Tak ada keberhasilan tanpa adanya usaha, kerja keras, dan keberuntungan. Selama dua tahun Sasuke telah berusaha semaksimal mungkin dan percaya pada peruntungannya. Ia yang selama ini tak pernah bersentuhan dengan dunia bisnis, harus memulai segalanya dari nol. Bukan membangun usaha baru, tapi memperbaiki sistem yang telah berada di ambang kehancuran.

Memperbaiki segalanya dari awal tidak semudah membalik telapak telapak tangan. Ia menerapkan sistem membangun sebuah gedung dalam bisnis yang dikelolanya. Memulai kembali segalanya dari dasar adalah langkah utama yang ia lakukan. Tak mudah memang, malahan sangat sulit.

Perusahaan konstruksi yang dikelolanya mulai berkembang sedikit demi sedikit. Semuanya berjalan seperti roda yang berputar. Saat ia pikir kondisi perusahaan sudah mulai stabil, ternyata ada kerugian yang ia peroleh. Saat ia pikir perusahaan kembali merugi, ternyata ia memenangkan tender membangun beberapa gedung. Memang bukan gedung besar, tapi Sasuke tetap menganggap hal tersebut sebagai batu loncatan untuk mendapat proyek yang lebih besar lagi. Saat ia ditinggal beberapa karyawan, ternyata pada periode berikutnya ia mendapat karyawan baru yang kreatif dan penuh dengan ide-ide baru.

Dari proyek-proyek kecil, akhirnya ia mendapat proyek besar untuk membangun sebuah gedung perkantoran. Lama-kelamaan perusahaannya dipercaya untuk memegang proyek-proyek pembangunan gedung besar. Dalam dua tahun, perusahaan telah melakukan lonjakan yang sangat drastis. Harga sahamnya terus meningkat, mereka telah memiliki klien tetap, perusahaan sudah membuka cabang di beberapa tempat. Semua ini karena kerja keras Sasuke dan tim yang ia bentuk bersama tiga orang kepercayaannya yaitu, Naruto, Juugo, dan Suigetsu. Kemampuan Sasuke di bidang bisnis pun meningkat dengan pesat. Ia telah memahami bagaimana menarik minat kliennya dalam negosiasi, ia paham betul apa yang sedang diinginkan kliennya. Selain itu, ia kini sangat pandai dalam membaca bursa saham sehingga tidaklah mengherankan jika aset perusahaannya semakin bertambah.

Sukses dalam bisnis, berbanding terbalik dengan kehidupan nyatanya. Sasuke semakin sadar bahwa hari pernikahannya dengan perempuan itu tinggal menunggu waktu saja. Ia bahkan belum menemukan cara untuk menjatuhkan Haruno Sakura. Rasa benci di hatinya tak kunjung sirna, terutama jika melihat wajah perempuan itu, bukannya berkurang, justru kebenciannya semakin bertumbuh subur.

.

.

.

.

.

BECAUSE OF YOU

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, saya hanya meminjam tokoh-tokohnya saja

Story by Morena L

Warning: AU, typo, OOC

.

.

.

.

.

Wanita muda itu berkeliling hingga sore. Ia terus memantau perkembangan pembangunan di Distrik Konoha tanpa kenal lelah. Distrik ini sudah memiliki wajah baru sekarang. Gedung-gedung pencakar langit yang sebentar lagi akan selesai dibangun menghiasi pusat distrik. Beberapa sentra pariwisata telah dihidupkan kembali. Pariwisata yang menjadi andalan di tempat ini adalah pemandian air panasnya dan taman bunga Sakura. Dalam setahun terakhir, jumlah wisatawan yang berkunjung meningkat dengan pesatnya. Warga setempat juga dibina dengan kursus-kursus kerajinan tangan, pendidikan bahasa asing. Perhatian lebih juga diberikan di bidang pertanian. Hasilnya sungguh luar biasa, dalam beberapa bulan terakhir, Distrik Konoha sudah memiliki komoditas buah dan sayur yang diekspor ke luar negeri. Semua ini tentu menambah pendapatan daerah dari Distrik Konoha sendiri. Terlihat jelas bahwa perkembangan di sana pelan-pelan mulai terlihat hasilnya. Jika hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin dalam sepuluh tahun ke depan Distrik Konoha bisa menyamai distrik-distrik maju lainnya di Negara Hi.

Warga Distrik Konoha amat sangat mensyukuri perubahan positif tersebut. Orang yang paling layak diberikan apresiasi menurut mereka adalah Haruno Sakura. Wanita muda itu telah memberikan terobosan baru di parlemen untuk menyelamatkan penggusuran tempat tinggal mereka, berperan aktif dalam pemberantasan korupsi, bahkan turun langsung untuk mengawasi megaproyek pembangunan kembali Distrik Konoha. Masih jelas dalam ingatan warga distrik saat Departemen Penanganan Korupsi meringkus satu persatu pejabat lokal yang melakukan praktik korupsi dan tanpa ampun menghukum orang-orang tersebut. Preman-preman yang selama ini meresahkan warga, kini diberdayakan agar bisa menempati lahan pekerjaan yang baru dibuka. Seperti yang telah diprediksi, Haruno Sakura disambut bak ratu di sana. Semua penduduk Konoha mengelu-elukan namanya. Menganggap dirinya dewi penyelamat mereka.

oOo

"Lady Haruno, setelah ini kita mau ke mana?" tanya Jiraiya sambil fokus menyetir sedan hitam menembus jalan raya. Matahari sebentar lagi akan kembali ke tempat peraduannya.

"Kita pulang saja, sudah tiga hari aku berada di sini. Aku harus pulang dan menyampaikan laporan pada Perdana Menteri," jawab Sakura lugas. Tak lama kemudian, matanya memicing melihat seseorang yang sepertinya ia kenali sedang berjalan di pinggir jalan utama. "Berhenti sebentar, Jiraiya."

Ia lalu keluar dari mobil mewahnya dan berjalan mendekati wanita paruh baya yang ia kenali sebagai ibu dari Uchiha Sasuke. Wanita itu tampak kesulitan membawa belanjaan yang lumayan banyak. Sakura lalu menghentikan langkahnya saat jarak di antara mereka tak sampai sepuluh meter.

"Lady Haruno?" tanya Mikoto tak percaya.

oOo

Uchiha Mikoto masih merasa seperti sedang bermimpi kalau dirinya saat ini tengah berada di dalam mobil milik wanita yang dianggap sebagai penyelamat Konoha. Ia tak menyangka kalau Haruno Sakura muncul di hadapannya, mengajaknya berbincang sebentar, sebelum menawarkan diri mengantarkannya pulang.

"Seperti yang dikatakan orang-orang, Anda memang sangat cantik," puji Mikoto tulus. "Semoga Tuhan selalu memberkati orang sebaik Anda dan memberikan banyak kemudahan pada Anda," lanjutnya lagi.

"Saya tidak sebaik itu, Mikoto-san," timpal Sakura. Andai saja Sasuke tahu kalau ibunya memberikan berkat seperti itu pada Sakura, sudah tentu pria itu tak akan percaya. Atau mungkin, dia malah meminta ibunya untuk mencabut berkat tersebut.

"Anda sudah melakukan banyak hal untuk Konoha, maka bagi kami, Anda adalah orang baik. Saya dan semua penduduk Konoha selalu mendoakan Anda dalam doa kami," ungkap Mikoto lagi.

Mendengar itu, hati Sakura mencelos. Ia merasa tak cukup pantas untuk menerima hal tersebut. Bagi Sakura, dirinya bukanlah orang yang baik. Penduduk Konoha terlalu memandang tinggi dirinya. Hal seperti ini malah membuatnya merasa terbebani karena ia tahu, ia juga telah memupuk kebencian dalam diri banyak orang.

"Rumah Anda ke arah mana, Mikoto-san?" tanyanya mengalihkan perhatian.

Sebenarnya, tanpa perlu bertanya pun ia sudah tahu di mana rumah wanita itu. Selanjutnya topik pembicaraan mereka kini berganti menjadi Mikoto yang menceritakan mengenai kebun kecil di rumahnya. Lahan kosong di pinggir rumah yang ia manfaatkan untuk menanam beberapa tanaman obat. Lalu, wanita paruh baya itu tanpa sadar berkeluh kesah mengenai putranya yang sudah lama tak memberi kabar sejak ke ibu kota. Bagaimanapun, ia adalah seorang ibu yang sangat merindukan putranya.

"Sudah sampai, Mikoto-san." Wanita muda itu juga ikut ke luar dari dalam mobil, menitahkan Jiraiya untuk tetap di dalam mobil saja. Ia lalu membuka bagasi mobil dan membantu ibu dari Uchiha Sasuke itu untuk mengeluarkan kantong besar belanjaannya.

"Bibi." Karin muncul dari dalam rumah. Wajahnya tampak tak suka saat melihat ibu dari kekasihnya sedang mengobrol akrab dengan wanita yang sangat dibencinya.

"Lady Haruno, ini Uzumaki Karin. Dia tinggal bersamaku sejak putraku kerja di ibu kota," kata Mikoto memperkenalkan Karin.

"Salam kenal, Uzumaki-san," kata Sakura penuh kemenangan. Apalagi ia memberikan ekspresi yang sudah pasti membuat hati Karin bertambah sebal. Merasa puas, wanita muda itu berpamitan pada Mikoto lalu kembali ke dalam mobilnya.

"Dia benar-benar wanita yang baik," ujar Mikoto sambil memandangi sedan hitam yang semakin menjauh.

Karin merengut tak suka dalam hatinya. Sudah cukup di tempat kerjanya semua orang membicarakan mengenai Haruno Sakura, tak perlu ibu dari kekasihnya ini juga ikut-ikutan memuji wanita itu. Ia benar-benar sebal karena semua orang begitu mencintai Haruno Sakura. Mereka belum melihat wajah asli perempuan itu. Karin yakin, cepat atau lambat, dia pasti akan memperlihatkan taringnya.

oOo

"Jiraiya, anak-anak apa kabar?"

"Mereka merindukan Mama-nya," jawab lelaki paruh baya itu ramah.

"Apa pesawatnya sudah siap?"

"Sudah."

Sakura melirik jam tangannya sebentar. "Ini sudah pukul lima sore, paling lambat kita sampai di ibu kota jam tujuh malam. Baiklah, kurasa waktunya cukup," kata Sakura. Sepertinya ia sudah mengambil keputusan. "Kita jangan pulang ke rumah dulu. Kita ke tempat anak-anak, sudah hampir tiga bulan aku tidak bertemu dengan mereka."

Mengerti akan maksud majikannya, Jiraiya segera membawa mobilnya ke bandara yang berada di dekat hotel tempat mereka menginap. Pesawat pribadi yang akan membawa mereka kembali ke ibu kota sudah siap di sana.

.

oOo

.

Sudah hampir tengah malam, akhirnya rapat yang membahas mengenai megaproyek pembangunan cabang baru perusahan IT milik Nara Shikamaru di Sapporo selesai juga. Namikaze Naruto memijat pelan bahunya. Ia sangat lelah karena rapat berjalan selama berjam-jam. Tak disangka, Nara Shikamaru yang terlihat malas ternyata sangat perfeksionis dan perhitungan. Semua kemungkinan harus dibicarakan dan tidak boleh meleset sedikit pun.

"Untuk orang yang sebentar lagi akan mati, dia sangat teliti," gerutu Suigetsu. Ia juga sama lelahnya dengan Naruto.

"Suigetsu, jangan seperti itu," tegur Naruto.

"Sudahlah, dia tidak mungkin menjadi milyuner jika tidak begitu," timpal Juugo.

Sasuke masih menyimpan beberapa dokumennya ke dalam tas. Ia tahu kalau ketiga rekan kepercayaannya ini sudah sangat lelah. Tanpa mereka bertiga, belum tentu ia bisa mendapat pencapaian seperti sekarang.

"Tapi tetap saja, dia kan sudah mau mati, seharusny—"

"Siapa yang sebentar lagi akan mati?" Suara sinis seorang perempuan membuat keadaan menjadi hening. Wanita berhelaian merah muda yang senada dengan bunga sakura itu berdiri angkuh di depan pintu ruang rapat. "Ck, aku benar-benar heran dengan orang berpikiran sempit seperti kalian ini," sindir Sakura.

"Kalian bertiga pulanglah," titah Sasuke. Tak ingin memperpanjang masalah, ketiga pria itu segera pergi, meninggalkan Sasuke berdua bersama Si Macan Betina.

"Kauperlu mengajari mereka bagaimana menghargai orang lain," ujar Sakura masih setengah kesal.

"Aku tak perlu mengajari mereka soal hal itu. Apalagi, jika yang menyuruh adalah orang sepertimu."

Sakura menyeringai sinis. Pria ini selalu melepas panah tanda peperangan setiap kali mereka berdua bertemu. "Terima kasih atas pujiannya," balas Sakura setengah menyindir.

"Aku penasaran, kenapa Haruno Sakura Yang Agung datang menemui rakyat jelata ini pada tengah malam begini? Bukankah seharusnya dia pulang dan beristirahat saja di istana megahnya?" kata Sasuke dengan sindiran yang sengaja dibuat-buat. Perang sindiran mungkin saja tak terelakan lagi.

Namun, tak memedulikan sindiran itu, Sakura mengambil tempat pada salah satu kursi direksi. Menyandarkan bahunya yang lelah agar sedikit rileks, sebelum berucap, "Aku menyuruhmu tidak menghubungi Uzumaki Karin bukan berarti kau juga tidak menghubungi ibumu sama sekali."

Wajah Sasuke mengeras. Ia memang terlalu sibuk sehingga lupa untuk menghubungi ibunya. Rasa bersalah pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia kini menghinggapinya. Tapi sebentar ... dari mana wanita itu tahu?

"Tak penting aku tahu dari mana," jawab Sakura seolah telah memahami isi kepala pria itu.

"Hn."

'Dasar bodoh. Ibumu pasti merindukanmu. Jangan membuatnya seperti wanita yang tak punya anak seperti itu. Kau tak tahu rasanya seperti apa dibesarkan tanpa ibu.'

Sakura memperhatikan sekelilingnya. Ini kelima kalinya ia datang ke tempat tersebut. Sudah ada beberapa perubahan berarti yang ia temukan, terutama interior ruangan. Lebih nyaman tentu saja.

"Bulan depan kita menikah," kata wanita itu yang membuat Sasuke menatapnya lurus.

Waktunya sudah tiba. Itu yang ada di dalam pikiran Sasuke saat mendengar saat penentuan pernikahannya. Pernikahan yang bisa saja berubah menjadi arena peperangan.

"Dalam sebulan ini, kau harus lebih sering muncul di muka publik bersamaku. Biarkan media yang membeberkan spekulasi mereka. Bersiaplah karena kau akan sering disorot kamera," kata Sakura memperingatkan. Ia yang merupakan bangsawan sekaligus anggota parlemen sudah sejak lama menjadi pusat perhatian. Berita tentangnya selalu menghiasi halaman utama surat kabar dan menjadi berita utama dalam berita maupun infotainment. "Hati-hati, karanglah cerita mengenai Uzumaki Karin. Kautahu sendiri bagaimana ganasnya wartawan dalam mencari berita."

"Aku benar-benar tak menyukai rencana seperti ini," tukas Sasuke. Ia tak suka mendapat perhatian berlebih. Ia hanya ingin hidup tenang. Itu saja.

"Bukan mauku kalau wartawan suka sekali mengikutiku," balas Sakura sambil tertawa kecil. Bukan hanya lelaki itu yang hidup tenang, jauh dari segala macam sorotan. Sakura juga amat sangat mengidamkan kehidupan seperti itu.

"Lalu, kapan pertunangannya?" tanya Sasuke tak acuh.

"Minggu depan."

Pria itu memijat batang hidungnya. Biarkan saja Sakura mengurus semuanya. Ini kan yang perempuan itu inginkan? Sasuke akan mengikuti permainannya sampai tiba saat di mana ia bisa melancarkan serangan balasan.

"Besok malam ke rumahku, masih ada beberapa hal yang harus kita bicarakan."

"Hn."

.

oOo

.

Sakura mendengus beberapa kali. Sasuke jelas tak peduli dengan semua rencana yang disusunnya untuk acara pertunangan nanti. Pria itu tak mengerti. Sakura hanya ingin semuanya berjalan dengan sempurna, karena itu perencanaan yang matang harus dilakukan.

"Aku tak mau ada kekurangan sekecil apa pun untuk pestaku nanti," seru Sakura gusar.

Sasuke balas mendengus. Ia sama sekali tak berniat untuk memberikan pendapat mengenai pesta nanti. "Lakukan saja sesuai maumu. Ini kan pestamu," timpal lelaki itu seadanya.

"Karena ini pestaku, jadi aku ingin semuanya sesempurna mungkin. Aku tak mau karena kekeraskepalaanmu sekarang membuat pestanya berjalan tak lancar," ancam wanita muda dengan mata hijau jernih itu. Ini pestanya? Tentu saja. Karena itu semuanya harus berjalan sempurna. Mata gadis itu lalu teralih pada pintu ruang tengah. Seorang pemuda tinggi dengan rambut klimis dan mata hitam sekelam mata Sasuke sedang berdiri sambil tersenyum ke arah mereka berdua.

"Rindu padaku, Tuan Putri?" tanya pria itu sambil memperlebar senyum di wajahnya. Matanya terlihat semakin segaris karena senyum lebarnya itu.

"SAI!"

Sakura memekik girang. Tanpa membuang waktu ia berlari menuju pria itu. Keduanya lalu berpelukan sangat erat, saling menyalurkan kerinduan masing-masing.

Sasuke memperhatikan kedua insan yang saling berpelukan itu dengan seksama. Tak pernah ia melihat Sakura bertingkah seperti ini, makanya ia menjadi sangat penasaran. Haruno Sakura yang yang ketus, bermulut tajam, angkuh, egois, kini tak ada. Dia menjadi sosok wanita yang sangat hangat.

Sai, Sasuke sudah berkali-kali mendengar namanya. Pria itu sudah sangat terkenal dalam dunia arsitektur. Hanya Sai. Tanpa marga. Tak ada yang tahu siapa nama aslinya karena dia memakai nama Sai sebagai nama komersilnya dalam dunia arsitektur. Sasuke sendiri diam-diam merupakan pengagum Sai karena pria itu memiliki ciri khas yang sulit untuk ditiru orang lain dalam merancang suatu bangunan. Tak terhitung banyaknya gedung yang sudah dirancang pria itu. Sasuke juga mendengar kalau Sai merupakan arsitek yang berjasa dalam membangun ulang Konoha. Ia hanya tak menyangka kalau pria itu memiliki hubungan yang cukup akrab dengan Sakura. Tidak, mereka bukan hanya 'cukup akrab' tapi 'lebih dari sekadar akrab'.

"Jadi, ini tunanganmu?" tanya Sai yang mengambil tempat duduk di sebelah Sakura. Pemuda itu mengamati Sasuke dari atas sampai bawah berulangkali. Seperti memberi penilaian atas pria pilihan Sakura.

"Uchiha Sasuke," katanya memperkenalkan diri.

"Ini Sai, sahabat terbaikku," kata Sakura memperkenalkan Sai. Keduanya lalu kembali saling melempar senyuman.

"File yang kuminta bisa kauberikan, Sakura? Aku memerlukannya sekarang," kata Sai lagi.

"Sebentar, ada di kamar. Aku ke atas dulu."

Setelah Sakura pergi, tinggallah kedua pemuda itu di dalam ruang keluarga Haruno yang sangat luas. Sai tanpa ragu langsung melancarkan tatapan tajamnya. Tatapan yang sudah sangat jelas mengandung sejuta ancaman. "Aku cukup terkejut saat dia bilang mau menikah. Terlebih, saat aku mengetahui latar belakangmu."

Sasuke mengernyit tak suka. "Latar belakangku? Kau menyelidikiku?"

"Aku harus memastikan sendiri kalau dia tidak menikahi pria yang salah." Walaupun wajah Sai tetap memamerkan senyuman, tapi Sasuke tak terkecoh. Senyuman itu seperti sedang memberi peringatan padanya.

"Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang menikahinya?" tantang Sasuke.

"Hubungan di antara kami bukanlah hubungan asmara."

'Lantas kaupikir hubunganku dengannya adalah hubungan asmara?' tukas Sasuke kesal dalam hatinya.

"Aku sudah bersumpah pada ayahnya sebelum beliau meninggal untuk selalu menjaganya, memastikan dia selalu aman dan tak ada bahaya yang mendekatinya."

Kesinisan di wajah Sasuke tak lagi disembunyikan. Setelah kata-kata Sai tadi, pemuda itu masih berani bilang tak ada asmara di dalam hubungan mereka? Omong kosong! Pria dan wanita tak bisa selamanya bersahabat.

"Jangan pernah berani membuatnya terluka."

Sasuke ingin tertawa terbahak-bahak saking kesalnya. Apa Sai tidak salah? Jangan pernah berani membuat Sakura terluka? Wanita itu terbuat dari baja. Dia tidak akan pernah terluka, yang ada dialah yang telah menyakiti banyak orang. Lalu, Sai mau bilang apa? Apa dia mau bilang kalau Sakura yang angkuh, egois, bermulut tajam itu memiliki sisi lain yang tak diketahui orang lain? Tikus pun akan melemparkan diri pada kucing untuk dimakan jika hal itu benar.

"Aku tak menyangkal kalau dia memang egois, kasar, bermulut tajam, dan kadang bermuka dua. Itu memang dirinya yang sesungguhnya. Dia tidak pernah menyembunyikan semua sifat buruknya dari orang-orang yang ada di dekatnya. Cobalah menoleransi hal-hal tersebut, maka kau tak akan terlihat terbebani seperti sekarang," kata Sai panjang lebar. Ia sama sekali tidak berbicara seperti yang diduga Sasuke sebelumnya. Ia sama sekali tak menyangkal akan semua sifat yang selama ini Sasuke ketahui. "Kami menyayangi dia dengan semua sifat itu."

"Sifat apa?" tanya Sakura yang muncul dengan membawa setumpuk dokumen yang lumayan tebal. Pewaris keluarga Haruno itu kembali ke tempat duduknya di sebelah Sai.

"Sifatmu yang bermulut pedas, egois, tak kenal ampun, perfeksionis, menyebalkan—"

"Semua memang sifatku," potong Sakura tak acuh. "Dan aku tak mau menyembunyikannya. Semua orang memang tahu kan kalau aku ini keras kepala, egois, dan semua yang sudah atau akan kausebutkan tadi, Sai. Kalau aku tidak punya sifat seperti itu, aku tak akan bertahan dalam dunia yang keras ini," sambungnya lagi dengan diplomatis. Prinsipnya, sifat lembek hanya membuat orang menjadi lemah.

"Aku hanya mau mengambil dokumen ini dan aku tak mau mengganggu acaramu bersama tunanganmu yang tercinta ini," ucap Sai sambil mengambil tumpukan dokumen dari tangan Sakura. "Aku pergi dulu." Sebelum pergi, pemuda itu mencium kening Sakura sebentar dan mengucapkan selamat tinggal.

"Kulihat dia lebih cocok menjadi pasanganmu," sindir Sasuke.

"Ada hubungan di mana romantisme dan asmara tidak dibutuhkan di dalamnya," gumam Sakura. Seolah melupakan sindiran Sasuke, ia kembali pada pembicaraan mengenai rencana pesta pertunangan mereka yang lagi-lagi ditanggapi Sasuke dengan setengah hati.

.

oOo

.

Hari yang tak diinginkan Sasuke itu akhirnya tiba juga. Pada minggu ketiga di bulan September pesta pertunangan mereka dilangsungkan. Sebanyak lima ratus undangan telah disebar. Pestanya sendiri diadakan di ballroom hotel paling mewah di ibu kota dengan penjagaan yang sangat ketat. Sakura seperti tak main-main dalam merencanakan segalanya. Rencana pertunangan ini disusun dalam waktu singkat dan dikerjakan oleh pengelola acara yang ahli. Sudah pasti kabar mengenai pertunangan Sang Lady yang dipuja banyak orang ini menyita perhatian publik. Semua orang penasaran pada pria beruntung yang akan menjadi suami Sang Lady.

Sasuke berdiri tanpa niat dalam ruangan pesta. Ia sama sekali tak menikmati pesta ini. Bagaimana mau menikmati kalau dia sendiri tak menginginkan kondisi seperti ini?

Semua mata tertuju pada ujung tangga melingkar, di mana wanita yang menjadi pusat perhatian sedang berdiri dengan anggun di atas sana. Tak dapat disangkal kalau Sakura terlihat sangat cantik dengan gaun semata kaki berwarna kuning gading. Gaun itu memiliki bagian belakang yang memanjang, tanpa lengan sehingga memamerkan bahu mulusnya. Leher Sakura dihiasi kalung berlian yang mambuat semua orang semakin terpana menatapnya. Belum lagi gelang cantik yang menghiasi tangan indahnya. Sempurna. Mempesona. Entah kata apalagi yang bisa dikeluarkan untuk memujinya.

Bagaikan seorang ratu ia menuruni tangga dengan didampingi Sai. Semua orang yang hadir menyangka bahwa wanita itu pasti akan bertunangan dengan Sai. Jika benar, maka hal itu tidaklah mengherankan karena sejak dulu keduanya memang dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat. Bukan satu atau dua orang yang mengira kalau keduanya memiliki hubungan spesial. Hampir semua orang yang mengenal Sai dan Sakura pasti menyangka demikian.

"Hadirin sekalian, terima kasih atas kehadiran kalian di pesta ini," kata Sai sambil terus menggandeng Sakura, "saya sangat berbahagia karena diberi kesempatan untuk mengumumkan bahwa sahabat terbaik saya, Haruno Sakura, akan bertunangan dengan pria paling beruntung di dunia."

'Paling sial lebih tepatnya,' koreksi Sasuke.

Kata-kata Sai menimbulkan pertanyaan dalam diri banyak orang. Apa mungkin Haruno Sakura akan bertunangan dengan orang lain?

"Pria itu adalah ... Uchiha Sasuke," lanjut Sai lagi dengan lantang.

Maka terkejutlah semua orang. Tak disangka Sang Lady memang bertunangan dengan pria lain. Semua mata tertuju pada Sasuke saat pria itu maju ke depan.

Sasuke benar-benar benci karena ia kini menjadi pusat perhatian. Setengah tak ikhlas saat ia menyematkan cincin di jari wanita itu. Cincin yang sama—dengan ukuran yang lebih besar—telah bertengger di jari manisnya juga. Mereka telah resmi bertunangan. Persetan, ia tak peduli dengan sorotan yang makin mengarah padanya sekarang. Ia juga tak peduli dengan orang-orang yang bersulang dan pesta yang semakin meriah. Singkatnya, ia tak peduli dengan semua ini.

.

oOo

.

Karin dan beberapa pelayan kedai sedang membersihkan dan menata meja sebelum kedai dibuka pukul sembilan nanti. Sejak tadi perasaannya tak enak. Rasanya ada hal buruk yang telah terjadi. Sejak pagi ia bangun, ada saja kejadian yang tak mengenakan yang terjadi di sekitarnya. Mulai dari fotonya bersama Sasuke yang pecah, kemacetan di jalan yang tak biasanya terjadi, kakinya yang tak sengaja menginjak kotoran kucing, bahkan ia beberapa kali tersandung batu. Entah semuanya itu pertanda apa.

"Aaahhh, akhirnya selesai juga," kata Tayuya sambil mengelap keringat di dahinya.

Mereka lalu berkumpul sebentar di depan TV melaksanakan ritual pagi yaitu menonton acara gosip. Sebenarnya Karin kurang suka menonton acara semacam itu, karena sudah pasti tiada hari tanpa berita mengenai Haruno Sakura. Demi kucing yang tadi kotorannya ia injak, ia sungguh-sungguh tak suka pada perempuan itu.

"Pemirsa, berita yang santer beredar mengenai pertunangan dari Lady Haruno Sakura ternyata bukan hanya isapan jempol—"

Kata-kata presenter berita itu sudah tak lagi didengarnya. Matanya menangkap sosok lelaki yang sangat ia kenal. Sosok pria yang mengisi hidupnya selama ini. Otaknya sibuk memberi penyangkalan bahwa mungkin saja Sasuke adalah tunangan perempuan itu. Tapi, gambar yang tertera di layar televisi malah menunjukkan hal sebaliknya. Tayuya dan Kin menatap Karin ragu.

"Lady Haruno Sakura telah melangsungkan pesta pertunangannya tadi malam dengan seorang pengusaha muda yang bernama Uchiha Sasuke—"

Bunyi yang cukup besar terdengar seiring dengan tubuh Karin yang jatuh menyentuh lantai. Berikutnya Karin tak dapat melihat apa pun kecuali kegelapan. Tubuhnya terasa sangat ringan, ia tak dapat merasakan pijakannya sendiri. Lemas, tubuhnya seperti kehilangan tenaga.

.

.

.

Tbc

A/N:

Karena sangat sibuk, maaf saya tidak bisa membalas review. Tapi, semua review yang telah masuk sangat saya apresiasi. Terima kasih buat yang telah membaca, memberi review, fave, dan follow. Mind to review again? Saya tunggu tanggapannya untuk chapter ini.