Part 1: Sihir Peri Rumah Itu Sakti.

Disclaimer: The One And Only Tante JK Rowling

Natal selalu menjadi hari yang istimewa bagi semua orang. Tak terkecuali Harry Potter, anak lelaki yang benar-benar telah bertahan hidup. Memang, sejak kematian Lord Voldemort Mei tahun lalu, tiap hari terasa spesial bagi Harry. Bermain lempar Quaffle di atas sapu bersama Ron di halaman belakang The Burrow dengan ditonton jembalang yang bersembunyi di balik semak belukar yang makin melebat, berjalan-jalan bersama Ginny di pedesaan Muggle sembari sesekali mampir di toko Muggle, atau membantu Mr Weasley melakukan hobi lamanya, tak lain yakni meneliti, mungkin lebih tepatnya mempreteli, barang Muggle.

Singkatnya, sebenarnya sebagian besar kegiatannya tak berbeda dengan sebelum kejatuhan Voldemort. Namun semuanya terasa lebih baik bagi Harry kini, mungkin karena mereka tak perlu lagi was-was ketakutan akan kedatangan serombongan Pelahap Maut atau sepasukan Auror Kementrian yang membawa perintah penangkapan atas 'Yang Tak Diinginkan Nomor 1'.

Meski kegiatannya sama, Harry merasa harinya sejuta kali lebih istimewa sekarang.

Namun natal kali ini entah kenapa Harry begitu merindukan Sirius. Memang sejak kematiannya beberapa tahun lalu, banyak orang dewasa, entah pria entah wanita, berusaha menggantikan sosok ayah baptis itu dalam kehidupan Harry. Mrs Weasley salah satunya, namun Harry tak pernah menemukan kehangatan dari siapapun selain dari Sirius. Jauh dalam hatinya Harry merasa kesepian. Apalagi kini saat natal, ketika sebagian orang berkumpul bersama keluarga mereka.

Maka disinilah dirinya sekarang, duduk sendirian di sofa agak berdebu di ruang keluarga Grimmauld Place nomor 12. Ron, Hermione, dan Ginny telah mengirim pesan berulang-ulang, baik sihir maupun non sihir, mengajak Harry untuk bergabung bersama mereka berpesta natal di The Burrow. Namun Harry tak pernah beranjak dari Grimmauld Place. Baginya yang dibutuhkannya sekarang adalah Sirius Black, entah itu nyata atau hanya memori. Titik.

Dia telah mengatakan itu, meski tak langsung, pada Ginny. Jadi dia berharap mereka mengerti.

Sekitar sepuluh menit lalu, Harry baru saja selesai memasak, lebih tepatnya menghangatkan, daging beku buatan Mrs Weasley yang dikirmkan bersama salah satu surat ajakan pesta natal yang dibawa Errol, burung hantu The Burrow. Kini dia hampir selesai membaca setumpuk surat yang ditemukannya di kamar Sirius.

Sebagian besar ditujukan untuk ayahnya, James Potter, yang berarti Harry juga mendapat kesempatan mengetahui masa lalu ayahnya dari surat Sirius itu. Namun hingga hampir tiba di surat terakhir, Harry belum juga mendapatkan kehangatan yang diperlukannya. Kehangatan keluarga.

Hingga kemudian terdengar langkah kaki ringan di lorong depan Grimmauld Place, dan sesaat kemudian cahaya redup perapian menampakkan si pemilik langkah kaki.

Kreacher.

Refleks, Harry meraih tongkat sihirnya, kehadiran peri rumah itu setelah sekian lama tak bertemu membuat Harry ragu apakah ia tak perlu menganggap Kreacher sebagai ancaman seperti yang dilakukannya saat mencari Horcrux dulu. Jadi yang dilakukannya hanyalah membuat mantra pelindung di sekelilingnya secara nonverbal.

Si peri rumah berjalan pelan hingga mencapai pintu ruang keluarga yang sedikit terbuka. Di situ dia terlihat terkejut mendapati dirinya tak sendirian di ruangan ini. Agaknya si peri rumah baru saja melamun.

"Tu-Tuan Harry," refleks Kreacher mendekati Harry dan menundukkan kepalanya sedikit tanda hormat. Meski Harry tak pernah lagi menganggap Kreacher sebagai miliknya, sepertinya Kreacher masih menganggap Harry sebagai pemiliknya.

Gugup, Harry segera menyuruh Kreacher berdiri. Bukan hal yang sulit memang, karena tampaknya lama tak bertemu membuat rasa patuh Kreacher pada Harry sedikit berkurang. Harry lalu mempersilakan Kreacher duduk di sebuah kursi kayu lapuk di hadapannya dan memberikannya sepotong kecil daging buatan Mrs Weasley, yang segera dimakan si peri rumah dengan lahap.

"Jadi, Kreacher, apa yang membuatmu pulang ke Grimmauld Place dalam keadaan…tak baik?" keheningan yang muncul saat Harry hanya memandangi Kreacher melahap daging itu akhirnya membuatnya berbasa-basi.

"Kreacher teringat…teringat….Tuan…Regulus, Tuan Harry," ujar Kreacher sembari menghentikan kunyahannya dan menaruh sisa daging yang masih tersisa di meja. Dia tampak sedikit sedih. Mataanya yang masing-masing sebesar bola pingpong tampak memerah tanda mau menangis, sementara mulutnya bergerak tak karuan, giginya yang agak runcing menyeramkan hanya sekali-sekali terkena pantulan cahaya perapian. Jelas sekali kesedihannya lumayan parah, bahkan cenderung mengenaskan.

"Kenapa kau teringat Tuan Regulus, Kreacher? Bukankah bekerja Hogwarts telah memberimu banyak teman, lebih banyak dari hanya sekadar Tuan Regulus?" kata Harry. Dia kemudian membiarkan si peri rumah merobek kain linen di pinggiran meja dan menangis sesenggukan di dalamnya.

"Oh, Hogwarts telah memberik Kreacher banyak teman, Tuan Harry." Ujar Kreacher, masih sesenggukan. "Namun Tuan Regulus berarti segalanya bagi Kreacher."

Kebingungan dengan aksi si peri rumah, Harry akhirnya hanya bergerak-gerak tak nyaman di sofa yang didudukinya.

"Namun jangan salah sangka, Tuan Harry. Liontin Tuan Regulus yang dulu diberikan Tuan Harry benar-benar seperti kehadiran Tuan Regulus untuk Kreacher." Ujar Kreacher saat tangisannya berhenti. "Dan oleh karenanya Kreacher akan selalu berterima kasih pada Tuan Harry. Kreacher juga akan berusaha mengabulkan apapun yang Tuan Harry inginkan."

Terus terang Harry tak punya keinginan apapun untuk dikabulkan oleh Kreacher. Jadi yang dilakukannya hanyalah berkata, "Maaf Kreacher, aku tak punya keingininan apapun untuk kau penuhi."

"Tak satupun, Tuan?"

"Positif. Kecuali-" tiba-tiba Harry teringat akan keinginan terbesarnya saat natal kali ini. Sirius.

Dia tiba-tiba mendapat ide. Agak tak masuk akal sebenarnya, namun bertahun-tahun hidup bersama para penyihir dan makhluk sihir membuat Harry tahu sihir peri rumah berbeda, dan mungkin Kreacher bisa mengabulkan permintaanya ini.

"Ini tentang Sirius, Kreacher. Aku teringat padanya, dan itu membuatku sedih. Bisakah—bisakah kau membantuku mengingat dia, Kreacher?" tanya Harry. Kenyataan bahwa Sirius menghabiskan sebagian hidupnya serumah dengan Kreacher membuat Harry sedikit yakin Kreacher bisa membagi sedikit memorinya tentang Sirius.

"Tu-Tuan Sirius, Tuan Harry?" ekspresi Kreacher tampak sedikit mengeras, sepertinya dia memang tak pernah menyukai Sirius, bahkan setelah kematiannya sekalipun seperti saat ini. Namun perintah tetaplah perintah. "Kreacher bisa, Tuan. Bahkan Kreacher bisa membawa Tuan Harry langsung ke ingatan Kreacher saat bertemu Tuan Sirius."

"Kau yakin, Kreacher?" Harry benar-benar berharap sekarang. "Jadi, ini seperti perjalanan dengan Pensieve, Kreacher?"

"Benar, Tuan Harry. Tapi kami, peri rumah, mempunyai cara yang berbeda dengan penyihir." Kata Kreacher, liontin Regulus bergerak liar di leher si peri rumah saat dia turun dari kursi. "Kreacher bisa membawa Tuan Harry langsung ke memori Kreacher tanpa perantara."

"Bagus, Kreacher. Ayo kita lakukan." Ujar Harry bersemangat, namun tiba-tiba dia teringat hal yang agak menyakitkan, yang membuatnya duduk kembali di sofa. "Tapi, Kreacher, bukankah kau membenci Sirius? Jadi ingatan yang akan aku masuki nanti juga berisi tentang keburukan Sirius, kalau begitu?"

Kreacher mendongak menatap Harry, tatapannya agak menyelidik. Namun tak sampai tiga detik tatapannya kembali melunak. "Tidak harus, Tuan Harry. Sihir peri rumah membuat Tuan Harry bisa melihat keadaan lain selain hal yang dipikirkan Kreacher. Jadi Tuan Harry bisa melihat ingatan ketika Kreacher bersama Nyonya dan Tuan Sirius sedang bermain bersama Tuan Regulus, seperti itu. Tak selalu berarti buruk, Tuan Harry."

Semangat Harry kembali terpompa. "Kau serius, Kreacher?" dan Kreacher pun mengangguk. Maka Harry pun menyerahkan tangan kanannya ke arah Kreacher, dan si peri rumah pun menyentuhkan tangan kanan Harry ke dahinya.

Dan segala hal di antara mereka melebur menjadi satu, seperti pusaran angin.