik dari sebuah reuni setelah pertarungan yang sengit." Senyum bahagia terkembang di wajahnya.

"Satsuki." Panggil Aomine, ekspresi wajahnya terlihat tenang. "Apa Kise—"

"Ki-chan juga akan datang, Dai-chan!" potongnya. "Kuharap kau tidak melakukan hal bodoh lagi padanya."

"Oi, apa maksudmu ?" tanya Aomine, ketenangannya sedikit terusik dengan kata-kata sahabatnya—dari kecil—itu.

"Jika kau melakukan hal bodoh yang membuatnya berpikiran negatif, maka kesempatanmu sudah terkikis habis, Dai-chan." Kata Momoi, melemparkan satu lirikan tajam pada Aomine.

"Kesempatan?" tanya Aomine. "Jangan bercanda, Satsuki. Aku tidak—"

"Berhenti membohongi dirimu sendiri, Dai-chan." Kata Momoi. Kini ia tengah berdiri memandangi Aomine yang melihatnya dengan tatapan heran. "Berhenti mengutamakan rasa gengsimu." Nadanya melemah, Momoi terlihat seperti sedang menatap Aomine dengan lembut.

"Satsuki, kata-katamu mulai tidak masuk akal." Balas Aomine. Sejujurnya, Aomine tidak megerti apa yang dibicarakan oleh sahabatnya itu. Setidaknya, itu yang bisa ia simpulkan dari pikirannya. Tetapi hatinya berkata sesuatu yang berbeda. Aomine tidak pernah mendengar hatinya, ia selalu mengutamakan pemikirannya—yang dianggap benar-benar bodoh oleh Momoi. Lagipula, Aomine bukan tipikal orang yang mengutamakan kata hatinya. Kata hati bisa saja salah, kan ? Ya, itu hanyalah pemikiran Aomine yang berusaha menutupi kenyataan yang tumbuh dalam hatinya.

"Dai-chan, kau tidak mengerti." Momoi berusaha meyakinkan Aomine—yang cukup sulit baginya, karena Aomine dianggapnya berotak baja. "Kapan kau akan mengerti tentang perasaanmu sendiri?"

"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Satsuki." Kata Aomine sebelum ia berbalik memunggungi Momoi, berniat meninggalkannya untuk mengakhiri pembicaraan mereka. Momoi selalu seperti ini jika Aomine berkata 'Kise', hal itu membuat Aomine lelah untuk melanjutkan topik mereka.

"Akankah kau mendengarkan hatimu jika aku memberimu sebuah informasi, Dai-chan?" tanya Momoi dibelakangnya.

"Lalu, apa informasi itu?" Kata Aomine tanpa berbalik. Nada suaranya terdengar tidak tertarik, hampir seperti sarkasme.

"Bagaimana menurutmu jika seorang Kasamatsu Yukio menyukai Kise Ryouta?"


A.N:

Hellooo~ this is my first Aokise! story

maaf kalo banyak typonya, saya juga manusia biasa yang tak lepas dari kesalahan pengetikan *bows*

jadi, awalnya itu cerita waktu Kaijou vs Touou ya. mungkin ada yang diubah sedikit, hehe.

maaf juga kalo karakternya OOC, saya berusaha buat bikin mereka nggak OOC. hehe~

mind to review ? review kalian benar-benar dibutuhkan untuk inspirasi ^^